Jam istirahat juga dialami Ryan yang sedang berada di sekolah Rayn. Seperti perjanjian tadi pagi, Diega segera menggeret Ryan ke lapangan basket. Diega bermaksud mempermalukan Ryan. Tapi dia tidak tahu bahwa yang dihadapannya sekarang bukan Rayn tapi Ryan yang begitu jago bermain basket.
Emosi Ryan semakin terpancing. Dia melepas kacamatanya dan menaruh di bangku dekat lapangan basket. Lalu mengacak rambutnya yang tadi tertata rapi. Melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing atas seragamnya.
Melihat perubahan Ryan, para gadis di SMA itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rayn yang yang biasanya sangat cupu, dia bisa berubah menjadi sekeren ini.
Shella juga ikut mendekat. Dia juga tak percaya melihat perubahan Ryan. "Rayn!" teriak Shella.
Ryan menoleh ke arah Shella sambil tersenyum manis. Shella melebarkan matanya. Dia sangat kagum. Inikah ketampanan Rayn yang selama ini bersembunyi di balik kecupuannya.
Sorry Rayn, terpaksa gue ubah identitas lo sekarang. Hanya untuk saat ini. Gue cuma gak mau lo terus dibully Diega.
Ryan mulai mendrible bola basket yang berada di tangannya.
Diega hanya mencibir. "Lo banyak gaya sekarang. Lo mau nyaingin gue! Lo gak akan bisa! Sekali cupu tetap cupu."
Ryan begitu emosi. Dia langsung melempar bola basketnya dan tepat sasaran, bola itu masuk ke dalam ring.
"Lo pikir gue itu gak bisa berubah."
Diega semakin emosi. Dia segera megambil alih bola basket itu lalu mendriblenya sesaat dan menembaknya ke ring. Tapi sayang sekali tembakannya meleset.
Ryan mengacungkan jempolnya ke atas lalu memutarnya ke bawah yang berarti payah. Dengan cepat lagi Ryan mengambil bola basket itu. Hanya beberapa kali drible-an, Diega berusaha merebut bola itu tapi gagal. Lalu Ryan segera menshoot bola itu lagi dan tepat masuk ke dalam ring.
Senyum angkuh pun mengembang di wajah Ryan. Dia mendekati Diega "Lo lihat kan. Lo harus bisa terima kekalahan lo. Dan mulai sekarang lo gak boleh lagi deketin Shella sesuai perjanjian kita tadi pagi." Ryan membalikkan badannya dan berjalan ke pinggir lapangan.
Diega hanya mengepalkan tangannya. Dia tidak terima dengan kekalahan itu. "Persetan dengan perjanjian itu."
Kini Ryan mengambil kacamatanya di bangku dekat taman.
"Rayn..." panggil Shella pelan sambil terus memandang Ryan. "Ini kamu?"
Ryan hanya tersenyum lalu dia memakai kacamatanya lagi dan menata rambutnya rapi seperti Rayn sedia kala. "Iya ini aku. Emang siapa?" Ryan mengusap pelan pundak Shella. "Setiap orang pasti akan berubah. Tapi aku akan tetap jadi Rayn seperti yang kamu kenal." Ryan membalikkan badannya dan berjalan perlahan meninggalkan Shella.
Shella terus memandang punggung Ryan yang kian menjauh. Dia ingin menyusulnya tapi langkahnya tertahan oleh Diega. "Shel, lo jangan pernah tertipu sama Rayn lo lihat kan tiba-tiba dia bisa berubah."
Shella kini menatap tajam Diega. "Kalau dia udah berubah kenapa? Lo takut tersaingi." Shella membalikkan badannya karena dia sudah merasa muak melihat wajah Diega.
"Ngapain gue takut. Shell..." Diega beralih ke hadapan Shella. "Sampai kapanpun gue akan tetap cinta sama lo. Entah berapa kali lo nolak cinta gue."
"Gue udah bilang berkali-kali sama lo, gue gak cinta sama lo. Lebih cari cewek lain saja yang lebih baik dari gue." Shella memutar kakinya dan mulai melangkahkan kakinya pergi menjauhi Diega.
"Gak ada cewek yang lebih baik dari lo!" teriak Diega namun tak berhasil menghentikan langkah Shella. Sejak masuk di SMA itu Diega memang sudah tergila-gila dengan Shella. Tapi karena tingkah nakal Diega, Shella tidak menyukainya bahkan untuk sekedar berbicara pun tidak mau. Apalagi saat Diega terus mem-bully Rayn, Shella semakin tak menyukainya.
Rupanya langkah Shella tertuju pada seseorang yang sedang duduk di depan kelas sendirian. Perlahan dia duduk di sampingnya tanpa membuyarkan lamunan orang itu.
"Rayn bagaimana lo bisa hidup kayak gini?" gumam Ryan yang belum menyadari ada Shella disampingnya dan mendengar hal itu.
"Apa kamu bilang?" tanya Shella memastikan pendengarannya.
Seketika Ryan menoleh ke arah Shella dengan terkejut. Tapi dia berusaha bersikap biasa saja agar Shella tidak mencurigainya. "Eh, nggak. Bukan apa-apa kok." Ryan sedikit menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal.
"Aku gak nyangka ternyata kamu jago juga main basket."
"Ooo.. Itu karena aku banyak belajar dari kakak." Ryan berusaha bersikap manis.
"Emang kamu punya kakak?" tanya Shella lagi.
Ryan memutar bola matanya. Yah, tentu saja dia mempunya kakak yang bernama Rayn yang tak lain adalah saudara kembarnya. "Punya." jawabnya singkat. Kalau banyak bicara dia takut Shella akan curiga.
"Aku baru tahu kamu punya kakak. Pasti mukanya mirip kamu."
Ryan hanya mengangguk. Yaiyalah orang saudara kembar juga.
Shella kini menatap Ryan dengan serius. "Ka, aku tahu Diega selalu ngebully kamu gara-gara aku. Dia gak mau aku deket-deket sama kamu. Tapi aku gak suka sama dia." Shella masih saja menatap Ryan. "Tapi bagaimana pun juga kamu jangan jauhin aku seperti sebelumnya yah. Kamu jangan takut sama Diega."
Ryan benar-benar tak mengira dengan apa yang dikatakan Shella. Rayn.. Rayn.. Lo katanya suka sama Shella. Udah jelas-jelas Shella juga suka sama lo tapi lo gak ada keberanian. Biar gue bantu lo buat ngasih kode sama Shella.
Ryan membalas tatapan Shella sambil tersenyum. Senyuman khas darinya yang berbeda dengan Rayn. Tak jarang juga gadis-gadis dibuat jatuh hati oleh senyumannya. Perlahan Ryan mengusap rambut Shella dan menyematkan sedikit rambut Shella di telinganya. "Cantik.." ucapnya pelan yang hampir-hampir tak didengar Shella.
"Apa Rayn?"
"Eh, nggak.. Bukan apa-apa kok." Ryan terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya dia meluncurkan pertanyaan yang mungkin belum pernah Rayn tanyakan. "Hmmm, Shell kenapa sampai sekarang kamu belum punya pacar?"
Shella terdiam sejenak. Sebelum akhirnya senyum manis pun mengembang lagi di bibirnya. "Itu karena sampai sekarang aku gak tahu seseorang yang aku suka memiliki perasaan yang sama atau gak sama aku. Kamu sendiri kenapa belum punya pacar?"
"Itu karena aku belum punya keberanian untuk ungkapin perasaanku pada dia. Meskipun aku selalu dekat sama dia dan dia juga selalu baik sama aku. Tapi aku emang orangnya penakut. Mana bisa aku nembak cewek." Rupanya Ryan sudah jago berakting seperti Rayn meskipun kata-katanya tak luput dari pengkodeannya sama Shella.
"Aku yakin kamu pasti bisa. Kamu harus mencobanya karena kamu seorang cowok yang harus memberi kepastian." Shella meyakinkan Ryan.
"Pasti, pasti aku akan mencobanya." kata Ryan sambil menggenggam tangan Shella. Ryan seperti merasakan sesuatu yang berbeda. Dia sudah sering dekat dengan banyak cewek tapi tak pernah seperti ini. Apalagi saat Shella melepaskan tangan Ryan dan tersenyum malu. Ryan semakin yakin kalau Shella bukan gadis sembarangan.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Gita Oktasari
semangat kak, aku udah baca cerita othor mulai dari emaknya si kembar, smpai si kembarnya,aku paling suka baca cerita turun temurun kek gini,
2023-07-11
0