Rara menghentikan laju motornya di depan gerbang rumah Senja, dan membiarkan gadis itu turun.
"Tadi gue tanya, lo kok cepat gitu sampenya? Gue kan baru bentar nelpon lo."
"Oh itu, gue lagi pengen keluar aja. Sebenarnya, pas lo telpon gue udah di dekat cafe. Niatnya sih gue mau main ke cafe sekalian tungguin lo. Eh, pas sampe malah ketemu si Tama. Males banget gue," ucap Rara memberi alasan pada Senja. Ia sudah berpikir keras selama perjalanan tadi.
"Ck. Lo sama kak Tama nggak pernah akur."
"Temen kerja lo itu yang sok-sok an di depan gue," sinis Rara.
"Iya iya. Ya udah, makasih ya udah anterin gue. Nggak usah kesal gitu sama kak Tama. Besok gue traktir bakso di kantin."
"Beneran?"
"Iya, beneran. Emang gue pernah nggak nepatin janji gue sama lo?"
"Hehehe... Lo emang sahabat gue yang paling tepat janji." Rara tersenyum terang kemudian memeluk Senja.
"Idih, kalau gini gue nya dipuji-puji. Eh, pas gue lagi dekatin Zayyan aja gue dimarahin habis-habisan."
"Itu beda, Nja. Kalau soal Aksa, gue kesal lo diabai in dia. Pengen gue tonjok tu muka datar bin dingin."
"Ck. Gaya lo Ra, kayak nggak takut Zayyan aja. Sekali dibentak, ciut nyali lo."
"Hehehe... Iya juga ya. Ya udah, gue balik dulu. Entar dicari Mama Papa," ucap Rara, kembali menyalakan motornya.
Senja terdiam mendengar ucapan Rara. Ia tersenyum tipis pada sahabatnya itu.
"Gue balik, Nja."
"Iya, hati-hati. Kalau udah sampe rumah, kabarin gue."
"Siiip," balas Rara lalu melajukan motornya menjauh.
Senja menatap Rara yang mulai menjauh dari pandangannya. Ia menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan.
"Gue juga pengen ngerasain khawatirnya mama papa pas gue telat pulang, Ra..." lirihnya sendu.
Setelah beberapa menit berdiam diri depan gerbang, Senja masuk. Gadis berlesung pipi itu memiliki kunci cadangan pintu rumah. Ia tak perlu repot membangunkan bibi untuk membukakan pintu untuknya.
Brum...
Brum...
Brum...
Senja sontak berbalik saat mendengar deru motor di depan gerbang. Itu abangnya, Aldi. Mengabaikan pintu yang terbuka, Senja berbalik dan membukakan pintu gerbang untuk Aldi. Setelah itu, ia kembali ke depan pintu menunggu sang abang.
"Abang dari mana?" tanya Senja.
"Bukan urusan lo!"
Senja tertegun. Selalu seperti ini sikap Aldi padanya. Sejak Abangnya itu menginjak bangku perkuliahan, sikap sang abang berubah. Senja selalu mendapat perlakuan buruk, bentakan dan jawaban ketus dari sang abang. Dia juga selalu ditinggal di rumah besar itu sendirian bersama bi Haya, seorang art yang bekerja di rumah mereka.
"Senja tanya nya baik-baik lho. Kenapa Abang jawabnya ketus?"
"Lo berisik tau nggak? Gue pusing denger ocehan lo!"
Aldi membanting pintu lalu melangkah masuk. Dia tidak peduli dengan Senja yang masih berdiri di depan pintu.
"Sabar Senja. Besok bang Aldi bakal kembali seperti bang Aldi yang dulu," gumamnya. Selalu kalimat itu yang Senja katakan untuk dirinya.
Menarik nafasnya, Senja masuk dan langsung menuju kamarnya di lantai dua. Meletakkan tas, Senja kemudian langsung membersihkan riasan wajahnya yang berlebihan. Ia bahkan sampai bergidik melihat wajahnya yang berbalut make up di depan cermin. Pantas saja dia dikatai teman-temannya di sekolah.
"Kalau gue boleh milih, gue nggak mau kayak gini," gumam Senja sambil membersihkan make up di wajahnya.
"Tapi, gue nggak mau semua orang khawatir sama gue," lanjutnya bergumam.
Senja kembali menatap wajah tanpa make up nya di depan cermin. Wajahnya pucat, berbeda dengan yang lain. Dan itu yang membuatnya memilih untuk menutupinya dengan make up.
Setelah wajahnya bersih, Senja lekas mengganti bajunya dengan baju tidur, kemudian berbaring. Tangannya meraih handphone dan mengecek notifikasi di handphone nya. Hanya ada notifikasi grup chat kelasnya, grup chat sekolah yang dibuat osis, dan grup chat siswa seangkatannya.
"Segitu nggak pentingnya Senja buat Mama Papa ya? Sampai ngeluangin waktu 5 menit buat telpon atau sekedar belas pesan Senja aja nggak bisa," ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kehidupan Senja dan Aldi bisa dibilang jauh dari kasih sayang orang tua. Sejak kecil, Senja dan Aldi sering ditinggal karena papa dan mama sibuk dengan pekerjaan. Dan saat menginjak bangku SMP, mama dan papanya ke luar negeri untuk menjalankan bisnis mereka disana. Senja dan Aldi lagi-lagi ditinggal bersama bi Haya.
Senja mengusap air matanya yang hampir menetes. Setelah menenangkan perasaannya, Senja beralih mengirim pesan pada Aksa.
Senja : Zayyan. Udah tidur?
Tak ada balasan dari laki-laki itu. Chat Senja hanya dibaca.
Senja : Centang biru berarti belum tidur.
Senja : Lagi belajar buat olimpiade ya?
Senja : Semangat, ya. Semoga kamu sama Amara menang.
Semua chat yang Senja kirim dibaca oleh Aksa. Hal itu membuat perasaannya senang. Jarang sekali pesannya langsung dibaca seperti ini. Biasanya dua atau tiga hari centang biru itu baru terlihat di kolom chat Senja.
Senja : Kamu udah makan?"
Aksa : Gue Amara.
Deg...
Senja tertegun membaca balasan pesan tersebut. Ternyata sejak tadi bukan Aksa yang membaca pesannya, tapi Amara. Aksa bersama Amara sekarang. Memikirkan itu, hati Senja merasakan sakit. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan.
Senja : Lo lagi sama Zayyan?
Aksa : Menurut lo? Gue peringatin sama lo! Nggak usah jadi cewek kegatelan lo. Aksa nggak butuh perhatian sama ucapan semangat dari lo!!
Senja : Lo gak berhak ngelarang gue buat dekatin Zayyan.
Chat yang senja kirim kali ini hanya mendapat centang satu. Amara memblokir Senja.
Senja menarik nafasnya kesal. Zayyan juga sering memblokir nya saat dia terlalu banyak mengirim chat. Tapi besok, cowok itu akan kembali membuka blokirnya. Dia tidak merasa kesal sedikit pun. Tapi sekarang, pasti Amara yang melakukannya. Dan rasanya sangat kesal sampai dia ingin menjambak rambut perempuan sok cantik itu yang sialnya memang benar-benar cantik.
Senja melempar handphonenya ke sisi ranjang sebelahnya, dan menarik selimut menutup seluruh tubuhnya. Tapi tiba-tiba, handphonenya kembali bergetar. Senja segera meraihnya.
"Chat dari Rara. Pasti udah sampe ni anak," gumam Senja. Ia segera membacanya.
Rara : Senja
Rara : Gue belum sampe rumah.
Senja mengerutkan keningnya. Sudah hampir 25 menit Rara pergi. Seharusnya gadis itu sudah tiba 10 menit lalu, karena jarak rumah mereka hanya berkisar 15 menit.
Senja : Serius lo? Kenapa belum sampe? Motor lo mogok?
Rara : Bantuin gue, Nja. Gue dihadang sama Arhez, Dean sama Roni.
Senja : Ngapain mereka hadang lo? Ya udah, lo share tempatnya, gue ke situ.
Rara : Eh, nggak usah kesini. Gue dicegat karena nggak mau kasi nomor hp lo ke Arhez.
Senja : Ngapain dia minta nomor gue? Waahh... Nggak bener nih, ni Arhez.
Rara : Ayo dong, Nja. Izinin gue kasi nomor lo ke dia ya? Udah hampir jam sebelas nih, entar gue dimarahin Mama Papa pulangnya kemalaman.
Senja : Si Arhez bego apa gimana sih? Tinggal ambil nomor gue di grup seangkatan kan bisa? Masa harus pake cegat lo segala. Ya udah, kasi aja. Yang terpenting lo sampe rumah dan nggak di marahin Mama sama Papa lo.
Rara : Oek, Nja.
Rara : Maksud gue, oke Nja. Makasih bantuan lo.
Senja : Cih! Suka banget typo.
Rara : Hehehe... Ampun bestieeeehh...
Setelah mengakhiri chat mereka, Senja terdiam memikirkan soal Arhez. Kenapa cowok itu meminta nomor handphone nya? Jujur, ia takut jika pernah menyinggung Arhez. Dan itu membuatnya kepikiran hingga tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments