Sore hari, Senja di perbolehkan pulang. Aksa dan Arhez ikut mengantarnya pulang bersama Aldi. Sementara Rara, dia dimintai tolong Senja untuk mengantar flashdisk milik Chesie. Parto, Dean dan Roni kembali ke kediaman masing-masing.
Saat tiba di rumah Senja, Aksa cukup terkejut melihat rumah Senja yang besar, setara dengan rumah milik Ayahnya. Namun, hatinya bertanya-tanya, mengapa Senja bekerja? Bukankah ini menunjukkan jika hidup cewek itu berkecukupan?
Sementara Arhez, cowok itu hanya menganggapnya biasa. Dia juga tidak tahu jika Senja bekerja.
"Istirahat di kamar!" suruh Aldi. Senja mengangguk. Bi Haya segera membantu Senja menuju kamar.
Setelah Senja ke kamar, Aldi berbalik menatap Aksa dan Arhez yang berdiri diam sejak tadi. Tatapannya tertuju pada Aksa. Setelah cukup lama menatap Aksa, cowok itu menatap Arhez.
"Ada hubungan apa lo berdua sama adik gue?" tanya Aldi dingin.
"Gue dekat sama Senja. Bisa dibilang temanan sekarang. Tapi nggak tau nanti," jawab Arhez.
Kening Aldi mengerut. "Maksud lo?"
"Nggak ada maksud apa-apa. Cuma mau jadiin Senja teman hidup."
"Bocah!"
Arhez melotot mendengar ucapan Aldi. Jika tidak ingat kalau Aldi adalah abangnya Senja. Sudah pasti ia menendang cowok itu karena sudah mengatainya bocah.
Aldi tak peduli dengan reaksi Arhez. Ia menatap Aksa yang hanya diam.
"Lo?"
Aksa menatap Aldi. Tatapan dingin Aksa bertemu tatapan tajam Aldi. Aksa merasakan jika Aldi tak suka padanya.
"Lo ada hubungan apa sama adik gue?"
"Nggak ada hubungan apa-apa," jawab Aksa.
Aldi mengeraskan rahangnya. Tatapannya semakin tajam menatap Aksa. Dia marah mengingat kejadian dimana Senja mengejar Aksa waktu itu. Dia tidak suka adiknya dipermalukan.
"Jauhin adik gue!"
"Lo yang seharusnya jauhin Senja dari gue!"
Aldi mengepalkan tangannya, ingin menghajar Aksa. Namun, getaran handphone di saku celana membuatnya mengurungkannya.
"Hallo." Aldi menjawab panggilan telpon. Namun, tatapan matanya tak beralih dari Aksa.
"Lo dimana? Kita nungguin lo!"
"Gue kesitu sekarang." Aldi langsung memutuskan panggilan telponnya tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya.
"Bibi!"
Bi Haya dengan cepat mendekat. "Iya, Den?"
"Jagain Senja. Jangan biarin dia keluar."
"Iya, Den."
"Lo berdua balik! Jangan gangguin adik gue!"
Tak banyak membantah, Aksa berbalik dan berjalan keluar dari rumah tersebut. Sementara Arhez, cowok itu terdiam sejenak dengan mata yang menatap ke lantai atas, dimana Senja dibawa bi Haya tadi. Setelah itu, ia pun berbalik, berjalan keluar dari rumah Senja.
"Lo apain Senja, bangsat!!" geram Arhez, menahan bahu Aksa yang hendak keluar dari gerbang rumah Senja.
Aksa menepis kasar tangannya. "Bukan urusan lo!" ucapnya kemudian melanjutkan jalannya.
"Ini juga urusan gue anjing!" Arhez kembali menahan Aksa. Dan detik berikutnya, cowok itu melayangkan satu pukulan, tepat mengenai sisi kiri wajah Aksa. Membuat Aksa sedikit limbung, namun tak terjatuh.
Aksa menegakan tubuhnya, kemudian menatap Arhez. Setelah itu, ia melanjutkan jalannya. Arhez terdiam menatap cowok itu. Ia kembali melihat Aksa yang tak mudah tersulut emosi. Tanpa ia tahu, Aksa tak membalas karena ia merasa pantas untuk mendapatkannya.
***
"Abang masih belum balik, Bi?" tanya Senja ketika Bi Haya memasuki kamarnya.
"Belum, Non."
Senja menarik nafasnya. Ia menerima jus buah yang diberikan Bi Haya padanya.
"Jus buahnya dari den Aldi. Sebelum pergi, Den Aldi nitip jus buah buatannya buat Non Senja. Katanya non Senja harus habiskan."
Senja mengangguk dengan tersenyum tipis. Diperhatikan Aldi seperti ini membuatnya sangat bahagia. Ia menerima jus buah tersebut kemudian meminumnya hingga tandas.
"Non Senja istirahat lagi saja. Kayaknya den Aldi bakalan lama pulangnya," kata Bi Haya, mengambil gelas kosong dari tangan Senja.
"Iya, Bi. Bibi juga istirahat."
Bi Haya mengangguk lalu keluar dari kamar Senja. Menyisakan Senja yang mulai berbaring.
Ting...
Bunyi notifikasi di handphonenya membuat Senja dengan cepat meraihnya.
...Grup cafe...
Kak Chesie : Senja, gimana kabar lo?
Kak Manda : Lo sakit apa? Temen lo nggak ngejelasin. Nganterin flashdisk Chesie terus langsung pulang.
Kak Tama : Iya, Nja. Lo sakit apa?
Emang dasar si Rara. Ditanyain malah nyelonong pergi gitu aja.
Senja yang membaca pesan di grup chat cafe tersenyum. Dengan cepat ia mengetikan sesuatu di grup tersebut.
^^^Senja ^^^
^^^Gue nggak apa-apa. Cuman kelelahan sama kurang cairan. Nggak perlu khawatir.^^^
Kak Chesie : Syukurlah. Gue khawatir banget waktu Rara bilang kamu di rumah sakit.
Kak Manda : Sama, gue juga. Kita niatnya mau ke situ, tapi nggak jadi gara-gara banyak pelanggan.
Kak Tama : Sumpah. Hari ini pertama kalinya gue kesal cafe banyak pelanggan.
^^^Senja ^^^
^^^Hehehe... Kak Tama bisa aja.^^^
^^^Aku gak papa.^^^
^^^Oh ya, Kak Chesie gimana presentasinya? Flashdisknya gak telatkan?^^^
Kak Chesie : Gak jadi presentasi. Cuma dikirim aja tugasnya.
^^^Senja ^^^
^^^Syukurlah.^^^
Asik chattingan, Senja tak sadar jika sudah pukul sepuluh. Gadis itu menyudahi chatnya, kemudian turun dari ranjang. Ia membuka pintu yang mengarah ke balkon kamarnya kemudian berdiri disana.
"Bang Aldi masih belum pulang." Tepat pada saat Senja selesai mengucapkannya, deru motor Aldi terdengar. Senyum tipis muncul di bibir Senja.
"Alhamdulillah, bang Aldi pulang," gumamnya, kemudian kembali ke kamarnya dan mengunci pintu menuju balkon. Ia kemudian keluar untuk menemui abangnya.
Aldi yang cukup lelah menaiki tangga menuju kamarnya pun terhenti saat melihat Senja berdiri di pertengahan anak tangga.
"Kenapa belum tidur?" tanya Aldi dingin. Bukan hanya suaranya yang terdengar dingin. Wajah dan tatapannya pun ikut dingin.
"Aku tungguin Abang. Aku—"
"Lo nggak ngerti gue bilang apa hah?! Apa bi Haya nggak ngomong sama lo? Lo gue suruh istirahat!"
"Bang. Aku khawatir sama abang. Aku—"
"Lo nyusahin tau nggak?! Lo nyusahin gue!!" teriak Aldi lantang.
Senja hanya mematung mendengar ucapan Abangnya. Air matanya jatuh. Hatinya sakit saat dianggap menyusahkan oleh abangnya sendiri.
Aldi tak peduli. Tanpa merasa bersalah, cowok itu melewati Senja begitu saja. Mengabaikan Senja yang menangis dalam diam.
***
Aksa duduk diam di balkon kamarnya. Hari ini dia tak menemui sang Ayah. Dia tidak ingin ayahnya khawatir melihat lebam yang ada di sudut bibirnya. Dia tak ingin ayahnya kembali drop seperti saat ia berkelahi dengan Arhez.
Aksa menarik nafasnya. Kini pikirannya tertuju pada Senja. Gadis itu tak mengirimnya pesan seperti biasanya.
"Apa Senja udah tidur? Atau dia sakit lagi?" gumam Aksa. "Kenapa gue jadi mikirin Senja? Kalau dia sakit, apa urusannya sama gue? Ada abangnya yang jagain dia."
"Tapi, Senja begitu juga karena gue."
Aksa menundukkan wajahnya. Ia menatap tangannya yang sudah begitu kasar menggenggam tangan Senja.
"Gue nggak bermaksud nyakitin lo. Tapi, mendengar semua yang lo tau tentang gue, rasa sakit itu kembali. Gue benci ingat itu semua, walaupun gue sendiri nggak pernah berhasil ngelupainnya."
"Nggak gampang buat nerima itu semua..." lirih Aksa.
Meski tak ada air mata yang menetes, bukan berarti ia tak merasakan luka. Aksa kembali mendongakkan wajahnya menatap langit.
"Maafin abang, Far. Abang nggak baik sama cewek," gumamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Badelan
makin seru
2024-10-27
0