Semakin kurus

Ketakutan Nita benar-benar terjadi, anak-anaknya mulai menjauhi ayah mereka. Bukan karena Nita yang mengajarkan, tapi karena puja dan puji sering dimarahi oleh mas Adam membuat mereka takut hanya untuk bermanja-manja pada ayahnya sendiri. Apalagi mereka juga menyaksikan ibu mereka di tampar oleh sang ayah, ketakutan mereka semakin menjadi.

Saat ia memperingati sang suami, pria itu selalu berkata kasar padanya. Pada akhirnya ia hanya bisa pasrah dan membiarkannya saja apa pun yang ia ingin lakukan.

Kali ini terjadi lagi, sore ini Mas Adam kembali dari tempatnya kerja lebih cepat. Awalnya puja terlihat bahagia dan ingin memeluk ayahnya, tapi Mas Adam malah beralasan dia lelah dan mendorong pelan anak-anaknya saat ingin memeluknya. Terlihat sekali jika dua bocah itu kecewa atas penolakan sang ayah. Nita membujuk mereka agar mengerti dan apa yang di ucapkan anaknya membuat hati wanita itu terenyuh sakit.

“Ayah Gak sayang kita lagi! Dia sering marahi kita, dia juga sering bentak-bentak bunda dan pukul bunda. Puja benci ayah!” Setelah itu keduanya berlari masuk ke dalam kamar mereka sambil menangis.

Hati seseorang ibu itu bagaikan teriris mendengar ucapan anaknya, ia merasa menjadi wanita yang gagal untuk membuat anak-anaknya bahagia.

*****

“Mas?”

Adam mengalih perhatiannya dari ponsel melihat sang istri yang sedang memanggil.

“Kenapa?”

“Malam ini masih mau keluar? Hujan loh, mas.” Tanya Nita dengan lembut.

“Gak, malam ini aku di rumah kok. Udah rindu juga sama kamu,” ucap Adam. Pria itu meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu langsung memeluk sang istri dengan manja.

Jika sudah begini Nita tahu apa yang diinginkan suaminya. Ia tak akan menolak karena ia tahu ini kewajibannya, lagi pula sebagai wanita dewasa tentu ia juga menginginkan kepuasan batin dari suaminya.

“Kenapa semakin hari aku merasa kamu semakin kurus, ya? Sebenarnya kamu itu makan gak sih?!” Adam mengusap lembut wajah tirus istrinya yang kerap kali ia tampar ketika marah.

Seusai bercinta dengan panas barulah Adam menyadari begitu banyak perubahan pada tubuh istrinya. Dan hal ini sebenarnya malah membuat dirinya kurang bergairah, jika Nita semakin tak memperhatikan penampilannya lagi mungkin saja suatu hari dia akan berpaling juga.

“Seharusnya kamu tahu kenapa aku seperti ini, Mas. Kamu lihat kan bagaimana aku sehari-hari disibukkan dengan mengurus anak dan rumah. Belum lagi juga menjaga kedai... Mana ada waktu untuk merawat diri,”

“Halah! Ada saja jawabanmu setiap aku bicara. Mengurus diri sendiri aja gak bisa, kamu jangan banyak alasan deh, Nit. Kerja rumah itu tidak begitu susah. Lihatlah aku ini, sepanjang hari sampai malam bekerja diluar, gak ada tuh se lebay kamu itu bilang lelah sampai gak bisa mengurus diri.”

Nita ingin menjawab kembali, tapi melihat suminya yang beralih memunggungi dirinya Ia terpaksa menelan kata-katanya lagi. Lagi-lagi air matanya meleleh deras setelah berdebat dengan suaminya, padahal mereka baru saja selesai bercinta, tapi adam itu lagi-lagi tanpa hati kembali menorehkan luka pada hatinya.

*****

Seperti biasa setiap pagi Nita mulai membuka warung kecilnya di depan rumah. Inilah sumber penghasilannya jika sang suami tak mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi wanita itu tak pernah mengeluh, ia bahkan merasa bahwa ini juga kewajibannya untuk membantu.

“Wah, pagi-pagi sudah buka aja warungnya, Mbak.” Ucap seorang ibu-ibu yang datang untuk berbelanja.

“Iya dong, Bu. Biar rezeki gak dipatok ayam,”

Mereka berdua tertawa bersama, setelah itu lanjut bergosip lagi. Semakin lama semakin banyak ibu-ibu datang berbelanja, mereka juga ikut bergabung untuk bergosip.

Memang kedai Nita menjual berbagai macam sayuran dan juga ikan. Karena pasar memang jauh dari perumahan disini membuat ibu-ibu rumah tangga di tempat ini lebih memilih berbelanja di warung saja.

“Kok kelihatannya mbak Nita makin kurus ya? ” wanita yang bernama Inah itu bertanya spontan, membuat ibu-ibu yang lain juga ikut memperhatikan Nita.

“Benar juga ya Bu, kurusan kamu sekarang Nit. Kamu lagi program diet” seloroh ibu yang lain.

“Gak kok ibu-ibu. Mungkin karena baru sembuh dari sakit, minggu kemarin kan sepat demam.” Nita mencoba beralasan, agar mereka tak curiga.

Mereka mengangguk percaya saja, melihat itu Nita bernafas lega. Untung saja mereka tak bertanya macam-macam.

Ingin rasanya ia tertawa mendengar pertanyaan ibu-ibu tadi. Ya kali dia mau diet, yang ada ia bisa tinggal tulang dalam keadaan rumah tangga begini. Melihat perangai suaminya saja siksanya dus melebihi diet, dalem satu bulan saja dulu tubuhnya yang seksi dan montok berubah menjadi kurusan begini.

Bagaimana ia tidak kurusan, setiap hari waktunya sudah habis tersita untuk mengurus kedua anaknya. Saat malam tiba ia pun harus mengurus sang suami. Sedangkan makan saja ia kadang merasa tak cukup, karena baginya lebih baik anak-anaknya kenyang dan dia kelaparan dari pada melihat buah hatinya menderita. Apalagi pertengkaran yang sering terjadi akhir-akhir ini benar-benar membuat ia tak merasa bahagia, mungkin karena itu berdampak pada tubuhnya.

Setelah para ibu-ibu tadi pergi Nita kembali termenung memikirkan nasibnya. Sebenarnya gaji mas Adam itu cukup besar di perusahaan, tapi uang itu tak pernah sampai pada Nita, karena pria itu pasti lebih dulu menghabiskannya dengan membeli alkohol dan sa*u.

Menjadi pecandu benar-benar membuat Adam hilang akal, jika tak dapat membelinya pasti pria itu akan marah-marah pada anak dan istrinya, tapi jika ada ia berlagak seperti manusia paling pintar di muka bumi ini.

“Bunda?” Nita tersentak dari lamunannya saat mendengar puji sang putra memanggil dirinya.

“Ada apa nak? Kalian sudah sarapan?”

Bocah kecil itu menggeleng, “puji takut di rumah sama ayah, dia marah-marah sama Adek,”

Wanita itu terkejut mendengarnya, ia langsung berlari memasuki rumah yang peduli lagi dengan ocehan anak laki-lakinya itu.

“Mas!” Nita berteriak murka melihat bagaimana suaminya ingin memukul sang anak. “kamu gila ya, kenapa anak-anak kamu marahi!”

“Seharusnya kamu didik anak dengan benar! Berani sekali mereka melawan ayahnya!” Bentak Adam di hadapan anak-anak semakin membuat mereka ketakutan.

Nita geram mendengar perkataan suaminya, “didik anak dengan benar? Kamu pikir dengan marah-marah dan memukul mereka itu benar?!”

Puji yang mengerti kedua orang tuanya akan bertengkar lagi, memilih membawa sang adik masuk ke dalam kamar. Bocah kecil itu menutup kedua kuping kembarannya itu, agar puja tak mendengar teriakan dan makian sang ayah pada ibu mereka.

Adam menatap istrinya dengan murka, “kamu berani melawan padaku! Dasar wanita durhaka!”

“Kamu ya salah, mas. Mereka anak-anak bagaimana mungkin kamu bisa bertindak kasar padanya. Kamu ayahnya, apa kamu tidak lihat bagaimana ketakutan mereka padamu!”

“Aku tidak peduli! Didik anakmu dengan benar, jangan sampai mereka berani menjawab ucapan ku lagi!” Setelah itu Adam langsung meninggalkan rumah dengan marah.

Nita tak mampu lagi berkata-kata. Pagi ini ia serasa remuk melihat kenyataan jika rumah tangganya benar-benar sudah hancurkan. Sekarang ia hanya bisa menangis menyesali nasibnya yang malang, kenapa ia menjadi wanita yang begitu lemah sekarang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!