Ryan menghentikan motornya di depan rumah Shella. Shella segera turun dari motor. Dia terlihat begitu cantik di bawah cahaya lampu yang temaram menyinari jalanan malam itu yang gelap. Ryan terpaku sesaat. Sebelum akhirnya tersadar oleh lambaian tangan Shella di depan wajahnya. "Hei, kok bengong.."
"Eh, iya.." Ryan menjadi salah tingkah.
"Makasih buat malam ini." ucap Shella sambil tersenyum lalu dia membalikkan badannya tapi tangan Ryan memegang lengannya untuk menahannya pergi.
"Aku mencintaimu..." ucap Ryan. Meski tidak terlalu keras tapi Shella begitu jelas mendengarnya. Shella hanya terdiam dan terpaku. Perlahan Ryan melepaskan tangannya.
Bodoh! kenapa gue bilang gitu sama Shella, Rayn bisa marah sama gue.
Tanpa berkata apa-apa lagi Ryan menjalankan motornya dan meninggalkan Shella yang masih berdiri mematung
...***...
Rayn sampai di rumahnya dan bergegas masuk ke dalam kamar. Dia melihat Ryan sudah tertidur di atas kasurnya. Dia berpikir pasti Ryan sudah sampai di rumah sedari tadi. Padahal tidak, Ryan baru saja sampai di rumah dan berpura-pura tidur saat Rayn memasuki kamar. Dia tidak mau Rayn bertanya yang aneh-aneh padanya.
Rayn duduk di tepi ranjang dan melenguh panjang. Dia memegang bibirnya. Bibir yang sudah merasakan bibir Cinta yang merupakan first kiss baginya. Dan ada satu hal yang mengganjal pikirannya, bagaimana kalau Ryan sampai tahu tentang ciuman itu? Apa Ryan akan marah padanya.
Rayn merebahkan badannya, menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih. Rasanya dia tidak bisa terpejam malam itu. Lalu dia memiringkan badannya memunggungi Ryan.
Mana mungkin aku bisa terpejam malam ini. Bayangan itu terus berputar-putar di pikiranku. Apa aku harus kembali saja menjadi diri aku sendiri sebelum aku terjebak terlalu dalam.
Di belakang Rayn, Ryan menoleh sesaat melihat Rayn. Dia juga mengira Rayn telah tertidur. Ryan sama sekali tak bisa terlelap. Dia masih memikirkan ucapannya pada Shella.
Bodohnya gue udah bilang cinta sama Shella. seandainya dia membalas cinta gue itu tandanya dia mencintai Rayn, karena dia tidak tahu kalau gue bukan Rayn. Dan bagaimana kalau Rayn tahu tentang semua ini?
Entah sampai jam berapa mereka akhirnya tertidur.
...***...
Matahari mulai menampakkan sinarnya dengan terang. Si kembar ini masih saja dengan rapat memejamkan matanya. Meskipun hari itu adalah hari Minggu, mereka ada kegiatan ekskul di sekolah mereka masing-masing.
"Rayn! Ryan! Bangun!!" teriak sang bunda dari luar kamar sambil menggedor kamar mereka dengan keras. "Rayn! Ryan! Katanya ada ekskul kenapa kalian belum bangun, ini udah siang!"
Rayn dan Ryan menggeliat sesaat. Sebelum akhirnya mereka silau dengan terik matahari yang sudah masuk ke dalam kamar dengan terang. Mereka sangat terkejut dan bangun secara bersamaan. "Hah? Udah siang!" mereka segera turun dari tempat tidur lalu bergegas menuju kamar mandi secara bersamaan.
"Ryan aku dulu!"
"Gak! Gak! Gue udah telat banget ini."
"Kamu di kamar kamu sendiri sana!"
Akhirnya Ryan kembali ke kamarnya dan segera membasuh dirinya.
Tak butuh waktu lama mereka langsung bersiap-siap dan segera turun dari kamar.
"Kalian gak sarapan dulu?" tanya Andini yang hanya melihat mereka hanya meneguk minuman dan bergegas pergi.
"Gak Bun, udah telat banget ini." jawab Ryan sambil melangkah cepat yang dibelakangnya diikuti Rayn. Di depan mereka saling melempar kunci motor. Kali ini mereka tidak bertukar identitas. Karena Ryan harus ikut ekskul basket yang Rayn sama sekali tidak bisa. Sedangkan Rayn mengikuti English Conversation Club yang sudah pasti Ryan tidak bisa sama sekali.
"Akhirnya bisa naik motor kesayanganku lagi." jata Rayn sesaat sebelum akhirnya dia melajukan motor scoopynya.
Jalanan saat itu sangatlah lancar sehingga Rayn dengan cepat telah sampai di sekolahnya. Segera dia memarkir motornya dan berlari menuju ruang ekskul yang memang sudah dimulai. "Maaf saya terlambat." Suara Rayn membuat seluruh anggota menoleh ke arahnya. Begitu juga dengan Shella.
"Oke. Silakan masuk."
Rayn segera berjalan dan duduk. Entah kenapa dia merasa berbeda melihat cara Shella menatapnya. Jarak mereka yang dekat dan sejajar membuat mereka dengan mudah bertatap. Rayn merasa benar-benar tidak konsentrasi. Apalagi setelah beberapa hari ini dia berada di sekolah Ryan. Seperti ada sesuatu yang berbeda. Rayn hanya diam saja sampai ekskul selesai.
Anggota lain satu per satu keluar. Hingga kini tinggallah Rayn dan Shella di dalam kelas. Shella memberanikan diri mendekati Rayn. Dia duduk di samping Rayn dan menatapnya. Hal itu membuat Rayn gugup.
"Hmm, Rayn tumben kamu terlambat?" tanya Shella yang memulai pembicaraan.
"Aku bangun kesiangan." Rayn berusaha tersenyum agar dirinya merasa lebih rileks.
"Pasti semalem kamu gak bisa tidur yah sampai kesiangan. Oiya.." Shella memberikan jaket Ryan yang semalam lupa dia kembalikan. "Makasih yah. Aku lupa semalem mau kembaliin ke kamu."
Tanda tanya besar bagi Rayn. Bagaimana jaket Ryan bisa berada di tangan Shella? Dia sama sekali tidak tahu kalau Ryan bertemu dengan Shella semalam. Apa yang sebenarnya terjadi sampai Ryan menyembunyikan hal ini darinya? Rayn hanya terdiam dengan sejuta pertanyaan di hatinya.
"Hmm, Ka. Apa kata-kata kamu semalam serius?"
Pertanyaan Shella membuat Rayn tak mengerti. Kata-kata apa? Kata-kata apa yang membuat Shella bertanya begitu serius. "Kata-kata apa?" tanya Rayn dengan pelan.
Shella merasakan perbedaan pada Rayn. Dia merasa Rayn lebih dingin saat ini. "Kamu lupa?"
Rayn benar-benar bingung. Apa yang sebenarnya diucapkan sama Ryan.
"Kamu bilang semalam kalau kamu..." Shella menghentikan perkataannya sejenak yang membuat Rayn semakin penasaran. "Kalau kamu cinta sama aku."
Rayn melebarkan matanya mendengar hal itu. Bagaimana bisa Ryan mengungkapkan cinta pada Shella. Apa tujuan Ryan? Apa Ryan benar-benar mencintai Shella atau hanya ingin membantunya saja? Rasa marah pun muncul di hatinya. Bagaimana tidak, Ryan telah mendahuluinya untuk mendekati Shella sampai sejauh ini.
"Itu bukan aku." kata Rayn sambil berdiri lalu berjalan keluar dari kelas. Meskipun itu adalah suatu penyesalan di hatinya telah meninggalkan Shella. Dia merasa benar-benar seorang yang bodoh. Kenapa dia selalu tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Tidak seperti Ryan.
Shella duduk termenung. Dia tak percaya dengan apa yang dikatakan Rayn. Bagaimana mungkin Rayn bilang jika bukan dia yang mengungkapkan itu. Bunga yang mekar di hatinya semalam kini layu. Kenapa Rayn bisa berubah begitu cepat?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Opa Sujimim
tuh kan jadi ribet 😇😇
2023-07-22
0