Masih Marah

Bel pulang sekolah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Murid-murid segera mengendarai kendaraan mereka untuk pulang. Ada juga yang menunggu jemputan, atau menggunakan taksi atau ojek, selain itu ada yang berjalan kaki.

Tapi, berbeda dengan Senja. Gadis itu sama sekali tidak keluar dari gerbang sekolah. Ia terus berdiri di dekat parkiran sekolah yang mana haya tersisa motor Aksa, Jafar, Bagas, dan 8 motor lainnya.

Arhez dan kedua sahabatnya telah pulang lebih dulu. Sempat menawarkan Senja untuk pulang bersama, tapi Senja beralasan jika akan ada jemputan.

"Zayyan." Senja bergumam saat melihat Aksa berjalan ke arah parkiran.

Wajah Cowok itu tetap terlihat dingin seperti biasanya, tapi tidak ada emosi apapun lagi di wajah itu.

"Zay—"

"Jangan lupa bentar sore ke rumah gue," ucap Aksa pada Jafar dan Bagas, memotong ucapan Senja.

"Zayyan." Aksa tetap mengabaikannya dan menaiki motornya. Laki-laki itu mengenakan helmnya.

"Zayyan, gue—"

"Berisik tau nggak!!" sentaknya.

Aksa menghidupkan motornya dan menggas nya dua kali di depan Senja. Aksa memundurkan motornya keluar dari parkiran, dan Senja tetap mengikutinya.

"Zayyan, aku bisa jelasin. Aku nggak sengaja nampar Amara," ucap Senja namun diabaikan Aksa. Cowok itu melajukan motornya dan Senja masih saja mengikutinya.

"Zayyan!"

"Zayyan!"

Teriakan Senja tetap dibaikan oleh Aksa. Laki-laki itu melajukan motornya dengan cepat setelah keluar dari gerbang. Senja hanya bisa terdiam mematung melihat motor Aksa yang sudah menjauh.

Ia menarik nafanya kemudian berbalik.

Deg!

Jantung Senja seakan berhenti berdetak saat melihat siapa yang berdiri di depannya sekarang. Meski mengenakan helm, ia masih bisa mengenalinya.

"A-ab—"

"Ayo pulang!" dengan kasar Aldi langsung menarik tangan Senja. Ia membawa adiknya itu ke motornya lalu menyuruh Senja naik.

Gadis itu menurut. Ia segera menaiki motor Abangnya saat lelaki itu sudah berada di atas motor. Aldi kemudian melajukan motornya dengan kencang, membuat Senja memeluk erat pinggangnya.

Senja tahu, Aldi pasti marah padanya saat ini. Aldi segera memelankan laju motornya saat masuk komplek perumahan mereka. Dia berhenti di depan gerbang rumah.

Senja turun dari motor tersebut dan tanpa banyak bicara langsung mendekat ke gerbang.

"Gue mau ngomong." Suara Aldi terdengar lebih dingin dari biasanya. Mendengar itu, Senja langsung berbalik menatap Abangnya.

"Abang mau ngomong apa?"

"Sini!" Aldi menjentikkan jarinya, meminta Senja mendekat. Gadis itu lagi-lagi menurut. Ia mendekat, berdiri dengan jarak 30 centi dari Aldi.

Aldi mendorong kening Senja dengan telunjuknya. "Lo sekolah untuk nuntut ilmu! Bukan buat ngejar cowok!" Ucapnya dengan begitu dingin.

Senja meneguk salivanya, namun tak menjawab Aldi. Ia hanya menunduk, tak berani menatap sang Abang.

"Sana masuk!!"

Senja sontak mendongakkan kepalanya. "Abang mau kemana?"

"Lo budek gue bilang apa tadi pagi?"

"Abang—"

"Berisik!!" Aldi langsung menjalankan motornya meninggalkan Senja.

"Senja cuman mau bilang, abang hati-hati..." lirihnya, kemudian berbalik membuka gerbang rumahnya dan masuk.

***

Seperti bisa, Senja menjalankan rutinitasnya saat bekerja di cafe. Ia membawa nampan berisi pesanan pelanggan cafe, lalu kembali ke tempatnya.

"Lo kenapa, Kak? Cemas gitu?" tanya Senja saat melihat wajah Manda yang terlihat cemas.

"Ini, Nja. Ada yang delivery, tapi Tama nya pergi. Gue juga udah terlanjur terima. Siapa yang anterin coba? Chesie ngga dateng lagi. Gue juga nggak mungkin pergi. Kan motor gue lagi di bengkel. Ojol juga tolak terus pesanan gue."

"Ck. Lo kayak sendiri aja, Kak. Ada gue juga. Gue bisa anterin. Siniin alamatnya, biar gue yang anterin."

"Bener lo?"

"Iya."

"Huufthh... Syukur deh. Lega juga gue. Mau gue batalin juga nggak enak. Gue udah terima juga. Tapi, lo nggak apa-apa malam begini pergi sendiri?"

"Nggak apa-apa, Kak. Santai aja."

"Ya udah. Ini pesanannya, dan ini alamatnya." Manda menunjukkan alamat si pemesan itu pada Senja.

"Oohh... Disini?"

"Lo tau?"

"Jalannya sih gue tau. Lumayan jauh sih dari sini."

"Lo nggak apa-apa jauh gitu?"

"Nggak apa-apa, Kak. Udah berapa kali sih gue bilang, nggak apa-apa. Kalau apa-apa gue cepat-cepat kabarin lo."

"Ya udah. Lo hati-hati. Abis anterin, langsung balik."

"Siap Nyonya," ucap Senja sambil membungkukkan badannya, membuat Manda terkekeh pelan.

Senja segera berlalu sambil membawa pesanan tersebut. Ia mengendarai motornya menuju alamat yang Manda berikan. Bersyukur, motornya kembali hidup saat ia mencobanya sebelum berangkat tadi. Jika tidak, sudah bisa dipastikan mereka akan membatalkan pesanan itu dan akan membuat pelanggan mereka kecewa.

"Alhamdulillah, tic, lo pulihnya cepet. Kalau nggak, gimana caranya gue sama Kak Manda anterin pesanan orang kalau situasinya kayak gini terus. Bisa-bisa pelanggan pada nggak mau lagi ke cafe," gumam Senja sambil mengelus-elus motor maticnya dan tetap fokus pada jalanan.

Setelah beberapa menit, Senja tiba di alamat yang di tuju. Ia turun dari motor dan segera menekan bel di pagar rumah. Seorang security langsung membukanya.

"Dari Diana's Cafe ya, Neng?"

"Iya, Pak."

"Langsung saja, Neng. Udah di tungguin dari tadi."

Senja mengangguk lalu langsung menuju pintu rumah yang ada di depannya. Dia mengetuknya dan menekan bel saat pintu masih belum dibuka.

Ceklek.

Tangan Senja menggantung di udara saat hendak mengetuk lagi, tapi pintu lebih dulu terbuka.

"Zayyan?" gumam Senja pelan saat melihat siapa yang membuka pintu. Setaunya, ini bukan rumah Aksa. Sementara cowok itu, dia hanya menatap Senja dengan wajah datarnya.

"Zay—"

"Siapa, Sa?"

Tiba-tiba suara dari belakang Aksa terdengar. Dari belakang, Bagas berjalan mendekat.

"Lho? Senja? Lo ngap— lo anterin makanan?" tanya Bagas saat melihat apa yang Senja pegang.

Senja tersenyum, membuat pipi lesungnya telihat jelas. Dan itu tak lepas dari tatapan Aksa yang sejak tadi tak mengalihkan netranya dari Senja.

"Iya, gue anterin pesanan. Tapi, atas nama pak Purno. Bokap lo?"

"Hah? Enggak. Bukan bokap gue. Tadi gue minta tolong security pesenin."

"Ohh... Ini pesanan lo." Bagas segera menerima makanan yang diberikan Senja.

"Tunggu bentar, gue ambilin bayarannya dulu. Ayo, masuk."

"Enggak deh. Gue disini aja."

"Ck. Lo kayak sama siapa aja. Ayo, masuk. Ada Jafar juga di dalam. Bibi juga lagi di dalam."

"Hehehe... Nggak apa-apa. Gue disini aja."

"Ya udah. Sa, lo nggak masuk?" tanya Bagas pada sahabatnya.

"Duluan," jawab Aksa.

Bagas mengangguk lalu berlalu meninggalkan dua orang itu. Suasana mendadak sunyi. Senja jadi merasa canggung tiba-tiba. Senja yakin, Aksa pasti masih begitu marah padanya karena ia menampar Amara tadi.

Tapi, Senja tidak bisa diam-diaman seperti ini. Senja menolehkan wajahnya menatap Aksa. "Za—" ucapan Senja menggantung saat Aksa dengan acuhnya berbalik dan pergi meninggalkannya di depan pintu.

Senja tersenyum nanar. Benar, Aksa masih begitu marah padanya. Setelah beberapa saat, Bagas kembali.

"Lho? Kok lo sendiri? Aksa?"

"Udah masuk."

"Ck. Tuh anak. Ini, bayarannya." Bagas menyodorkan uang untuk membayar pesanannya tadi, dan Senja menerimanya.

"Makasih, Bagas."

Bagas tersenyum. "Iya. Makasih juga udah anterin makanan. Oh ya, lo kenapa kerja? Bukannya lo nggak kurang apapun yang lo butuhin?" tanya Bagas. Dia sedikit tahu tentang keluarga Senja karena ayahnya pernah menjalin kerja sama dengan ayah Senja.

"Gue cuman iseng doang kerja. Malas juga di rumah terus," jawab Senja, dan Bagas mengagguk.

Tiba-tiba kedua orang itu di kejutkan dengan Aksa yang langsung menerobos keluar.

"Eh, Sa. Lo mau kemana? Belum juga kita makan?"

"Gue balik," jawab Aksa langsung meninggalkan Senja dan Bagas. Laki-laki itu menuju garasi rumah Bagas dan mengeluarkan motornya. Tanpa berpamitan dan membunyikan klakson, Aksa langsung melajukan motornya begitu saja.

Senja menunduk. Ia jadi merasa, kepergian Aksa karena dirinya yang ada di tempat itu juga.

"Aksa suka gitu. Moodnya mudah banget berubah," ucap Bagas.

Senja tersenyum menatap cowok itu. "Ya udah, Gas. Gue balik dulu."

"Iya. Hati-hati lo." Senja mengangguk, lalu pergi menuju motornya. Bagas tetap menatap Senja hingga cewek itu melajukan motornya pergi. Bagas tahu, Senja pasti merasa bersalah karena Aksa tiba-tiba pergi saat melihat dia datang.

Episodes
1 Senja Amalia
2 Bertemu Arhez
3 Aksa
4 Kehidupan Senja
5 Telat
6 Hukuman
7 Pengganggu
8 Perkelahian Aksa Arhez
9 Ternyata Senja
10 Nasi Goreng Buatan Aldi
11 Bertemu Senja di Rumah Sakit.
12 Perasaan Marah
13 Kemarahan Aksa
14 Masih Marah
15 Hukuman Tambahan
16 Gudang Belakang Sekolah
17 Senja Pingsan
18 Jauhin Adik Gue!
19 Tawaran Aksa
20 Belajar Bersama
21 Diantar Pulang
22 Pulang Bersama Arhez
23 Minta Tolong
24 Chat Dari Aksa
25 Saudara Tiri
26 Berhenti Panggil Zayyan
27 Menemui Senja
28 Hubungan Baik
29 Hukuman Berakhir
30 Hadiah Untuk Papa Arhez
31 Kado Untuk Teman Papa
32 Arhez Kecewa
33 Pertemuan Amara Dan Aldi
34 Kemarahan Aldi
35 Bertemu Papa Aksa
36 Mendekatkan Dua Saudara Tiri
37 Dibolehin Panggil Zayyan
38 Jalan-jalan Di Rumah Aksa
39 Gue Sayang Sama Lo, Senja
40 Membuang Bekal Dari Senja
41 Salah Paham
42 Penyakit Yang Senja Derita
43 Pengakuan Senja
44 Bertemu Aldi Di Cafe
45 Penyesalan Aldi
46 Rasa Khawatir Aksa
47 Pulang Dari Rumah Sakit
48 Alasan Aldi
49 Zayyan Gak Sejahat Yang Abang Lihat!
50 Menepati Janji Pada Aksa
51 Dibully?
52 Bukan Gue Yang Bully Amara
53 Senja Minta Maaf
54 Bukti
55 Arhez Dan Amara
56 Amara Dan Siska
57 Menolong Amara
58 Pangunduran Diri
59 Akhirnya Aksa Tahu
60 Maafin Gue, Senja
61 Pengakuan Aksa
62 Kedatangan Amara
63 Bertemu Mama Papa
64 Kondisi Senja Memburuk
65 Berita Buruk
66 Akhir Cinta (END)
67 Promosi Novel Baru
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Senja Amalia
2
Bertemu Arhez
3
Aksa
4
Kehidupan Senja
5
Telat
6
Hukuman
7
Pengganggu
8
Perkelahian Aksa Arhez
9
Ternyata Senja
10
Nasi Goreng Buatan Aldi
11
Bertemu Senja di Rumah Sakit.
12
Perasaan Marah
13
Kemarahan Aksa
14
Masih Marah
15
Hukuman Tambahan
16
Gudang Belakang Sekolah
17
Senja Pingsan
18
Jauhin Adik Gue!
19
Tawaran Aksa
20
Belajar Bersama
21
Diantar Pulang
22
Pulang Bersama Arhez
23
Minta Tolong
24
Chat Dari Aksa
25
Saudara Tiri
26
Berhenti Panggil Zayyan
27
Menemui Senja
28
Hubungan Baik
29
Hukuman Berakhir
30
Hadiah Untuk Papa Arhez
31
Kado Untuk Teman Papa
32
Arhez Kecewa
33
Pertemuan Amara Dan Aldi
34
Kemarahan Aldi
35
Bertemu Papa Aksa
36
Mendekatkan Dua Saudara Tiri
37
Dibolehin Panggil Zayyan
38
Jalan-jalan Di Rumah Aksa
39
Gue Sayang Sama Lo, Senja
40
Membuang Bekal Dari Senja
41
Salah Paham
42
Penyakit Yang Senja Derita
43
Pengakuan Senja
44
Bertemu Aldi Di Cafe
45
Penyesalan Aldi
46
Rasa Khawatir Aksa
47
Pulang Dari Rumah Sakit
48
Alasan Aldi
49
Zayyan Gak Sejahat Yang Abang Lihat!
50
Menepati Janji Pada Aksa
51
Dibully?
52
Bukan Gue Yang Bully Amara
53
Senja Minta Maaf
54
Bukti
55
Arhez Dan Amara
56
Amara Dan Siska
57
Menolong Amara
58
Pangunduran Diri
59
Akhirnya Aksa Tahu
60
Maafin Gue, Senja
61
Pengakuan Aksa
62
Kedatangan Amara
63
Bertemu Mama Papa
64
Kondisi Senja Memburuk
65
Berita Buruk
66
Akhir Cinta (END)
67
Promosi Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!