Malam itu menjadi malam yang panjang bagi mereka berempat meskipun malam itu bukan malam Minggu. Ryan sudah berada di dalam kamarnya saat Rayn baru saja pulang. Rayn berjalan masuk ke dalam kamar dengan lemas tak berdaya. Dia masih saja menyesali kedekatan Ryan dengan Shella. Rayn melepas jaketnya lalu duduk di dekat jendela sambil menatap langit malam itu.
"Lo gak tidur?" tanya Ryan yang sudah berbaring di kamar namun belum terlelap.
Hanya ada gelengan dari Rayn.
"Lo darimana sampai selarut ini?" tanya Ryan tapi masih tidak ada jawaban dari Rayn. "Sorry soal tadi. Gue gak sadar kenapa malah gue yang nemuin Shella. Harusnya kan elo."
Rupanya Rayn masih saja emosi. Menahan semua kekesalannya dengan cara berdiam diri. Dia marah pada Ryan dan mungkin juga pada dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa. Dia mengambil bantal dan ponselnya lalu keluar dari kamar menuju ruang tengah. Membaringkan badannya yang penat di atas sofa. Menyalakan televisi beberapa saat lalu mematikannya kembali. Pandangannya beralih pada layar ponselnya. Membuka instagramnya karena ada beberapa notif yang muncul.
"Shella.." gumam Rayn pelan saat dilihatnya foto bersama Ryan waktu dinner malam itu telah ter-post di instagram Shella. Bahkan beberapa emoticon love pun muncul pada chaptionnya. Harusnya dia bisa bahagia karena Shella sudah benar-benar jatuh cinta pada Rayn. Bukan! Bukan Rayn melainkan Ryan. Rayn hanya sebatas nama namun tetap saja yang merebut hati Shella saat ini adalah Ryan.
Sakit. Yah sakit yang saat ini Rayn rasakan. Bagaimana jika Shella tahu yang sebenarnya bahwa yang menyatakan perasaan itu bukan dirinya. Belum lagi soal Cinta. Cinta juga tidak tahu apa-apa tentang permainan ini. Cinta harus berhubungan dengan seseorang yang tidak mencintainya. Semua ini berawal dari sebuah kebohongan. Yah, kebohongan yang entah sampai kapan akan berakhir.
Pikiran Rayn terus berputar-putar. Entah sampai pukul berapa akhirnya dia bisa memejamkan matanya dan terlelap.
...***...
"Rayn." panggil Ryan sampai beberapa kali untuk membangunkannya tapi Rayn tak juga bangun dari tidurnya. Bahkan sampai Ryan menggoyangkan badan Rayn namun Rayn hanya menggeliat sambil mengerang.
Ada yang aneh? Ryan menyentuh kening Rayn. Sesuai dugaan Ryan, suhu badan Rayn terasa panas. "Astaga Rayn, lo demam." Ryan segera membantu Rayn bangun dan memapahnya ke kamar agar bisa istirahat dengan nyaman.
"Lo mikirin apa sampai sakit kayak gini. Lo mikirin Shella?" tanya Ryan sambil membantu Rayn berbaring. Ryan sangat kenal dengan saudara kembarnya itu. Jika terlalu banyak yang dia fikirkan pasti Rayn akan jatuh sakit. "Ka, gue akan kembali jadi Ryan. Gue gak mau lo kayak gini." Bagaimana pun juga Ryan tidak tega dengan keadaan Rayn.
Rayn menggelengkan kepalanya. "Jangan. Gak papa kalau kamu sama Shella. Shella bahagia sama kamu."
"Tapi Ka. Gue tahu lo cinta sama Shella."
"Dan kamu juga cinta sama Shella." perkataan Rayn membuat Ryan tidak bisa membantahnya. "Udahlah, kamu sekarang ke sekolah aku. Bilang sama Bunda buat ijinin aku gak masuk hari ini. Maksud aku, kamu." Rayn menaikkan selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Ryan segera keluar dari kamar dan memberitahu Bundanya agar Rayn segera diobati dan dirawat. Urusan ijin biar Ryan yang merekayasanya, yang jelas Ryan harus bisa menjadi Rayn tanpa sepengetahuan Bundanya.
Ryan segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Secepat kilat agar dia tidak terlambat. Saat dilihatnya sang Bunda sedang mengambil kompres ke belakang, Ryan bergegas keluar dari rumah. "Ma, Ryan berangkat dulu." Teriak Ryan dari luar rumah. Ryan segera menaiki motornya dan dengan kecepatan penuh segera melesat ke sekolah Rayn.
Saat Ryan akan membelokkan motornya ke gang sekolah, dimana gang itu memang cukup sepi, tiba-tiba Ryan menghentikan laju motornya karena ada Diega yang menghadang dan menghalangi jalannya.
Diega melepas helmnya dan turun dari motornya. Dia berjalan mendekati Ryan. Diega begitu emosi saat itu, dia menarik krah Ryan agar Ryan turun dari motornya.
"Apa-apaan sih lo!" Ryan tak terima dengan perlakuan Diega yang tanpa sebab. Diega berhasil membuat Ryan turun dari motornya. Tiba-tiba Diega memukul rahang bawah Ryan hingga Ryan sedikit terhuyung ke belakang.
"Lo berani jadian sama Shella!"
Ryan tak tinggal diam, dia membalas pukulan Diega lebih keras. "Masalah buat lo. Lo berhenti ganggu gue sebelum gue habisin lo." beberapa pukulan pun juga mendarat di perut Diega hingga Diega meringis kesakitan. Soal berantem Ryan memang tak terkalahkan.
Diega pun menyerah, dia kembali menaiki sepeda motornya. Sambil menuding Ryan. "Lo tunggu pembalasan dari gue. ingat itu!" ancam Diega.
"Gue gak pernah takut sama lo." Ryan menaiki motornya saat Diega sudah melaju pergi. Ryan berkaca pada spion melihat luka memarnya di dekat ujung bibirnya. Hanya sesaat lalu segera melanjutkan perjalanannya ke sekolah yang tinggal beberapa meter saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Opa Sujimim
kok manggilnya jadi mama,bukannya bunda ya😄🙏
2023-07-22
1
meiy sakhaku
jadi kasihan sama si rayn,sabar ya rayn
2023-04-16
1