Malam hari itu, Rayn dan Ryan keluar bersama menikmati malam minggu. Rayn tak memakai kacamatanya, dia berpenampilan keren seperti Ryan.
Bunda mereka sampai menggelengkan kepalanya heran melihat si kembar yang tiba-tiba akur. "Kalian mau kemana? Tumben akur banget?" Andini kini berjalan mendekat lalu melihat Rayn dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Ini kenapa penampilan Rayn bisa berubah? Ryan kamu pengaruhi Rayn?"
"Iya Bun, biar keren sama kayak Ryan. Gimana Bunda pasti seneng kan punya anak yang ganteng-ganteng gini."
"Iya seneng tapi awas aja kalau kamu ajarin Rayn yang gak bener. Kamu itu kalau bisa harus seperti Rayn jadi yang lebih baik," kata Andi mewanti-wanti Ryan.
"Iya Bun. Ya udah, kita mau berangkat dulu." Mereka kini berpamitan pada Bundanya.
"Tunggu dulu kalian mau kemana?"
"Mau jalan-jalan ma ke mall."
Kemudian mereka berjalan keluar dari rumah dan menuju motor masing-masing.
"Yan, kita gak satu motor aja?" tanya Rayn.
"Nggak ah. Ntar orang pusing liatnya. Oiya, gue pakai scoopy lo aja yah. Enteng banget bawanya." Tanpa menunggu jawaban dari Rayn, Ryan langsung menaikinya.
"Ya udah deh. Sekalian biar aku fasih naik ini moge." Rayn pun langsung menaiki motor Ryan. Beberapa saat kemudian motor mereka mulai melaju. Megelilingi jalanan kota yang cukup ramai saat itu karena memang malam minggu. Melaju santai sambil menikmati angin malam yang menerpa tubuh mereka.
Beberapa saat kemudian mereka menghentikan motor mereka di tempat parkir sebuah mall yang cukup besar di pusat kota mereka. Mereka hanya berniat jalan-jalan tanpa membeli barang.
"Rayn, ngopi dulu yuk!" ajak Ryan.
"Oke." Rayn mengiyakan ajakan Ryan.
Mereka masuk ke dalam kedai kopi yang dipenuhi para remaja yang sedang bersama pasangan. Tiba-tiba Ryan menarik Rayn secara mendadak agar bersembunyi di balik tembok penyekat.
"Ada apa sih, Yan?"
Ryan melihat seseorang yang sedang duduk menikmati kopi capuccinonya dengan santai. "Ada Cinta."
Rayn melihat arah telunjuk jari Ryan yang menunjuk pada Cinta. "Ya udah kita keluar aja yuk." Rayn membalikkan badannya tapi dia malah menyenggol seorang pelayan. "Eh, maaf." Suara Rayn begitu keras karena dia sangat terkejut.
Spontan Cinta melihat ke arah suara itu, karena dia merasa kenal dengan suara itu. "Ryan."
Ryan yang ada di belakang Rayn langsung bersembunyi hingga yang terlihat hanyalah Rayn. Mau tidak mau Rayn menghampiri Cinta dan lagi-lagi sebagai Ryan. "Kok lo bisa ada di sini?" Kemudian Rayn duduk di kursi depan Cinta yang masih kosong.
Melihat hal itu dengan cepat Ryan segera keluar. Dia merasa senang karena Rayn menyelamatkannya dari Cinta.
"Iya, gue lagi sebel banget tau gak. Gue janjian sama temen gue di sini sampai sekarang belum datang juga. Tapi sekarang udah ada lo jadi kita bisa kencan malam ini." Cinta meraih tangan Rayn yang ada di atas meja dan menggenggamnya.
"Eh.." Rayn melepaskan genggaman tangan Cinta karena dia merasa risih. "Kencan? Kita kan cuma temen." Mungkin Rayn salah berbicara saat itu hingga membuat raut wajah Cinta berubah menjadi sedih. "Eh, maksud gue temen rasa pacar." Konyol, dapat kata-kata darimana itu Rayn, tapi kata-kata itu membuat senyum di bibir Cinta mengembang lagi.
Gue yakin suatu saat nanti status kita akan berubah. Gue akan menunggu saat itu tiba. Cinta memang sangat mencintai Ryan. Dia tak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya. "Yan, kita halan-jalan ke taman yuk. Cari angin."
Rayn menarik napas panjang. Gara-gara Ryan aku jadi kejebak sama Cinta. Tapi aku juga gak mau ngebuat Cinta kecewa.
"Oke. Yuk." Mereka segera berdiri dan keluar dari kafe.
Cinta terus menggandeng tangan Rayn dengan mesra. Rayn memang risih tapi mau bagaimana lagi, dia tidak ada hak untuk melukai Cinta karena dia sekarang sedang menjadi Ryan bukan Rayn.
...***...
Untung ada Rayn, kalau gak pasti sekarang gue udah digelayuti terus sama Cinta. Tapi sekarang gue mau kemana yah?
Ryan menggaruk kepalanya karena tidak bisa menentukan tujuannya. Dia berjalan tanpa arah, tak sengaja dia menabrak seorang gadis. "Eh, sorry." Gadis itu mendongak. "Shella.."
Shella mengerjapkan matanya beberapa saat. Sebelum akhirnya dia mengenali seseorang yang ada di depannya saat ini. "Kamu, Rayn?"
Secara otomatis Ryan harus menjadi Rayn lagi. "I-iya."
Shella menatap penampilan Rayn. "Kamu kok tumben berpenampilan seperti ini?"
"Hmm, aku.." Tiba-tiba Ryan menarik tangan Shella. "Kalau mau aku ceritain yuk ikut aku ke taman." tanpa mendengar jawaban dari Shella, Ryan langsung menuntunnya berjalan keluar dari mall. Berjalan beberapa meter menuju taman.
Shella sedikit kebingungan dengan apa yang dilakukan Ryan. "Aku belum iyain kenapa kamu udah narik aku ke sini."
"Karena aku tahu kamu pasti mau." Ryan pun duduk di bangku taman.
Shella juga duduk di samping Ryan. Dia sedikit tersenyum. Memang saat itu dirinya sedang bingung mau jalan kemana sendirian karena dia lagi tidak ingin di rumah. "Kamu kok tahu?"
"Ya tahu. Kamu sendirian kan?" ucap Ryan lagi-lagi sambil menunjukkan senyum mautnya yang khas.
Shella semakin terpesona oleh senyuman Ryan. "I-Iya aku sendiri. Aku lagi bete di rumah."
"Kebetulan banget kan? Jangan-jangan kita jodoh."
Shella mengernyitkan dahinya tapi matanya nampak berbinar-binar mendengar hal itu. "Hmm, katanya kamu mau ngasih alasan kamu kenapa kamu berubah?"
"Ooo itu," Kali ini Ryan menatap Shella saat akan menerangkan alasannya. "Yah, setiap orang pasti akan berubah. Tapi perubahan pada orang harus bisa jadi yang lebih baik bukan sebaliknya. Menurut kamu aku berpenampilan kayak gini cocok gak?" tanya Ryan sambil menyugar rambutny sesaat agar ketampanannya semakin terpancar.
Shella tersenyum. Cukup malu baginya jika harus mengakui bahwa lelaki yang berada di depannya saat ini sangatlah tampan. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Makasih. Aku yakin pasti aku lebih cakep berpenampilan kayak gini."
Shella semakin tertawa mendengar Ryan yang sangat percaya diri. Belum juga dia bilang udah ucapin makasih. Dan... Sejak kapan seorang Rayn bisa narsis seperti ini. Apa ini termasuk salah satu perubahannya.
"Iya tentu. Pasti kamu sekarang bisa dapetin cewek yang kamu sukai dari dulu."
"Iya. Kalau dia juga punya perasaan yang sama." Ryan tersenyum penuh arti.
"Tapi menurut aku, seseorang yang benar-benar mencintai kamu pasti bisa terima kamu apa adanya. Hmm... Aku aja lebih suka sama peampilan kamu seperti biasa, apa adanya dan tetap jadi diri sendiri."
Karena Ryan mempunyai daya peka yang tinggi, dia mengerti apa yang Shella maksud. Shella mencintai Rayn dengan apa adanya. Bahkan tanpa harus merubah penampilan. Tapi justru kata-kata Shella membuat kekaguman Ryan bertambah. "Kamu seseorang yang punya pikiran dewasa yah. Seseorang yang bisa memiliki kamu pasti sangat bahagia."
Shella mengalihkan pandangannya, menyembunyikan merah merona di pipinya. Angin yang berhembus malam itu membuat Shella mendekap tangannya. Dingin mulai terasa di tubuhnya karena dia hanya memakai baju lengan pendek Lagi-lagi Ryan begitu peka, dia langsung melepas jaketnya dan memakaikannya pada Shella. Spontan Shella menoleh Ryan. Detak jantung Shella hampir saja berhenti saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Ryan begitu juga dengan tatapan mereka yang saling bertaut. Mereka bertatapan beberapa saat.
"Eh, hmmm.. Jaketnya." Perlahan Shella menjauhkan wajahnya. Dia menjadi salah tingkah.
"Gak papa kamu pakai aja. Aku tahu kok kamu kedinginan." Ryan begitu perhatian pada Shella. Apakah Ryan memang sudah jatuh cinta?
"M-Makasih." ucap Shella sambil menundukkan kepalanya. Wajahnya semakin bersemu merah. Selama ini Rayn tidak pernah membuatnya salah tingkah. Meskipun Shella sering berada di dekatnya, karena yang Rayn bicarakan tak lepas dari pelajaran di sekolah. Baru kali ini dia merasakan dirinya melambung dengan perlakuan Rayn yang sebenarnya adalah Ryan itu.
Ryan masih saja tersenyum menatap gadis yang malu-malu berada di sampingnya. Dia sangat berbeda dengan Cinta yang begitu agresif. Terbesit dibenaknya untuk mencium gadis ini. Bibir tipisnya yang begitu menggoda mengajak perang batin Ryan. Enggak! Hanya itu yang diterapkan Ryan dalam otaknya. Dia bukan gadis sembarangan. Tidak mungkin dia melakukannya pada Shella.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments