Untunglah pintu gerbang belum tertutup meskipun Ryan adalah orang terakhir yang memasuki sekolah. Segera dia memarkir motornya dan berlari menuju kelas. Dengan tergesa dia masuk kelas dan duduk dibangkunya.
"Rayn tumben kamu kesiangan?" tanya Shella yang tempat duduknya berada di sebelah Ryan.
"Ada masalah tadi di jalan." jawabnya.
Shella menatap wajah Ryan, dua melihat ada luka memar di wajah Ryan. "Kamu habis berantem? Sama Diega?" tanya Shella dengan khawatir. Tentu saja Shella bisa menebak siapa orang yang telah memukulnya. Satu-satunya orang yang sangat tidak menyukai Rayn hanyalah Diega.
Ryan mengangguk. "Aku gak peduli. Walaupun dia memukulku beberapa kali yang pening dia tidak akan pernah mendapatkan kamu."
Shella tersenyum tipis. Rupanya gombalan Ryan sudah menjadi candu baginya. "Tapi aku gak mau kamu terluka gara-gara aku."
"Kamu tenang aja, Diega pasti gak bakal berani macam-macam lagi sama aku." Ryan juga tersenyum. Yah, meskipun dia sebenarnya masih memikirkan Rayn. harusnya Rayn yang berada di dekat Shella saat ini. Dia sadar yang Shella cintai itu Rayn. Rayn sakit seperti ini juga gara-gara memikirkan Shella.
Gue tahu harusnya lo yang ada di sini dan merasakan cinta Shella. Kapan lagi gue mengalah demi saudara kembar gue sendiri. Meskipun gue sebenarnya juga sangat mencintai Shella tapi demi Rayn gue rela. Yah, gue harus menceritakan yang sebenarnya dan mengakhiri pemainan ini. Gue harus bisa mempertemukan Rayn sama Shella.
"Shil, nanti siang ikut aku ke rumah yuk."
"Hmm." Shella nampak berpikir sesaat. "Oke. Tapi aku gak bisa lama yah."
Beberapa saat kemudian guru mereka masuk ke dalam kelas. Seketika mereka menghentikan pembicaraannya dan pelajaran pun akan dimulai.
...***...
"Ryan sakit?" Cinta sangat khawatir saat dia mendapat kabar bahwa Ryan sedang sakit. Seorang Ryan bisa sakit? Jelas saja selama ini Ryan hanya membolos tanpa alasan.
Ryan kenapa kamu bisa sakit sih? Apa karena kamu ajak aku ke bukit semalam? Aku jadi khawatir sama kamu. Aku harus ke rumah kamu nanti siang.
Seharian itu terasa sangat lama bagi Cinta. Dia tidak fokus mendengarkan pelajaran karena di dalam pikirannya hanya ada Ryan.
Saat bel pulang sekolah telah berbunyi, dengan semangat Cinta mengemasi barang-barangnya dan bergegas keluar dari kelas. Dia berlari keluar dari sekolah hingga melintasi gerbang sekolah.
Cinta segera memesan ojek online Untunglah Cinta langsung mendapatkan ojek online itu. Tak berapa lama motor itu melaju ke alamat rumah Ryan.
Setelah sampai di depan rumah Ryan, pandangan Cinta menyapu setiap sudut rumah Ryan. Dia merasa deg-degan karena baru pertama kalinya dia datang ke rumah Ryan.
Cinta melangkahkan kakinya mendekati pintu masuk rumah Ryan. Mengetuknya beberapa kali namun tak ada sahutan. "Apa gak ada orang di dalam?" gumam Cinta.
Cinta akhirnya mencoba membuka knop pintu yang tidak terkunci itu. "Gak terkunci?" dia membukanya perlahan. Lalu berjalan pelan masuk ke dalam rumah Ryan. Meskipun terbilang lancang dan tidak sopan tapi tak apalah, ini semua demi bertemu dengan Ryan dan melihat kedaannya.
Cinta menengok ke kanan dan kiri di rumah luas Ryan. Mata indah Cinta membulat saat dilihatnya Ryan yang sebenarnya adalah Rayn itu sedang berjalan dengan perlahan keluar dari kamarnya. Cinta langsung berlari mendekat dan memegang lengan Rayn.
Rayn sangat terkejut dengan kehadiran Cinta. "Kamu kenapa bisa ada di rumah aku?"
"Ya bisa dong. Aku ke sini mau jenguk kamu. Aku khawatir sama kamu. Kamu sakit apa sih?"
Rayn berjalan pelan yang dibantu oleh Cinta menuju sofa. "Aku cuma demam aja." Mereka berdua duduk bebarengan di sofa. Cinta langsung memegang kening Rayn mengecek seberapa panas badan Rayn.
"Aku udah baikan." Rayn meraih tangan Cinta yang ada di keningnya. Menggenggamnya beberapa saat dengan pandangan mata yang saling terpaut. "Makasih yah, kamu udah repot-repot datang ke sini." Perlahan Rayn melepaskan genggaman tangannya.
"Justru kalau aku gak datang ke sini, aku kepikiran terus sama kamu. Mama kamu kemana? Kok sepi?"
"Bunda lagi keluar." kata Rayn sambil menguap panjang karena efek dari obat yang baru dia minum.
"Kamu ngantuk? Kamu istirahat di kamar aja yah, biar aku pulang."
Rayn menarik lengan Cinta saat Cinta akan berdiri. Dia mencegahnya untuk pergi hanya dengan menggelengkan kepalanya. Apa Rayn sudah berubah pikiran dengan perasaannya pada Cinta? "Kamu jangan pergi dulu. Kamu kan udah terlanjur ke sini masak cuma bentar."
Rayn hanya berpikir, tidak seharusnya perhatian Cinta selama ini padanya dibalas dengan kekecewaan. Meskipun Cinta hanya menganggapnya sebagai Ryan.
Di luar rumah Rayn, Ryan datang bersama Shella. Mereka berjalan mendekati pintu masuk. Ryan memegang gagang pintu rumahnya dan saat pintu sedikit terbuka dia melihat Cinta yang sedang duduk bersama Rayn. Seketika Ryan langsung menutup pintunya kembali dengan cepat namun tanpa bunyi. Ryan menarik nafas panjang. Dia belum siap jika harus bertemu Cinta juga saat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments