BAB 18

Di luar rumah Rayn, Ryan datang bersama Shella. Mereka berjalan mendekati pintu masuk. Ryan memegang gagang pintu rumahnya dan saat pintu sedikit terbuka dia melihat Cinta yang sedang duduk bersama Rayn. Seketika Ryan langsung menutup pintunya kembali dengan cepat namun tanpa bunyi. Ryan menarik nafas panjang. Dia belum siap jika harus bertemu Cinta juga saat itu.

"Rayn, kenapa?" tanya Shella yang melihat aneh dengan perlakuan Ryan.

"Hmm, nggak. Kita duduk di halaman samping aja yuk soalnya di rumah lagi gak ada orang."

"Iya gak papa." Ryan menggandeng tangan Shella agar berjalan agak cepat mengikuti langkahnya menuju samping rumahnya agar Cinta tidak melihat mereka.

Ryan bernapas lega saat dia tengah duduk di samping Shella di bangku taman rumahnya. Ryan belum siap sepenuhnya untuk mengungkap kebenaran ini. Entah sampai kapan kebohongan ini akan tetap menjadi kebohongan.

"Rayn, kamu mikirin apa?" tanya Shella yang melihat Ryan hanya melamun sedari tadi.

"Eh, aku mikirin kamu." kata Ryan sambil menunjukkan senyum terpaksanya.

"Ngapain mikirin aku. Aku ada di dekat kamu. Gak perlu dipikirkan lagi."

"Aku takut kehilangan kamu." kata Ryan. Perlahan dia memegang tangan Shella. Shella tidak tahu dengan apa yang ada dipikiran Ryan. Ryan telah memikirkan bagaimana jika dia kembali menjadi dirinya sendiri pasti dia akan kehilangan Shella. Seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta begitu dalam. "Apa yang kamu rasakan jika suatu saat nanti kamu berpisah dengan aku?" tanya Ryan lagi yang membuat Shella bingung dengan maksud dan tujuan dari pertanyaan itu.

Shella mengernyitkan dahinya beberapa saat. "Aku gak pernah terpikirkan untuk kehilangan kamu. Buat apa kita mikirin sesuatu yang buruk. Kan semua itu udah ada yang ngatur. Yang penting bagi aku sekarang, aku sudah bahagia bersama kamu." Senyum tulus pun mengembang di bibir Shella.

Rasanya Ryan semakin tidak mau berpisah dengan Shella. Apa dia harus jadi Rayn seumur hidupnya agar tetap bisa bersama Shella? Perlahan Ryan mengusap pipi Shella dengan lembut. Dia menatapnya begitu dalam.

Kamu telah mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya hingga aku berhenti bermain dengan hati. Yah, bagaimana aku bisa melepaskanmu, jika semuanya sudah terlanjur dalam.

Aku tahu, mereka saling mencintai. Meskipun yang Shella tahu Ryan adalah aku. Tatapan Shella begitu penuh cinta. Bahkan saat bersamaku, tak pernah aku dapatkan tatapan itu.

Rayn menatap nanar mereka berdua dari balik jendela samping rumahnya. Ternyata Rayn mengetahui kedatangan Ryan. Karena dia penasaran, Rayn melihatnya tanpa sepengetahuan Cinta. Hanya ke toilet yang Rayn jadikan alasan pada Cinta.

Rayn membalikkan badannya. Dia berjalan perlahan kembali pada Cinta yang tengah menunggunya di ruang tamu. Kepalanya terasa pusing lagi memikirkan perasaannya pada Shella. Rayn kini memegang kepalanya sambil berjalan.

"Ryan!" Cinta langsung menahan tubuh Rayn dengan melingkarkan tangannya di pinggang Rayn. "Kamu pusing lagi?" Cinta segera membantu Rayn duduk. Dia memijit pelan pelipis Rayn agar pusing di kepalanya reda.

"Kamu kenapa perhatian banget sama aku?" tanya Rayn asal, karena jelas-jelas semua itu karena rasa cinta dari Cinta.

"Karena aku sayang sama kamu."

"Meskipun mungkin aku gak sayang sama kamu."

Pernyataan Rayn membuat Cinta menghentikan pijatannya. Perlahan dia mengalihkan tangannya dari kepala Rayn. Hatinya terasa tersayat mendengar itu. Perih. Meskipun sudah berulang kali tapi tetap saja rasanya sakit. "Aku akan tetap sayang sama kamu."

Jawaban yang begitu menyentuh hati Rayn. Sebesar ini perasaan Cinta? "Maafin aku udah buat kamu nangis. Harusnya aku bisa bahagiain kamu. Aku hanya tidak mampu membalas cinta kamu yang sebesar itu. Tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan mendapatkan cinta yang sebesar cinta kamu." Rayn mendekatkan tubuhnya dan langsung memeluk Cinta. Apakah pelukan itu hanya sekedar penenang untuk Cinta atau Rayn memang sedang butuh seseorang untuk dia peluk.

Aku tahu apa yang kamu rasa tentang bagaimana sakitnya perasaan kamu, Cinta. Aku pasti bahagia jika aku bisa dicintai dengan perasaan sebesar itu. Apa aku harus bisa membuka hati aku untukmu?

Rayn mengusap lembut rambut Cinta. Secara naluri sekarang dia bisa menenangkan hati wanitanya.

Perasaan Cinta mulai membaik. Rayn pun melepaskan pelukannya. "Aku lebih suka lihat senyuman kamu. Jangan nangis lagi."

Cinta mengangguk sambil tersenyum merasakan usapan tangan Rayn yang lembut singgah di pipinya. "Yan, aku pulang dulu yah. Kamu istirahat."

"Biar aku anterin."

Dengan cepat Cinta menggelengkan kepalanya. "Gak usah. Kamu istirahat aja. Moga cepat sembuh yah." Secara singkat Cinta mencium pipi kanan Rayn. Rayn hanya terdiam. Dia seperti terhipnotis sesaat merasakannya. Cinta kini berjalan keluar dari rumah Rayn namun lagi-lagi Rayn.

Rayn kini menguap panjang. Dia meregangkan ototnya sambil berjalan menuju kamarnya. Di dalam kamar dia langsung melempar tubuhnya ke atas kasur. Badannya terasa begitu lemah. Dia memejamkan matanya menghilangkan segala pikirannya tentang Shella dan Ryan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!