Lucius dan juga Damon saat ini sedang berdiri saling berhadapan di tengah arena itu. Keduanya menanti aba-aba atas dimulainya pertarungan mereka.
Dari tengah barisan penonton di sisi Timur, terlihat dua orang pelajar dengan seragam yang sedikit berbeda. Di atas seragam mereka yang biasa, terdapat mantel pendek yang hanya menutupi dari leher hingga sedikit di atas sikutnya saja.
Mantel pendek itu memiliki warna putih bersih dengan lambang perisai dan dua ekor kuda di bahu sebelah kanannya.
Sementara itu, dari balik mantel pendek itu, sesekali hembusan angin membuat lambang yang menunjukkan kelas mereka terlihat untuk sekilas.
"Kelas A?! Dan mantel itu.... Bukankah mereka Dewan Pelajar?! Kenapa mereka sendiri yang datang untuk mengurusi duel seperti ini? Bukankah biasanya ditangani oleh pelajar biasa?!" teriak Sophia panik setelah melihat keberadaan mereka berdua di tribun itu.
"Eh?! Rambut perak panjang, wajah sedingin es, jangan katakan dia...."
Sebelum Oliver sempat menyelesaikan perkataannya, Emily memotongnya dengan suara yang lirih.
"Luna.... Frostbourne.... Salah satu ksatria sihir paling jenius di tahun ketiga...."
"Di sebelahnya, tak salah lagi adalah Ethan Ironheart dari tahun keempat. Rambut coklat pendek, tubuh kekar dan besar, serta lambang B di seragamnya." sahut Max.
"Eeh? Kenapa ketua dan wakil ketua Dewan Pelajar datang kemari? Ini bahkan bukan duel yang begitu menarik bagi mereka bukan?" tanya Alex yang baru saja datang untuk duduk di sebelah mereka.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Alex. Arena ini seharusnya mampu menampung hingga 5.000 lebih penonton. Tapi saat ini, yang menonton hanya ratusan orang saja.
Menunjukkan bahwa pertandingan yang akan dilakukan, bukanlah hal yang menarik. Bagaimanapun, lawan Damon yang berasal dari kelas C itu hanyalah pelajar tak dikenal dari kelas F.
Bahkan sekalipun seluruh arena ini hampir terisi penuh oleh penonton, belum bisa dipastikan juga wakil ketua Dewan Pelajar akan hadir. Apalagi termasuk ketuanya.
"Oi, Alex! Darimana kau?" tanya Max kesal.
Sambil memamerkan sebuah lembaran kertas kecil di tangan kanannya, Alex pun membalas.
"Lucius memintaku untuk bertaruh padanya. Jadi aku melakukannya. Dan kau tahu? Perbandingan kemenangannya adalah 19 banding 2. Dengan kata lain, 1 koin emas akan menjadi 19 koin emas jika Lucius menang." jelas Alex santai sambil segera duduk di salah satu kursi.
1 Koin emas sendiri, adalah jumlah uang yang cukup besar. Cukup untuk membiayai kehidupan yang layak selama 2 hingga 3 bulan.
Bahkan di kalangan bangsawan sekalipun, itu masih termasuk uang yang cukup banyak.
"Hah?! Kau gila?!" teriak Max yang semakin kesal.
"Sekalipun begitu, itu artinya peluang besarnya Lucius akan kalah bukan?!" sambung Oliver.
"Tak masalah. Aku percaya pada perkataan Lucius. Dan jika dia ternyata kalah, aku sudah mengambil peluang untuk mendapatkan banyak uang. Jadi untuk itu, aku mempertaruhkan hampir semua tabunganku. 81 koin emas."
"Sudah kuduga, kau benar-benar mulai kehilangan akal sehat hah?!"
"Jika kau kalah, aku takkan sudi meminjamkan mu uang."
"Tak masalah. Aku menyadari resiko yang ku tanggung." balas Alex dengan santai.
Tak berselang lama, sang ketua Dewan Pelajar itu pun mulai berbicara.
"Dengan ini, aku, Luna Frostbourne, mewakili seluruh pelajar di Akademi Damacia yang terkemuka ini, menyatakan pertarungan antara Lucius Nightshade dan Damon Emberheart dimulai!" ucap Luna dengan lantang.
'Duaaaangg!!!'
Suara dari pukulan gendang yang besar itu menggema di seluruh arena ini. Menandakan bahwa pertarungan antara keduanya telah dimulai.
'Zraaaaattt!!!'
Dengan cepat, Damon mengayunkan pedang besarnya ke arah Lucius. Membuat kepalanya hampir saja terpenggal jika tidak cukup cepat menghindar.
'Cepat sekali?!' teriak Lucius terkejut dalam hatinya. Ia dengan segera melompat mundur dua kali, menjaga jarak dari Damon Emberheart.
Di hadapannya, sosok Damon terlihat tersenyum lebar sambil tertawa ringan.
"Hahaha, ku pikir aku bisa memenggal kepalamu barusan. Tapi kau cukup cepat juga ya?"
Jika bukan karena latihan ekstrim dari Carmilla di goa itu, reaksi Lucius takkan cukup cepat untuk menghindarinya.
..."WUUUOOOOOOOOOHH!!!"...
Suara teriakan dan sorakan dari para penonton terdengar menggema di tengah arena ini.
Tapi semua itu sama sekali tak mempengaruhi Lucius. Apa yang harus dilakukannya tetap sama. Yaitu mengalahkan Damon.
Dari tangan kanannya, lingkaran sihir kecil berwarna merah gelap muncul di punggung tangannya.
Pada saat itu juga....
'Apa yang kau pikir akan kau lakukan? Menggunakan sihir iblis secepat ini? Untuk lawan seperti ini? Hahaha! Lucius, aku tarik kembali semua pujianku!' teriak Carmilla dengan keras sambil tertawa.
Carmilla yang sedari tadi selalu terdiam, kini tiba-tiba berbicara sambil tertawa keras.
Tawanya yang terkesan begitu meremehkan, membuat Lucius segera menghentikan sihir iblis yang hampir saja digunakannya. Mengubahnya menjadi sihir api biasa.
'Swuoooosshhh!!!'
Lucius mengarahkan telapak tangannya kedepan, membuat semburan api yang cukup kuat membakar tubuh Damon hidup-hidup.
Tapi dari kejauhan, tawa yang keras dapat terdengar.
"Hahaha! Sihir api?! Kau bercanda, Lucius?! Kau bercanda kan?! Kau pikir siapa aku?!" teriak Damon Emberheart yang secara perlahan mulai menyerap seluruh sihir api yang ada di sekitarnya.
Tak ada sedikit pun luka atau goresan pada tubuhnya. Seakan-akan api sebesar itu sama sekali tak berguna padanya.
Api milik Lucius itu terkumpul di tangan kiri Damon, membentuk sebuah bola api kecil berwarna kuning kemerahan.
"Akan ku perlihatkan padamu, bagaimana cara menggunakan sihir api." lanjut Damon dengan senyuman yang lebar.
Dengan cepat, Damon mengayunkan tangan kirinya kedepan. Melemparkan bola api barusan yang sudah diperkuat dengan sihirnya sendiri.
Berbeda dengan semburan api yang dibuat oleh Lucius barusan, kali ini semburan api itu bergerak dengan sangat cepat. Dalam sekejap, telah menelan seluruh tubuh Lucius dalam kobaran kuning kemerahan itu.
...'SWUUUUSSHHHH!!!'...
Tak hanya cepat, sihir api milik Damon benar-benar sangat kuat. Jika dibandingkan, sihir Lucius seperti gigitan seekor kucing.
Sedangkan sihir api Damon, sama seperti gigitan seekor singa.
"KUUUUUGGHHH!!!" teriak Lucius kesakitan. Ia menahan semburan api itu dengan kedua lengannya di depan wajahnya.
'Bahkan, sihir perisai tak mampu menahan sedikitpun dari api ini?! Bukankah ini bahkan lebih kuat dari sihir api Carmilla?!' pikir Lucius panik dalam hatinya.
Damon Emberheart. Sebagai bangsawan yang dilahirkan di keluarga dengan api sebagai tradisi selama ratusan tahun, tentu saja elemen api adalah yang terkuat baginya.
Di saat anak-anak kecil lainnya masih bermain-main, Damon harus berlatih keras menerima api sebagai bagian dari tubuhnya.
Sedangkan Lucius? Rakyat jelata yang baru saja belajar sihir secara serius selama 2 bulan? Berpikir untuk melampauinya?
'Kesombonganmu sedari tadi membuatku ingin muntah, Lucius. Gantian, akan ku tunjukkan bagaimana cara menggunakan tubuh tak berguna mu itu.' ucap Carmilla dengan nada yang begitu dingin.
Membuat Lucius hanya bisa terdiam tanpa sepatah kata pun. Karena bagaimanapun, apa yang dikatakan Carmilla barusan, mungkin saja benar.
Selama ini, Lucius beranggapan bahwa dirinya telah berkembang jauh lebih kuat. Itu memang tak salah. Tapi jika dibandingkan dengan mereka yang telah melatih tubuhnya sejak kecil?
Lucius saat ini, sama seperti seorang anak kecil yang baru saja bisa berjalan. Sedangkan para bangsawan lain di akademi ini, adalah remaja yang telah terbiasa untuk berlari.
Itulah kenyataannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Agus
ternyata masi lemah
2025-02-13
0
Abed Nugi
mmmm gua suka lu naruh Carmilla lebih keras
2023-06-16
0
zuyoka
kek nya nanti jadi lucius bakar lagi 😂😂
2023-04-16
2