Sejak pagi itu, identitas mereka resmi bertukar. Rayn yang telah terbiasa mengendarai motor scoopy-nya kini harus berganti mengendarai motor sport milik Ryan. Untunglah dia pernah belajar meski sampai sekarang dia masih mengeluarkan keringat dingin saat mengendarai karena merasa takut.
"Rayn, udah gak usah takut. Kayak yang gue ajarin dulu. Langsung aja lo gas jangan ragu-ragu. Gue duluan yah ke sekolah lo." kata Ryan mendahului Rayn.
Akhirnya Rayn sampai di sekolah Ryan. Dia segera memarkir motornya. Baru saja membuka helmnya beberapa gadis sudah menyapanya.
"Pagi Ryan.." tentu saja itu membuat Rayn begitu gerogi. Dia kini turun dari motornya dan berkaca di spion. Melihat dirinya yang seperti Ryan, dia merasa sedikit bangga dengan tampilan yang cool seperti ini. Rayn kini tersenyum melihat dirinya sendiri.
"Ryan lo udah ganteng ngapain masih ngaca lagi." Perkataan seseorang itu membuat Rayn terlonjak kaget. Dia membalikkan badannya dan menatap gadis cantik yang tersenyum padanya.
Nanti saat lo baru masuk ke tempat parkir akan ada beberapa cewek yang nyapa lo. Setelah itu hanya akan ada satu cewek yang deketin lo dan selalu ngajak lo jalan bareng ke kelas. Nama dia Cinta. Cewek berambut panjang yang selalu tergerai dan dengan senyum cerianya. Dia adalah cewek paling popular di sekolah. Dia terus ngejar-ngejar gue meskipun gue gak suka sama dia. Jadi biarin aja dia deketin lo biar nambah popularitas lo di sekolah. Penjelasan Ryan kemaren sudah cukup jelas. Tidak salah lagi gadis yang berada di depan Rayn saat ini adalah Cinta.
"Cinta," panggil Rayn dengan ragu.
"Yah, kenapa? Kenapa lihat gue kayak orang asing gini."
Rayn hanya terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Udahlah lupakan. Lo pasti belum ngerjain PR matematika kan. Nih gue udah ngerjain PR buat lo," kata Cinta sambil memberikan buku Matematikanya pada Rayn.
Rayn mengambilnya dengan ragu. "Makasih" ucap Rayn yang membuat kerutan di dahi Cinta. Tentu saja selama ini Ryan tak pernah bilang terima kasih pada Cinta dan pada siapapun yang memberinya sesuatu.
"Makasih?" Cinta tersenyum. Dia beranggapan bahwa Ryan telah berubah. "Kita ke kelas yuk," ajak Cinta sambil menggandeng tangan Rayn.
Spontan Rayn melepaskan tangan Cinta. Selama ini dia sama sekali tidak pernah menyentuh seorang gadis.
"Kenapa? Bukankah kita udah biasa sentuhan meskipun kita cuma friendzone?" Cinta semakin bertanya-tanya tentang perubahan Ryan pagi ini.
Rayn menghela napas panjang. Gini amat kehidupan Ryan. Aku selalu keluar keringat dingin tiap kali deket cewek. Apalagi sampai bersentuhan gini.
Cinta kembali menggandeng tangan Rayn. Kali ini Rayn membiarkannya. Meskipun dengan sangat terpaksa. Lalu mereka berjalan menuju koridor kelas. Tiap mata tertuju padanya. Rayn benar-benar merasa salah tingkah hingga tanpa sadar dia menabrak seseorang. Tapi justru orang yang dia tabrak itu minta maaf dengan ketakutan.
"Maaf.. Maaf.. Aku gak sengaja."
Rayn hanya terdiam dan menatapnya. Jadi seperti ini rasanya ditakuti semua orang? Kemudian Rayn melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Dia meluruskan pandangannya dan bertingkah tegas seperti Ryan.
Kini Rayn memasuki ruang kelas. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu. Tempat duduk paling belakang dan di pojok kanan. Rayn menuju bangkunya lalu duduk.
Biasanya gue itu kalau duduk di bangku gue dengan awut-awutan. Kadang kaki gue aja sampai atas meja. Kata Ryan di penerangannya kemaren.
Akhirnya Rayn mengeraskan duduknya. Brugghh!
Rayn justru meringis kesakitan.
Aduh! Sakit nih punggung. Kebiasaan Ryan benar-benar aneh.
Tak lama kemudian seorang guru lelaki masuk ke dalam kelas.
Berwajah sangar dan sedikit botak. Dia adalah guru matematika. Kalau menerangkan sangat membosankan. Namanya Pak Teguh. Dan saat Pak Teguh menerangkan pelajarannya, biasanya gue tidur kalau gak baca komik dalam kelas.
Rayn pun memutar bola matanya. Apa dia harus melakukan hal itu seperti Ryan. Demi penyamarannya akhirnya dia melakukannya. Saat Pak Teguh mulai membahas PR kemaren di depan kelas, Rayn mencoba untuk tidur dengan menangkup wajahnya. Hanya beberapa saat. Lalu dia kembali menegakkan kepalanya. Dia sama sekali tidak bisa tidur di dalam kelas. Biasanya dia selalu memperhatikan setiap guru yang menerangkan di depan kelas.
Baca komik! Yah, yah baca komik aja. Rayn mengambil komik yang ada di dalam tasnya lalu dia selipkan di buku catatannya dan membacanya. Matanya mulai pusing membaca tulisan hitam putih bergambar itu. Dia pun menutup komiknya dengan keras hingga membuat Pak Teguh menoleh ke arahnya.
"Ryan ngapain lagi kamu. Selalu membuat ulah. Sekarang kamu maju ke depan dan kerjakan soal yang ada di papan tulis."
Rayn melihat soal itu, tentu saja itu sangat mudah baginya. Dia maju ke depan dan segera mengerjakan soal yang ada di papan tulis. Begitu cepat sampai Pak Teguh tak percaya melihatnya. "Bagaimana kamu bisa mengerjakan soal ini dengan cepat? Padahal selama ini kamu tidak pernah memperhatikan pelajaran Bapak." Pak Teguh menggelengkan kepalanya tak percaya.
Rayn mencoba meniru logat Ryan. "Iya dong, Pak. Namanya manusia kan harus berubah." Rayn lalu kembali duduk ke bangkunya dan diapun mendapati senyuman kagum dari semua gadis yang ada di kelasnya. Rayn menopang kepalanya membayangkan hari-hari selanjutnya hidup sebagai Ryan. Apakah yang dilakukannya ini benar?
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Opa Sujimim
sikembar berbeda karakter,👍
2023-07-22
0