"Tidak ada?" ucap Lucius pada dirinya sendiri setelah tiba kembali di goa dimana dirinya bersama wanita itu disekap.
'Kau yakin tak salah tempat?' tanya Carmilla dengan suara yang sedikit kesal.
Bagaimanapun, Carmilla sedikit kecewa atas betapa lemahnya tubuh Lucius. Tapi bagaimanapun, hingga hari ini hanya Lucius yang berhasil menyelamatkannya.
Bahkan sejak masa sebelum sosok kehancuran bernama Ashenflare dikenal.
"Ya, aku sangat yakin. Tapi kenapa...."
'Lihat disana.'
Lucius segera menoleh ke arah yang dimaksudkan oleh Carmilla. Di kejauhan, Ia dapat melihat sebuah pedang besi menancap di tanah.
Merasa penasaran, Lucius segera berjalan mendekat untuk melihatnya dengan lebih baik.
Apa yang membuat Lucius penasaran adalah pedang dengan kualitas sebaik itu tak pernah dimiliki oleh para Goblin. Terlebih lagi, pedang itu berlumuran darah Goblin yang berwarna merah gelap dengan sedikit semburat kehijauan.
"Pedang itu.... Milik prajurit kerajaan, dan lambang di gagangnya.... Kota Arcanum?" ucap Lucius pada dirinya sendiri.
'Arcanum?' tanya Carmilla dalam pikiran Lucius.
"Yah, itu adalah kota dimana aku tinggal dan belajar di akademi. Tapi kenapa ada disini? Jangan katakan.... Ada regu penyelamat? Tapi kenapa?"
'Masa bodoh dengan itu. Lucius, kita berdua memang telah terikat kontrak. Tapi tak bisakah kau melakukan sesuatu pada tubuh payahmu itu?
Aku bisa paham jika tubuhmu lemah tapi memiliki energi Mana yang besar. Tapi bahkan energi Mana di dalam tubuhmu tak lebih besar dari yang dimiliki anak kecil. Kau tak malu?'
Perkataan kasar dari Carmilla benar-benar menusuk Lucius tepat di hatinya.
Lucius sadar bahwa dirinya memang lemah. Jauh lebih lemah dari orang-orang di akademi. Bahkan, dia sendiri tak yakin apakah bisa bertahan di kelas E.
Jika tahun ini peringkatnya diturunkan ke tingkat F, maka Lucius hanya memiliki 1 tahun untuk kembali ke tingkat E. Jika tidak, dirinya akan dikeluarkan dari akademi secara paksa.
Belum lagi, kabar mengenai kota tempat keluarganya tinggal.
Jika keluarga dan orangtuanya benar-benar telah terbunuh oleh bangsa barbar, maka apakah Lucius bisa tetap membayar biaya akademi sekaligus biaya hidupnya?
'Oi bocah, aku berbicara padamu. Setidaknya balas sepatah dua patah ka....'
"Hiks.... Hikss.... Maaf.... Maafkan aku...." balas Lucius sambil menangis. Kini tubuhnya terpuruk di tanah.
Pikirannya mulai campur aduk atas berbagai hal yang selama ini dihiraukannya karena nyawanya dalam bahaya.
Tapi kini setelah menyadari nyawanya, juga nyawa wanita yang membantunya telah selamat, maka semua beban pikiran itu kembali padanya.
'Cih, tak hanya lemah dan tak berguna, kau juga cengeng? Menyedihkan seka....'
"Aku tahu! Aku sangat tahu soal betapa menyedihkannya diriku! Aku.... Sesaat bahkan aku sempat berfikir, bahwa kematian di tangan Goblin tak buruk juga....
Karena dengan kematian itu, aku tak lagi perlu hidup menyedihkan seperti ini.... Aku.... Aku yang paling tahu soal betapa menyedihkannya diriku....
Jika memang ada suatu hal untuk menghapus semua kelemahan ku ini, aku takkan ragu melakukan apapun! Hanya saja itu tak ada! Itu sama sekali tak ada!
Sebagai manusia yang dilahirkan dari darah rakyat jelata, sihirku jauh lebih lemah daripada bangsawan yang sebenarnya. Belum lagi pendidikan sejak kecil, juga dukungan keuangan.... Aku.... Aku telah mencoba banyak hal kau tahu?!" balas Lucius dengan teriakan dan nangisan yang semakin kencang.
Ocehan Lucius yang begitu panjang dan lebar itu membuat Carmilla terdiam. Ia tak tahu bahwa sosok yang baru saja dihina dengan mudahnya olehnya, ternyata telah mengusahakan semuanya.
"Aku selalu belajar dengan rajin, berlatih hingga sore hari sebelum kembali mempelajari sihir hingga tertidur! Tapi apa?! Aku sama sekali tak bisa menandingi mereka yang benar-benar berasal dari kalangan bangsawan!
Bahkan! Saat ini aku tak tahu bagaimana kabar orangtua dan adikku di desa yang sangat jauh dari sini! Mereka berharap banyak padaku! Tapi apa?! Tempat mereka dikatakan telah dibantai oleh bangsa barbar kau tahu?!
Lalu kau tahu kenapa aku bisa ada disini?! Teman-teman kelasku yang melemparkan aku ke dalam goa ini! Bahkan aku tak berbuat apapun pada mereka! Kau pikir.... Aku sama sekali tak berusaha?!" lanjut Lucius mengutarakan semua hal yang telah dipendamnya selama ini.
Carmilla yang melihat sosoknya ini, justru mengingatkannya atas suatu hal di masa lalunya.
Pada masa dimana Carmilla masih sama sekali tak menyadari atas seberapa besar berkah yang diperolehnya, karena terlahir sebagai putri tunggal Raja Iblis terkuat pada masa itu.
Sosoknya yang selalu menganggap semua orang selain dirinya dan Ayahnya itu lemah dan tak berguna.
'Lilya....'
"Apa kau bilang?" tanya Lucius yang mulai mengusap air matanya. Setelah mengeluarkan seluruh isi hatinya, Lucius merasa begitu lega. Tak ada lagi beban di hatinya.
Karena pada akhirnya, Ia bisa meluangkan semuanya pada Carmilla.
'Tidak ada. Juga, maaf.... Aku tak bermaksud menyinggungmu.'
"Tak masalah. Lagipula, memang itulah kenyataannya. Justru aku yang harusnya minta maaf. Maaf karena membuatmu terjebak di tubuh tak berguna ini." balas Lucius sambil tersenyum. Ia mulai berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan ini.
Carmilla hanya terdiam.
Sikap Lucius benar-benar mengingatkannya pada sosok teman masa kecilnya, Lilya.
Tapi bahkan hingga detik ini, Carmilla masih bertanya-tanya apakah dirinya sanggup menganggap Lilya sebagai temannya. Karena bagaimanapun, karena sikap Carmilla sendiri....
"Ah, benar juga. Katanya kau ingin dibangkitkan? Bagaimana caranya? Akan segera kuusahakan agar kau benar-benar bisa bebas." tanya Lucius sambil terus menyusuri goa gelap ini dengan sihir api di tangan kirinya.
Untuk berjaga-jaga, Lucius juga membawa pedang yang dibuang prajurit kota sebelumnya. Meskipun telah tumpul dan kotor karena banyak darah Goblin, pedang itu jauh lebih baik daripada tidak membawa senjata sama sekali.
'Soal itu, mungkin masih butuh cukup banyak persiapan. Dan juga, aku tak ingin siapapun mengetahui keberadaan ku. Jadi....' balas Carmilla.
"Berapa lama menurutmu?"
Carmilla terdiam sejenak sebelum mampu menjawabnya.
'Tergantung dari seberapa keras usahamu.'
"Aku akan berusaha dengan sangat keras! Apapun agar aku tak lagi...."
'Benarkah kau akan berjuang dengan keras?'
"Tentu saja! Aku.... Tak lagi ingin menjadi sosok yang sama sekali tak berguna . Aku tak lagi ingin menjadi sosok yang selalu bergantung pada orang lain. Jadi....
Katakan, apa yang perlu ku lakukan? Aku akan menuruti semuanya! Yah, selama kau tidak memintaku untuk bunuh diri, hahaha...." balas Lucius sambil tertawa ringan.
Meskipun tak mampu melihat sosok Carmilla secara langsung, Lucius dapat merasakannya.
Bahwa saat ini, Carmilla sedang tersenyum.
Bersamaan dengan cahaya yang mulai nampak di ujung goa ini, Carmilla memberikan balasan yang segera mengenyahkan perasaan senang Lucius karena telah berhasil keluar dari goa terkutuk ini.
Dan balasan itu....
'Maafkan aku, Lucius. Tapi, aku benar-benar ingin kau mati untukku.'
"Eh?"
Mendengar balasan itu, Lucius sadar. Bahwa kehidupannya takkan lagi sama seperti sebelumnya.
Sebuah kehidupan membosankan, yang hanya terus menerus berjuang untuk bertahan di tepian jurang kehancuran.
Kali ini....
Lucius harus terjun ke dalam jurang itu secara langsung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
John Singgih
permintaan yang sulit dari ratu iblis buat MC kita
2023-07-13
0
『Minecraft』
Eh?
2023-04-18
3
Abed Nugi
weiiii, chapter ini chapter pendekatan terhadap mc kepada ratu iblis, jujur gua sejak awal udah menebak kalau ratu iblis berniat kemungkinan bakal membunuh mc untuk hidup kembali.
Tapi d*mn, gua gak nyangka dia bakal bilangnya secara langsung, jadi para pembaca bisa terkejut, menunjukkan bahwa ratu iblis itu bisa dibilang tak peduli hidup anak itu sepenuhnya, yang mana membuat jalan cerita dan plot menjadi lebih menarik
2023-04-11
4