'Sudah berapa lama aku ada disini?' tanya Lucius dalam hatinya sendiri.
Kesadarannya lambat laun mulai menghilang. Sedangkan rasa sakit yang dirasakannya juga mulai memudar.
Setelah berhasil memotong lengan kirinya, sekitar 4 ekor Goblin menikmatinya bersama setelah dibakar. Lucius yang melihat itu semua sama sekali tak bisa melakukan apapun.
Tenaganya telah terkuras habis akibat semua siksaan ini. Begitu pula dengan energi sihirnya yang memudar seiring dengan tubuhnya yang semakin melemah.
'Braaakk! Braaakk! Kreettakk!'
Setelah beberapa saat berusaha memotong kaki kanan Lucius, akhirnya Goblin yang bertugas itu pun menyerah.
Meninggalkan kaki kanan Lucius yang robek di berbagai bagian itu tak lagi mampu digerakkan. Otot kaki kanannya telah rusak sepenuhnya.
Berdasarkan percakapan mereka, Lucius memperkirakan mereka sedang menantikan rekan-rekannya yang memiliki perlengkapan lebih baik. Tentunya, untuk memotong-motong dan memasak seluruh bagian tubuh Lucius.
Saat Lucius melirik ke arah yang lain, Ia dapat melihat sosok gadis yang bersama dengannya itu kini terkapar tak berdaya.
Sekujur tubuhnya penuh dengan luka dan darah. Bahkan, Lucius tak tahu apakah gadis itu masih hidup.
Tapi tiba-tiba....
"Garaakh! Vakhurr tharrr!!!"
Salah seekor Goblin masuk ke dalam goa tempat dimana Lucius dan garis itu disekap dengan panik. Ia berteriak seakan-akan ada situasi mendesak.
Dan benar saja, seluruh Goblin yang ada di goa ini segera menghentikan apapun yang sedang mereka lakukan. Sebelum akhirnya mengambil berbagai persenjataan dan berlari ke arah yang sama.
Meninggalkan Lucius dan gadis itu membusuk di tempat ini.
Beberapa menit berlalu....
Keheningan kini memenuhi tempat ini. Hawa dingin yang menusuk mulai menggerogoti tubuh Lucius dari dalam. Terlebih lagi tubuhnya saat ini penuh dengan luka.
"Apakah aku akan mati dengan membusuk di tempat seperti ini?" tanya Lucius pada dirinya sendiri.
Ia kembali memperhatikan sosok gadis yang terkapar itu. Entah kenapa, Lucius masih merasa sedikit bersyukur karena nasibnya jauh lebih baik daripada gadis itu.
"Nona? Kau masih hidup? Entah kenapa para Goblin itu pergi, jika kau masih hidup ini adalah kesempatan bagus bagimu untuk kabur...." ucap Lucius dengan suara yang begitu lirih.
Tenaganya benar-benar telah habis akibat semua kejadian yang dialaminya. Begitu pula pita suaranya yang seakan-akan telah terputus akibat semua teriakannya.
'Srruugg! Srruuugg!'
Tanpa diduga, sosok gadis itu mulai bergerak. Ia merayap mendekat ke arah Lucius dengan tangan kanannya.
"Nona?" tanya Lucius kebingungan.
Dengan rayapan yang begitu lambat, Lucius terus bertanya-tanya. Kenapa? Apakah karena gadis itu tak lagi memiliki kekuatan untuk berdiri? Mengingat semua yang dialaminya, bukan hal yang tak mungkin.
Tapi jawabannya....
'Sreeett! Sreeettt!!'
Gadis itu, dengan kekuatannya yang hanya sedikit tersisa, menggunakan golok yang ditinggalkan oleh Goblin itu untuk memotong ikatan tali di kaki Lucius.
"Aku.... Tak lagi mampu banyak bergerak.... Jadi tolong.... Sekalipun hanya dengan satu kaki.... Tolong.... Panggil bantuan...." ucap gadis itu sambil terus berusaha memotong ikatan yang lain di tubuh Lucius.
Dengan berpegangan pada tubuh Lucius, gadis yang tak lagi memiliki sehelai kain di tubuhnya itu terus berjuang. Memotong semua ikatan tali di tubuh Lucius.
Sosok yang dianggapnya dapat menyelamatkannya dari neraka ini.
Hingga akhirnya....
'Kreeeek! Sreeettt!!'
Ikatan tali terakhir di tubuh Lucius telah terpotong. Membebaskan sosok pemuda itu.
Dengan lengan kiri yang telah terpotong serta kaki kanan yang tak lagi mampu digerakkan, Lucius berusaha sekuat tenaga untuk berdiri.
"Nona, coba biar aku...."
'Braaaakk!!!'
Saat Lucius berusaha untuk menggendongnya, atau setidaknya merangkulnya dan membawanya berjalan pergi, keduanya justru terjatuh kembali ke tanah.
Pada saat itu lah Lucius menyadarinya saat Ia melihat tubuh gadis itu dari dekat. Atas betapa parahnya luka yang diderita gadis itu.
"Tak masalah.... Aku akan menunggu.... Jadi tolong, berjanjilah.... Untuk memanggil bantuan...." ucap gadis itu dengan senyuman yang begitu ramah.
Air matanya mengalir membasahi darah yang telah lama mengering di wajahnya. Membuat hati Lucius semakin tersayat melihat semua ini.
"Aku berjanji...." balas Lucius sambil menahan tangisannya.
Jika saja dia jauh lebih kuat, semua ini takkan pernah terjadi. Gadis ini pun juga takkan menderita. Itu lah yang ada di dalam pikirannya.
Sebelum berlari, Lucius melepaskan seragam bagian atasnya dan memberikannya pada gadis itu. Setidaknya, untuk sedikit menghangatkannya di tengah hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang ini.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku akan berusaha secepat mungkin untuk mencari bantuan...." ucap Lucius sambil mulai melangkah dengan kaki kirinya, serta bertumpu pada tangan kanannya.
...........
“Hah.... Hah.... Hah....”
Lucius terus menyeret kakinya sekuat tenaga, berusaha meninggalkan tempat terkutuk ini.
Sambil berpegangan pada dinding goa itu dengan tangan kanannya, Lucius terus menyusuri goa yang gelap ini. Tak ada lagi penerangan seperti sebelumnya karena energi sihirnya telah habis.
Di tengah kegelapan itu, Ia hanya bisa mengandalkan intuisi serta Indra perabanya sebagai penuntut jalan.
‘Syurrrrrr! Syurrrrr!!’
“Suara air?” tanya Lucius terkejut. Ia segera mengikuti sumber suara aliran air itu.
Di kejauhan, Lucius dapat melihat sumber dari suara air itu. Yaitu sebuah sungai bawah tanah yang cukup besar, dengan aliran yang cukup deras.
Setelah berdiri tepat di samping sungai itu, Lucius tanpa ragu segera memasukkan kepalanya ke dalam aliran air yang cukup deras itu. Membasahi kepalanya, sekaligus meminum airnya.
“Aaaah, segar sekali. Kapan terakhir kali aku minum air? Apakah rasanya sesegar ini?”
“Kaaaaarrrghhh!!!”
Dari kejauhan, Lucius mendengar suara teriakan Goblin. Trauma dan ketakutannya terhadap Goblin membuat Lucius terkejut, hingga tanpa sadar dirinya terpeleset ke dalam sungai bawah tanah itu.
‘Cebyuuuurrr!!!’
“Bleeeghhh! Bluuurrrbbb!!”
Hanya dengan satu tangan dan kaki, serta tubuh yang begitu kelelahan, Lucius sama sekali tak mampu untuk mempertahankan dirinya di hadapan arus sungai bawah tanah ini.
“Buaaaaghh! Bluuurrrbb! Buaaaghhh!!”
Mempertahankan kepalanya di atas air saja sudah sangat berat baginya. Apalagi berfikir untuk berusaha berenang ke tepi sungai ini.
Saat Lucius baru saja membiasakan dirinya dan mengatur keseimbangan di tengah arus sungai ini, aliran sungai ini seakan menamparnya dengan keras.
Tepat di hadapannya, aliran air ini membentuk sebuah air terjun yang jatuh sedalam puluhan meter lebih. Melemparkan Lucius yang tak berdaya ke bawah.
"Bluuuurrrbbb!!!"
Tenggelam setelah terjatuh dari air terjun itu, Lucius sekali lagi kehilangan kesadarannya. Menyerahkan nasibnya pada air yang masih terus membawanya pergi semakin jauh ke dalam goa ini.
...........
"Uuughh.... Dimana aku?" tanya Lucius pada dirinya sendiri. Ia terbangun di tepian sungai yang arusnya sudah cukup tenang.
Hanya dalam sekejap, kesadaran Lucius kembali seutuhnya. Itu semua diakibatkan oleh cahaya biru keunguan yang cukup terang di langit-langit goa raksasa ini.
Kristal dari berbagai bentuk dan ukuran nampak menancap di langit-langit goa ini, memancarkan cahaya yang lembut dan indah ke segala arah
Dan dari cahaya itulah, Lucius dapat melihat banyak bangunan yang menjulang tinggi jauh di depannya.
Meskipun sudah terlihat sangat tua dan mulai runtuh, tapi Lucius dapat melihat keindahan dari bangunan-bangunan itu.
Setelah berdiri dan memperhatikan sekelilingnya dengan lebih baik lagi, apa yang dilihatnya justru semakin tidak masuk akal.
Pemandangan sebuah kota di bawah tanah, lengkap dengan dinding pelindung di sekitar kota serta menara yang menjulang tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit goa ini.
"Apa-apaan? Dimana aku?!"
'Deg! Deg!!'
Tiba-tiba, jantungnya terasa begitu sakit. Lucius mulai batuk dan memuntahkan banyak darah di tanah.
"Sialan.... Mana.... Aku butuh energi Mana.... Jika ada...." ucap Lucius pada dirinya sendiri.
Dalam pikirannya, Lucius berencana untuk menggunakan sihir pemanggilan. Memanggil seekor serigala untuk membawanya pergi dari tempat ini.
Hanya saja, untuk melakukannya dibutuhkan energi Mana yang cukup besar. Dan dalam kondisi tubuhnya saat ini, itu sama sekali tak cukup.
'Dewi Mana.... Tak bisa kah kau meminjamkan ku sedikit kekuatan sihir? Aku berjanji akan memberikan sumbangan pada kuilmu....'
Sambil memikirkan hal itu, tangan kanan Lucius terus bergerak. Menggambar sebuah lingkaran sihir di tanah.
Ukuran lingkaran sihir itu sendiri tak begitu besar, juga tak begitu rumit. Hanya sebuah lingkaran dengan alur melingkar dan beberapa garis lurus.
"Ricerca...." ucap Lucius lirih.
Seketika, lingkaran sihir itu mulai memancarkan cahaya kebiruan yang indah.
"Tuntun lah aku pada sumber Mana." lanjut Lucius.
Puluhan bola cahaya berwarna biru mulai muncul dari lingkaran sihir itu. Semuanya bergerak ke berbagai arah, tapi sebagian besar menuju ke satu arah yang sama. Yaitu ke arah kota di bawah tanah ini.
"Jadi disana ada energi Mana? Dan sebanyak itu?"
'Srruugg! Srruuug!'
Lucius terus menyeret kakinya. Memaksa kaki kanannya yang tak lagi mampu bergerak itu sebagai tumpuan.
Sedikit demi sedikit, Lucius terus berjalan. Mengikuti tuntunan bola cahaya itu.
Tak ada yang ditanyakan olehnya. Lucius percaya pada pengetahuan sihir yang dimilikinya. Percaya bahwa sihir pencarian ini akan menuntunnya pada sumber Mana terbesar di tempat ini.
Semakin banyak bola cahaya yang terbentuk, serta semakin banyak pula bola cahaya yang bergerak ke suatu arah, berarti energi Mana yang ada disana semakin besar.
Dan hingga saat ini, Lucius tak pernah melihat jumlah bola cahaya sebanyak ini menuntunnya.
Beberapa menit berlalu....
Lucius kini tiba tepat di depan pintu sebuah kastil. Pintu kastil itu telah lama rusak dan runtuh, membuat siapapun bisa masuk ke dalamnya.
Bola cahaya itu mulai menuntun Lucius untuk menaiki tangga di kastil ini, sebelum akhirnya masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada.
"Disini?" tanya Lucius sambil menatap ke arah kumpulan bola cahaya itu.
Tapi bola cahaya itu terus bergerak. Dan tujuannya, adalah sebuah kalung indah yang tergeletak di atas sebuah meja besi yang telah rusak itu.
Seluruh bola cahaya itu berputar di atas kalung itu sebelum akhirnya menghilang beberapa saat kemudian.
"Kalung ini.... Aah, kristal Mana?! Bukankah ini sangat langka?! Terlebih lagi semurni ini.... Bagus. Dengan ini mungkin aku bisa melakukannya? Tidak, aku pasti bisa melakukannya."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Lucius segera menggambar lingkaran sihir di lantai ruangan ini.
Tapi karena tak ada bahan yang dapat digunakan untuk menggambar lingkaran sihir pemanggilan, Lucius tanpa ragu menggunakan darah yang masih menetes dari lengan kirinya yang telah terpotong itu.
'Sreeett.... Sreeettt.... Srruuuggg....'
Beberapa menit berlalu, akhirnya lingkaran sihir pemanggilan itu pun berhasil diselesaikan.
Lingkaran sihir pemanggilan jauh lebih rumit dan besar jika dibandingkan dengan lingkaran sihir biasa. Karena kerumitannya, sihir ini sama sekali tak praktis jika digunakan di tengah pertarungan.
Tapi dalam kondisi yang tenang?
"Selesai. Sekarang sebagai katalisnya.... Maafkan aku, siapapun pemilik kalung ini. Tapi aku akan meminjam energi Mana yang ada di dalamnya untuk memanggil serigala." ucap Lucius pada dirinya sendiri.
Ia meletakkan kalung itu tepat di tengah lingkaran sebelum mulai mengaktifkan sihir ini.
Dengan rapalan mantra yang cukup panjang, lingkaran sihir pemanggilan ini akhirnya mulai memancarkan cahaya.
Sedikit demi sedikit, cahaya yang dipancarkan semakin terang. Dengan warna merah gelap yang menerangi seluruh ruangan ini, sihir pemanggilannya pun hampir selesai.
"Aku panggil kau, serigala dari Utara, Fae Fawn! Aku ingin kau membawaku keluar dari sini, menyelamatkan hidupku, agar aku bisa kembali lalu berlatih menjadi lebih kuat, untuk membalas mereka yang melemparkan diriku dalam neraka ini!"
'Swuuuuuussshhhh!!!'
Dengan berakhirnya rapalan sihir itu, cahaya merah kini berubah menjadi sangat terang hingga seakan-akan membutakan penglihatan. Tekanan udara yang begitu kuat juga dapat dirasakan oleh Lucius.
Cukup kuat hingga sedikit mendorongnya dari tempatnya berdiri. Secara perlahan, rantai cahaya dengan warna abu-abu muncul, mendekat ke arah tangan kanan Lucius.
Rantai itulah yang akan menjadi pengikat dan kontrak pemanggil dengan makhluk yang dipanggilnya. Tentu saja, kedua belah pihak dapat menerima ataupun menolak permintaannya.
Selama saling memenuhi permintaan antara pemanggil dan yang dipanggil, maka kontrak dan hubungan mereka akan dapat dipertahankan.
Jika tak memenuhi tuntutan, maka rantai pengikat itu akan membunuh siapapun yang melanggarnya. Baik itu pemanggil, ataupun mereka yang dipanggil.
'Bagus.... Dengan ini aku bis menungganginya dan mencari jalan keluar lebih mu....'
...'KREEETTAAAAKKKK!!!'...
...'BRAAAAAAKKKK!!!'...
...'KLAAAAAAAAAAANNGGGG!!!'...
Tiba-tiba, rantai abu-abu yang seharusnya mulai terikat ke tubuh Lucius hancur berkeping-keping sebelum musnah sepenuhnya.
Sosok serigala abu-abu yang hampir saja selesai terbentuk pun juga menghilang karena dianggap pemanggil tak menerima permintaannya.
"Ehh?! Apa yang terjadi?!"
...'PYAAAAAAAAAARRRR!!! BRAAAAAKKK!!!'...
Tekanan udara yang sebelumnya sudah cukup kuat, kini berubah menjadi jauh lebih kuat. Bahkan hingga memecahkan berbagai kaca di ruangan ini serta melemparkan berbagai barang ke segala arah.
Menghancurkan beberapa dinding dan juga atap ruangan yang sudah tua ini. Termasuk melemparkan tubuh Lucius beberapa meter ke belakang.
Saat Lucius sedikit membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi....
Ia melihat sosok yang berbeda jauh dari apa yang diketahuinya sebagai serigala.
Sosok itu memiliki penampilan menyerupai manusia, atau lebih tepatnya Elf dengan telinga runcing yang panjang.
Akan tetapi, kulitnya putih pucat seperti tak memiliki sedikitpun darah yang mengalir di tubuhnya. Warna rambutnya yang senada dengan kulit putih pucatnya cukup kontras dengan matanya yang berwarna merah cerah.
Pakaian yang rapi nan anggun dengan nuansa bangsawan asing membalut tubuhnya yang begitu mempesona itu.
Dari bibirnya yang pucat itu, Ia mulai berbicara.
"Permintaanmu, akan kuterima dengan baik. Sebagai gantinya, bisakah kau menerima permintaanku?" ucap wanita yang begitu menawan itu.
Di bawah cahaya kristal keunguan yang menerangi sosok wanita itu dari langit-langit kastil, penampilannya yang begitu mempesona harus memudar begitu saja.
Karena secara perlahan, tubuh wanita itu mulai menghilang. Sedikit demi sedikit, mulai dari ujung kakinya. Bahkan saat ini tubuhnya terlihat menjadi sedikit tembus pandang.
"Eh?!" tanya Lucius kebingungan dengan situasi ini.
"Aku tak punya banyak waktu, jadi tolong. Aku ingin kau menjaga nyawaku, membangkitkan ku suatu hari nanti, dan terakhir...."
Mendengar permintaan terakhir dari wanita misterius itu, Lucius hanya bisa menganga kebingungan. Keringat mulai mengucur deras bersamaan dengan tanda tanya yang bermunculan di kepalanya.
"Jika kau ingin kekuatan, aku adalah orang terbaik yang bisa kau harapkan. Bahkan, aku bisa membenahi semua luka itu jika kau mau memenuhi permintaanku." lanjut wanita itu setelah menyadari keraguan di wajah Lucius.
Banyak yang ingin ditanyakan oleh Lucius terhadap permintaan terakhir wanita misterius itu. Tapi melihat tubuh wanita itu yang hampir menghilang seutuhnya, Lucius akhirnya memutuskan untuk memikirkannya lain kali.
"Baiklah, tapi permintaan terakhir itu...." ucap Lucius ketakutan. Ia merasa bahwa dirinya telah melangkah ke jalan yang sangat teramat buruk, bahkan mungkin saja yang paling terkutuk di dunia ini.
Hanya saja....
Mendengar bahwa tubuhnya bisa disembuhkan, bahkan bisa memperoleh kekuatan....
'Sekalipun itu iblis, aku akan menerima kesempatan ini.'
"Terimakasih." balas wanita itu dengan senyuman yang begitu menawan, sebelum akhirnya seluruh tubuhnya menghilang dan terserap masuk ke dalam tubuh Lucius.
Pada saat itu, Lucius sama sekali belum menyadarinya. Bahwa sosok yang baru saja ditemuinya, adalah sosok yang telah lama dilupakan oleh dunia.
Sosok yang legenda dan kisah mengenai dirinya tertutupi oleh bayang-bayang naga kuno Ashenflare, yang dianggap sebagai bencana terbesar di dunia.
Sosok yang dulunya, dikenal sebagai simbol keputusasaan itu sendiri karena hampir menelan seluruh dunia dalam lautan darah.
Ratu Iblis, Carmilla Bloodthorne.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Agus
gk masuk akal si gadis
2025-02-13
0
John Singgih
tanpa sengaja MC bangkitkan ratu iblis karena terdesak
2023-07-13
0
Abed Nugi
Holy god, this was good, chapter ini lumayan bagus dengan keputusasaan mc bersama dengan kemunculan ratu iblis yang misterius dengan aura kuudere yang kuat.
sheesshhhhhh that was good.
2023-04-07
3