Secara paksa, Carmilla mengambil alih kendali tubuh Lucius. Memaksa Lucius menjadi penonton dari dalam tubuhnya sendiri.
Dengan Carmilla sebagai pengendali tubuhnya, tak ada hal yang berubah sama sekali. Tubuh Lucius tak menjadi kuat, juga tak memiliki Mana yang lebih banyak.
Sama sekali tak ada perbedaan.
Hanya saja, sorot matanya sedikit berubah dimana terdapat semburat kemerahan di pupilnya.
"Perhatikan baik-baik. Di saat menghadapi lawan yang lebih kuat...." ucap Carmilla sambil menggenggam erat pedang satu tangan yang dibawa Lucius sebelumnya.
'Zraaaasshhh!!!'
Carmilla dengan cepat menebaskan pedangnya secara vertikal kebawah. Bersama dengan itu, Ia mengaktifkan sihir air pada tebasan pedang barusan.
'Swuoooosshh!'
Air dengan cepat membelah semburan api itu. Memberikan sedikit ruang bagi Carmilla untuk bernafas. Meskipun, Ia sama sekali tak membutuhkannya.
Karena tangan kirinya saat ini sudah berhasil mengaktifkan sihir lainnya.
'Wuuuusshhh....'
Hembusan udara yang sangat dingin tiba-tiba muncul dari ujung lingkaran sihir di tangan kiri Carmilla. Membekukan tebasan air barusan dengan cepat, dan menciptakan sebuah pilar es panjang yang cukup untuk berlindung dari semburan api Damon.
Dengan santai, Carmilla membalikkan badannya dan bersandar pada pilar es yang tercipta barusan. Sambil memperhatikan jari jemari di tangan kirinya, Ia berkata.
"Terlalu banyak belajar teori akan membuatmu bodoh, Lucius. Perkataan kakek tua di kelas barusan memang benar. Bahwa sihir elemen akan lebih kuat di lingkungannya.
Tapi bagaimana jika sekarang? Tetap akan menahan sihir air karena banyak api yang menguapkannya? Bodoh, yang ada kau akan terpanggang sampai mati."
Tak ada yang bisa melihat tingkahnya di balik semburan api yang besar itu. Jadi Carmilla dapat sedikit bersantai.
Setelah selesai memberikan kelas singkat, Carmilla segera bangkit dari sandarannya. Bagaimanapun, pilar es itu telah mulai meleleh secara perlahan.
"Sekalipun itu menguras Mana milikmu, gunakan elemen yang lebih kuat daripada elemen musuh. Air melemahkan api, dan es menghentikannya. Tapi bagaimana jika api musuh sebesar ini? Mudah saja." lanjut Carmilla.
Dari tangan kirinya, Ia membuat bola air yang cukup besar.
Dengan cepat Carmilla menembakkannya ke udara. Dimana bola air itu berputar dengan cepat, menyemburkan ribuan butiran air yang menyebar ke segala arah setiap detiknya.
'Ctik!'
Sambil menjentikkan jari di tangan kirinya, lingkaran sihir baru berwarna biru muda tercipta tepat di bawah posisi bola air itu. Membuat semua butiran air yang melewatinya berubah menjadi tombak es kecil yang tajam.
'Jleeeb! Jleeebb!!'
Puluhan dari tombak es itu mulai menancap pada tubuh Damon. Memberikannya luka kecil di sekujur tubuhnya.
"Kuuughh! Sialan! Jadi ini asal dari rasa percaya dirimu?!" teriak Damon yang segera menghentikan sihir apinya untuk mulai berlindung.
Damon mengangkat pedang besarnya, menggunakannya layaknya sebuah perisai. Tapi tak semuanya bisa ditangkis dengan baik. Beberapa diantaranya berhasil melewati pedang besar Damon dan mengenai tubuhnya.
Sekalipun tiap tombak es kecil tak begitu mematikan, tapi tusukan dari puluhan tombak es kecil yang mengenainya lama kelamaan akan memberikan luka yang parah.
'Swuooosshh!'
Merasa situasi ini cukup buruk, Damon segera menggunakan sihir api yang membentuk seperti sebuah dinding melengkung. Sedikit melelehkan tombak es kecil yang melesat ke arahnya.
Pada saat itulah, Damon mulai menyadari betapa buruk luka yang dideritanya.
Darah mengalir secara perlahan dari sekujur tubuhnya. Puluhan lubang akibat tombak es yang hanya sebesar seperempat jari kelingking itu membuatnya harus menanggapi luka ini dengan serius.
Bahkan, pedang bajanya mulai retak di beberapa sisi setelah menahan seluruh hujan tombak es itu.
'Sialan! Hanya sihir es kecil! Kenapa?! Kenapa bisa seperti ini?' pikir Damon dalam hatinya sambil terus menggunakan sihir penyembuhan untuk memulihkan luka di tubuhnya.
Sementara itu Carmilla....
Ia berjalan dengan santai mendekat ke arah dinding api Damon. Hanya bermodalkan sihir air sederhana, Carmilla bisa menangkis semua hujan tombak es yang mengarah padanya.
"Lalu perhatikan sihir seperti apa yang mengarah padamu. Contohnya tombak es ini, tak butuh baja tebal untuk berlindung. Cukup dengan sihir air dan angin sudah mampu menghentikannya." jelas Carmilla cukup panjang.
Apa yang dimaksudkan olehnya, adalah sebuah sihir yang saat ini ada di ujung tangan kirinya. Dimana sebuah perisai dari pusaran air yang begitu cepat membelokkan seluruh tombak es yang menuju ke arahnya.
Tak perlu menghentikannya, Carmilla cukup merubah arah lintasan tombak es itu. Dimana semuanya menancap di pasir sekitar tempat dirinya berjalan.
"Dan saat lawan mulai lengah, akhiri dengan sihir yang sederhana tapi pasti." ucap Carmilla singkat sambil menunjuk ke arah tempat Damon bersembunyi menggunakan tangan kanannya.
Sebuah lingkaran sihir biru muda yang seukuran telapak tangan muncul di ujung jari telunjuk tangan kanan Lucius. Menciptakan sebuah tombak es yang sebesar setengah lengannya sendiri.
Ditambah dengan lingkaran hijau muda yang menghembuskan angin yang kuat, membuat tombak es itu meluncur dengan sangat cepat. Menembus tepat di bahu kanan Damon.
...'ZRAAAAASSSHHH!!!'...
"Kuuuuuaaaaghhhh!!!" teriak Damon kesakitan saat tombak es besar itu menghancurkan pedang besi Damon sebelum menembus tepat di bahu kanannya. Bahkan sihir api yang telah diasah oleh Damon selama ini, seakan tak berguna sama sekali.
'Braaaakkk!!!'
Karena luka yang dideritanya, Damon pun tergeletak di tanah. Tak berdaya.
Beberapa tim medis segera berlarian dengan cepat untuk mengobati luka yang diderita Damon.
Sedangkan pertandingan ini sendiri....
"Lucius Nightshade, memenangkan duel ini. Dengan ini, Damon Emberheart dilarang untuk mendekat atau mengganggu Sophia Fairlock." ucap Luna dengan tegas.
..."WUOOOOOOOOOHHH!"...
..."LUAR BIASA, LUCIUS!!!"...
Teriakan dan sorakan para penonton dapat didengar oleh Lucius dengan jelas dari dalam tubuhnya sendiri.
Karena saat ini, Carmilla masih mengendalikannya secara paksa.
Tanpa memberikan balasan berupa lambaian tangan atau apapun, Carmilla segera pergi meninggalkan arena ini.
Membawa kemenangan seperti yang diinginkan oleh Lucius.
...........
"Jadi?" tanya Carmilla singkat menghadap ke sebuah cermin di salah satu toilet itu.
'Maaf....'
Hanya satu kata itu saja yang bisa keluar dari pikiran Lucius. Memangnya apalagi? Setelah berpikir bahwa dirinya lebih kuat dari orang lain lalu menantangnya tanpa berpikir panjang?
"Lain kali, jangan bersikap sok pahlawan seperti itu. Aku akan memaafkan mu kali ini saja. Mengerti?" tanya Carmilla sekali lagi yang masih mengendalikan tubuh Lucius.
'Aku mengerti....'
"Bagus. Sekalipun dengan Stellastra, tubuhmu yang tak terlatih sejak kecil masih kalah jauh jika dibandingkan dengan para bangsawan di akademi ini. Kau harus sadari itu, dan gunakan itu sebagai pengingat untuk terus berlatih.
Sekarang, aku ingin beristirahat. Silakan nikmati kemenangan semu ini sepuas mu." balas Carmilla yang segera mengembalikan tubuh ini pada Lucius.
Meninggalkannya dalam keheningan di toilet ini sendirian. Menatap bayangan dirinya sendiri yang begitu menyedihkan.
'BRAAAAAKK!!!'
"Sialan! Sialan!! Apanya yang tenang saja?! Aku.... Aku bahkan...." teriak Lucius kesal setelah memukul dinding di toilet ini hingga retak.
Ia terdiam disana sendirian untuk beberapa saat, sebelum keluar untuk menemui teman-temannya dari kelas F.
............
Sementara itu....
Di sebuah ruangan yang cukup besar dan mewah, terlihat Luna sedang duduk santai di ujung meja sambil menikmati teh hangat di cangkir putihnya.
'Sluuurrpp....'
"Aah.... Jadi bagaimana menurutmu, Ethan?" tanya Luna penasaran.
Ethan yang masih berdiri di samping ruangan memandangi ke arah luar jendela di lantai 5 bangunan ini, melihat sosok Lucius yang sedang berjalan bersama dengan teman-temannya di halaman akademi yang diterangi banyak lampu sihir itu.
"Biasa saja. Tak ada yang istimewa." balas Ethan singkat.
"Kau benar. Dari mata mu, itu pasti biasa saja kan?"
"Ketua, apa maksudmu dengan itu?"
Luna meletakkan cangkirnya secara perlahan di atas meja itu sebelum berdiri dan berjalan ke arah Ethan.
"Untuk sekilas, aku melihatnya hampir menggunakan sihir kuno. Bahkan aku sendiri tak tahu sihir apa yang ada di tangan kanannya itu. Tapi entah kenapa, dia tiba-tiba merubahnya menjadi sihir api." jelas Luna sambil memandangi sosok Lucius di kejauhan.
Ethan nampak terkejut mendengar hal itu.
"Hah? Sihir kuno yang bahkan ketua tak mengetahuinya? Itu tidak mungkin kan?!" balas Ethan panik.
"Aku tak tahu sihir apa itu. Tapi seharusnya sihir kuno apapun cukup kuat untuk mengalahkan pelajar tingkat C kebawah dengan mudah. Bukankah begitu? Anehnya, kenapa dia tidak jadi menggunakannya?" tanya Luna dengan tatapan yang sedingin es.
Ethan terlihat menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Nampaknya kau benar, Ketua. Sosok yang bangkit dari kematian, sudah selayaknya untuk diperhatikan."
"Awasi terus pergerakannya. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan padaku." balas Luna yang segera berjalan meninggalkan ruangan ini.
Tanpa Lucius sadari, dirinya telah diamati bahkan semenjak mulai masuk kembali ke akademi ini. Dan pengawasannya selama duel barusan, membuktikan kecurigaan Dewan Pelajar di Akademi Damacia ini.
Entah apa yang akan menanti Lucius kedepannya, tapi Lucius telah menyadari satu hal yang sangat penting.
Bahwa apapun itu, dia butuh kekuatan yang lebih besar lagi. Bagaimanapun caranya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Abed Nugi
good heavy-action untuk chapter ini, banyak scene bagus juga
2023-06-16
1
Abed Nugi
bro that was epic
2023-06-16
0
zuyoka
aha ada udanh dibalik bakwan. ya gak aneh sih klu lucius diperhatikan sama petinggi sekolah kek gini...
2023-04-16
2