Hari itu peristiwa yang dialami Siao Bak menjadi viral bukan hanya di sekolah tetapi juga di seluruh area klan Long provinsi.
Ketua Klan memanggil Penatua penegak hukum dan memarahinya dengan keras, dia mendapatkan peringatan dan pemotongan gaji satu tahun. Siao Bak juga dipulangkan kembali ke klan asalnya.
Kerugian paling besar baginya adalah hewan jinaknya yang sudah dibelinya dengan sangat mahal dan tidak mudah untuk menjinakkannya, binatang yang sangat ganas itu sekarang benar-benar menjadi pengecut seperti tikus rumah.
Hanya dengan mendengar suara kucing mengeong saja, serigala monster abu-abu yang terkenal ganas itu akan segera meringkuk gemetaran di pojok rumah.
Macho benar-benar menakutinya, Alpha tidak heran kalau Macho bisa menimbulkan ketakutan yang begitu besar buat serigala monster abu-abu itu, mengingat garis keturunannya sebagai binatang roh yang kuat, hanya yang dia bingungkan itu adalah pertumbuhan Macho. Usianya sudah lebih empat tahun tetapi tubuhnya masih sebesar kucing, apa dia salah kasih makan ya?
Alpha memandang Macho dengan tatapan penasaran, ibu Macho bisa berbicara seperti manusia, dia tidak tahu kapan Macho bisa berbicara. Macho memang mengerti perkataan Alpha tetapi dia belum pernah mengatakan apa-apa.
Kadang seperti menggumamkan sesuatu tetapi tidak jelas kedengarannya, hanya saat menghadapi serigala monster abu-abu itu suara Macho cukup jelas tetapi itu bukan kata-kata, hanya suara meongan kucing saja.
Yang dipikirin terlihat tidak perduli, Macho sedang menikmati kebanggaan. Dari semalam banyak anak yang berebutan menyenangkannya, ada yang menggendongnya, ada juga yang memberinya makanan, permen juga minuman tetapi dia tidak mau kalau diajak menginap di kamar anak lainnya.
Macho tetap kembali ke kamar Alpha setelah cukup bersenang-senang. Dia suka tidur di kaki Alpha, tidak tahu apa dia masokis karena Alpha kerap menendangnya kalau dia sedang tidur. Macho tidak marah, dia akan kembali ke tempat tidurnya saat tubuh Alpha bergeser.
Sore itu, semua anak diperintahkan untuk mendatangi aula beladiri, mereka akan diperkenalkan kepada guru-guru yang mengajar. Anak-anak akan menjalani tes bakat agar tahu jurusan apa yang tepat untuk mereka.
Tes itu berupa sebuah batu roh yang akan mencatat bakat anak-anak itu dalam kultivasinya. Mereka hanya perlu meletakkan telapak tangan kanan ke atas batu bakat itu, ada tujuh warna sempurna yang mewakili tinggi rendahnya bakat seseorang.
Warna putih, hitam, merah, kuning, hijau, biru dan ungu. Semakin banyak warna yang keluar maka akan semakin tinggi bakatnya dalam kultivasi.
Satu warna berarti anak itu tidak berbakat untuk berkultivasi, dua warna hanya akan menjadi prajurit biasa, tiga warna akan menjadi prajurit utama, diatas empat warna baru bisa dianggap istimewa karena itu tingkat raja, apalagi jika bisa mengeluarkan tujuh warna, itu tingkat dewa.
Sudah lama sekali klan Long tidak mendapatkan murid yang bisa mengeluarkan tujuh warna ini, sudah kurang lebih tiga ratus tahun. Murid yang memiliki tubuh dewa akan memperoleh hak yang istimewa.
Bukan hanya murid ini yang akan mendapatkan manfaat, orang tuanya juga akan mendapatkan manfaat, mereka bisa bergabung ke klan utama provinsi untuk menjadi salah satu tetua kehormatan klan bahkan juga berpeluang untuk menjadi ketua klan utama provinsi.
Klan asalnya juga akan memperoleh tambahan sepuluh ribu batu roh setiap tahunnya dan mendapatkan kuota yang lebih banyak untuk mengirimkan anak-anak mereka untuk masuk ke akademi.
Asal tidak ada kecelakaan atau kematian dini, murid seperti ini akan mencapai ketinggian yang luar biasa, akan sangat dihargai dalam klan dan mendapatkan perawatan klan secara total.
Tujuh warna sangat langka, mendapatkan lima atau enam warna, itu sudah luar biasa meskipun manfaat yang diterima tidak sebesar yang mendapatkan tujuh warna tetapi itu akan sangat membanggakan bagi klan asal, mereka akan mendapatkan tambahan lima ratus batu roh setiap tahunnya.
Orang tuanya akan mendapatkan kedudukan sebagai tetua kehormatan di klan cabang yang kedudukannya hanya satu dibawah ketua klan.
Anak-anak itu sangat antusias, beragam ekspresi mereka tunjukkan, ada yang terlihat sangat percaya diri karena mereka mempunyai orang tua yang berbakat dan memiliki kedudukan tinggi dalam klan, ada yang biasa-biasa saja tetapi ada juga yang terlihat minder.
Sebelum berusia tujuh tahun, di klan asalnya, mereka hanya berlatih untuk membentuk fondasi dasar beladiri, meditasi yang dilakukan juga hanya untuk memperkuat fisik.
Di Klan utama provinsi ini barulah mereka akan belajar berkultivasi karena kultivasi ini membutuhkan biaya yang besar, tidak cukup hanya bermeditasi tetapi juga perlu ditopang dengan batu roh, herbal dan pil yang berharga mahal, semakin tinggi kultivasinya semakin mahal juga harga pil itu.
Untuk anak yang memiliki bakat tujuh warna, boleh langsung masuk di akademi kalau dia menghendakinya. Akademi ini biasanya hanya menerima murid yang berusia tiga belas tahun tetapi selalu ada toleransi untuk anak yang sangat berbakat.
Seperti kelas akselerasi di jaman modern, anak bisa menyingkat kelas sehingga bisa mengikuti kelas yang lebih tinggi meskipun usianya belum mencukupi.
Sebagai juara pertama dalam seleksi penerimaan murid dalam ternyata Alpha justru tidak mendapatkan giliran pertama malah dia mendapatkan nomor satu dari belakang alias nomor ke seratus.
Dia tidak menyia-nyiakan waktu, tetap bermeditasi sembari menunggu nomornya dipanggil, saat nomornya dipanggil, dia tidak mendengarnya, apalagi dia dipanggil dengan memakai nama aslinya yang nyaris dia lupakan.
"Nomor seratus untuk Long Tian Ba, silahkan maju ke depan meja pengukuran bakat".
Panggilan pertama dia tidak muncul.
Panggilan kedua juga tidak ada.
"Nomor seratus untuk Long Tian Ba, silahkan maju ke meja pengukuran bakat ".
Ketua Klan kakek Long dan tetua lain sudah menantikan Alpha, mereka ingin tahu apakah anak yang sudah menarik perhatiannya itu akan membuat kejutan lagi, mungkin dia akan mendapatkan bakat lima warna.
Ayahnya punya bakat empat warna, ibunya lebih baik karena punya bakat lima warna, jadi para tetua itu berpendapat bahwa kemungkinan besar dia pasti akan mendapatkan minimal empat warna.
Penatua yang menangani pengukuran bakat itu memanggil lagi untuk ketiga kalinya.
"Nomor seratus untuk Long Tian Ba, silahkan maju ke meja pengukuran bakat ".
Ditunggu lima menit, dia tetap tidak muncul, kemana dia, tadi mereka sudah melihatnya berada di ruangan itu, jadi kemana dia pergi. Saat penatua itu mau menutup acara itu, barulah Alpha menampakkan dirinya, itupun karena Wang Ying menemukannya.
Wang Ying sudah mencari kekamarnya, tidak ada, dia kembali ke ruangan itu, akhirnya dia ingat tadi Alpha menunggu di pojok belakang ruang penilaian itu. Alpha ada di sana persis di belakang panggung para tetua klan.
Kemunculannya mengejutkan tetua klan yang tidak menduga kalau selama ini, dia ada di belakang mereka. Mengapa mereka sampai tidak bisa mendeteksi kehadirannya, tetua klan ini semuanya orang yang memiliki tingkat kultivasi tingkat raja tapi mereka gagal merasakan kehadirannya.
Ruangan itu sudah kosong karena murid-murid sudah kembali ke asrama mereka, dari pengukuran hari ini, lima puluh anak mendapatkan tiga warna, tiga puluh sembilan anak mendapatkan empat warna dan dua puluh anak mendapatkan lima warna, belum ada yang mendapatkan enam warna.
Alpha berjalan maju ke depan meja, dia melihat batu pengukur bakat, itu seperti balok batu biasa tetapi ada ukiran dan rune yang rumit tercetak diatasnya, itu seperti sebuah formasi.
Alpha meletakkan telapak tangannya, dia merasakan kehangatan mengalir dari batu itu meresap ke dalam tubuhnya.
"Weng".
Terdengar suara berdengung tetapi tidak ada warna apa-apa di batu itu, Alpha melihat batu itu dengan canggung, apa dia akan gagal, apa dia hanya memiliki tubuh fisik yang kuat tetapi bakat yang sangat lemah.
Alpha pikir batu itu akan menjadi berwarna-warni tapi batu itu tetap berwarna abu-abu. Alpha sudah merasa melankolis, ayah dan ibunya pasti akan merasa malu, anak-anak dari anggota klan memiliki bakat kelas tiga, kelas empat dan kelas lima.
Dia yang adalah anak ketua klan sama sekali tidak memiliki bakat, ketiga saudara dari ibu kedua memiliki bakat empat warna, Fan Huang punya bakat tiga warna tetapi dirinya tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan orang tuanya.
Dia mau berbalik untuk meninggalkan tempat itu ketika dia mendengar semua tetua itu bertepuk tangan dan bersorak.
"Luar biasa, akhirnya kita mendapatkannya. Oh leluhur akan bangga terhadapku".
Alpha menoleh dan melihat para tetua yang menangis terharu, mata ketua klan juga berkaca-kaca seperti menahan tangisnya.
Alpha terheran-heran, wajar kalau mereka ikut bersedih atas kegagalannya tetapi kenapa wajah mereka terlihat berseri-seri meskipun mata mereka berlinangan air mata.
Ketua dan para tetua itu menghampirinya, kakek Long memeluknya, mencium keningnya kemudian mengangkat tubuhnya tinggi ke udara.
"Luar biasa, ini cucuku yang hebat, apa kamu mau kedua orang tua mu pindah kemari atau kamu mau langsung masuk akademi".
Alpha masih kebingungan, apa dia berhasil, batu itu masih sama, ketika kakek Long mengangkatnya dan memutar tubuhnya di udara barulah dia melihat ternyata warna-warna itu bukan ditampilkan di atas batu melainkan di atas layar batu di depan meja penguji.
Itu sebabnya dia tidak tahu, dia pikir warna itu akan muncul di atas batu, untung tadi dia tidak menanyakan hal itu. Dia melihat warna-warna yang semakin pudar itu, dia masih sempat menghitungnya, ada enam..... Tidak, itu bukan enam.... itu genap tujuh warna....
Alpha baru mengerti apa maksud perkataan dari ketua klan, dia mau ibunya ikut pindah bersamanya tetapi dia ingin mengejar impiannya untuk menjadi yang terkuat, sementara tubuhnya masih terayun diudara, dia memutuskan untuk bergabung di akademi saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments