Sesuai janjinya, Aksa menemani sang Papa untuk kontrol di rumah sakit setelah pulang sekolah. Ia dengan antusias bertanya tentang perkembangan sang Papa. Hembusan nafas lega di iringi ucapan syukur keluar dari mulut Aksa saat diberitahu kondisi Papanya yang semakin membaik.
"Dua minggu, Bapak bisa datang untuk kontrol lanjutan," ucap si Dokter.
"Iya, Dok. Kalau begitu, kami permisi."
Aksa segera mendorong keluar kursi roda Papanya dari ruangan dokter tersebut. Di depan ruangan, Bi Darsi sama Pak Ijan langsung menyambut.
"Gimana Den?" tanya Bi Darsi.
"Secara keseluruhan, perkembangan Papa semakin bagus. Kondisi Papa juga semakin baik."
"Alhamdulillah," ucap Bi Darsi dan Pak Ijan.
"Ya udah. Bibi sama Pak Ijan temani Papa dulu. Saya mau ke toilet sebentar."
Aksa segera menuju toilet. Namun, belum sempat tiba di toilet, ia malah menabrak seseorang.
Bruk...
"Maaf, saya nggak se—Zayyan?"
"Senja?" gumam Aksa pelan.
Melihat Aksa, Senja dengan cepat memungut selembar kertasnya yang terjatuh. "Maaf, aku nggak sengaja. Aku duluan," ucap Senja, kemudian benar-benar pergi dari hadapan Aksa.
Aksa hanya terdiam menatap Senja yang mulai menjauh. Mengedikkan bahunya, kemudian bergegas ke toilet. Tapi, sampai ia keluar dari toilet dan berkumpul kembali bersama Papanya dan yang lain, dia masih memikirkan tentang Senja.
Senja disini? Untuk apa? Siapa yang sakit? Batin Aksa.
"Den Aksa?"
Tepukan pelan di bahunya membuat Aksa tersadar dari pikirannya. Ia menatap Pak Ijan yang memanggilnya.
"Ada apa? Den Aksa lagi ada masalah di sekolah?" tanya Pak Ijan.
"Nggak ada," balas Aksa.
"Syukurlah. Saya pikir Den Aksa ada masalah. Habisnya bengong terus dari tadi."
"Bapak panggil saya kenapa?"
"Itu, pak Herman tanya, Den Aksa langsung pulang atau mampir dulu ke tempat pak Herman?"
"Saya antar Papa dulu. Setelah itu, saya pulang."
Pak Ijan mengangguk. Mereka kemudian sama-sama menuju rumah pak Herman. Aksa mengendarai motornya mendahului mobil yang membawa pak Herman, bi Darsi dan pak Ijan.
Namun, karena pikiran Aksa yang terus-terusan memikirkan tentang Senja, membuat fokusnya terbagi. Hampir saja ia menabrak seorang pejalan kaki yang menyeberang.
"Kamu gimana sih!! Kalau bawa motor itu fokus! Gimana kalau benaran nabrak saya?" bentak pejalan kaki itu.
Pak Ijan yang mengendarai mobil berada tepat di belakang Aksa pun menghentikan mobil tersebut dan turun. Ia menghampiri Aksa dan si pejalan kaki yang sedang marah-marah.
"Maaf Bu, Den Aksa kayaknya kurang fokus," ucap Pak Ijan.
"Oh, Bapak kenal sama dia? Ini anak bisu atau tuli? Saya marah-marah dia nggak jawab sama sekali!"
Pak Ijan menatap Aksa yang masih saja terdiam dan terlihat kebingungan.
"Sekali lagi saya sebagai wali nya minta maaf,"
"Cih! Dasar!" sinis Ibu itu kemudian meninggalkan Aksa dan Pak Ijan.
"Den Aksa nggak apa-apa?"
"Ya," jawab Aksa. Ia menarik nafasnya kemudian menoleh ke arah mobil. Ia yakin, Papanya pasti khawatir. Benar saja, saat berbalik, terlihat tangan Papanya melambai setelah menurunkan kaca mobil, memintanya mendekat. Aksa dengan tenang berjalan ke arah Papanya.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Pak Herman dengan bibir yang bergetar.
"Nggak apa-apa, Pa. Aksa cuman lagi banyak pikiran,"
Laki-laki paruh baya itu menarik nafasnya. "Naik mobil sama Papa ya?"
"Motor saja. Aksa janji, kejadian tadi nggak akan terulang lagi," ucap Aksa.
Setelah Papanya setuju, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke tempat tinggal Herman. Aksa beristirahat di tempat itu hingga langit berubah senja. Aksa berpamit pulang, namun tidak sepenuhnya ia pulang ke rumahnya. Seperti biasa, ia menyempatkan waktu menikmati langit senja di pesisir pantai. Ia berdiam diri dengan pikiran yang masih mengingat soal pertemuannya dengan Senja di rumah sakit tadi.
***
Senyum manis terukir di bibir Senja saat memasuki ruang makan pagi ini. Senja sangat senang saat melihat Aldi juga duduk di kursi meja makan. Biasanya, hanya ia sendiri yang menghabiskan sarapan. Tapi, tidak dengan hari ini. Ada Aldi yang menemaninya.
"Pagi, Bang," sapa Senja.
"Hmm." Aldi hanya berdehem menjawabnya.
Senja kembali tersenyum. Tidak apa-apa hanya deheman. Yang terpenting Aldi menjawabnya.
Senja meraih selembar roti dan mengolesnya dengan selai kacang kesukaannya.
"Abang mau juga selai kacangnya?"
"Nggak."
Senja terdiam. Dia tidak ingin terlalu banyak bicara dan membuat Aldi risih. Senja memakan rotinya tanpa sepatah kata lagi. Tanpa ia sadar, Aldi terus menatapnya.
"Gue ada acara sama teman-teman gue. Lusa baru gue pulang. Lo nggak usah chat, telpon atau apapun. Jangan ganggu gue!"
Senja mengangguk pelan dengan kepala menunduk. Apa selama ini Aldi selalu merasa terganggu ketika dia mengirim pesan atau menelpon menanyakan keberadaannya? Memikirkannya membuat Senja ingin menangis. Abang sendiri secara tidak langsung mengaggapnya sebagai pengganggu.
Setelah menyelesaikan sarapannya dan memasukan kotak bekal ke tasnya, Senja berpamit ke sekolah.
"Senja pergi dulu," ucapnya sambil menyodorkan tanganya pada Aldi.
Sesaat, Aldi terdiam. Ia menatap tangan Senja, kemudian membalas uluran tangan adiknya. Senja merasa sangat senang. Ia mencium punggung tangan sang Abang dengan perasaan bahagia.
"Senja berangkat, Bang."
"Hmm."
"Bibiii! Senja berangkat dulu!" teriaknya pada Bi Haya yang sedang ada di dapur.
"Iya, Non. Hati-hati!" balas Bi Haya dari dapur, ikut berteriak.
Senja pun berlalu keluar rumah menuju garasi dengan senyum merekah. Aldi yang menyaksikannya pun hanya terdiam.
Sesampainya di garasi, Senja mengeluarkan motor matic miliknya. Namun, saat ia coba menghidupkan nya, motornya tak ingin hidup.
"Kenapa motor lo?" tanya Aldi yang juga sudah siap untuk pergi.
"Nggak tau, Bang. Nggak mau hidup motornya." Senja menoleh sejenak, kemudian kembali fokus pada motornya.
"Mana, lo minggir," ucap Aldi, mengambil alih tempat Senja. Ia mencoba menghidupkan motor adiknya itu, tapi tetap saja tidak bisa.
"Nggak bisa hidup. Lo ke sekolah pake mobil aja," ucap Aldi menatap Senja tanpa ekspresi.
"Senja nggak mau pake mobil."
"Ya udah. Lo naik taksi."
Senja menarik nafasnya, kemudian mengangguk. Ia bergegas pergi. Namun, baru satu langkah, Aldi menarik tasnya hingga membuatnya mundur.
"Nggak usah pake taksi. Gue anter," ucap Aldi.
Senja tersenyum. "Beneran?"
"Hmm."
"Makasih Abang," ucapnya dan dengan spontan memeluk Aldi. Cowok itu terdiam mendapat pelukan dari sang adik. Tapi, beberapa detik kemudian, ia medorong Senja menjauh.
"Nggak usah berlebihan," ucap Aldi dengan wajah datarnya.
Meski begitu, Senja tetap tersenyum. Ia begitu bahagia. Setelah sekian lama sejak ia menginjakkan kaki di SMA, ini adalah kali pertama Aldi mau mengantarnya ke sekolah.
***
Aldi menghentikan motornya tepat di depan gerbang SMA Gerhana. Senja turun dan kembali mengulurkan tangannya.
"Apa?" tanya Aldi sedikit ketus.
"Salim," ucap Senja.
"Udah tadi."
"Tadi di rumah. Sekarang di sekolah."
Aldi menarik nafasnya. Jika bukan di sekolah, dia sudah pasti meneriaki adiknya ini. Dengan terpaksa, Aldi membalas uluran tangan adiknya membuat Senja tersenyum dan mengecup punggung tangannya.
"Senja masuk dulu," ucap Senja, berbalik dan berjalan ke arah gerbang. Belum sempat mencapai gerbang, motor Aksa menerobos melewatinya, membuat Senja terdiam mematung. Dan reaksi Senja itu tak lepas dari penglihatan Aldi.
Setelah adiknya benar-benar masuk ke lingkungan sekolah, Aldi melajukan motornya menjauh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments