"Oi! Bukankah kau sangat hebat?! Bagaimana caramu melakukannya?!" teriak Max sambil segera merangkul tubuh Lucius yang baru saja keluar dari arena.
"Berkatmu, aku memperoleh cukup banyak uang. Aku sudah memutuskan untuk memberikan sebagian padamu." sahut Alex dengan senyuman yang lebar.
Ia kemudian menyerahkan kantung kulit kecil berisi sekitar 100 koin emas. Jumlah yang cukup untuk hidup layak selama bertahun-tahun.
"Eh? Tapi aku.... Ku rasa aku tak bisa...."
"Itu adalah bagianmu. Tolong terima." balas Alex dengan cepat.
Sejujurnya, Lucius merasa tak layak untuk menerima uang dari Alex. Bahkan, Ia merasa dirinya tak layak untuk menerima kemenangan ini.
Karena pemenang yang sebenarnya dari pertarungan barusan, adalah Carmilla. Bukan dirinya.
"Lucius, kuat...." puji Emily sambil mengayunkan lengan dua bonekanya. Senyuman yang tipis terlihat di wajah manisnya itu.
"Sungguh, terimakasih banyak. Lucius. Karena mu, aku...."
Sophia yang telah merasa sedikit terbebaskan dari kekangan para pengikut Goldencrest, mulai bisa sedikit bernafas lega.
Hanya saja....
"Tetap waspada. Terutama kakak dari Edward, masih berada di akademi ini." ucap Oliver tiba-tiba.
"Eh?! Apa maksudmu dengan itu?"
"William Goldencrest. Penyihir berbakat dari kelas B tahun kelima. Jika dia mendengar kabar bahwa sosok yang membuat adik kesayangannya masuk tahanan berkeliaran dengan bebas, aku tak tahu apa yang akan dilakukannya. Terutama kau, Lucius." jelas Oliver.
Kini Lucius semakin tersadar atas masalah apa yang dibuatnya.
Dengan menyelamatkan Sophia secara terang-terangan seperti itu, tak mungkin sosok bernama William Goldencrest itu tak mendengarnya.
Dan peluang besarnya, mungkin saja Lucius akan mendapat perlakuan yang lebih mengerikan dari Sophia. Atau lebih buruk lagi, ancaman kematian.
Melihat wajah tegang Lucius, Max mulai mempertanyakan sesuatu.
"William.... Hmm.... Bukankah dia termasuk orang yang ikut ekspedisi ke kuil kuno itu seminggu yang lalu?" tanya Max.
"Kau benar. Jujur saja, kau sangat beruntung Lucius. Karena kemungkinan, kelompok ekspedisi itu baru kembali beberapa bulan lagi." jelas Oliver.
Lucius hanya terus berjalan dalam diam. Memikirkan semua hal yang terjadi sesaat setelah dirinya kembali ke akademi ini.
Menyadari topik yang cukup kelam ini, Sophia merubah alur pembicaraan.
"Jadi, apa yang dikatakan oleh Profesor Magnus padamu, Lucius?" tanya Sophia.
"Aah itu? Bukan masalah besar...."
............
Beberapa saat sebelumnya, sesaat setelah Lucius meninggalkan toilet itu.
"Lucius, ada waktu sebentar?" tanya Profesor Magnus yang telah menantinya diluar.
"Ya...." balas Lucius tanpa banyak tenaga yang tersisa. Ia masih terpukul setelah menyadari betapa lemahnya dirinya.
Atau lebih tepatnya, kurang pengalaman.
"Sebenarnya, aku ingin memintamu agar tidak banyak mencari masalah tapi...."
Seketika, tatapan lemas Lucius berubah menjadi tatapan yang tajam. Yang kini diarahkannya tepat pada mata Profesor Magnus itu.
"Apa kau bilang?!" tanya Lucius sedikit kesal.
"Yaah.... Kau tahu? Bagaimana kejadian Edward setelah kau menghilang kan?"
"Kau pikir aku bisa diam saat seseo...."
Amarah Lucius yang sebelumnya hampir saja meledak mengingat betapa buruk perlakuan mereka pada Sophia, seketika menghilang begitu saja.
Lucius segera menurunkan pandangannya, menatap ke lantai diantara kedua kakinya itu.
Dan tak lama setelah itu, Ia melanjutkan perkataannya.
"Maaf. Aku akan lebih hati-hati...." balas Lucius yang segera berjalan pergi meninggalkan Profesor Magnus itu.
Ia melihat sosok Lucius dengan penuh kebingungan. Bagaimana bisa sosok pelajar kelas F yang baru saja mengalahkan pelajar unggulan di kelas C, menunjukkan sikap yang seperti ini?
Tapi apapun itu....
"Syukurlah kau paham. Kau harus tahu, melawan keluarga bangsawan besar bukanlah hal yang baik untukmu. Juga keluargamu." bisik Profesor Magnus pada dirinya sendiri sebelum berjalan pada arah yang berlawanan dengan Lucius.
............
'Braaaakk!!!'
Hari sudah terlalu malam. Segera setelah tiba di kamar sewaannya, Lucius langsung melemparkan tubuhnya di ranjang kecil itu tanpa mengganti pakaiannya.
Lucius nampak menutupi wajahnya dengan kedua lengannya. Diantara celah yang ada, Ia melihat langit-langit kamar ini yang diterangi cahaya lentera yang redup.
"Menyedihkan sekali.... Apa-apaan aku ini? Segera setelah bersikap sombong seperti itu...." keluh Lucius pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar, air mata mulai mengalir membasahi pipinya sebelum menetes ke bantalnya.
"Sialan.... Semudah itu? Kenapa? Kenapa aku tak bisa memikirkannya?"
Lucius teringat atas sikap Carmilla yang menganggap remeh lawannya. Sekalipun Carmilla bilang bahwa lawannya itu jauh lebih kuat darinya, tetap saja, Carmilla menghadapinya dengan begitu santai.
Seakan-akan, pasti akan berakhir dengan kemenangan di tangannya.
Selama beberapa saat, hanya kesunyian yang menemani Lucius dalam kamarnya. Tak ada balasan ataupun tanggapan dari Carmilla sedikit pun.
Tapi sesaat sebelum Lucius menutup matanya untuk tidur....
'Kau tahu? Naga yang kalian takuti dulunya menetas dari sebuah telur yang dibuang.' ucap Carmilla dalam pikiran Lucius.
"Hah? Apa-apaan itu?" tanya Lucius kembali yang masih sedikit terisak-isak.
'Raja Iblis waktu itu menemukan telurnya di wilayah ras Naga saat menaklukkannya. Sebuah telur kuning yang sangat kecil, bahkan bagi ukuran ras Naga sekalipun.'
Lucius sama sekali tak bisa memahami arah dari pembicaraan ini. Kenapa tiba-tiba membahas soal Ashenflare?
Lebih dari itu, bagaimana Carmilla bisa mengetahui semua ini?
'Lalu sang Raja Iblis memutuskan untuk mengambilnya sebagai rampasan perang. Meskipun, setelah itu Ia jatuh hati padanya dan meminta semua iblis memujanya sebagai Naga Suci Ashenflare. Hahaha.... Jika diingat kembali itu memang menggelikan.' lanjut Carmilla.
Seketika, bulu kuduk Lucius berdiri setelah mendengar penjelasan Carmilla.
Sosok Naga yang menjadi simbol kehancuran dan kekacauan, adalah hewan peliharaan Raja Iblis kala itu?
"Kau serius? Sebenarnya seberapa kuat Raja Iblis itu bisa menjinakkan Ashenflare seperti hewan peliharaan?" tanya Lucius penasaran.
'Sangat kuat.'
Balasan singkat dari Carmilla terdengar begitu meyakinkan. Terlebih lagi, yang sedang membicarakannya adalah Carmilla itu sendiri.
Sosok Iblis yang menurut pengamatan Lucius selama ini, adalah iblis yang sangat kuat. Mungkin termasuk dalam jajaran petinggi pasukan iblis.
'Kau tahu pahlawan manusia yang kalian puja-puja saat ini? Dia dengan mudah membantainya begitu saja. Memaksa seluruh ras bersatu untuk melawannya.' jelas Carmilla dengan nada yang terkesan begitu membanggakan sosok Raja Iblis itu.
"Eh?! Sekuat itu?!"
Lucius teringat atas kisah legenda pahlawan yang melawan Ashenflare. Dimana satu tebasan pedang Cadera sang Pahlawan Pedang saja cukup untuk menciptakan lembah yang dalam.
Menghadapi sosok sekuat itu dengan mudahnya? Bukankah Raja Iblis terlalu kuat?
"Jika memang sekuat itu, bagaimana bisa dia dikalahkan?" tanya Lucius yang benar-benar penasaran atas cerita yang sesungguhnya.
Mengenai kisah dunia, yang telah dilupakan.
Tapi Carmilla hanya terdiam, tak menjawab sepatah kata pun selama beberapa saat.
'Pada intinya, Lucius. Ashenflare dulunya bahkan selemah beberapa ekor serigala saja. Tapi kau tahu sendiri kan bagaimana dia setelahnya? Bahkan cukup kuat untuk mengukir sejarah selamanya.' balas Carmilla menghiraukan pertanyaan Lucius.
Atau lebih tepatnya, menghindarinya.
'Kau juga sama. Kau adalah seorang manusia yang baru saja terlahir kembali sebagai sosok yang sedikit lebih kuat. Wajar bagimu untuk merasa sombong, tapi ketahui lah batasanmu.' lanjut Carmilla.
Deg! Deg!!
Lucius akhirnya tersadar atas apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Carmilla.
"Carmilla, kau...."
'Bagaimana pun, tubuh mu juga tubuh ku. Jika kau terlalu mencolok dan memancing perhatian musuh yang kuat, aku juga akan ikut mati bersama mu. Kalau kau paham, besok kita akan mulai kembali berlatih. Dengan satu cincin sihir di jantungmu, seluruh syarat telah dipenuhi untuk latihan ini. Meskipun sangat minimalis, tapi kita tak bisa membuat lebih banyak waktu.' jelas Carmilla panjang lebar.
Lucius yang mendengarnya segera tersadar. Bahwa semua ini juga untuk kepentingan Carmilla sendiri.
Termasuk, tujuannya untuk bangkit kembali ke dunia ini.
Karena itu lah....
"Terimakasih. Aku akan berjuang lebih keras lagi untuk kedepannya." balas Lucius dengan senyuman di wajahnya.
Lucius telah memperoleh kesempatan sekali seumur hidup yang diidam-idamkan, mungkin oleh semua orang di dunia ini.
Sebuah impian dimana sosok misterius dengan pengetahuan yang telah lama menghilang dari dunia ini, melatih mereka untuk menjadi jauh lebih kuat.
Untuk itu, satu-satunya cara bagi Lucius untuk bersyukur adalah dengan terus berusaha memenuhi harapannya.
Dengan cepat, Lucius segera bersiap untuk tidur dengan hati yang membara penuh semangat.
'Itu benar. Ashenflare dulunya juga hanyalah makhluk yang lemah. Selama aku terus berusaha....' pikir Lucius dalam hatinya.
Lucius berharap suatu hari nanti, impiannya untuk menjadi sosok yang sangat kuat di kerajaan ini bisa terwujud. Memungkinkan dirinya untuk melindungi semua yang dicintainya. Mulai dari keluarga, teman-temannya, hingga dirinya sendiri.
Tanpa disadari olehnya, Carmilla membalas sikap Lucius barusan.
'Selamat beristirahat, pahlawanku.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Agus
sampai tamat ya thor
2025-02-13
0
Abed Nugi
bro ini cerita yang bagus
2023-06-16
1
RyuCandra7
Ah, gw paham dia lagi ngomongin siapa
2023-05-23
1