Anak-Anak melihatnya

Puja menggenggam erat tangan adik kembarnya, seolah menguatkan agar adiknya itu tak menangis ketakutan. Dan semua gerak gerik itu terlihat jelas di mata Yona, hatinya terasa teriris. Apakah keponakannya benar-benar se trauma itu?

“Kok kalian takut sama Tante sih? Biasanya kan sayang sama tante,” Yona mencoba mengulur tangannya untuk menyentuh sang keponakan, tapi langsung di tolak oleh dua bocah itu.

“Abang, takut..,” Puji mulai merengek pada sang kakak. Sedangkan puja, bocah laki-laki itu memeluk sang adik dengan erat, seolah tak mengizinkan siapa pun menyentuhnya.

Yona yang tidak tahan segera berkata, “Tante tidak akan menyakiti kalian. Jangan takut, bukankah Tante ini teman kesayangan kalian?” Ia mencoba mengingatkan kembali kebersamaan mereka dulu. Berharap kedua keponakannya percaya dan tidak merasa takut lagi padanya.

Puja dan puji tak merespons sedikit pun, dan hal itu semakin membuat hati gadis muda itu terenyuh semakin sakit.

“Kalian takut apa? Apa wajah tante menyeramkan?” Puja menggeleng, “lalu kenapa?” tanya Yona lagi.

“Aku takut... Tante kan adik Ayah... Bagaimana kalau tante juga memukuli kami seperti ayah menyakiti Bunda?” Dengan terbata-bata Puji berkata dengan suara cadelnya. Meskipun bocah itu menyembunyikan wajahnya di pelukan sang abang, tapi ia tetap menjawab pertanyaan Yona.

Sedangkan yona sudah tak lagi bisa mengeluarkan suaranya setelah mendengar kebenaran ini. Baginya semua ucapan orang-orang dewasa di sekelilingnya masih belum bisa membuat dia percaya, tapi apa anak kecil bisa berbohong?

Dan dia mendapatkan kebenaran itu, Yona tak mungkin tetap membantah di hatinya setalah semua ini. Kenyataannya kakaknya memang telah melenyapkan istrinya sendiri.

“Pa kalian melihat Ayah kalian menyakiti bunda?”

“Iya... Kami bahkan juga melihat Buda tidak bisa bergerak lagi setelah di cekik Ayah... Ayah juga memaksa bunda meminum air yang berwara hijau.” Puja berucap dengan polos, dia seolah memaparkan kejadian itu dan kembali mengingat kejadian itu membuat bocah itu kembali merinding ketakutan.

Dur!!

Tubuh Yona bergetar. Ternyata kebenaran itu benar-benar terjadi. Yona menahan air matanya yang ingin luruh dan segera memeluk kedua bocah malang itu.

Tapi dia tak mampu, baru saja berniat ingin mendekati mereka, puja dan puji sudah menangis ketakutan. Nur berlari keluar dari dapur saat mendengar teriakan kedua cucunya.

“Apa yang terjadi?”

Yona menggeleng dengan isak kan kecil yang keluar dari bibirnya. Ia tak sanggup melihat anak sekecil itu menjadi begitu trauma karena kelakuan kakaknya. Dia yang belum menjadi seorang ibu begitu nelangsa melihat keadaan mereka, lalu kenapa kedua orang tuanya tak peduli dengan itu semua? Apa mereka tidak punya hati untuk menilai?

“Bunda... Aku pamit dulu... Maaf, maaf atas semua kesalahan keluarga kami. Aku harap bunda bisa memaafkan kejahatan yang di lakukan kakakku,” Yona bersimpuh di hadapan bunda Nur dengan tangisannya yang menyayat hati.

Ya, Yona bukan gadis yang begitu kejam sehingga tetap saja membela saudaranya berbuat salah. Ia adalah gadis berhati bersih, dia bisa merasakan bertapa tersiksanya kedua bocah itu kehilangan sang ibu didepan mantanya dengan begitu sadis. Dia tak akan bisa membayangkan jika dia di posisi itu, pasti dirinya akan mati berdiri melihat kejahatan yang dilakukan oleh ayah sendiri.

Yona meninggalkan rumah itu dengan perasaan sangat sedih. Niat hati ingin menghibur, tapi malah berakhir dengan kejadian yang memilukan ini.

****

SATU TAHUN KEMUDIAN....

Hari ini entah bisa dikatakan hari bahagia atau hari kesedihan untuk keluarga ini. Hari ini hari kelulusan Yona dan sekaligus juga hari dirayakannya pertunangan gadis itu dengan seorang Laki-laki yang dua tahun sudah menjadi kekasihnya.

Tapi dibalik itu semua di hari bahagia ini mereka juga tak bisa berkumpul bersama dengan kakak lelakinya yang satu-satunya dia punya.

Setelah beberapa kali sidang dan dengan di bantu oleh kekuasaan dan uang yang di miliki keluarga Prama, akhirnya hukuman untuk Adam diberi lebih ringan.

Ya... Keadilan memang semeyakitakan itu. Jika kamu memiliki kekuasaan yang disegani oleh orang lain maka kau akan di rajakan meskipun kau seorang penjahat. Nyatanya dengan uang banyak kedua orang tuanya, Adam hanya di beri hukuman kurungan selama 8 tahun. Sangat jauh dengan yang di harapkan keluarga yang menjadi korban, ternyata nyawa anak mereka hanya dibayar dengan begitu ringan oleh orang-orang yang berduit.

“Kamu kenapa sedih begitu, Nak? Apa kamu tidak bahagia dengan pertunangan ini?” Ibu Len yang melihat putrinya murung merasa tak senang hati.

“Mama... Aku rindu Abang,” ucap Yona serak. “Dihari Aku yang bahagia ini kita malah gak bisa berkumpul bersama.”

Len mengusap lembut puncak kepala putrinya. Dalam hati ia ingin mengumpat, mengutuk keluarga Nur yang membuat anaknya terkurung di penjara. Tapi mengingat jika di depan putrinya dia tidak boleh berkata kasar dan Len juga yakin Yona pasti tidak akan senang jika dia menjelekkan keluarga mantan besannya itu.

“Kamu tenang saja, setelah pertunangan ini kita akan mengunjungi kakakmu,” bujuk Ibu Len menenangkan sang putri yang terlihat sedih.

“Iya, Mama. Kita juga harus menjenguk bunda Nur dan juga kedua keponakan ku.”

Len kaget mendengar permintaan putrinya. “Tidak-tidak! Bunda tidak mau. Apa-apaan kamu pergi kesana?” Len sedikit meninggikan suarnya. Ia tidak akan rela Yona mengunjungi wanita yang sudah memenjarakan putranya.

“Ma... Bagaimanapun juga Puja dan Puji cucu Mama. Kenapa Mama begitu keras hati sampai tak ingin melihat keadaannya selama ini?”

“Itu karena mereka tidak ingin ikut dengan Mama. Dengan keputusan hakim yang memberikan hak asuh pada Nur, hari itu juga Mama memutuskan untuk tidak akan peduli lagi dengan mereka!”

“Bagaimana bisa begitu!” Yona menahan kekesalannya. Saat ini ia harus bersabar, jika dia marah-marah dan merusak acara pertunangannya sendiri, keluarganya pasti akan mendapat malu.

“Maaf, Mama. Aku sedang tak ingin bertengkar dengan mu. Meskipun Mama melarang aku datang mengunjungi kedua keponakanku, aku akan tetap kesana.” Yona sudah memutuskannya, ia tak akan mendengar kata-kata mamanya yang cukup menyesatkan itu.

Saat Len kembali ingin marah pada putrinya, suara Prama datang menghentikan perdebatan mereka.

“Apa sudah selesai bersiapnya? Ayo keluar, keluarga Dony sudah menunggu kita.” Prama mengulurkan tangannya untuk menggandeng sang putri keluar dari kamar.

“Aku siap, Pa.”

Pria itu sudah tak sabar melihat putrinya akan di persunting oleh pria hebat seperti calon menantunya itu. Meskipun sekarang hanya baru pertunangan, hal itu sudah cukup membuat Prama berpuas hati.

Mereka keluar dengan beriringan. Sedangkan di ruang keluarga yang sudah di sulap menjadi tempat pesta, semua para tamu menunggu disana beserta keluarga Dony.

Yona terlihat gugup, apalagi saat pandangannya bertemu tatap dengan Sang kekasih, Yona semakin tersipu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!