Barang terlarang

Setelah pertengkaran yang terjadi pagi itu, Adam tak lagi kembali ke rumah. Kini sudah dua hari berlalu, Nita menjadi kawatir dengan keadaan suaminya sekarang, entah dimana pria itu bermalam dua hari ini. Tak biasanya Adam tak kembali sampai berhari-hari seperti ini, dan sekarang pria itu benar-benar tak peduli lagi dengan anak suaminya.

Tapi saat hari hampir sore Adam kembali entah dari mana. Pria itu pulang dalam keadaan mabuk lagi, melihat itu Nita hanya bisa tersenyum getir. Bukanya merasa bersalah, tapi pria ini malah semakin menjadi ulahnya.

Adam masuk dengan tubuh sempoyongan, Nita tak tahu kali ini apa lagi yang di hisap suaminya. Entah racun apa yang membuat otak suaminya itu begitu bodoh, tak bisakah dia bersikap seperti manusia normal saja?

“Ayah kenapa Bun?” tanya Puja yang kebingungan melihat jalan ayahnya yang tidak stabil.

“Ayah gak apa-apa kok, kalian masuk kamar dan main disana ya, bunda mau urus Ayah dulu.” Dua bocah itu menurut dengan patuh.

Setelah anak-anak pergi Nita mendekati Adam ya masih berusaha masuk ke dalam kamar, tapi malah menabrak tembok. Hatinya terasa perih melihat pria yang dicintainya menjadi seperti ini, kenapa keburukan ini datang dalam keluarganya yang dulu sangat bahagia.

“Mas?” panggil Nita. “Aku bantu ya?”

Hanya terdengar deheman pria itu. Saat dia hampir terjatuh, Nita lekas membantunya berdiri dan membawa masuk ke kamar. Ia tak ingin anak-anaknya melihat lagi keadaan ayahnya, bagaimana pun ini bukan hal yang baik di contohkan oleh anak-anak mereka setelah dewasa nanti.

Saat ia merebahkan tubuh Adam di atas tempat tidur, wanita utama memperhatikan sekujur tubuh suaminya. Tubuh ini semakin kurus, membuat Nita sedikit kasihan. Kulit suaminya ya dulu sawo matang dan memiliki tubuh yang seksi entak kemana sekarang? Sekarang tak ada lagi Adam yang maco, adam yang kekar. Hanya ada tubuh kurus dan kulit pucat seperti mayat hidup saja.

Apa ini karena pria ini ke-seringan begadang? Mabuk-mabukan? Atau efek dari barang haram yang sering dia hisap itu?

Tak ingin peduli lagi Nita beranjak meninggalkan pria yang terbaring lemah itu. Ia masuk ke dalam kamar anak-anaknya.

“Puja, puji. Kalian sedang apa?” Nita duduk di tengah-tengah kedua anaknya. “Kenapa gak lanjut main?”

“Kami tunggu bunda ... Ayah gak jahat lagi kan sama bunda?”

Hati Nita berdenyut mendengar ucapan anaknya. Begitu takut kah mereka pada ayahnya sendiri?

“Kalian Gak boleh berpikir seperti itu sama ayah, dosa loh nak. Ayah baik kok sama bunda, sama kita.” Berusaha menasihati sang anak agar tak timbul rasa benci pada keluarganya sendiri.

“Ya sudah, sekarang kalian lanjut main lagi ... Bunda mau masak dulu,”

Nita berlalu ke dapur. Sedangkan kedainya sudah ia tutup dari tadi, memang hari sudah sangat sore, ia juga harus mengurus keluarga.

*****

“Apa lagi yang ingin kamu lakukan, mas? Kenapa kau mengobrak-abrik kamar kita?” Nita melihat semua pakaian yang tadi di dalam lemari sekarang berhamburan dilantai, sekarang pekerjaannya akan bertambah lagi.

“Apa yang kamu cari mas?”

Setelah memeriksa semua tempat, sepertinya adam belum juga menemukan apa yang ia cari. Berkali-kali pria itu mengeram kesal, Setelah itu kembali sibuk lagi mencari.

“Apa kamu Melihat barangku?” Nita menggeleng tak tahu.

“Di sini aku simpan. Atau kamu buang barang ku itu?” tuduh Adam, pria itu terlihat sangat marah membuat Nita bergetar takut.

“Aku bahkan gak tahu bentuknya, mas. Bagaimana bisa kau tuduh aku membuangnya?”

Adam kembali mengeram kesal, tak lama ia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan bungkusan kecil. Terlihat seperti bubuk putih atau lebih mirip seperti butiran gula pasir, tapi ini warnanya lebih putih.

Nita bukan orang bodoh, ia tahu pasti apa yang sedang di pegang suaminya. Benda yang selalu diisap suminya dan barang itu juga yang membuat akal sehat Adam hilang. Ia tahu nama barang itu karena sering melihat di TV saat menampilkan kasus para artis ya terjerat kasus narkoba.

“Astagfirullah, mas! Kamu membawa barang haram itu ke rumah! Bagaimana kalau anak-anak melihatnya!” Nita berteriak murka, suaminya benar keterlaluan.

“Sudah diam! Suara mu membuat ku pusing!” bentak Adam. “Sekarang katakan apa kau ada melihatnya? Tadi malam aku menyimpannya di bawah liputan kain, tapi sekarang malah hilang.” Dengan santai pria itu tetap bertanya.

“Aku tidak tau, dan aku juga tidak pernah menyentuh barang terkutuk itu.” Nita merasa kepalanya berdenyut sakit, “mas, aku mohon hentikan ini. Kau membuat kamar hancur berantakan.”

Adam diam tak peduli. Merasa tak menemukannya, Adam berlalu pergi berangkat kerja. Mungkin pria itu bosan mencari atau mungkin barang itu memang tak disimpan di sana.

“Ay Allah, malang nian nasib ku ini ... Kenapa kau rubah suamiku menjadi begini, ya Allah. “

Nita menyusun barang-barang yang berhamburan di lantai, bahkan ada juga baju yang jadi kotor karena terijak-injak mas Adam tadi.

Dua kepala kecil mengintip dibalik pintu, ternyata puja dan puji Lagi-lagi melihat pertengkaran orang tuanya.

“Bunda?” panggil mereka dengan ketakutan.

“Ya, kenapa nak?” Nita bingung melihat kedua bocah itu sudah ingin menagis, “Eh, kalian kenapa nagis? Bilang sama bunda, siapa yang sudah jahatin anak bunda,”

Mereka menggeleng, membuat Wanita itu semakin bingung. Tapi melihat apa yang disodorkan anaknya sungguh membuat wanita itu syok.

“Bunda, maaf ... Kami yang ambil punya ayah,” gadis kecil itu memberikan bubuk putih itu pada ibunya.

Nita benar-benar syok dan ketakutan melihatnya.

“Ya Allah, kenapa barang haram ini ada pada kalian? Dimana kalian menemukannya?”

Puja menangis mendengar suara ibunya yang meninggi, tapi Puji hanya tertunduk sedih.

“Adek ya ambil, bunda. Katanya dia melihat barang itu jatuh di bawah lemari,” jelas puji pelan.

Tubuh Nita bergetar takut, ia benar-benar takut anaknya akan mengenali barang haram itu. Ia tak ingin masa depan anaknya akan hancur seperti ayahnya. Ia tahu jika mencoba sekali saja akan membuat candu, dan itu akan buruk.

“Apa kalian memakannya atau menghirupnya?” Puja dan puji langsung menggeleng. Nita bernafas lega, setidaknya mereka belum diracuni obat terlarang ini.

“Bunda... Apa ayah akan marah sama kami?”

“Tidak! Jangan beri tahu pada ayah kalian. Bunda akan membuangnya, dan jangan pernah menyentuh barang seperti ini lagi, mengerti?!” Nita berucap tegas pada kedua anaknya.

“Baik bunda,”

Tak mungkin ia memberinya pada Adam Barang ini lagi , jika bisa dirinya bahkan ingin membuang dan memusnahkan barang haram ini dari muka bumi. Karena dia ia menjadi seperti ini, karena benda kecil ini ia kehilangan suami yang baik dan penyayang seperti dulu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!