'Deg! Deg!'
Langkah kaki Edward beserta kawan-kawannya seketika terhenti. Semua itu dikarenakan apa yang mereka lihat di tanah.
"Tu-Tuan Edward.... Ini.... Ke-kenapa ada dua jejak darah?"
Di hadapan mereka, kini terlihat dua jejak darah yang berbeda. Jarak antar keduanya tak jauh, juga masih terlihat baru. Dari apa yang dilihatnya, Edward dapat menyimpulkan bahwa setidaknya ada dua korban di goa ini.
"Tapi siapa? Apakah ada orang lain?" tanya Edward kebingungan.
Belum sempat menjawab pertanyaan yang ada di hadapannya, Edward dan teman-temannya harus menghadapi masalah yang baru.
"Graaaarr.... Karthas durr valarr!"
Teriakan yang tak jelas apa artinya itu membuat Edward dan teman-temannya segera menoleh ke belakang.
Apa yang dilihat oleh mereka, adalah kawanan Goblin sejumlah 8 ekor. Salah satu diantaranya terlihat menyeret seorang anak kecil yang tak lagi bergerak.
"Go-Goblin?! Ja-jangan katakan Lucius...."
"Cih! Semuanya! Bersiap untuk bertarung!" teriak Edward sambil berusaha meredam rasa takutnya.
Sekalipun telah menempuh pendidikan di akademi, dirinya yang merupakan bangsawan tingkat tinggi, membuat Edward sama sekali tak memiliki pengalaman dalam pertarungan langsung.
Terlebih lagi, melawan monster seperti ini.
"Fleme!" teriak Edward dengan keras sambil mengarahkan tangan kirinya ke depan.
Seketika, lingkaran sihir seukuran telapak tangan berwarna merah muncul di hadapannya. Melontarkan bola api yang berukuran kecil ke depan.
'Swuooosshh! Blaaaarrr!!'
Bola api itu meledak sesaat setelah mengenai tubuh salah seekor Goblin. Membakar tubuhnya tanpa sedikit pun ampunan.
Sementara itu, tangan kanan Edward menggenggam erat pedang besinya. Bersiap jika Goblin itu menyerangnya dalam jarak dekat.
'Aku berhasil membunuh satu ekor? Bagus.... Jika terus seperti ini maka....'
Sebelum senyuman Edward menjadi semakin lebar, kenyataan dunia yang kejam menamparnya begitu saja.
'Swuuusshh! Jleebbb!!!'
Sebuah anak panah dari crossbow yang dibawa oleh salah seekor Goblin itu melesat dan menembus tubuh salah satu temannya.
"Aaaarrggg!!!"
Pada saat itu lah, Edward menyadari kesalahan terbesarnya. Bahwa saat ini, lawannya bukanlah sesama manusia yang akan mengalah atau memberikan waktu untuk bernafas.
Melainkan monster, yang bertahan hidup dengan membunuh.
"Graaaaahh! Sialan! Monster sialan seperti kalian!!"
"Cepat maju! Bunuh mereka!"
Terror yang mereka lihat menjadikan semua orang panik. Termasuk Edward. Hidup dan mati mereka ditentukan saat ini juga.
Dan jika tidak bertarung dengan niat untuk membunuh, maka mereka sendiri yang akan mati.
'Klaaangg! Ttraang! Klaaangg!'
Suara benturan antara pedang milik Edward dan teman-temannya terdengar begitu nyaring di tengah goa yang sunyi ini.
Tubrukan antara kedua belah pihak terlihat begitu kacau. Sama sekali tak ada formasi atau pun rantai komando yang jelas.
Sesekali, beberapa diantara mereka melontarkan sihir tanpa koordinasi dengan yang lainnya. Ledakan api dan hantaman tanah terjadi dimana-mana membuat mereka tak hanya melukai para Goblin, tapi juga teman mereka sendiri.
Tak ingin mengalah, para Goblin itu juga bertarung sekuat tenaga mereka. Menggunakan senjata apapun yang mereka miliki. Entah itu pedang, pisau, panah, atau bahkan hanya cakar dan taring mereka.
Hingga akhirnya, pertarungan yang berlangsung selama sekitar 3 menit itu mencapai akhir.
"Hah.... Hah.... Kalian tak apa-apa?" tanya Edward dengan tubuh yang dipenuhi luka tusukan pisau.
"Aku baik-baik saja tapi...." balas salah seorang yang kini menoleh ke samping.
Tatapannya tertuju pada salah seorang temannya yang tubuhnya tertusuk lebih dari 5 anak panah. Dia adalah korban paling parah dalam pertempuran ini.
Tapi bukan berarti yang lainnya tak terluka.
Mempertimbangkan hal ini....
"Kita akan kembali ke kota dan meminta bantuan pada penjaga. Jelaskan saja kalau kita bermaksud menjelajah, lalu salah satu teman kita tertangkap oleh Goblin." jelas Edward.
Teman yang dimaksudkan olehnya, tentu saja adalah Lucius.
"Tapi bagaimana dengan...."
"Diam! Jika goa ini benar-benar sarang monster itu, menurut mu berapa banyak yang ada di dalam sana?! Melawan 8 ekor saja sudah sangat berat bagi kita jadi diam dan ikuti aku!"
Semuanya hanya bisa menundukkan kepala mereka. Sekalipun ingin menyelamatkan Lucius, mereka tak memiliki cukup kekuatan untuk itu.
Karena itu lah....
'Lucius.... Ku harap kau masih hidup.' pikir Edward dalam hatinya.
...........
Sementara itu, jauh di dalam goa....
"Aaaaarrrgghh! Hentikan!! Hentikan!!! Apa yang kalian lakukan?! Berhenti!!!" teriak Lucius sekuat tenaga.
Ia tak lagi mampu menahan rasa sakit yang dirasakannya saat ini. Bagaimana bisa?
Karena saat ini, tubuhnya diikat kuat di sebuah tiang kayu. Sementara itu, lengan kirinya sedang dipotong oleh salah seekor Goblin menggunakan golok tua yang telah berkarat.
"Grrrr.... Kharr ghalass thurr!" ucap Goblin itu sambil sesaat menghentikan ayunan goloknya.
Lucius sama sekali tak tahu apa arti dari perkataan itu. Tapi melihat situasi saat ini, Ia bisa sedikit memahaminya.
Terutama setelah Lucius melirik ke arah lengan kirinya yang tak kunjung terpotong. Dagingnya hanya sedikit robek disana sini, namun golok tua itu tak mampu memotong tulangnya.
Darah mengucur dengan cukup deras di lengannya, dimana darah itu ditampung pada sebuah ember kayu. Entah akan digunakan untuk apa.
Di sisi lain, gadis yang dibawa bersama dengan Lucius juga memperoleh nasib yang tak kalah mengerikan.
"Aaaarrrgghh! Toloooooong!! Ku mohoooon!! Hentikan!!" teriak gadis itu sembari menangis.
Tubuhnya yang penuh luka tusuk dan memar di berbagai tempat, kini juga harus menjadi mainan bagi para monster keji itu.
Tanpa sedikit pun ampunan, sekitar 3 ekor Goblin 'menggunakan' tubuh gadis itu sesuka hati mereka.
"Grrr.... Gaah! Khaarr thalakh tuurr!"
Setelah berhenti mengayunkan goloknya sesaat, Goblin di hadapan Lucius kini kembali berusaha. Kali ini, Ia menargetkan pada pergelangan tangan kiri Lucius terlebih dahulu.
'Braaaakkk!! Klaaakkk! Klaaaakkk! Kreettaakkk!'
Suara hantaman golok besi pada pergelangan tangan kiri manusia terdengar begitu mengerikan. Darah terus menyembur di setiap ayunannya. Bersamaan dengan itu, teriakan rasa sakit menggema di tengah goa ini.
"Aaaaaaaarrrgghhh!!!"
Dalam pikiran Lucius hanya tersisa satu hal. Yaitu mengutuk semua orang yang menyebabkan dirinya saat ini harus berada di tempat ini.
Bukan hanya Edward yang terus menerus menindas dan mengintimidasi dirinya. Tapi juga mereka yang hanya diam di tempat saat semua itu terjadi.
Tapi....
'Untuk apa aku mengutuk mereka? Memangnya.... Aku bisa selamat dari sini?' tanya Lucius pada dirinya sendiri dengan air mata yang mengalir deras.
Bersamaan dengan itu, akhirnya pergelangan tangan kiri Lucius telah terpotong. Goblin itu mengambilnya dengan penuh bahagia sebelum segera mengikat lengan kiri Lucius bagian atas dengan erat.
"Hahaha! Garakh tarr valur!"
Sekali lagi, Lucius tak tahu apa arti dari perkataan itu. Tapi melihat kondisinya, seakan-akan berarti 'aku takkan membiarkanmu mati semudah itu'.
Setelah selesai menghentikan aliran darah di lengan kiri Lucius, Goblin itu segera membakar potongan tangan kiri Lucius di bara api unggun menggunakan pedangnya sebagai tusuk.
Dan setelah dirasa cukup matang, Goblin itu menikmatinya tepat di hadapan Lucius dengan senyuman yang lebar serta air liur yang mengalir dengan deras.
'Sialan.... Apakah aku akan benar-benar mati di sini?'
Keputusasaan mulai memenuhi pikiran Lucius. Lagipula, bagaimana dia bisa selamat dari tempat yang seperti neraka ini?
Satu-satunya jalan selamat yang dapat dilihat olehnya, hanyalah kematian yang membebaskannya dari semua rasa sakit ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Agus
waw
2025-02-13
0
Nezuko caaan
Wow ratatui
2023-12-11
0
John Singgih
benar-benar mimpi yang paling buruk yang harus dialami seseorang yang baru saja kehilangan keluarganya
2023-07-12
0