Sepulang sekolah, Rayn masih berdiam diri di depan kelas. Lagi-lagi tiga teman segengnya menghampirinya.
"Lo ngapain bengong di sini. Ayo ikut gue ngumpul. Atau lo gak mau temenan sama kita lagi karena lo sudah merasa pintar. Iya?" kata Ali dengan keras.
"Gue gak mau. Gue mau pulang." Rayn berdiri dan akan melangkahkan kakinya pergi tapi dengan paksa tiba-tiba mereka menarik Rayn ke belakang sekolah.
Dion kini mendorong tubuh Rayn ke tembok.
"Ryan, kita itu sahabat. Lo ada masalah apa sama kita sampai lo menghindar dari kita. Lo mau keluar dari geng kita?"
Keringat dingin keluar dari pelipis Rayn. Bully-an itu kembali terjadi di dirinya. Apakah sampai kapanpun dia pantas untuk di bully? Kakinya gemetar. Seseorang yang dikatakan sahabat selama ini tidak bisa menerima perubahan pada sahabatnya.
"Gue-gue cuma mau berubah."
"Berubah? Shits lo berubah. Mungkin lo udah nemuin geng baru yang lebih hebat dari kita?"
Rayn hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Lo kenapa jadi penakut kayak gini sih?" Rangga semakin mengeraskan suaranya.
Rayn hanya memejamkan matanya. Sakitnya pukulan-pukulan Diega sebelumnya berputar-putar di kepalanya. Apa lebih baik dia mengaku tentang dirinya? Tak perlu berpikir dua kali lagi Rayn dengan keras menajawab. "Gue bukan Ryan. Gue saudara kembar Ryan. Nama gue Rayn." Rayn membuka matanya dan menatap reaksi mereka bertiga.
Mereka bertiga langsung tertawa dengan keras mendengar Rayn. "Lo bercanda? Lo punya saudara kembar? Darimana asalnya?"
"Terserah kalian mau percaya atau gak. Yang jelas gue Rayn. Gue gak bisa jadi Ryan. Gue juga gak bisa mengikuti pergaulan kalian. Kita hanya bertukar identitas cuma sementara. Tapi kalian jangan pernah cerita masalah ini sama siapa pun, karena Ryan bisa saja menghajar kalian." kata Rayn.
Ali mencibir, "Pantesan aja lo cupu. Jangan-jangan lo cowok yang ada di rumah Ryan waktu itu yang pakai kacamata tebal. Rupanya Ryan begitu malunya punya saudara kembar kayak lo sampai-sampai Ryan gak pernah mengakui lo sebagai saudara kembarnya sama kita."
"Pasti Ryan cuma manfaatin lo, yah biar nilai Ryan naik. Mana mungkinlah Ryan rela ngasih gayanya yang selangit sama cowok cupu kayak lo." Timpal Dion tak kalah menyakitkannya dengan diiringi gelak tawa yang begitu keras.
Rayn hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa melawan bahkan berkata lagi.
"Udah yuk, ngapain kita nungguin orang cupu kayak dia." Mereka bertiga jalan beriringan sambil masih saja mengolok Rayn.
"Mending besok-besok kita jadiin kacung aja sekalian."
Mereka berlalu. Rayn berjalan perlahan menyusuri koridor kelas yang sudah sepi.
Aku tahu sampai kapanpun aku akan tetap menjadi Rayn yang cupu. Aku gak akan bisa menjadi Ryan. Aku memang pantas dihina bahkan dari mulut sahabat saudara kembarku sendiri. Aku sama sekali gak punya keberanian. Aku lemah dan gak bisa apa-apa.
Rintik hujan pun turun seperti tahu isi hati Rayn saat itu. Andai dia bisa menangis dia ingin menangisi hidupnya. Hidupnya yang tidak seberuntung Ryan. Rayn terus berjalan lalu dia berhenti di tengah lapangan basket. Merasakan air hujan yang semakin deras mengguyur tubuhnya.
Inilah aku yang begitu bodoh. Hanya bermimpi menjadi sosok yang berarti namun nyatanya semuanya percuma. Aku akan tetap menjadi seseorang yang tersisih.
Tetesan air hujan yang ada di atas kepalanya kini berhenti mengalir. Bukan karena hujan yang telah reda tapi karena ada seseorang yang memayunginya. Rayn mendongak ke atas lalu dengan segera dia menoleh seseorang yang telah memayunginya.
"Ryan, kamu jangan hujan-hujanan nanti kamu sakit lagi."
Rayn hanya menatap Cinta saat itu, dari sorot mata Cinta sangat terlihat kekhawatirannya.
Andai aku benar-benar memiliki seseorang seperti kamu, aku pasti bisa bahagia. Tapi seandainya kamu tahu aku bukan Ryan yang kamu kejar-kejar, aku yakin kamu juga akan mencampakkanku.
"Ryan kamu kenapa?" Cinta mengusap pelan pipi Rayn yang basah terkena air hujan agar Rayn berhenti menatapnya kosong.
Rayn menggelengkan kepalanya. "Cinta, andai aku gak sekeren dulu. Andai aku gak segaul dulu. Andai aku berubah menjadi seperti sekarang ini. Apa kamu akan masih tetap mencintaiku? Karena semua sahabatku sudah pergi, mereka gak mau menerima perubahanku."
Cinta semakin menatap lekat Rayn. Meskipun ekspresi wajahnya sempat menegang beberapa saat tapi dengan cepat Cinta tersenyum dengan tulus. "Aku suka dengan perubahan kamu. Kenapa enggak? Aku akan tetap mencintai kamu. Bagaimanapun keadaan kamu dan bagaimanapun perubahan kamu."
Entah kenapa perasaan Rayn menjadi tenang mendengar kata-kata Cinta. Sejak saat itu hati Rayn mulai luluh. Apa dia mulai terbiasa untuk mencintai Cinta. Rayn ingin memeluknya. Begitu sangat ingin memeluknya.
"Aku sayang kamu." kata Rayn sambil memeluk Cinta. Terasa begitu hangat dan nyaman karena kali ini Rayn memeluk Cinta dengan penuh perasaan.
Cinta melepaskan tangkai payung yang dia genggam hingga payung itu terjatuh. Dia ingin mempererat pelukan Rayn. Tak peduli lagi dengan hujan yang mengguyur tubuhnya karena rasa hangat pelukan itu mampu mengusir rasa dingin. "Aku juga sayang kamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments