Perlahan Lusi menghapus air matanya dan berusaha tegar untuk berdiri tegak.
"tiap hari hanya ada makian untuk Lusi dan juga siksaan.
Biarkan Susi menentukan nasibku sendiri, agar Papa bisa hidup bahagia dengan istri barumu dan juga anak-anak Papa yang baru itu."
"Lusi mau meninggalkan Papa?"
"sudahlah pah....
toh juga istri Papa jauh lebih membutuhkan Papa.
Lusi sudah terbiasa kerja keras untuk hidup dan bisa mandiri."
"lihat pa tingkah anak mu, tadi teman-temannya mengatakan kalau Lusi di antar sama om-om."
Lusi tidak menanggapi ucapan istri baru Papa nya itu dan tidak menoleh nya sama sekali.
"guru-guru disini gimana sih mendidik siswa? bisa-bisanya siswa nya jadi simpanan om-om dan apa kata orang tua murid lainnya?
tegas dong sebagai guru, masa membiarkan anak-anak nya mengobral tubuh dengan murah."
Seketika ibu guru BK itu menatap tajam ke arah Lusi, dan bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Lusi yang berdiri di hadapan papa nya.
"kenapa Lusi bisa menjadi liar seperti ini? kamu itu siswi teladan anakku, kenapa Lusi mencoreng nama baik sekolah ini."
"Lusi tidak mencoreng nama sekolah ini dan tuduhan itu tidak benar."
"pak Yogi."
Guru BK itu terlihat terkejut melihat kehadiran Yogi di hadapannya.
"oh jadi kamu yang memboking Lusi? dasar tidak tahu sopan santun, kurang ajar."
"mak lampir diam aja kalau ngak tahu apa-apa, mas Yogi bukan om-om tapi calon suami Lusi."
"apaaaa......"
Guru bimbingan konseling itu sangat terkejut mendengar pengakuan Lusi tapi Yogi malah tersenyum.
"iya itu benar.....
Saya calon suami Lusi, dan jangan pernah biarkan yang bukan wali siswa masuk ke sekolah ini."
"makin kurang ajar kamu ya, kami berdua orang tuanya Lusi."
"jangan percaya mas, mereka berdua bukan orang tua kandungnya Lusi.
Mereka berdua hanya mengaku-ngaku sebagai orang tua Lusi."
"Lusi......"
Pria yang di hadapan nya yang mengaku sebagai Papanya dan berteriak di hadapan Lusi, mungkin ngak terima kalau Lusi menyangkalnya sebagai Papa nya.
"Papa ngak usah drama gitu, Lusi dengar kok percakapan Papa dengan istri Papa ini waktu itu.
Papa berkata kalau Lusi bukan anak kandungnya papa, dan hanya karena kasihan terhadap mama sehingga Papa mau menikahi mama.
Makanya Papa rela kalau Lusi di perbudak oleh istrimu itu.
Jika kalian menginginkan rumah itu, silahkan ambil, karena itu adalah keinginan kalian berdua kan?"
"makin kurang aja kamu ya, bu guru.....
pecat anak ini dari sini, atau saya adukan kepada orang tua siswa lainnya. kalau di sekolah ini ada murid yang simpanan om-om."
"silahkan lakukan yang kau kehendaki dan kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Usir mereka dari sini bu, atau ibu yang saya pecat."
Kemudian Yogi meraih tangan Lusi gadis belia yang cantik itu, lalu mereka berdua berjalan beriringan dan meninggalkan ruangan BK itu.
"tunggu....."
Ucap pria itu, dan dia menghampiri Yogi yang masih menggenggam tangan calon istrinya.
"kamu tidak bisa asal mengambil putri orang seperti itu."
"putrimu?....
coba tunjukkan bukti kalau Lusi ada adalah putri mu?"
Yogi menginginkan bukti, dan pria yang mengaku sebagai Papa kandung nya Lusi itu hanya bisa terdiam.
Kemudian Lusi mengeluarkan dokumen dari tas nya, dan ternyata itu adalah kartu keluarga dan juga akta lahir nya.
"Lusi bukan putri mu, di akta lahir Lusi dan juga kartu keluarga ini tidak tercantum nama mu sebagai ayah kandung.
Sudah jelas kan kalau Lusi bukan putrimu!
Lusi sudah mengetahui niat Papa yang sebenarnya, Lusi juga tahu kalau Papa sudah punya istri yang lain sebelum mama meninggal."
"tidak Lusi, kamu itu putri Papa."
"jika Lusi putrinya Papa, tapi kenapa di kartu keluarga ini dan juga akta kelahiran ini tidak tertera nama mu?
Sudahlah pa, ngak usah sandiwara gitu. kembali lah kepada keluarga mu, silahkan ambil rumah itu asal jangan ganggu Lusi."
"saat Papa hanya emosi Lusi, sehingga Papa tidak menghendaki nama Papa tertulis sebagai Papa Mu."
"cukup pa... cukup...."
Yogi menarik tubuh calon istrinya untuk berada dibelakang tubuhnya dan Lusi langsung berdiri dibelakang tubuh pria tampan berbadan atletis itu.
"sudah jelas kan, kalau Lusi bukan putri anda. sekarang saya mau tanya, apa mau anda?"
Pria itu tersenyum licik setelah mendengarkan ucapan dari Yogi, yang seolah-olah dia ingin melakukan rencana yang dahsyat.
"selama ini saya telah membesarkan Lusi dengan segenap tenaga, semua tenaga aku kerahkan untuk menafkahi keluarga."
"bohong...."
Ujar Lusi dari belakang tubuh Yogi yang menyangkal ucapan pria itu, lalu berjalan ke arah samping kanan Yogi.
"bohong....
Mama yang kerja banting tulang, mulai dari subuh hingga sore hari, mama berjualan sayur di pasar untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara kamu entah kemana perginya, mungkin ke rumah Mak lampir ini.
Uang mama sering hilang dan kamu yang mengambilnya."
"kurang ajar kamu...."
"diam kau Mak lampir...."
Lusi berteriak ke mama tirinya karena memotong pembicaraannya.
"cukup Lusi, biar mas aja yang menangani nya, mas sudah terbiasa menghadapi orang-orang seperti ini."
Yogi memegang tangan Lusi, barulah gadis belia itu agak tenang.
"apa mau Mu?"
"jelas ada dong, berikan saya uang satu milyar rupiah atas jasa ku membesarkan Lusi selama ini."
"jasa dari nenek moyang Mu.....
sudah keterlaluan ini mas, pasangan suami istri ini benar-benar keterlaluan.
Lusi ngak ikhlas jika mas memberikan uang sebanyak itu, lebih baik uang itu diberikan ke panti asuhan atau tambahan beasiswa untuk adik-adik kelas di sekolah ini.
Jauh lebih berguna ketimbang diberikan pada parasit ini.
Lusi berubah pikiran mas, ngak ikhlas jika rumah peninggalan mama di tempati oleh manusia-manusia ini.
Lusi calon istrimu kan mas?
mas sudah berjanji akan memenuhi semua permintaan Lusi."
"iya ....
selama mas masih hidup dan selama itu juga kamu adalah prioritas Ku."
"baiklah kalau begitu mas, permintaan Lusi adalah.....
Lusi ingin mengusir parasit ini pergi dari rumah peninggalan mamanya Lusi, mereka ngak pantas tinggal di sana.
Mereka berdua ini mas, telah mengorupsi semua harta mama Ku dan telah menyiksaku selama ini."
"baik, mas akan mengurusnya."
Pria yang mengaku sebagai Papa nya Lusi, terlihat geram akan ucapan Lusi.
"saya akan melaporkan anda ke polisi karena mencuri putriku."
"putrimu mana yang dicuri?"
Lusi menyanggah ucapan pria itu dan hal itu membuatnya semakin emosi.
Kali ini Lusi yang menarik tangan Yogi untuk segera pergi di ruang bimbingan konseling itu, sementara sang guru hanya terdiam dan kaget melihat Lusi yang bergandengan tangan dengan Yogi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Riaaimutt
makin syuka ama lusi..
2023-04-15
2