BAB 5

Saat Ryan sudah memasuki sekolah Rayn, dia merasa berbeda sekali. Biasanya ada sejumlah gadis-gadis yang selalu menyapanya manja mulai dari tempat parkir sampai kelas. Sekarang, bahkan mereka melirik pun tidak.

Rayn cupu gini mana ada cewek yang ngelirik dia. Bagaimana bisa dia hidup dengan ala 90-an gini.

Ryan segera berjalan menuju kelas yang telah dijelaskan tata letaknya sebelumnya oleh Rayn. Bahkan mereka sempat membuat peta. Tertera di atas pintu tulisan XI IPA 1 barulah Ryan yakin kalau itu kelas Rayn. Ryan segera menuju bangkunya yang berada di sebelah kanan baris kedua. Dia pun kembali menggelengkan kepalanya saat dilihatnya seseorang yang lebih cupu dari Rayn duduk di sebelah bangkunya.

Pasti ini anak namanya Joni. Rayn benar-benar kuper.

"Hai." Kata Ryan sambil duduk di bangkunya.

"Hai?" Joni mengernyitkan dahinya karena selama ini Rayn tidak pernah menyapanya hai.

"Eh, gak papa." kata Ryan yang begitu kaku. Dia melihat ke arah Joni yang masih pagi sudah membuka buku pelajarannya.

Hadeh, gak ada kerjaan lain apa selain baca buku. Komik gue dibawa Rayn lagi buat senjata. Bisa mati gaya gue hidup kayak gini terus. Mumpung jam pelajaran masih 15 menit lagi, gue jalan-jalan dulu aja kali ya. Siapa tahu ada cewek cakep.

Akhirnya Ryan berdiri dari duduknya. Dia berjalan keluar dari kelas.

"Rayn kamu mau kemana?" tanya Joni.

"Mau ke toilet." kata Ryan berbohong agar Joni tidak curiga. Dia berjalan dengan semangat keluar dari kelas. Di depan kelas tak sengaja Ryan menabrak seseorang. Untung dengan cepat Ryan manahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. Kedua tangan Ryan melingkar di pinggangnya. Tatapan mereka terpaut hingga beberapa saat. Begitu dalam tanpa berkedip.

"Eh, Rayn.."

Tersadar Ryan langsung melepaskan pelukannya. "Hmm, maaf aku gak sengaja."

Shella pun tersenyum manis pada Ryan. Senyuman itu membuat jantung Ryan berdetak lebih kencang dari biasanya.

Ada satu orang cewek yang begitu cantik, senyumnya manis dan dia sangat baik sama aku. Namanya Shella. Tapi ingat kamu jangan deketin dia soalnya aku suka sama dia. Ryan teringat kata-kata Rayn. Yah, nama cewek ini pasti Shella.

"Gak papa kok Rayn. Kamu mau kemana? Buru-buru banget."

"Gue.. Eh, aku mau ke toilet." kata Ryan sambil tersenyum. "Shella..." lalu dia berjalan meninggalkan Shella yang menatap aneh pada Ryan.

Ryan masih saja berjalan sambil tersenyum. Entah kenapa dia merasakan hal yang berbeda saat bertemu Shella. Apa ini yang namanya love at first sight?

"Hei, lo si cupu!" teriak Diega sambil berjalan mendekati Ryan. Sepertinya dia sangat marah dengan Ryan.

Ryan menoleh ke arahnya tapi tak disangka Diega justru menarik krah Ryan. "Lo berani-beraninya meluk Shella!"

Ryan yang begitu emosional tentu saja emosinya terpancing. Selama ini tidak ada yang berani memperlakukannya seperti itu. Ryan pun mendorong tubuh Diega dengan keras sampai dia menjauh darinya.

"Lo berani yah sekarang sama gue." Diega semakin emosi, dia mengepalkan tangannya dan bersiap memukul Ryan.

Ryan berusaha menenangkan dirinya. Dia harus ingat bahwa dia sekarang sedang menjadi Rayn. "Aku ngelakuin itu gak sengaja. Kalau kamu suka sama Shella, kamu deketin dia jangan malah ngebully orang." Ryan berusaha setenang mungkin. Lalu dia membalikkan badannya tapi lagi-lagi Diega menarik seragamnya.

"Mau lo apa!" Ryan tak bisa lagi membendung emosinya. "Kalau lo ada masalah sama gue, kita selesaiin sekarang."

"Lo udah berani sama gue." Diega kembali menyergap Ryan.

Ryan menyunggingkan sebelah bibirnya. "Kalau lo berani, gue tantang lo main basket nanti pas istirahat. Kalau gue menang, lo gak boleh deketin Shella."

Diega melepaskan tangannya dan tertawa dengan keras. "Sejak kapan lo bisa main basket. Lo kan biasanya main bola bekel." kata-kata itu membuat gelak tawa teman-teman Diega.

Ini anak benar-benar memancing emosi gue. Lo lihat aja. Gue bukan Rayn yang bisa lo bully seenaknya.

Ryan pun tersenyum dengan entengnya. "Lo lihat aja siapa yang bakal menang. Gue atau lo!" Lalu Ryan membalikkan badannya dan masuk ke dalam kelas karena bel masuk telah berbunyi.

...***...

Saat istirahat, Rayn masih saja duduk di dalam kelas. Seperti biasanya dia memang jarang ke kantin. Dia lagi-lagi menopang dagunya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan di sekolah Ryan.

"Heh, bro lo lemes amat. Ke kantin yuk! Biasanya kan lo dapat banyak traktiran dari cewek-cewek," ajak Dion sambil menepuk bahu Rayn.

"Males gue." kata Rayn sambil memaksakan logat Ryan di dirinya, begitu juga dengan ekspresinya.

"Lo bosen di kejar-kejar cewek. Main basket aja yuk."

Main basket? Aku kan gak bisa main basket. Drible bola aja bolanya lari duluan. Tapi kalau aku menolak ntar teman-teman Ryan pada curiga.

"Oke yuk." Rayn mengiyakan ajakan mereka, entah bagaimana jadinya jika seorang Rayn bermain bola basket. Rayn bangkit dari tempat duduknya. Mereka berdua dan beberapa kawan lainnya berjalan menuju lapangan basket.

"Ryan..." Para gadis berteriak menyoraki Ryan.

Dion mulai mendrible bola basket itu dan dengan cepat dia menshoot bolanya masuk ke dalam ring. Rayn membelalakkan matanya. Bagaimana dia bisa seperti itu? Sangat cepat dan tangkas. Setahu dia Ryan memang sangat jago bermain basket, sedangkan dirinya sama sekali tidak bisa bermain basket.

"Ryan ambil bolanya!" teriak Dion sambil melempar bola basket itu ke arah Rayn dengan keras. Rayn yang tidak mempunyai tindak refleks yang tepat bola itupun meleset dari tangkapannya dan alhasil kepala Rayn yang menangkap bola itu dengan keras. Seketika berdiri dengan sempoyongan karena merasakan sakit di kepalanya. Dia memegang kepalanya tapi Dion dan kawan-kawan lainnya justru menertawakannya.

"Lo mau ngelawak Yan, pasti caper sama cewek-cewek."

Orang sakit beneran dibilang ngelawak. Pada aneh semua temen Ryan.

Rayn masih mengusap kepalanya lalu berjalan keluar dari lapangan basket.

"Ryan lo kenapa? Habis kena bola yah?" tanya Cinta sambil mengusap kepala Rayn.

Rayn hanya terdiam menatap Cinta. Badannya terasa panas dingin. Baru kali ini dia diperhatikan gadis seperti ini.

"Hmm, gue gak papa." Rayn memegang tangan Cinta agar berhenti mengusap rambutnya. Mereka saling bertatap beberapa saat sebelum akhirnya Rayn mengalihkan pandangannya dan pergi meninggalkan Cinta.

Cinta hanya terdiam merasakan perubahan Ryan.

Ada apa sama Ryan? Dia seperti berubah. Meskipun sekarang gue rasa dia lebih baik dari biasanya.

Terpopuler

Comments

Opa Sujimim

Opa Sujimim

makin seru nih

2023-07-22

0

fitria widyani

fitria widyani

ryan sama shella
rayn sama cinta

2023-05-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!