BAB 3

Seperti biasa Ryan selalu pulang ke rumah tidak tepat waktu. Sudah hampir malam dia baru memasuki rumahnya. Setiap hari sepulang sekolah dia memang selalu nongkrong dulu bersama teman-temanya.

Ryan dengan santainya masuk ke dalam rumah. "Eh, Bunda, Ayah, nungguin Ryan yah." kata Ryan dengan senyum tidak jelasnya saat melihat kedua orang tuanya sudah berdiri dan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Ryan, hilangkan kebiasaan kamu ini! Tiap hari pulang sekolah langsung keluyuran gak jelas. Sudah jam berapa baru pulang."

"Baru jam 6, Ayah. Nanti malam aku gak keluar lagi." katanya sambil melihat jam bermerk yang ada di tangannya.

Kedua orang tuanya semakin geram. "Ryan, tadi Bunda dapat telpon dari Pak Teguh katanya kamu ketiduran lagi di kelas. Ryan kamu itu bandel banget, kapan mau berubah? Kamu contoh kakak kamu. Dia itu udah pinter, patuh. Gak kayak kamu."

"Aku kan Ryan, Bun, bukan Rayn. Memangnya aku bisa jadi Rayn." Kemudian Ryan berlenggang masuk ke dalam kamarnya padahal kedua orang tuanya belum selesai berbicara. Jujur saja Ryan begitu bosan selalu dibanding-bandingkan dengan Rayn. Baginya, mana mungkin dia bisa menjadi seperti Rayn

Ryan duduk di tepi ranjangnya sambil melepas sepatunya dan melemparnya sembarangan. Tak peduli ada Rayn di dekatnya yang sedang membaca buku. "Gue kesel hidup kayak gini terus!" Ryan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.

"Aku juga bosan," sambung Rayn.

"Bosen apa lo? Lo enak disayang sama Ayah dan Bunda. Di sekolah juga aman-aman aja gak pernah kena hukuman. Sedangkan gue hampir tiap hari dihukum sama guru dan tiap hari juga dimarahi sama Ayah Bunda. Mereka ingin gue jadi kayak lo tapi mana bisalah." cerocos Ryan yang kosa kata yang memang lebih banyak daripada Rayn.

"Itu kan karena kesalahan kamu sendiri," kata Rayn yang menohok di hati Ryan. Rayn menutup bukunya dan kini melihat Ryan yang memejamkan matanya meski sebenarnya dia tidak tertidur. "Sebenarnya aku ingin menjadi seperti kamu. Aku bosan dengan hidup aku yang selalu dibully di sekolah."

Mendengar perkataan Rayn, Ryan langsung membuka matanya dan bangun dengan cepat. "Siapa yang berani nge-bully lo. Bilang sama gue, biar gue hajar dia." Meskipun Ryan selalu dibandingkan dengan Rayn tapi dia sangat menyayangi saudara kembarnya itu.

"Bukan kayak gitu nyelesain masalah."

Mereka pun terdiam dan duduk berjajar di sisi ranjang. Sama-sama sedang berfikir. Lalu mereka saling berhadapan dan melihat satu sama lain. Ryan melepas kacamata Rayn. Rayn menyipitkan matanya karena jika kacamatanya dilepas pandangannya menjadi kabur. Lalu Ryan merubah tatanan rambut Rayn sehingga sama seperti dirinya. Mereka saling melihat dengan saksama. Lalu mengangkat telunjuk mereka masing-masing.

"Jangan bilang kamu..."

"Yah, dan seperti apa yang ada dipikiran lo. Wajah kita sama. Gue bisa jadi lo dan lo bisa jadi gue." Lalu Ryan memakai kacamatanya. Hanya sesaat, dia melepasnya sambil memegang kepalanya. "Aduh, aduh, kepala gue pusing.."

"Itu kan kacamata minus. Kamu pakai kacamata biasa aja."

"Pinter juga lo." Ryan lalu berdiri dan mengambil pakaian Rayn. "Gue mau mandi dulu. Lo kunci pintunya. Dan lo ganti baju lo pakai baju gue." Ryan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

Rayn segera mengunci pintu kamarnya. Mengambil pakaian Ryan dan segera memakainya. Dia berdiri di depan cermin. Melihat dirinya berpenampilan seperti Ryan. Menata rambutnya agar sedikit berdiri ala-ala Ryan.

Beberapa saat kemudian Ryan keluar. Dia merobohkan rambutnya dan menyisirnya rapi ke samping lalu memakai kacamata. Mereka melihat dirinya masing-masing di cermin. Kini Rayn dan Ryan sudah bertukar identitas.

"Oke sekarang lo Ryan dan gue Rayn," kata Ryan.

"Tapi aku gak pernah bicara pake gue elo."

"Dan gue juga gak pernah pakai aku kamu."

Mereka saling berhadapan dan mengubah ekspresi mereka masing-masing.

"Nama aku Rayn," ucap Ryan mencoba logat Rayn.

"Nama gue Ryan," kata Rayn yang masih saja bersuara pelan.

"Kurang teges lo ngomongnya masak gue lembek gitu," kata Ryan sambil menegakkan badan Rayn agar terlihat gagah dan pemberani.

Mereka saling mencoba logat masing-masing. Setelah dirasanya fasih lalu mereka keluar dari kamar untuk mengetes penyamaran mereka berhasil atau tidak dengan menemui Bunda mereka yang pasti sudah hafal dengan kedua anaknya.

"Ryan, Rayn, sini kalian makan dulu. Cobain masakan baru Bunda."

Mereka pun duduk bersebelahan. Karena Ryan sudah lapar, akhirnya dia mengambil makanan terlebih dahulu. Apa Ryan lupa kalau dia sedang menyamar menjadi Rayn? Mana pernah Rayn mengambil makanan sebanyak itu. Rayn menyenggol lengan Ryan. Tersadar Ryan langsung memelankan aksinya. Rayn pun mengambil makanan. Sedikit banyak dari biasanya. Meski sebenarnya dia juga tidak habis dengan makanan yang lebih banyak itu.

Beberapa saat kemudian Ayahnya juga ikut bergabung denhan mereka.

"Bagaimana Rayn masakan Bunda? Enak kan?" tanya Andini.

Karena belum terbiasa Rayn yang menyamar menjadi Ryan menjawab pertanyaan mamanya. "Enak, Bun."

"Ryan?"

"Iya Bun. Enak," kata Ryan segera menjawabnya agar Bundanya tidak curiga. "Aku yang ditanya Bunda kok kamu yang jawab."

Andini hanya menggelengkan kepalanya. "Rayn, Ryan, kalian gak bisa membohongi Bunda dengan menukar penampilan kalian seperti ini. Bunda itu hafal karakter kalian masing-masing."

Eza pun tertawa melihat tingkah kedua putranya yang sudah beranjak dewasa. "Jangan main-main lagi. Kalian udah beranjak dewasa."

Seketika Rayn dan Ryan terdiam. Rupanya mereka memang tidak pandai berakting. Mereka segera menghabiskan makanan mereka lalu kembali ke kamar mereka.

Di dalam kamar mereka masih menyusun strategi agar tidak ketahuan lagi.

"Kalau di rumah kita gak usah tukar identitas. Cukup di sekolah aja," kata Ryan.

"Iya kamu benar. Besok aku ada PR Kimia." Rayn mengambil buku Kimianya.

"Gue kan gak bisa pelajaran Kimia. Gue kan jurusan IPS bagaimana gue bisa pelajaran IPA." Ryan mulai menggaruk kepalanya. Mengapa tak terpikirkan olehnya sebelumnya.

"Biar aku yang ngerjain PR nya. Nanti kalau pelajaran di sekolah kan baru awal semester pasti kamu bisa mengikuti."

"Lo tahu kan otak gue kayak gimana. Tapi gak papa deh gue akan coba jadi siswa teladan kayak lo."

Rayn melihat isi tas Ryan. Mengeluarkan beberapa buku yang masih saja bersih belum ada tulisan dan beberapa komik. Rayn tak habis pikir, bagaimana dia bisa naik kelas dengan cara sekolah yang kayak gini. "Kamu gak pernah ikut pelajaran? Kosong semua buku kamu."

Ryan tertawa lebar. "Lo kalau jadi gue, gak perlu susah-susah nyatet. Apalagi ngerjain PR. Cukup duduk di pojok paling belakang. Udah gitu terus tidur atau baca komik."

Rayn hanya menggelengkan kepalanya saat Ryan mulai menceritakan segala kebiasannya di sekolah. Benar-benar sangat berbeda dengan dirinya. Dan saat Rayn mulai menceritakan semua yang dilakukannya di sekolah, hampir-hampir Ryan memekik tak percaya.

"Gila lo! Bagaimana lo bisa hidup kayak gitu. Oke, gue pasti bisa dan gue pasti bakal buat pelajaran sama orang yang udah ngebully lo. Siapa namanya tadi, Diega. Dia akan gue buat bertekuk lutut sama lo."

"Jangan. Aku gak mau. Jangan sampai reputasi aku sebagai siswa teladan hilang."

Ryan menghela napas panjang lalu dia merebahkan badannya. Bagaimana bisa saudara kembarnya lebih mentingin reputasi dari pada membela dirinya sendiri.

Terpopuler

Comments

Opa Sujimim

Opa Sujimim

dari bayi juga Uda keliatan si rayn lebih anteng dibanding ryan,tar ceweknya juga jadi ketuker nih pasti😄😄

2023-07-22

0

Zuni Zun

Zuni Zun

yang ada fall in loper sma sella yuuuu ryan..hahaha

2023-05-30

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!