Aksa berjalan menuju toilet dengan langkah sedikit cepat. Setelah diberitahu Rara dan Parto soal Senja yang ke toilet, Aksa hanya mengangguk dan diam. Tapi, setelah menunggu beberapa saat, Senja belum juga tiba di ruang osis. Hal itu membuat Aksa memutuskan untuk mendatangi Senja. Dia pikir, cewek itu mau menghindari hukuman yang akan dia berikan.
Namun, langkah Aksa langsung terhenti saat melihat Senja berdiri dengan punggung yang menempel pada dinding, dan Arhez yang berdiri menghadapnya dengan kedua tangan yang mengurung senja di sisi kiri dan kanannya.
"Arhez! Gue nggak suka ya, lo gini. Gue mau pergi!"
"Lo nggak, tapi gue suka. Lagian, lo mau kemana sih?"
"Gue mau ke ruang osis."
"Ngapain? Mau ngejar-ngejar si Aksa?"
"Gue mau ngejar si Zayyan ataupun enggak, itu bukan urusan lo!"
"Urusan gue! Gue nggak suka lo ngejar-ngejar dia terus, Nja."
"Dan gue nggak suka lo tunda-tunda pekerjaan gue!"
Sontak Senja dan Arhez menoleh saat suara dingin Aksa masuk indra pendengaran mereka.
"Huh. Sok punya pekerjaan!" sahut Arhez sambil tersenyum miring. Aksa tak merespon. Dia hanya menatap Senja dan Arhez bergantian.
"Kenapa? Marah lo gue bilang gitu?"
Aksa hanya menatap Arhez dengan pandangan dingin.
"Senja, ikut gue!" Aksa berbalik tanpa menunggu jawaban Senja ataupun Arhez.
"Minggir, Hez." Senja mencoba mendorong, namun tubuh Arhez terlalu kokoh berdiri di hadapannya.
"Gue nggak akan biarin lo pergi."
"Dan gue nggak akan pernah anggap lo ada kalau lo terus kayak gini, Hez."
Arhez terdiam. Perlahan ia menjauhkan tubuhnya dari Senja, memberi ruang untuk gadis itu pergi.
Tak menyiakan kesempatan, Senja langsung berlari meninggalkan Arhez yang masih setia menatapnya.
Senja berjalan semakin cepat saat melihat punggung lebar Aksa berjalan di depannya. Ia menyamakan langkah mereka.
"Maaf, aku nggak bermaksud lama-lama di toilet," ucap Senja.
Aksa tak menjawab. Langkahnya berbelok menuju ruang osis. Senja tetap mengikuti Aksa namun tak berbicara lagi.
Rara dan Parto menatap Senja dengan tatapan solah menyakan, "Kenapa lo lama banget di toilet?" hanya saja tidak bisa mengungkapkannya.
"Lo bertiga dihukum. Hafalin tabel periodik unsur."
"Hah?" Ketiga orang itu terkejut bersamaan. Sebelum dibagi sesuai jurusan yang diminati, mereka pernah mempelajari mata pelajaran secara keseluruhan. Dan diantara mereka bertiga, tidak ada satupun yang berminat dengan kimia.
Jadi, Hukuman ini berat sekali bagi mereka.
"Zayyan, kok hafalin gituan? Kita kan bukan anak IPA," protes Senja.
"Hafalin sekalian nomor atom, nomor massa, periode sama golongannya."
"Eh, kok nambah?" Senja lagi-lagi protes.
"Sekalian belajar cara menentukan periode sama golongannya."
"Lho? Kok na—"
"Tiga hari lagi, Pak Rahmat yang ngetes kalian?"
Glek...
Senja, Rara dan Parto sama-sama meneguk ludah mereka. Benar-benar berat hukuman mereka kali ini. Mereka lebih baik disuruh membersihkan toilet dari pada berurusan dengan kimia.
"Zay—"
"Ssttt." Rara dan Parto berdesis bersamaan, sambil memegang tangan kanan dan kiri Senja.
"Nggak usah protes lagi," bisik Rara.
"Iya. Gue nggak sanggup kalau hukumannya ditambah lagi," sahut Parto, ikut berbisik.
Senja terdiam. Benar juga kata dua sahabatnya ini. Aksi protesnya tadi membuat hukuman mereka bertambah.
"Lo bertiga boleh pergi!" ucap Aksa.
Ketiga orang itu saling pandang lalu bergegas keluar. Sebelum sampai di pintu, Amara menerobos masuk, dan langsung mendekati Aksa. Dia sangat acuh dengan Senja, Rara dan Parto, seolah tidak melihat ketiganya.
"Aksa," ucapnya pelan.
"Hmm."
"Bentar belajarnya di rumah kamu lagi, ya?"
"Iya."
Senja yang mendengarnya menghentikan langkahnya saat tiba di ambang pintu. Rara dan Parto juga ikut menghentikan langkah mereka.
"Ini minuman siapa?" tanya Amara saat mendapati kaleng minuman di atas meja Aksa.
"Minuman gue," jawabnya. Suara Aksa terkesan ramah, tidak seperti saat bersama Senja, dimana selalu mengeluarkan suara ketus dan dinginnya.
"Aku minum, ya?"
"Ambil aja."
"Makasih." Amara tersenyum senang. Ia melirik ke arah Senja yang terdiam mematung membelakangi mereka di depan pintu.
"Aku nggak bisa buka. Bukain," serunya manja sambil menyodorkan minuman kaleng tersebut pada Aksa.
Saat itulah Senja berbalik. Ia ingin melihat, apakah Aksa menerimanya atau tidak. Dia berharap Aksa menyuruh Amara untuk berusaha sendiri. Namun, kenyataan tak sesuai harapannya. Aksa dengan suka rela menerimanya dan membukakannya untuk Amara.
Senja tersenyum getir. Ia kembali berbalik ke arah dua sahabatnya. Rara dan Parto yang melihatnya hanya bisa diam. Walaupun mereka tidak suka Senja mengejar-ngejar Aksa, tetap saja Senja sahabat mereka. Dan mereka tidak suka melihat sahabat mereka terluka.
"Ayo, Nja. Ruangan osis, nggak cocok buat kita yang bukan osis," ucap Parto yang diangguki Rara.
Senja tersenyum pada kedua sabahatnya. Senyum ceria disertai rangkulan dipundak mereka mereka.
"Ayo!" ucapnya. Rara dan Parto ikut tersenyum. Meski begitu, mereka tahu Senja sedang berusaha menutupi lukanya.
"Kita mau nyicil hukuman kita kan?" tanya Rara dengan ceria, berusaha untuk membuat Senja tidak terlalu terbawa kejadian di ruang osis tadi.
"Iya. Tapi, belajar ngehafalnya dimana? Di kelas pasti ribut," sahut Parto.
"Di perpus aja, gimana?" usul Senja.
Rara dan Parto saling tatap, kemudian sama-sama berkata, "Setuju!" dengan ekspresi lucu. Membuat Senja terkekeh pelan. Walaupun masih bisa tersenyum lebar, tetap saja hati Senja masih memikirkan Aksa yang sifatnya berubah 180 derajat saat bersama Amara.
Udahlah Senja. Lo harus sadar! Jangan libatkan perasaan. Misi lo hanya untuk menghibur Zayyan, membuatnya mengerti kalau dia lebih beruntung dari orang di luar sana. Salah satunya kamu sendiri. Batin Senja.
***
Jam pulang sekolah berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas dan menuju gerbang. Namun, tidak dengan Senja. Cewek itu masih berada di dalam kelas dengan wajah kebingungan mencari kunci motornya.
"Ya Allah, dimana sih tu kunci motor?" ucapnya. Sekali lagi, ia membongkar isi tasnya.
"Apa jangan-jangan jatoh lagi pas gue jalan jongkok tadi?" tebaknya. "Tapi, mudah-mudahan enggak. Gue nggak mau dorong tu motor."
"Nja!" teriakan seorang dari ambang pintu kelas membuat Senja menoleh. Senja menegakkan tubuhnya dan menoleh ke arah orang yang berdiri di ambang pintu.
"Lo belum balik, Ra?" tanya Senja pada orang yang berdiri di ambang pintu, yang tak lain adalah Rara.
"Gue udah mau balik. Tapi, gue kesini lagi, mau pamitan sama lo."
Senja tersenyum. Ia mengangkat ibu jari dan telunjuknya membentuk hati, lalu ia serahkan pada Rara. "Emang sahabat terbaik lo, Ra."
"Gue emang terbaik," ucap Rara, kemudian berlalu dari hadapan Senja
Senja menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Dan beberapa detik kemudian, ia kembali mencari kunci motornya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments