Siang itu Nita pergi ke rumah orang tua suaminya. Ia harus menjemput anak-anak, tak ingin merepotkan mereka yang sudah tua. Meskipun selama ini mereka tak pernah mengeluh jika menurus puja dan puji, tapi tetap saja Nita merasa tak tega merepotkan orang tua itu untuk mengurus anaknya.
Nita harus memakai make-up ya cukup tebal agar bekas di pipinya bisa disembunyikan, meskipun tak tertutup sepenuhnya, tapi cukup menyamarkan memar di wajahnya yang mulai terlihat menghitam.
Lagi-lagi Adam tak pulang setelah mengancam dirinya, pria itu berbuat sesuka hati tanpa memikirkan perasaan Istrinya. Kali ini Nita memilih tak peduli lagi, bosan rasanya dia harus selalu menangis, sedangkan harapan untuk masa depan hubungan dia dengan suaminya benar-benar sudah tidak ada.
Ia turun dari taksi yang ditumpanginya saat telah sampai di depan rumah mertuanya, wanita itu berusaha memasang senyum sebaik mungkin, agar mertuanya tak curiga.
“Assalamualaikum, Ma.”
“Waalaikum salam, kok cepat bangat jeput anak-anak, Nit?” ucap ibu Len, mertua Nita.
“Gak apa-apa Ma. Sunyi rumah kalau Gak ada mereka, aku juga gak mau merepotkan Mama terus.”
“Ngerepotin apaan? Anak kamu baik begitu ulahnya.” Ibu Mertuanya terlihat begitu bahagia memandang sang cucu. “Udah, nanti Ajalah pulangnya, biar anak-anak puas bermain dulu. Yuk ngobrol sama Mama.” Mendapati ajakan mertuanya Nita tak enak untuk menolak, ia mengangguk setuju.
“Yona kemana, Ma?” Nita bertanya karena dan tadi tak melihat saudara iparnya itu.
“Biasa, dia lagi ke kampus. Anak itu sedang sibuk-sibuknya mengurus skripsi.”
Mama Len menatap menantunya dengan serius, “wajah kamu kenapa Nita? Kok memar gitu,”
Nita terkejut, ia tak menyangka masih tampak bekas tamparan Adam tadi malam, padahal sudah ia sembunyikan dengan make-up. Apa tak apa ia mencerminkannya? Tapi apa mertuanya ini kan percaya?
“Itu ... Anu Ma,” bingung harus berkata apa, “tadi malam di tampar mas Adam.”
Mama Len terlihat santai saja, tak ada wajah terkejut ataupun khawatir disana. Wanita paruh baya itu hanya mengangkat alisnya.
“Anak saya tampar kamu? Jangan bikin fitnah seperti itu, Nita. Jikapun kamu ditampar itu pasti kamu berbuat salah.” Ujar wanita itu santai.
Nita menatap mertuanya dingin, rasa sakit hatinya semakin menjadi. Kenapa Mama Len malah membela anaknya? Bukanya bertanya dulu, ini malah main tuduh dirinya yang salah.
Nita sungguh tak percaya apa yang dikatakan mama mertuanya itu. Begitu hebat kah anaknya, sampai-sampai kesalahan anaknya pun ia anggap itu biasa.
“Apa bagi Mama biasa seorang suami menampar istrinya?” Nita bertanya dengan sinis, membuat Mama lena kesal.
“Bagi saya biasa, Papanya Adam juga sering begitu jika ada yang berbuat kesalahan. Kami mendidik anak itu keras, jika salah ya harus di pukul.”
Nita menggeleng tak percaya. Apa katanya kalau salah harus dipukul? Orang tua macam apa mereka sebenarnya? Lagi pula ia juga tak merasa bersalah, toh Adam yang selama ini yang tidak benar.
“Mendengar jawab mama sekarang aku sadar siapa keluarga suamiku. Pantas saja mas Adam begitu kasar, ternyata orang tuanya yang tak benar.” Setelah mengucapkan itu Nita langsung menghampiri anak-anaknya. Ia harus membawa puja dan puji menjauh dari sini, ia tak ingin mereka akan mengajarkan anaknya seperti itu juga. Bisa hancur kehidupan anak-anaknya nanti jika menuruti ajaran sesat dari mertuanya itu.
Mama Len berteriak murka, wanita paruh baya itu berteriak agar cucunya tak dibawa pergi. Tapi Nita tak peduli, wanita itu langsung masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan.
Beberapa tetangga mertuanya ini menatap aneh mereka, tapi setelah itu mereka kembali acuh. Mungkin sudah terbiasa mendengar keluarga mas Adam berteriak dan saling memaki.
“Bunda kenapa mendadak pulang? Mainan Puja tertinggal loh,” gadis kecil itu merajuk pada bundanya, tapi saat melihat tatapan kembaran laki-laki menatap tajam, gadis kecil itu langsung terdiam dan tak protes lagi.
“Akan bunda beli lain kali dek, sekarang kita pulang ya.”
Nita memeluk kedua anaknya. Ia masih ingat pembicaraan bersama mertuanya tadi, tak ia sangka Mama Len malah memihak anaknya, padahal sudah jelas Adam yang salah.
Sebenarnya tak kali ini saja Nita mengeluh pada mertuanya tentang sikap kasar Adam dan juga hobi pria itu yang suka mabuk dan nyabu. Tapi Ibu mertuanya seolah tak peduli, dan selalu menyalahkan dirinya yang dibilang tak becus menjaga suami. Dan tadi, itu pertama kalinya Nita berani melawan mertuanya, selama ini wanita itu hanya bisa menangis dalam diam memendam luka yang ia terima.
Tak peduli di cap sebagai menantu durhaka, ia hanya tak sanggup merasa penderitaan ini sendiri. Jika mertuanya tak suka itu lebih baik, agar ia bisa bebas dari adam secepatnya.
Sepertinya setelah ini ia harus menjauhkan anak-anaknya dari kedua mertuanya itu. Benar-benar tidak baik, bagaimana jika nanti Puja besar menjadi seperti Ayahnya itu?
Dia tidak akan rela. Anak yang dia didik dengan penuh kasih sayang, dan setelah besar malam melukai seorang wanita, dia tak akan pernah mengizinkannya. Dia sudah merasakan bagaimana sakitnya di perlakuan kasar oleh suaminya, jangan sampai nanti menantunya juga akan berakhir seperti itu.
Dita menggeleng dengan pikirannya. Bisa-bisanya dia sudah memikirkan putranya menikah, padahal anaknya masih begitu belia untuk disebut berumah tangga.
“Bunda kenapa? Kok geleng-geleng kepala? Kepalanya sakit?” Puji bertanya dengan wajah imut nya, bagaimana putrinya itu terlihat kawatir, Nita menjadi tertawa melihat sifat mengemaskan anaknya.
“Bunda tidak sakit kepala,” ujar Nita, “oh iya, tadi di rumah nenek main apa aja?”
“Mmm... Kami main rumah-rumahan, Bun. Aku jadi ratunya, terus Bang Puja yang jadi Rajanya. Tapi rajanya jahat Bun... Dia pukul ratu tadi, jadi Adek pura-pura nangis deh.”
Nita sedikit mengernyit heran. Main rumah-rumahan kok malah ada raja dan ratu pula. Dan apa itu raja pukul ratu... Dari mana mereka dapat ide cerita seperti itu?
“Kalian kok mainnya aneh? Masa di rumah ada raja sama ratu. Seharusnya main istana-istanaan, baru ada raja sama ratu.”
“Loh kok gitu, Bunda? Kita kan memang Cuma punya rumah, gak ada istana?”
“Eh, jadi kalian main-main kayak gitu. Tapi kok ada pukul-pukul dan pura-pura nangis?” Jantung Nita berdetak kencang. Apa yang dia pikirnya ini benar? Jika ia pasti dirinya akan sangat berdosa.
“Kan kami pura-pura jadi kayak Bunda sama ayah. Kan kalian seperti itu,” ujar Puji dengan polos.
Deg....
******
Adam duduk bersama teman-temanya, malam ini mereka akan berpesta lagi. Wanita-wanita cantik sudah siap mengelilingi mereka.
Lagi-lagi mereka memilih tempat persembunyian yang jauh dari keramaian dan juga jangkauan para polisi. Bagaimanapun yang mereka lakukan melanggar hukum, jika didapati membawa barang haram ini mereka bisa ditangkap dan dipenjarakan.
Para gadis itu adalah langganan Adam dan teman-temannya saat melakukan pesta, karena bayaran mereka cukup murah tapi pekerjaan sangat memuaskan. Bisa dibilang mereka jarang menukar wanita-wanita bayarannya, tentu saja alasan takut kena penyakit. Jika yang ini sudah pasti bagus, karena selalu bersama mereka.
Wajah Adam terlihat sedikit suram, membuat temannya merasa heran. Tak seperti biasanya, selama ini Adam yang paling bersemangat jika melakukan pesta seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments