Di kelas XI IPS 2, terlihat ada seorang guru yang sedang menerangkan materi pelajaran di depan kelas. Semua siswa begitu fokus mendengarkan setiap penerangan Bapak guru itu. Terkecuali satu siswa yang duduk di bangku pojok paling belakang, rupanya dia sedang tidur ganteng di dalam kelas dengan menangkup wajahnya di atas meja.
Mata jeli Pak Teguh sang guru Matematika mengetahui sedang apa siswanya yang satu ini. Dia berjalan mendekat. "Ryan." Panggilnya. Ya, siapa lagi kalau Ryan Handoko si anak konglomerat itu. Dia salah satu siswa yang sangat bandel di sekolahnya. Sering datang terlambat bahkan membolos. Tak jarang juga dia sering tidur di kelas yang sangat berakibat dengan nilainya yang pas-pasan. Seringkali dia mendapat teguran dan hukuman dari beberapa guru. Bahkan beberapa kali surat panggilan orang tua sudah melayang ke rumahnya. Namun semua itu tak juga membuat Ryan jengah.
"Ryan!!!" panggil Pak Teguh semakin keras. Tapi rupanya Ryan masih saja tidur dengan nyenyaknya. "Ryan Handoko!!!" teriak pak Teguh lagi yang kali ini dibarengi dengan gedoran keras tangannya di meja Ryan.
Spontan Ryan langsung terbangun dengan mata merahnya. Dia mengacungkan tangannya sambil bilang. "Hadir Pak.." perkataan Ryan mengundang gelak tawa seluruh kelas. Mungkin dia mengira pak Teguh sedang mengabsennya. Ryan menoleh ke sampingnya, terlihat Pak Teguh sedang marah menatapnya. Ryan hanya tersenyum tak berdosa. "Pak Teguh, maaf saya ketiduran."
"Ryan kamu benar-benar keterlaluan. Sudah berapa kali kamu ketiduran di kelas Bapak?!"
Ryan nampak menghitung dengan jarinya yang langsung mendapat satu jeweran dari Pak Teguh.
"Sekarang Bapak akan beri hukuman pada kamu. Kamu putar lapangan basket sebanyak 10 kali." Pak Teguh sudah begitu geram dengan siswa yang satu ini.
"Hah? 10 kali." Mendengar itu mata Ryan yang tadinya masih 5 watt seketika melebar. "Gak salah Pak? Ini panas banget. Bisa dehidrasi saya, Pak."
"Ryan, lakukan itu sekarang atau akan Bapak tambah hukuman kamu!" Pak teguh semakin marah dan membentak Ryan yang sangat bebal.
"I..Iya Pak." Ryan pun berdiri.
Sebelum melangkah rupanya pak Teguh melihat sesuatu yang ada di telinga Ryan. "Eh, eh, itu apa di telinga kamu?"
Seketika Ryan memegang telinganya dan langsung melepas anting di telinga sebelah kanannya. Begitulah penampilan Ryan saat di sekolah. Dia sangat bad boy. "Bukan apa-apa, Pak. Sudah tidak ada kan?" Ryan segera berlenggang keluar kelas sebelum Pak Teguh menambah lagi pidatonya.
Pak Teguh hanya meggelengkan kepalanya melihat kebandelan Ryan. "Mau jadi apa generasi muda selanjutnya kalau ada siswa seperti Ryan." Kemudian Pak Teguh kembali berjalan ke depan kelas dan melanjutkan materi pelajarannya.
Di lapangan Ryan berlari berkeliling lapangan. Terik matahari yang menyengat dirinya membuat keringat bercucuran di tubuhnya. Banyak gadis yang terperanga melihat ketampanan Ryan. Ryan memang sangat terkenal dengan kenakalannya di sekolah tapi dia juga salah satu lelaki yang sangat populer. Banyak gadis yang mengagumi dirinya. Bagaimana tidak gayanya yang selalu keren dan wajahnya yang begitu tampan ditambah lagi senyumnya yang begitu manis berhasil meluluh lantah hati para gadis remaja di SMA itu.
Meski demikian dia tidak mempunyai pacar karena tanpa status dia merasa bebas mau jalan dengan siapapun. Tanpa ada kecemburuan dan pertengkaran bila Ryan dekat dengan gadis lain. Tapi apakah sampai saat ini dia belum menemukan cintanya? Mungkin cintanya masih on the way, ya, begitulah yang selalu dikatakan Ryan.
Ryan kini melonggarkan dasinya untuk menghilangkan sedikit rasa panas di tubuhnya. Hal yang dilakukan Ryan justru semakin membuat para gadis yang sedang berolahraga itu terpesona. Setelah sampai 10 putaran Ryan berhenti dan membungkukkan badannya sesaat untuk mengatur napasnya.
"Gila udah istirahat aja. Bagaimana mau pinter kalau di suruh lari terus," Ryan mengusap keringatnya sambil berjalan ke koridor kelas.
"Ryan lo keringetan banget sih." Ada seorang gadis yang tiba-tiba mendekat dan mengusap keringat Ryan dengan tisu.
"Lo haus gak. Nih gue bawain minum." Salah seorang gadis mendekat lagi dengan membawa minum dan beberaoa gadis lain juga ikut mendekati Ryan.
"Minggir!" Qda seseorang yang membuat kerumunan itu bubar. Seorang gadis cantik yang juga populer di sekolah itu. Rupanya gadis ini juga sangat menyukai Ryan. Dia memberikan sebotol minuman dingin pada Ryan. Ryan segera mengambilnya dan meminumnya.
"Thanks, Cinta," bukan maksud Ryan memanggilnya dengan sebutan cinta tapi memang gadis cantik yang satu ini bernama Cinta.
Cinta hanya tersenyum manis.
Beberapa saat kemudian Pak Teguh datang dan lagi-lagi menegur Ryan. "Kamu hebat yah. Bapak memberi kamu hukuman biar kamu capek bukan malah jadi pusat perhatian cewek-cewek di sini."
Ryan justru tersenyum dengan bangga. "Resiko orang cakep, Pak." Dia sama sekali tidak ada takutnya dengan guru di sekolah itu.
Pak teguh hanya menggelengkan kepalanya. "Untung hanya ada satu Ryan di sekolah ini."
...***...
Di sekolah lain tepatnya di kelas XI IPA 1, ada seorang siswa yang dengan hikmad mendengarkan pelajaran dari guru yang menerangkan di depan kelas. Bahkan setiap pertanyaan yang diberikan oleh gurunya hampir semuanya dia jawab dan benar. Dia seseorang yang begitu tenang dan tak banyak bicara. Kacamata minusnya menandakan kalau dia adalah seorang kutu buku. Meskipun sebenarnya dia memiliki wajah yang tampan tapi karena sifat kuper dan lugunya itu yang membuat para gadis enggan untuk mendekatinya. Dia pun berpenampilan rapi dan apa adanya dan sangat polos. Siapa lagi kalau bukan Rayn Handoko.
Urusan cinta, dia hanya bisa memendam perasaannya pada Shella. Shella gadis yang satu kelas dengannya, dia sangat cantik dan kalem, sama-sama murid teladan seperti Rayn.
"Rayn!" panggil Shella yang membuat jantung Rayn berdegub kencang. Dia selalu salah tingkah saat berada di dekat Shella.
"Iya. Ada apa Shel?"
"Eh, gimana sih cara ngerjain soal yang ini?" tanya Shella sambil membawa bukunya dan duduk di samping Rayn.
Rayn dengan telaten mengajarinya. Hanya dengan cara seperti inilah dia bisa dekat dengan Shella.
"Makasih yah Rayn," kata Shella sambil tersenyum manis yang membuat Rayn semakin terpesona.
"Iya sama-sama."
Bel istirahat pun berbunyi. Rayn hanya mempunyai satu orang sahabat yang tak kalah cupunya dari dia yaitu Joni. Mereka kini berjalan di koridor kelas menuju kantin. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik Rayn dengan paksa ke toilet.
"Lepaskan aku!" teriak Rayn.
Bukannya melepas tangannya tapi dia justru mencengkeram krah Rayn. "Heh, cupu! Lo jangan dekat-dekat sama Shella. Lo ngaca dong, lo siapa sampai bisa berharap sama dia."
"Aku.. Aku cuma ngajarin dia, itu aja."
"Iya gue tahu, karena lo gak ada cara lain buat deketin dia selain ngajarin dia." Dia melepaskan genggamannya dan sedikit menghentakkan badan Rayn ke tembok. "Sekarang gue akan lepasin lo asal lo ngasih contekan gue di ulangan Kimia hari ini. Kalau gak, habis lo." lalu dia keluar meninggalkan Rayn.
Rayn berdiri di depan cermin toilet sambil mengepalkan tangannya. Dia sering di bully, terutama oleh Diega. Diega sering mengancam Rayn. Tapi apalah daya Rayn. Dia hanya bisa menuruti segala kemauan Diega. Diega adalah salah siswa ternakal di sekolahnya.
Rayn melepas kacamatanya lalu membasuh wajahnya dengan air.
Andai aku punya keberanian seperti Ryan pasti hidup aku gak akan terus tertindas seperti ini....
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
fitria widyani
kasihan rayn
2023-05-20
1