Sedangkan Prama merasa sedikit marah dengan permintaan sang putrinya. “Apa kamu tidak ingin melihat kakakmu dulu? Dia pati senang jika kamu datang menjenguk,”
“Aku bisa datang kapan saja ke tahanan melihat Abang, Ayah. Tapi untuk menghibur Bunda Nur tidak banyak waktu. Dia pasti sangat sedih telah kehilangan putrinya. Bagaimana rasanya jika posisi ini ditukar? Bagaimana perasaan Ayah dan Mama jika aku yang menjadi Mbak Nita?”
Kedua orang tua itu tercekat mendengar penuturan sang anak. Len cukup tersentil hatinya mendengar perkataan Yona, jika putrinya yang terjadi seperti itu tentu saja ia tak akan pernah rela, apalagi suaminya, luka sedikit saja pada anak-anaknya sudah mau menghancurkan se isi rumah ini.
“Yona! Kamu tidak boleh berkata seperti itu!” Prama menghembuskah nafasnya yang terlihat gusar. “Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi kami tidak bisa menemani, kamu pergi sendiri saja,”
Yona mengangguk mengerti, dia tidak akan memaksa orang tuanya ikut serta ke rumah kakak iparnya. Dia yakin, dalam hati pasti orang tuanya ini masih merasa malu dengan kelakuan Adam, tapi karena ego yang tinggi ia menyembunyikannya dengan menyalahkan semua pada keluarga Mbak Nita.
“Tapi sebelum itu kamu istirahat dulu, ya. Mama gak mau kamu kelelahan, dan nanti malah pingsan di jalan.” Len membujuk sang putri, dan sepertinya untuk kali ini Yona mengikuti perintah sang ibu.
....
Cukup lama Yona tertidur, setelah dirinya merasa lebih segar ia bersiap-siap untuk mengunjungi kediaman Bunda Nur.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya ia sampai di rumah orang tua Mbak Nita. Terlihat sepi, sepertinya sore itu tak ada lagi pengajian di rumah itu.
Yona mengetuk pintu beberapa kalo, dan saat ketiga kalinya ia mengucap salam barulah ada jawaban dari dalam.
“Assalamualaikum, Bunda.” Yona langsung menyalami tangan keriput itu. Saat dia tak mendapatkan penolakan dari mertua kakaknya itu, ia merasa senang.
“Waalaikum salam... Yona, kamu kesini dengan siapa, nak?”
“Aku sendirian kok, Bun.” Mata gadis itu berkaca-kaca melihat dua orang bocah kecil keluar dari balik tubuh Bunda Nur.
Ah, dia merindukan kedua keponakannya ini. Tapi masalahnya sekarang saat ia ingin mendekati mereka, puja dan puji langsung menghindar dan meninggalkan Yona yang berdiri tertegun di ambang pintu.
“Bunda... Mereka kenapa? Kok gak mau aku pegang?”
Nur mengusap bahu Yona untuk menenangkan perasaan gadis itu agar tak sedih ditolak oleh keponakan sendiri.
“Kamu jangan berpikir macam-macam, Nak. Maafkan mereka ya...,” Nur menarik nafas panjang, sebenarnya ia malas mengungkit masalah itu lagi, yang ada nanti dia malah kembali sedih dan menangis sepanjang hari.
“Tapi kenapa, Bunda? Biasanya mereka kalau bertemu sama aku akan langsung loncat dalam gendongan aku, tapi sekarang...,”
“Kalau begitu ayo masuk dulu, setalah kamu tenang akan bunda ceritakan kenapa mereka seperti itu.”
Yona mengikuti Bunda Nur duduk di ruang tamu. Setalah menyungguhkan segelas air putih pada sang tamu, Nur mulai bercerita apa yang terjadi pada kedua cucunya.
“Mereka masih trauma dengan kejadian orang tuanya. Mungkin mereka masih merekam sangat jelas dalam ingatan mereka, karena itu setiap melihat pria ataupun wanita dewasa mereka akan merasa ketakutan.”
Yona tak mengerti. Dia semakin bingung, kenapa keponakannya trauma? Dia bahkan tidak tahu apa-apa dengan kasus kakaknya, dan kenapa dengan ingatan kedua bocah itu?
“Memangnya mereka lihat apa?” sebenarnya itu seperti pertanyaan bodoh, karena itu Nur terlihat heran dan sekilas menatap sinis anak dari besannya itu.
“Kamu gak tahu apa pura-pura gak tahu, Na? Tentu saja mereka trauma dengan menyaksikan pembunuhan yang dilakukan ayahnya pada sang Ibunya!” perkataan itu sangat ketus membuat Yona sedikit terkejut.
Tapi dari pada itu semua, dia lebih syok dengan kebenaran yang dia dengar. Dengan mendengar pembunuhan itu saja di sudah gemetar, tapi bagaimana dengan kedua keponakannya yang melihat secara langsung sang ibu mendapatkan penganiayaan secara langsung.
“Aku... Mama belum kasih tahu apa-apa sama aku. Aku Cuma tahu Mbak Nita meninggal dan Abang Adam di penjara.” Yona memilih jujur. Dan melihat ekspresi Nur yang terlihat menjadi dingin, Yona tak lagi mau meneruskan ucapannya.
“Wah, sepertinya orang tuamu mau menyembunyikan banyak darimu. Kalau begitu sepertinya saya juga tak bisa mengatakanya,”
Dalam hati Nur mencibir dalam hati. Keluarga itu begitu menjaga anak gadis mereka, tapi lihatlah saat anak perempuannya yang menjadi korban mereka malah menjadi manusia tak punya hati. Bukanya turut sedih dengan perbuatan kejam putranya, tapi si Len itu malah berbicara pongah padanya. Berkata jika dia pasti akan membebaskan putranya, dengan uang maka semuanya akan selesai.
Karen Itulah pertengkaran sengit mulai terjadi di antara mereka. Apalagi sikap Prama yang sebagai seorang suami malah gak menegur istrinya, terkesan malah mendukung perbuatan hina anak dan istrinya pada Nita.
“Bunda...,” Yona terlihat ragu, dia ingin bertanya, tapi takut jika Nur akan marah padanya. “Jika aku boleh tahu... Apa Abangku benar-benar melakukan itu?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu wanita paruh baya itu semakin tersinggung. Masih dipertanyakan? Rasanya jika tak ingat jika Dia anak gadis orang ingin sekali dia robek mulut yang berlipstik Ping itu. Apakah pantas pertanyaan itu di tanyakan di depan ibu sang korban?
“Kamu masih meragukan semua bukti yang ada?! Jika kehadiranmu kesini hanya itu mencoba membenarkan apa yang dilakukan kakakmu, lebih baik tidak usah datang. Bilang sama orang tua kamu juga, cucu-cucu saya bisa saya urus!”
Yona merasa bersalah dengan Bunda nur. Sebenarnya bukan begitu maksud dia bertanya. Ini kan salah orang tuanya yang tak mau berterus terang, dan sekarang niat hati ingin menghibur ibunya Mbak Nita, tapi malah berakhir menyinggungnya.
“Maaf, Bun. Bukan begitu maksud aku... Sebenarnya...,” sebelum Yona menjelaskan, Nur sudah mengangkat tangannya untuk menyuruh berhenti berkata.
“Kamu kesini mau bertemu dengan Puja dan puji kan? Ya sudah, biar saya bujuk mereka dulu,” Dia berlalu meninggalkan Yona yang terdiam kaku di ruang tamu sendirian.
Tak begitu lama Nur kembali datang dengan kedua cucunya. Terlihat kedua bocah itu berusaha bersembunyi di balik tubuh neneknya. Tapi karena Yona yang katanya mau bicara, Nur tetap terpaksa meninggalkan dua cucunya itu bersama gadis itu.
“Halo anak-anak, kalian apa kabar?”
Puja menggenggam erat tangan adik kembarnya, seolah menguatkan agar adiknya itu tak menangis ketakutan. Dan semua gerak gerik itu terlihat jelas di mata Yona, hatinya terasa teriris.
“Kok kalian takut sama Tante sih? Biasanya kan sayang sama tante,” Yona mencoba mengulur tangannya untuk menyentuh sang keponakan, tapi langsung di tolak oleh dua bocah itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments