Semua bukti menujukan semua pembuat keji Adam. Dikantor polisi pria itu masih saja menolak mengakui kesalahannya. Terpaksa polisi menekan Adam agar pria itu mau membuka mulut. Dengan keras kepala pria itu tetap saja menolak. Tapi pihak kepolisian tentu saja tak tinggal diam, mereka menekan Adam bahkan juga memukul pelaku agar mau mengaku. Memang begitulah kerasnya penjara, para polisi itu bahkan bisa lebih sadis dibandingkan dengan hukuman masa.
Karena merasa kesakitan dan tak tahu harus berbicara apa lagi, Adam berteriak pasrah mengakui kejahatannya. Mengakui memang dirinya yang merencanakan pembunuhan itu. Tapi di akhir kalimat dia tetap membela diri, dia bulang saat itu dia sedang khilaf dan tak sadar apa yang dilakukanya.
“Jadi tuan Adam, bagaimana cara Anda menghabisi istri Anda?”
“Saya... Saya memukulinya... Mencekiknya ... Dan juga...,” Adam menghentikan ucapannya, sekarang ia sungguh menyesal melakukan perbuatan keji itu. Andai ia bisa menahan diri, pasti tak akan berakhir disini.
Perbuatan kejamnya kembali terbayang di dalam pikiran Adam, ia serasa ingin menjerit, mengatakan bertapa menyesalnya dia melakukan itu.
“Dan apa lagi!” polisi berteriak keras. Membentak Adam yang langsung ketakutan. “Cepat katakan!”
“Saya memberinya racun...,” Semua orang tercekat mendengar ucapan terakhir yang dikatakan Adam.
Seorang suami yang begitu sadis menghabisi istrinya. Kenapa bisa begitu? Kekejaman ini orang-orang bahkan tak bisa membayangkan kejadian yang sebenarnya. Bagaimana bisa tubuh seorang wanita biasa bisa menahan begitu besar penganiayaan, pantas saja dia meninggal. Ternyata kejadiannya benar-benar begitu menakutkan untuk di cerita.
Tapi tentu saja penyelidikan tak selesai sampai disitu, para polisi itu semakin bertanya banyak hal, dan juga bertanya sejak kapan kekerasan dalam rumah tetangga itu terjadi.
Beberapa menit kemudian Adam kembali di kirim ke sel tahanan. Sekarang mungkin seumur hidupnya hanya akan di habiskan di jeruji besi itu, penyesalan demi penyesalan membuat adam semakin terpuruk. Sekarang dia terkurung di sini, sedangkan di luar sana ada dua anaknya yang entah sekarang bagaimana nasibnya.
Jika dulu ia bisa peduli tak peduli karena sudah pasti anak Nita yang akan menjaga anaknya. Tapi sekarang... Wanita itu telah meninggal karena perbuatannya sendiri. Lalu dengan siapa puja dan puji sekarang?
Adam meremas erat rambut-rambutnya. Saat seperti dia benar-benar membutuhkan bubuk putih itu untuk menenangkan pikirannya. Tapi bagaimana mungkin dia bisa mendapatkannya di teman seperti ini?
*****
“Bagaimana, Bang? Apa putra kita sudah bisa di lepaskan?” Ibu adam yang dari tadi menangis, dan sekarang langsung menodong banyak pertanyaan pada suminya selepas pulang dari kantor polisi.
Suami ibu Len itu hanya tertunduk lesu. “Kita tidak bisa membebaskan Adam dengan jaminan, Len. Mereka punya banyak bukti yang sangat kuat, bahkan juga ada visum dari rumah sakit yang sangat nyata sudah pasti memberatkan Adam.”
Ibu Len berteriak histeris mendengar ucapan suaminya, “tidak, Bang! Kita tidak bisa kehilangan putar kita. Sekarang aku akan pergi ke rumah ibunya Nita, kita harus memohon pada mereka agar mencabut tuntutan ini!”
Suami mana yang tidak hancur melihat istrinya ingin bersujud pada orang lain. Tapi Disini Prama juga tak bisa menutup mata, sejahat-jahatnya perbuatan keluarga Nita, Adam tentu lebih kejam telah melenyapkan istrinya dengan begitu keji.
Melihat dan mendengar kebenaran di kantor polisi tadi, Prama merasa sangat malu, apalagi saat dia mendengar sendiri Adam mengatakan memberi racun pada Nita setalah wanita itu pingsan selesai di pukuli.
“Kita tidak bisa pergi kesana, Len. Abang tak akan sanggup menatap wajah mereka setelah apa yang dilakukan putra kita,”
Len yang sedang tergugu menangis terhenti, dia menatap suaminya dengan berkaca-kaca.
“Kamu juga percaya apa yang dituduhkan orang-orang itu, Bang? Apa kamu juga percaya putra kita yang begitu baik tega menghabisi Istrinya?” Ia tergugu, tangisan wanita itu semakin keras.
Prama frustasi, ia menarik rambutnya dengan keras, berharap rasa sakit di kepalanya bisa menghilang. Tapi tidak, dia semakin linglung dan semakin hancur melihat istrinya yang begitu sedih.
“Adam telah mengakui, Len. Dia berkata jujur pada polisi, kalau dia benar-benar yang melenyapkan istrinya...,”
“Lalu kamu percaya?! Mereka pasti menekan anakku untuk memaksa mengaku. Padahal itu tedak benar, mereka pasti sudah bersengkokol!”
Prama memeluk istrinya, pria paruh baya itu ikut meneteskan air matanya. Fak sanggup rasanya ia melihat keluarga yang dulu begitu baik dan disegan oleh orang-orang. Tapi hari ini hancur beserta dengan harga dirinya.
“Kamu tenang, Ya. Abang yakin semuanya akan baik-baik saja. Putra kita pasti akan pulang, doakan saja agar itu bukanlah kebenaran dan seperti yang kamu katakan, ini cuman fitnah saja.”
Setelah tenang akhirnya Len tertidur di pelukan suaminya. Prama yang melihat itu segera mengangkatnya ke dalam kamar mereka.
Prama tahu dia sudah berbohong berkata seperti tadi pada istrinya. Padahal di dalam hatinya ia sendiri sudah menyadari dari sisi manapun putranya tak punya peluang sesikitpun untuk bebas.
Meskipun sekarang mereka bersujud di kaki keluarga Nita untuk meminta mereka mencabut tuntutan itu, Prama tahu itu tak akan ada gunanya. Karena kasus pembunuhan seperti ini Jikapun tidak dari pihak keluarga orang lain pun akan tetap menjeblos Adam ke dalam penjara. Apalagi hukum membunuh berencana bukanlah perkara mudah, atas dasar itu sudah pasti anaknya tak akan diberi hukuman yang ringan.
****
Isal terdiam melihat pusaran adiknya disemayamkan. Rasa penyesalan teramat sangat ia rasakan. Andaikan hari itu ia mendengar penjelasan adiknya, mungkin hari ini ia tak akan kehilangan saudara perempuan satu-satunya ini.
Isal terus menatap batu nisan ya bertuliskan nama sang adik. Ia merasa saraf ditubuhnya mulai merasa sakit, hatinya bagaikan ditusuk seribu duri. Rasa sakit dan rasa penyesalan bersatu membuat hati dan jiwanya porak-poranda. Kenapa hari itu ia harus menjadi kakak yang sok bijak? kenapa ia malah mempercayai orang lain dan bukan keluarganya?
“Maafkan Mas mu ini, dek. Sebagai seorang kakak seharusnya aku mendengar dan mendukung keputusan mu. Tapi kenapa kakak bodoh mu ini malah memilih percaya pada orang asing? Mas bodoh! Mas sangat menyesal!” Isal berucap dengan putus asa.
Pada saat ini ia menyadari, dirinya benar-benar sudah kehilangan adik kesayangannya. Adiknya pergi karena ke tidak peduliannya. Pergi dengan cara yang tidak baik-baik saja, meninggal karena dibunuh oleh suaminya sendiri. Kenyataan ini benar-benar sangat menakutkan. Tapi itu benar-benar terjadi pada adiknya.
Andaikan ia tak memberi tahu Adam tentang pembicaraan dirinya dan Nita dulu, mungkin ini semua tak akan terjadi. Saat itu ia hanya berpikir Nita yang salah, jadi dia malah melarang adiknya minta pisah pada Adam dan menghubungi suami dari adiknya itu untuk memperbaiki hubungan mereka. Siapa sangka sekarang Adiknya akan mati seperti ini?
Tiba-tiba seseorang menyentuh bahu Isal yang sedang termenung, membuat pria itu cukup terkaget.
“Mas, ayo pulang.”
“Kamu duluan saja, Sa. Mas masih mau disini,”
Salsa menarik nafas panjang. Sampai kapan suaminya seperti ini, penyesalan yang membuatnya sangat terpuruk seperti sekarang ini suaminya bahkan selalu menghabiskan waktu di makam Nita sepanjang hari. Salsa menjadi takut jika ini akan membuat Isal menjadi drop dan menjadi lemah.
Setelah sedikit lama membujuk suaminya, akhirnya Isal mau juga diajak pulang. Salsa bernafas lega, sepertinya setelah ini harus menjaga suaminya dengan ekstra agar terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments