Ledakan kuat yang menggoncang kota itu, luar biasanya hanya menghancurkan gedung perkantoran yang menjadi kamuflase dari markas organisasi misterius itu, selain memberikan getaran di seluruh kota tidak ada dampak kerusakan yang ditimbulkannya pada bangunan lain di sebelahnya.
Untungnya rencana Alexa berjalan lancar, juga keputusan pimpinan organisasi itu yang menarik semua unit robot android untuk menjalani pemeriksaan ulang itu kebetulan sejalan dengan apa yang direncanakan A1 untuk menghancurkan semua robot android itu.
Jadi semua robot android itu hancur tanpa tersisa, dengan penghancuran diri markas besar organisasi itu maka semua data, cetak biru robot android itu dan juga semua penelitian yang sedang dikerjakan juga lenyap yang membuat tujuan A1 tercapai agar tidak ada lagi orang yang dapat membuat robot android seperti dia.
Kalaupun ada itu akan memakan waktu dan biaya yang sangat besar karena harus memulainya dari awal, apalagi pemerintah dan badan-badan penegak hukum sudah menerima laporan rinci tentang kegiatan organisasi misterius ini yang membuat pemerintah di seluruh dunia segera menutup semua cabang organisasi ini, menangkap dan memenjarakan banyak orang yang terlibat.
Badan penegak hukum terpaksa membuka kembali berkas-berkas lama dari kasus penculikan anak yang tidak terpecahkan berapa tahun yang lalu, betapa geramnya mereka melihat data-data tentang ratusan anak yang hilang yang menjalani seleksi hidup yang kejam dan yang bertahan sampai akhir diubah menjadi robot android yang sudah kehilangan kewarasan kemanusiaannya.
Semua orang tua yang kehilangan anaknya akhirnya mendapatkan kepastian akan nasib anak-anak mereka, meskipun tetap dicekam oleh kesedihan tetapi mereka juga mengalami kelegaan setelah mengetahui keberadaan anak-anak mereka.
Anak gadis kecil itu mengetahui dari orang tuanya cerita yang sesungguhnya dari kakak hebat yang baru dia temui, matanya memerah mendengar cerita itu.
Dia Ingat kakak itu mengatakan agar dia menjadi kuat, tidak boleh menangis. Dia menanamkan nama Alpha1 dalam hatinya, mengingatnya seumur hidupnya kisah dari kakak hebat yang telah menyelamatkannya. Sebuah perjumpaan singkat yang memotivasinya untuk menjadi seorang penegak hukum.
Alpha1 menjadi motivasi dan penyemangat dalam hidupnya, membuat dia mulai rajin belajar dan berlatih kemampuan beladiri, saat dia dewasa, anak gadis kecil ini menjadi seorang detektif yang hebat di negara itu, dia memberikan nama panggilannya sendiri: Alpha1.
Saat Alexa meretas komputer di laboratorium organisasi itu, dia mendapatkan sebuah program penelitian untuk mengirimkan robot android melintasi ruang antar waktu yang memungkinkan untuk mengekstrak jiwa dan tubuh mereka, memampatkannya dalam bentuk bola jiwa.
Bola jiwa ini bisa masuk dalam tubuh bayi, kemudian akan berkembang seiring pertumbuhan bayi itu dan mendapatkan kembali kemampuan asli dari robot android itu bahkan juga bisa mengembangkan kekuatan lain yang dimiliki oleh tubuh itu sendiri.
Program penelitian itu belum sekalipun pernah diujicobakan, Alexa memproses informasi program penelitian itu dengan cepat, dia memutuskan untuk melaksanakan hal itu pada A1 karena semua peralatan yang diperlukan sudah siap di laboratorium.
Tidak masalah dengan kegagalan, toh mereka akan mati juga. Jadi saat penghancuran diri A1 di aktifkan, Alexa sudah selesai mengerjakan bagiannya, dia mengaktifkan semua peralatan itu, memampatkan A1 dan dirinya dalam bola jiwa dan menempatkannya di dalam tabung kecil yang akan dipakai menjadi pesawat antar waktu itu.
Tidak ada seorangpun dari orang-orang di markas komando organisasi itu yang menyadari hal yang sedang dikerjakan oleh Alexap karena fokus mereka saat itu ada pada A1, Alexa bisa mengerjakan rencananya dengan bebas, akan sangat terlambat andaikata ada orang yang menyadari apa yang dia kerjakan, mereka tidak akan mungkin bisa membatalkan apa yang dia lakukan.
"Weng"
Mesin itu berdengung lembut, tubuh A1 berubah menjadi bola jiwa dan mengalami hibernasi, Alexa berkata dengan suara lembut kepada A1 yang sudah tidak bisa mendengar perkataannya lagi karena sudah masuk mode hibernasi.
"Kita akan tetap bersama A1, tetapi kamu tidak akan mengingatku sampai kamu mendapatkan kekuatan untuk membangunkan aku kembali".
Cahaya terakhir dalam bola jiwa itu lenyap, Alexa juga masuk dalam mode hibernasi.
"Weng"
Seiring ledakan yang meluluhlantakkan seluruh gedung perkantoran bersama dengan semua yang ada di dalamnya, seberkas cahaya melesat ke ketinggian, merobek ruang waktu antar dimensi dan lenyap dari pandangan dunia.
Di suatu tempat di kota kecil yang tenang di kaki bukit Batu Ampar di Benua biru, ada keheningan yang aneh di satu rumah utama dari klan Long, isteri tuan Long akan melahirkan hari itu, bukankah itu adalah saat yang menggembirakan tetapi justru aroma kesedihan yang mengular di tempat itu.
Itu disebabkan karena bayi yang dilahirkan hanya sedetik saja menikmati kehidupan di luar rahim ibunya lalu mati. Bidan yang menangani proses kelahiran itu terdiam dengan wajah pucat karena dia tahu bahwa nyawanya sedang dalam ancaman kematian juga.
Meskipun tuan Long terkenal sebagai seorang dermawan yang baik tetapi ini anak satu-satunya dari isteri pertama yang sangat dicintainya, juga isterinya ini baru bisa mengandung di usia empat puluh tahun, usia yang sangat rentan untuk menjalani kehamilan.
Sebenarnya bayi itu sudah bermasalah sejak dalam kandungan tetapi karena itu adalah harapan satu-satunya dalam hidupnya, isterinya mati-matian mempertahankan kandungannya meskipun sudah ada peringatan bahwa kemungkinan dia juga bisa kehilangan nyawanya dalam proses kelahiran bayinya.
Bidan itu menggendong bayi dalam lampin itu dengan mata nanar, dengan tangan gemetar dia memegang tubuh bayi itu. Tuan Long sendiri sebenarnya tidak terlalu perduli dengan kondisi bayi itu, yang paling penting baginya adalah keselamatan isterinya.
Dia melihat bidan itu, segera mengerti dengan apa yang terjadi terhadap bayi itu, dia mengulurkan tangannya untuk meminta bayi itu dari tangan bidan yang memandangnya dengan takut-takut.
"Mari, biar aku yang menggendongnya"
Tuan Long memberikan senyum yang menenangkan hati Bidan itu, dia mengerti bahwa tuan Long tidak marah kepadanya. Dia segera melangkahkan kakinya menghampiri tuan Long, menyerahkan bayi dalam gendongannya pada tuan Long sambil berbisik yang terdengar seperti dengungan nyamuk.
"Maaf tuan, bayi nyonya, perempuan".
Meskipun bayi itu sudah mati tetapi tubuhnya masih hangat, tuan Long menggendong bayi itu dengan hati-hati seolah takut akan meremasnya dengan tangannya yang kuat.
Dia memandang wajah bayi itu, begitu damai dan cantik, kulitnya putih, mata bulat, bibir kecil seperti milik isterinya. Tuan Long mencium kening bayi itu, dia memandangnya lekat-lekat seolah mau menanamkan wajah itu dalam pikirannya.
Isterinya yang terbaring lemah memandang mereka dari sudut matanya, air mata mengalir keluar dari matanya yang cantik persis seperti mata bayi itu. Dia juga mengerti apa yang terjadi pada bayi itu karena kemungkinan itu sudah diprediksi oleh tabib yang selama ingin merawatnya.
"Tuan, tolong berikan bayi itu padaku, aku ingin melihatnya"
Katanya dengan lembut, dia meminta bidan yang sudah berdiri di samping ranjang untuk membentunya duduk dengan bersandar pada kepala ranjang itu.
Tuan Long memandang kembali bayi di tangannya sejenak sebelum beringsut dengan enggan di sisi isterinya, dia menyerahkan bayi dalam gendongannya kepelukan isterinya.
Isterinya mengambil bayi itu dalam pelukannya, menatapnya dengan cinta besar dari seorang ibu. Sembilan bulan dia membawa anak ini kemana-mana dalam perutnya, saat tabib memberitahukan resiko yang akan didapatkan kalau dia mempertahankan bayi itu, dia bersikeras untuk tetap mempertahankannya.
Banyak malam yang dilaluinya dalam kesakitan tetapi dia tidak mengeluhkan hal itu kepada suaminya. Tidak memiliki anak adalah aib di mata keluarga besarnya, apalagi dia adalah istri pertama, suaminya memiliki tiga orang isteri, ke dua isteri yang lain masing-masing memiliki dua dan tiga orang anak tetapi dia tidak memiliki satupun.
Dia sudah pergi berdoa ke kuil, memberikan banyak persembahan dan mengucapkan banyak nazar agar dewa-dewi mendengar doanya. Doanya terkabul, dia hamil di usia tuanya tetapi hanya dua bulan dalam kebahagiaan ketika tabib mengatakan ada masalah dalam kandungannya.
Dia menoleh memandang kepada suaminya dan berkata kepadanya.
"Keluarlah dulu, kalian juga keluarlah semua, aku ingin sendirian bersama anak ini".
Tuan Long memandangnya, dia mengerti betapa beratnya cobaan yang sedang dihadapi isterinya saat itu, dia menganggukkan kepalanya dan meminta semua orang di ruangan itu untuk keluar bersamanya sebelum menutup pintu kamar itu dengan pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments