BAB 7

Rayn kembali ke tempat duduknya di pojok belakang. Kelas masih sepi karena bel masuk memang belum berbunyi. Dia merasa tidak nyaman berteman dengan mereka semua karena tidak sesuai dengan karakternya. Tapi di sekolah Ryan, dia tidak lagi dibully.

Beberapa saat kemudian Cinta masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di samping Rayn. "Ryan lo kenapa sih? Lo sakit? Lo tumben gak bersemangat gini."

Cinta langsung menyentuh kening Rayn. Mungkin bagi Ryan itu hal biasa tapi bagi Rayn ini sangat tidak biasa.

"Gue gak papa." Rayn menjauhkan kepalanya agar Cinta tak lagi menyentuhnya. "Gu-Gue mau ke toilet." Entah kenapa Rayn begitu salah tingkah. Dia kini berdiri tapi Cintq kembali menariknya hingga Rayn kembali terduduk.

Jarak mereka begitu dekat. Cinta terus menatap Rayn. Lama-kelamaan wajah Cinta semakin dekat. Rayn semakin melebarkan matanya. Apa yang akan dilakukan oleh Cinta berada di luar pemikirannya. Dengan segera Rayn menutup bibirnya hingga bibir Cinta hanya menyentuh tangannya. "A-apa yang lo lakuin?"

Cinta kembali menjauhkan dirinya sambil tertawa. "Yan, bukankah kita udah sering ciuman meskipun kita cuma friendzone. Hal itu kan udah biasa lo lakuin ke gue."

Mendengar itu Rayn semakin berkeringat. Benar-benar hidup yang gila baginya. Mana mungkin dia dengan bebas bisa ciuman sama cewek. Itu sangat bertentangan dengan sifatnya yang alim. Dia sangat menghargai cewek dari hal sekecil apapun. "Gue minta maaf sama lo dengan apa yang pernah gue lakuin. Gue gak akan lakuin itu lagi sama lo."

Mendengar perkataan Rayn, Cinta justru kecewa. Hal aneh didapat dari Rayn lagi. "Tapi Yan, gue cinta sama lo. Gue gak peduli kita cuma friendzone asal gue bisa bersama lo berasa pacar."

Rayn kini hanya terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sendiri juga tidak mau mengacau hubungan Ryan dan Cinta. Meski dia tahu apa yang dilakukan Ryan itu salah.

Cinta menyandarkan kepalanya di bahu Rayn. Ingin rasanya dia menghindar tapi tertahan. Seandainya benar-benar Ryan yang ada di samping Cinta pasti dia akan membiarkannya atau justru semakin memanjakan Cinta.

...***...

Hari melelahkan di sekolah pun usai. Sesegera mungkin si kembar ini pulang dengan banyak cerita yang di dapat tentang hari pertama mereka bertukar identitas di sekolah. Meski Rayn sempat dicegat teman-teman Ryan untuk nongkrong, dengan sejuta alasan akhirnya Rayn berhasil kabur.

Sampainya di rumah, Rayn melempar tasnya di atas tempat tidurnya. Seketika Ryan yang sedang tiduran di tempat tidurnya terbangun. "Ngapain lo main lempar-lempar tas kayak gitu."

"Besok aku gak mau lagi jadi kamu." Rayn membuka seragamnya dan melempar ke wajah Ryan.

Ryan menangkapnya dengan cepat. "Woi, woles bro. Lo cerita sama gue apa masalah lo."

Rayn kini duduk di samping Ryan. "Kamu tahu, aku diajak main basket sama teman-teman kamu. Mana bisa aku main basket. Yah, untung mereka gak curiga. Dan fans-fans kamu di sekolah bener-bener membuat aku gila apalagi si Cinta. Arrrggghhh." Rayn mengacak rambutnya sendiri.

"Justru ini kan yang lo inginkan. Lo ditakuti dan dikejar-kejar cewek," jawab Ryan dengan entengnya.

"Udah aku gak mau. Aku gak bisa apa-apa. Aku juga gak bisa bergaul. Gak kayak kamu." Rayn kini melempar tubuhnya di atas tempat tidur. Dia melenguh panjang melepaskan segala pemikirannya. Apa yang akan dilakukan Cinta di kelas tadi masih berputar-putar di benaknya.

"Lo harus mau. Karena gue belum ngasih pelajaran sama Diega. Gue gak mau lo terus di bully."

"Kamu jangan berbuat macem-macem. Nanti ada masalah lagi di sekolah, aku gak mau."

"Lo tenang aja kalau sama gue. Pokoknya gue akan buat Diega bertekuk lutut sama lo. Eh Rayn, Shella keliatannya suka sama lo. Lo kenapa gak nembak dia? Dia itu cantik. Kalem lagi. Lo beruntung banget kalau bisa jadian sama dia." Ryan mendeskripsikan Shella sambil tersenyum. Tapi kemudian dia tersadar, kenapa tidak ada jawaban dari Rayn. Ryan menoleh Rayn dan melihat Rayn yang sudah tertidur. "Astaga." Ryan meraup wajah Rayn. "Gue ngomong dari tadi lo malah tidur."

Rayn hanya menggeliat kecil sambil bergumam pelan. "Ngantuk."

Ryan menghela napas lalu berjalan mendekati jendela kamarnya yang cukup lebar. Menatap awan putih yang masih terang. Dia memikirkan tentang kehidupannya selama ini. Begitu banyak gadis yang mengejarnya dan dekat dengannya. Bahkan Cinta yang selama ini menjalin hubungan tanpa status dengannya belum juga mampu mencuri hatinya. Tapi pertama kali dia bertemu dengan Shella, Shella sudah mampu mencuri perhatiannya. Shella gadis baik-baik, Ryan tidak mungkin mempermainkan perasaannya atau bahkan memperlakukannya seperti Cinta. Tapi tiba-tiba Ryan menggeleng keras.

Nggak!!! Yang Shella cintai itu Rayn dan gue tahu jelas Rayn juga mencintainya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!