“Bagaimana kehidupan kamu sekarang, Nit?” tanya Sofia. Lama sekali mereka tak bertemu, banyak hal yang ingin mereka ceritakan.
Nita bergeming sebentar, ditanya seperti itu ia bingung mau jawab apa. Memangnya keadaannya bagaimana? Dikatakan baik itu tidak benar, dan di katakan buruk pada orang lain itu jiga terdengar tak elok.
“Baik kok, Sof. Kamu bagaimana?”
“Aku juga baik,”
Dulu mereka berdua sama-sama wanita karier, bekerja di tempat yang sama membuat Nita dan Sofi menjadi teman dekat. Tapi mereka berbeda nasib, setelah menikah Nita tak lagi boleh bekerja oleh suaminya. Sedangkan Sofi, meskipun ia sudah menikah tapi suaminya tetap mendukung karier sang istri, asalkan tak sampai melupakan keluarga.
Dan sekarang Nita merasa menyesal dengan keputusannya yang gegabah. Andaikan dirinya masih bekerja pasti anak-anaknya tak kekurangan seperti sekarang.
Sudah lama mereka tak bertemu, semenjak menikah Nita benar-benar mengasingkan diri. Tadi saat ia mengantar anak-anak ke rumah Ibu mas adam, di jalan ia tak sengaja bertemu dengan Sofi. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengobrol sebentar, dan berakhirlah mereka di restoran ini.
“Aku tahu pasti keadaan baik-baik saja, mendapat suami sebaik dan setampan mas Adam, apalagi yang tidak kamu syukurkan.” Sofi tertawa kecil, ia tahu seberapa bacin Nita pada pria tampan itu dulu. Nita yang dikenal pemalu, tapi pada Adam ia berani mendekati pria itu lebih dulu. Tak heran awal-awal menikah wanita ini begitu memuja kebaikan suaminya.
“Sok tahu ... Itu dulu, Sof. Dan sekarang aku merasa menyesal karena memilih berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja.”
“Kenapa menyesal? Meskipun tak bekerja, tapi uang dari suamimu kan selalu mengalir setiap bulan.”
Nita menunduk sendu, jika seperti itu hidupnya pasti ia akan menjadi pasangan yang sama bahagia. Tapi nyatanya sekarang mas Adam sudah sangat berubah, pria itu tak lagi memikirkan keluarganya ia hanya memikirkan diri sendiri.
“Kok sedih gitu? Kenapa?”
“Gak kenapa-napa kok, Sof. Aku hanya merasa bosan saja, sepanjang hari hanya duduk di rumah, gak ada yang menyenangkan. Aku pikir kalau masih bekerja, pasti akan menyenangkan.”
Sofi tersenyum sinis, ia menatap wanita ya dulu terlihat begitu cantik bertubuh ideal, tapi sekarang keadaannya sungguh buruk. Pakaian terlihat kusam, wajah yang tak terawat ditambah dengan tubuh yang semakin kurus. Mana bisa orang-orang bilang wanita ini dalam keadaan baik-baik saja.
“Apa kamu tidak ingin jujur padaku? Padahal kita sudah berteman begitu dekat, Nita.”
Nita merasa bingung dengan pertanyaan Sofi. Wanita itu bergeming sesat setelah itu memilih membuang muka.
“Aku harus jujur apa?”
Sofi terlihat sangat kecewa, wanita itu menatap iba sahabatnya itu.
“Padahal dari tadi aku sudah macing kamu agar mau bercerita ... Tapi tidak apa, aku akan bertanya padamu secara langsung, dan kamu harus berbicara jujur padaku.”
Sofi menatap sekeliling restoran, terlihat tempat itu cukup sepi, jadi ia tak sungkan untuk bertanya hal pribadi pada temannya ini.
“Apa kamu bahagia?”
Deg
Nita tertunduk sedih, ia tak berani menatap balik Sofi yang terlibat begitu serius dengan pertanyaannya.
“Kenapa... Kenapa kamu bertanya seperti itu, Sof? Bukankah tadi sudah ku jawab,” ucap Nita gugup.
“Jawaban kamu tadi bohong, Nit.” Sofi menyentuh bahu Nita yang terlihat begitu rapuh. “Melihat tubuhmu yang begitu kurus, wajah yang kusam, tak mungkin orang bahagia seperti ini.”
Ucapan Sofi membuat dada Nita merasa sesak, tapi ia tak bisa membantah. Apa yang dikatakan wanita itu benar.
“Kamu berubah, Nit. Kemana teman ku yang cantik dulu, yang selalu ceria? Kamu benar-benar berubah,”
Nita tersenyum kecut, “jika kamu sudah tahu jawabannya, kenapa masih bertanya. Lagi pula tak baik menceritakan masalah rumah tanggaku pada orang lain,” ucap Nita membuat Sofi terdiam.
Mereka sama-sama terdiam sesaat. Sofi tahu ia terlalu ingin tahu tentang kehidupan Nita.
“Lima hari yang lalu aku lihat suami kamu,”
“Dimana?”
“Di rumah kosong yang dekat jalan kampung itu ... Aku lihat dia bersama teman-temannya, ada juga beberapa wanita.”
Nita tercekat mendengarnya, “Aku rasa kamu pasti salah orang,” Nita mencoba membela suaminya, ia tak ingin kehancuran rumah tangannya diketahui oleh orang lain.
“Gak mungkin salah lihat, aku bahkan sempat berhenti di pinggir jalan sama suami aku. Sepertinya mereka berpesta disana,”
“Pesta?”
“Mmm... Kata suamiku sejenis pesta sabu,”
Nita terdiam mematung. Bibirnya tak mampu lagi menjawab setiap ucapan temanya itu. Ia tahu jika Mas Adam pemabuk dan pengisap, tapi ia tak menyangka jika pria itu juga bermain dengan wanita.
“Sof, kamu punya bukti berucap seperti itu?” Nita bertanya dengan suara bergetar. Ia masih berharap apa yang dikata Sofi itu salah, ia tak sanggup rasanya jika suaminya berselingkuh dengan orang lain.
“Tunggu sebentar, aku telepon suami ku dulu. Kemarin dia yang memfotonya, barang kali masih ada.”
Setelah berapa saat Sofi menghubungi suminya, wanita itu menyodorkan ponselnya didepan Nita.
“Lihatlah, suamimu atau tidak?”
Nita mengambil ponsel Sofi. Wanita itu langsung menutup mulutnya tak percaya, air matanya mulai berjatuhan seiring ia menatap foto yang diberikan temanya sebagai bukti.
Nafas Nita tertahan. Jantungnya seperti dicabut paksa dari rongga dadanya. Hatinya terasa perih seakan tertusuk seribu jarum, ia tak siap menerima kenyataan ini.
Benar! Disana mas Adam yang sedang bersama teman-temannya, yang lebih menyakitkan saat melihat suaminya sedang memeluk mesra seorang wanita yang sangat seksi. Terlihat tubuh mereka begitu rapat dan bibir saling menyatu, tak ubahnya dengan teman-teman suaminya yang lain.
“Sof...,”
Sesak rasanya saat baru tahu jika sumi yang begitu ia cinta berani bergaul dengan wanita lain. Ia bisa memaafkan perbuatan kasar Adam selama ini, tapi jika sudah berbagi cinta rasanya ia tak akan sanggup lagi.
“Nita ... Kamu baik-baik saja?” Sofi ketakutan melihat keadaan Nita. Tangisan wanita itu begitu kuat membuat orang-orang yang disana mulai memperhatikan mereka.
“Nita, Udah ya. Kita pulang dulu. Kalau begini kamu bisa drop dan pingsan.”
“Antar aku pulang, Sof. Aku mohon,” dalam tubuh bergetar ia berucap lirih pada Sofi. Tubuhnya bagaikan mati rasa, Nita tidak bisa merasakan apa-apa selain rasa perih yang menyakitkan dicari seakan terbakar.
“Ya, aku akan mengantar mu.” Sofi membopong tubuh ringkih itu ke dalam mobilnya. Ada rasa menyesal karena sudah mengatak ini semua pada temannya ini, tapi ia juga merasa iba melihat Nita selalu dibohongi.
Ia tahu Wanita ini begitu mencintai suaminya, sampai-sampai ia membutakan mata hatinya untuk kebenaran. Ia berdoa semoga Nita dalam lindungan tuhan. Dan sekarang ia tidak tahu, apa Nita masih bertahan dengan kenyataan yang ada?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments