Setelah semua orang keluar meninggalkan nyonya Long bersama bayinya, nyonya Long mencium kening bayi itu, dia tidak tahan lagi untuk tidak mencucurkan air mata, dia tidak mau menangis di depan mata suaminya.
Nyonya Long memegang tangan anaknya lalu mengusapkannya di pipinya, dia bergumam sendiri.
"Anakku, cintaku, mama mencintaimu. Mama tidak tega meninggalkanmu berbaring dalam kegelapan, apakah kamu mau mama menemanimu".
Dia memandang wajah bayinya yang terlihat begitu damai, dia tidak bisa membayangkan bagaimana bayinya akan dimakamkan sendirian.
"Apakah kamu takut sayang, mama akan menemanimu kalau kamu takut, hiks hiks hiks"
Dia memegang tangan bayi itu menaruhnya di pipinya, dia merasakan jari-jari bayi itu menggaruk pipinya, dia pikir dia mengalami halusinasi jadi dia membiarkan pikirannya mengikuti hal itu.
"Oh apa ini yang kamu mau sayang, ayo biarlah mama mati bersamamu, kita berdua tidak akan berpisah lagi. Papamu tidak akan kesepian kalau kita tinggalkan, katanya dia sangat mencintai mama tetapi itu bohong, dia hanya mencintai dirinya sendiri. Paling mencintaiku, pret..., mana buktinya!"
Nyonya Long diam sebentar karena dia mau menghapus air mata dan ingusnya, dia mengelap juga wajah bayinya.
"Maaf nak, mama jadi emosi sama papamu, katanya dulu aku wanita satu-satunya tapi begitu tahu aku tidak punya anak, dia malah kawin lagi, bukan cuma satu tapi dia, alasannya buat menyambung marganya. Bah, alasan saja, ada keponakannya kan, apalagi dia cuma keluarga cabang saja".
Nyonya Long mengomel sendiri, curhat pada bayinya. Dia berpikir untuk bunuh diri saja untuk menemaninya, ngapain mikir suaminya, paling dia susah sebentar saja. Tidak lama pasti sudah cari isteri muda lagi.
Bayi itu menggerakkan jarinya lagi menyentuh pipi nyonya ya Long, bayi itu membuka matanya, awalnya pandangannya kabur. Air mata nyonya Long membasahi matanya juga, itu membuat pandangannya menjadi jelas.
Alexa sudah mengatur agar A1 kembali pada ingatannya saat dia berumur setahun lebih saat dia masih bersama ibunya.
A1 mengintip dari sela matanya, dia melihat wajah perempuan di hadapannya yang memeluk dan menciuminya sampai wajah kecilnya penuh dengan air mata dan lelehan ingus, dia mau menggerakkan tangannya tetapi perempuan itu terus memegang tangannya, jadi dia hanya dapat menggerakkan jarinya untuk menggaruk pipi perempuan itu untuk melepaskan cengkeramannya.
"Apakah ini mamaku"
Pikiran A1 menerawang, mencoba mengingat wajah di hadapannya, perempuan itu asing baginya tetapi dia mendengar perempuan ini terus memanggilnya anakku, dia melihat dari sudut matanya, lho kenapa rasanya badanku kecil sekali, aku kembali jadi bayi?
A1 mencoba-coba untuk mengingat tetapi pikirannya seperti terblokir, dia hanya dapat sedikit mengingat kebersamaan dengan ibunya.
"Mungkin dia memang ibuku, baiklah aku akan menerimanya, tidak rugi juga punya mama".
Pikir A1, dia kemudian menggenggam tangan mamanya dengan tangan kecilnya. dia berkata dengan lembut untuk menghibur mama yang sedang susah hati itu.
"Mama jangan menangis"
Mendengar perkataan bayinya, malah meledaklah tangisnya, dengan tersedu sedan, dia berkata lagi pada bayinya.
"Enggak mama tidak menangis, mama senang kamu mau berbicara dengan mama".
"Berbicara!"
Sebuah gagasan aneh tiba-tiba mengacaukan pikirannya. Bagaimana dia mendengar bayinya berbicara, berapa tahun umurnya, baru satu hari tetapi dia mendengar bayinya berbicara dan bukankah bayinya sudah mati.
Apakah hantu bayi ini yang berbicara? Hii, dia jadi sedikit takut tapi kenapa harus takut, biar hantu kan itu hantu anaknya sendiri. Dia menjadi linglung...
"Mama, aku lapar"
Masih linglung dia menjawab anaknya.
"Ya, ya nak, ayo minum susu mama dulu".
Dia membuka kerah bajunya dan menyusupkan kepala bayi itu kedadanya, masih belum sepenuhnya sadar dia merasakan isapan kuat dari mulut bayinya menyedot air susu dari buah dadanya.
Dia membelalakkan matanya, suaranya tercekat dalam tenggorokannya.
"Oh Dewa sudah
mendengarkan doaku, anakku benar-benar hidup kembali atau ini cuma mimpi, kalau mimpi, aku tidak mau bangun lagi selamanya "
Nyonya Long memperhatikan pipi bayinya yang penuh, dia senang sekali melihatnya, kali ini dia tidak menangis lagi.
Tuan Long berdiri di depan pintu kamar itu, tangan kirinya menggenggam tangan seorang anak laki-laki kecil berusia tujuh tahun, sekali lagi dia mengingatkan anak laki-laki itu untuk memperhatikan apa yang dia sudah pesankan sebelumnya.
"Ingat nanti kamu peluk mamamu dan katakan kamu sangat sayang sama mama ya"
Tuan Long membawa anak nomor lima untuk menghibur isterinya, anak itu cukup dekat dengannya, dari bayi anak nomor lima ini selama itu hidup dalam pengasuhan nyonya Long, jadi dia merasa bahwa anak itu pasti bisa menghibur isterinya untuk bisa melupakan kematian bayinya.
Tuan Long agak ragu-ragu untuk masuk ke dalam kamar itu apalagi dia tidak lagi mendengar suara apapun lagi dari kamar itu, saat meninggalkan kamar itu untuk menjemput anaknya, dia masih mendengar tangisan isterinya.
Tidak ada suara apapun, itu mencurigakan, apa isterinya....? Dia segera menepis kecurigaan itu dari pikirannya, pelan-pelan dia membuka pintu kamar itu ..
Apa yang dia lihat sungguh membuat dia bingung karena dia melihat istrinya tersenyum manis sambil menatapnya, dia jadi sedikit takut, apa jangan-jangan?
Isterinya menaruh jarinya di depan mulutnya sambil berbisik lembut.
"Jalan pelan-pelan, jangan ribut, dia sedang tidur".
"Aduh celaka, isteri ku sudah stress, bayi itu sudah mati, bagaimana dia katakan bayi itu sedang tidur".
Anak laki-laki itu melepaskan tangannya dari tuan Long, dia menghampiri nyonya Long sambil memperhatikan bayi dalam pelukan nyonya Long. Dia lupa dengan pesan tuan Long padanya
"Mama tua apa adik sedang tidur, aku ingin melihatnya".
"Sini Long Si dekat-dekat, lihat betapa imutnya dia, kamu harus menyayangi dan menjaga kakak kecilmu ini ya"
Meskipun A1 anak bungsu dari keluarga ayahnya tetapi dia adalah pewaris sah dari isteri tua tuan Long, secara kedudukan dia menjadi yang pertama dari saudara-saudara tirinya, mereka harus memanggil dia dengan panggilan nona muda.
Anak yang dipanggil Long Shi itu mendekat dengan hati-hati, dia melihat bayi itu sedang mengisap jempolnya dengan imut, Long Si langsung jatuh hati kepadanya.
"Kakak kecil, Papa lihat betapa cantiknya kakak kecil, lucu sekali, lihat dia mengisap jempolnya, mungkin dia masih lapar, aku senang melihatnya"
Tuan Long yang mendengar anaknya sudah melupakan pesannya dan malah memuji mayat bayinya menjadi terdiam, bukan hanya isterinya, anaknya pun sudah ikut gila juga.
"Bagaimana mayat bisa lapar, mengisap jempolnya, jempolmu sendiri yang kamu isap"
Nyonya Long tertawa mendengar pujian dari anak nomor lima untuk bayinya.
"Iya kelihatannya dia masih lapar, tadi sudah minum susu mama sampai kering tetapi kelihatannya dia belum kenyang tapi untungnya dia sudah tertidur".
"Tuan Long tolong pesankan kepada pelayan untuk menghangatkan susu domba di dapur, kalau dia bangun nanti, aku bisa memberikan susu hangat untuknya, memang kelihatannya dia masih lapar tadi!".
"Menghangatkan susu, susu apa? anakmu sudah mati, apa gunanya susu itu, susumu akan jadi milikku, kalau nanti kamu meriang kalau dadamu penuh dengan susu, hello, aku yang akan jadi bayimu!".
Pikiran tuan Long jadi hiruk pikuk di dalam kepalanya. Dia masih diam, sulit untuk mencerna kata-kata isterinya.
"Lapar apanya? kepalamu yang lapar, bayi itu sudah mati, untuk apa kamu berpura-pura seperti itu, terima saja kenyataan ini, tidak usah menjadi gila"
Tenang, perkataan itu hanya ada di pikirannya saja, meskipun baik, isterinya agak emosional, kalau ada yang dia tidak suka, dia akan langsung menghajar orang. Apalagi dalam kondisinya sekarang ini, bisa-bisa kaki ranjang bisa melayang ke kepalanya.
"Apa yang kamu tunggu, cepat perintahkan pelayan dapur untuk memanaskan susu".
Isterinya yang melihat permintaannya tidak segera dituruti tuan Long menjadi naik pitam, suaranya jadi sedikit agak keras.
Tuan Long terkejut, cepat pulih dari itu, dia mau melangkahkan kakinya ke pintu untuk memerintahkan pelayan dapur menghangatkan susu domba, dia pikir tidak ada salahnya memasak susu, mungkin itu untuk isterinya sendiri.
Belum sempat mengatakan apa-apa, dia mendengar suara anak perempuan kecil yang berbeda dengan suara anak laki-laki nomor limanya.
"Mama lapar....".
A1 bangun dari tidurnya, meregangkan tangan dan kakinya yang kecil, dia segera merasakan perutnya berbunyi nyaring.
Tuan Long membalikkan badannya, mulutnya ternganga seperti bola kasti, dia memandang bayi dalam pelukan isterinya yang sedang dalam posisi duduk sambil menunjukkan jarinya.
"Mama, siapa laki-laki tua itu".
"Ha ha ha, laki-laki tua. Itu papamu nak"
Kata Mamanya senang.
Mata tuan Long berputar, pandangannya menjadi gelap, Pong, dia terjatuh dan pingsan...
"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Arinda
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2025-03-19
0
@de_@c!h
waduh...gmna g pingsan...bayi bru lahir dach bza ngomong?🤣🤣🤣
2023-04-05
6