Episode 8

Sesampainya di UKS ternyata tidak ada perawat yang berjaga saat itu. Naila yang sedikit tahu cara mengobati pasien yang terluka langsung mengambil obat yang di tempatkan di kotak obat. Dia mengambil beberapa obat dan juga kapas ke atas ranjang.

"Aku saja yang obati ya, karena di sini tidak ada yang jaga!" ucap Naila sebelum melakukan pengobatan terhadap Angkasa.

Angkasa hanya menganggukkan kepalanya, dia tidak tahu kalau Naila bisa mengobati orang terluka. Angkasa meringis menahan rasa sakit saat Naila mengobati lukanya. Dia sekilas melihat ke wajah Naila yang mulus dan natural tanpa make up.

"Udah aku obati. Sekali lagi makasih ya, kalau kamu tidak datang aku gak tahu akan seperti apa jadinya," kata Naila kepada Angkasa setelah mengobati Angkasa.

"Sama-sama, lagipula aku kebetulan lewat dan lihat kamu sama pria itu jadi aku tolongin saja!" ucap Angkasa.

"Hah!" Naila berdiri sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya.

Lalu mengembalikan obat yang dia ambil ke tempat semula dan berkata ,"Tapi walaupun kamu pernah tolongin aku juga bantu kamu obati luka. Jadi, aku harap kita tidak saling sapa lagi ya, aku gak mau semua orang akan mengira kalau berita itu benar!".

Setelah berbicara seperti itu Naila pergi dari hadapan Angkasa. Dia tidak mau terekam oleh orang lain saat dia berada di ruangan yang sama dengan Angkasa.

Isu yang di buat oleh Vania sudah cukup membuatnya pusing.

Sedangkan Angkasa hanya tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Naila. Angkasa mengira jika dia di benci oleh Naila.

...****************...

"Kita putus!"

Ucapan Safira masih terngiang-ngiang di telinga Fernando. Ucapannya mampu membuat hati Fernando merasakan sakit yang luar biasa. Fernando yang cinta mati dengan Safira menyesali perbuatannya sekaligus marah terhadap Safira karena tidak pernah mengerti cinta Fernando.

"Aku melakukan itu semua karena aku sayang sama kamu! Tapi kamu justru memperlakukan aku seperti ini," ucap Fernando sendirian di dalam kamarnya.

Fernando merenung sambil mengingat perkataan Naila, bahwa Safira hanya memanfaatkan Fernando untuk mendapatkan dokumen tersebut.

'Tapi apa dokumen itu lebih penting dari aku?' batin Fernando.

Fernando mengambil handphonenya yang tergeletak di lantai. Dia menunggu jawaban dari orang yang di telepon tetapi tidak ada jawaban. Berulang kali Fernando melakukan panggilan terhadap Safira namun tidak ada orang yang menjawab.

"Apa kamu se-benci itu sama aku Safira?" gumam Fernando.

Fernando mencoba sekali lagi dan seorang pria mengangkat telepon Safira.

"Siapa kamu?" tanya Fernando ketika pria tersebut mengeluarkan suara.

"Aku kakaknya Safira, kamu kenapa telepon tengah malam begini?" tanya Hendra.

"Safira-nya kemana?" Fernando balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Fernando terlebih dahulu.

Namun Hendra langsung menutup panggilan, itu membuat Fernando menjadi sangat kesal.

"Aku tidak percaya dia Kakak Safira. Setahuku Safira tidak pernah bercerita kalau dia memiliki seorang Kakak laki-laki," kata Fernando dengan kesal.

Fernando kemudian menelepon sekali lagi dan akhirnya tidak ada yang menjawabnya lagi.

"Ahhh!"

Fernando membanting handphonenya karena kesal hingga Handphone tersebut hancur. Tapi Fernando tidak peduli dengan handphone tersebut, dia terlanjur sakit hati dengan Safira.

Fernando mengira kalau Safira memiliki pria lain di luar sana.

Sedangkan di lain tempat terlihat Safira yang sedang menangis tersedu-sedu setelah di pukuli oleh ayahnya sekian kali. Hendra yang baru saja menjawab telepon dari Fernando segera memberitahu Safira.

Namun Safira tampak tidak peduli, dia memiliki masalah yang lebih sulit daripada menghadapi Fernando.

"Safira kamu jangan terlalu memikirkan hal yang di katakan oleh ayah. Mungkin ayah sedang kesal karena hilang pekerjaan," kata Hendra menenangkan adiknya yang terlihat mengenaskan.

"Lantas kenapa setiap ayah kesal selalu pukul aku? Hilang pekerjaan aku yang di pukul, aku menjadi anak yang tidak berguna bagi ayah aku juga yang kena pukul. Apa aku bukan anak ayah?" tanya Safira sambil menangis tersedu-sedu.

Hendra yang mendengar keluh kesah adiknya merasa iba. Dia juga tidak tahu mengapa ayahnya memperlakukan Safira sangat berbeda dengan dirinya.

"Safira, apa kamu mau pergi diam-diam dengan kakak?" tanya Hendra dengan serius kepada Safira.

Mendengar hal itu seketika tangisan Safira berhenti sejenak, dia menatap wajah Hendra yang tampak tidak bercanda.

"Tidak Kak! Itu justru akan lebih menakutkan hukumannya kalau aku kabur dari rumah," ucap Safira.

'Lagipula aku tidak mau Kak Hendra terkena masalah karena melindungi ku!' batin Safira.

Hendra tidak memiliki topik untuk di bicarakan lagi akhirnya pergi keluar meninggalkan Safira. Safira hanya melihat langkah kaki kakaknya hingga Hendra menutup kembali pintu kamarnya dan tak terlihat lagi punggung kakaknya.

"Kenapa aku tidak bisa bahagia seperti orang lain? kenapa aku tidak memiliki keluarga yang kaya? ayah yang baik? kenapa aku hidup susah seperti ini?" tanya Safira pada dirinya sendiri.

Hati Safira penuh dengan kebencian, tidak ada lagi orang yang dia sayangi. Tidak ada lagi orang yang dapat dia andalkan selain dirinya sendiri.

Safira menyiapkan kopernya dan memasukkan pakaiannya. Dia mengusap air matanya yang masih tersisa, lalu berkata "jika aku harus kabur, aku bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Aku yakin pria tua yang kejam itu tidak akan mencari ku,".

Safira melihat jam di layar handphonenya dan dia merasa aman karena semua orang sudah tidur di kamarnya masing-masing.

Perlahan-lahan Safira menarik kopernya keluar sambil memperhatikan di sekitar rumah. Berjalan dengan pelan meskipun hatinya tidak tenang dan khawatir ketahuan. Pintu keluar sudah dekat, tinggal beberapa langkah lagi sudah sampai.

Safira masih mengawasi area sekitarnya hingga merasa aman dia membuka pintu secara perlahan.

'Pelan-pelan Safira jangan sampai ketahuan. Jika sampai ketahuan kamu akan hancur berkeping-keping di tangan pria tua itu!' batin Safira.

Safira merasa tenang setelah sampai di luar rumah. Dia kemudian berjalan dengan cepat menuju ke jalan raya.

"Jam segini pasti tidak taksi, aku harus kemana setelah ini?" tanya Safira pada dirinya sendiri.

Safira mengecek sisa uang yang di berikan oleh ayahnya melalui m-banking. Setidaknya jika masih bisa sewa kos-kosan itu lumayan untuk tempat tinggalnya.

"Sisa uangnya mungkin tidak cukup untuk menyewa kost, bahkan untuk makan keseharian ku saja tidak cukup. Apa aku telepon Fernando saja?" pikir Safira.

Safira ragu-ragu untuk menelepon Fernando sebab baru tadi siang dia putus dengan Fernando.

"Udah lah telepon saja, daripada aku harus tidur di jalan," ucap Safira sambil menarik kopernya.

Setelah telepon di jawab, Safira menjelaskan keadaannya bahwa dia kabur dari rumah dan tidak memiliki tempat tinggal.

"Kamu di mana sekarang? biar aku jemput ya!" ucap Fernando dengan sigap.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!