Hukuman tak bisa lagi di elak oleh Adam. Setelah dua kali persidangan semua bukti sudah sangat jelas dan sekarang hanya menunggu sidang terakhir. Kemungkinan Adam akan dijatuhi hukuman yang berat dengan tuduhan kasus berlapis.
Adam tak bisa lagi menolak mengakui kejahatannya itu. Buktinya sudah sangat jelas, dan bahkan di persidangan kedua ini ada penambahan barang bukti yang di temukan. Sebuah rekaman suara saat pertengkaran itu terjadi dan berakhir dengan tragis, ada warga yang sempat merekam suara mereka dari balik rumah. Dan bukti-bukti itu sangat memberatkan Adam untuk persidangan selanjutnya.
Selain pembunuhan berencana yang dilakukannya pada sang istri, Adam juga terikat dengan kasus pemakai obat terlarang. Dan ditambah dengan kasus perlindungan anak, yang mana Adam telah membuat kedua anaknya trauma dengan menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh sang ayah secara langsung. Hal itu membuat Puja dan Puji tak berani lagi berinteraksi dengan orang lain, bahkan dia merasa ketakutan jika seorang pria dewasa mendekatinya, meskipun itu keluarga sendiri.
Tentu saja kedua orang tuanya tak bisa menerima keputusan hakim itu, mereka masih mencoba berbagai cara agar hukuman adam menjadi ringan. Ibu Len menjadi histeris seusai persidangan dan sampai jatuh pingsan. Sedangkan Prama dia hanya bisa tertunduk lesu, anak satu-satunya dan sekarang malah di penjara, ia serasa tak punya harapan lagi.
****
“Kami menginginkan cucu-cucu kami, kalian harus memberikan hak asuh Puja dan puji pada keluarga saya!”
Seluruh keluarga Nita terkesiap mendengar suara Ibu Len yang sangat keras. Orang-orang yang sedang sibuk memasak untuk pengajian malam ke 14 Nita dibuat tercengang. Ibu Len baru saja masuk ke pekarangan rumah Nur, tapi dia sudah berteriak kesetanan seperti itu, tentu saja semua orang jadi kaget.
“Ibu Len... Apa yang kamu lakukan disini?!”
Melihat besannya masih berani datang ke rumahnya dengan tidak sopan. Nur merasa malu pada orang-orang yang terlihat mulai berbisik-bisik tentang kematian anaknya, dan hal itu membuat hatinya kembali terluka jika dipaksa mengingat hal itu.
“Saya datang kesini mau bawa puja dan puji pulang ke rumah kami!” tekan Len dengan sarkas tak mau di bantah.
Tentu saja Nur tidak akan terima. Setelah kehilangan anaknya ia tak akan mungkin memberikan cucunya juga. Lagi pula tidak ada yang menjamin keselamatan Puja dan Puji jika tinggal bersama keluarga Adam, bisa saja jika keluarganya jahat seperti anaknya.
“Apa kalian tidak punya malu?” kali ini bukan Bunda Nur yang menjawab, tapi Mas Isal yang datang dari dalam rumah dengan wajah masamnya.
“Apa maksudmu? Apa yang harus dimalukan dengan mengambil cucu-cucu saya? Keluarga kami lebih berhak dari pada keluarga kalian,”
Nur yang merasa mereka menjadi pusat perhatian oleh orang-orang yang berkumpul disana, dia menjadi agak malu. Karena itu ia meminta kedua orang tua dari Adam untuk masuk dulu dan berbicara dengan jelas di dalam.
“Ayo kota bicarakan di dalam saja. Saya tak ingin membuat malu di depan semua warga disini karena suara keras kalian.”
“Kamu...,” Len ingin menjawab, tapi Prama langsung mencegah. Dia sendiri pun merasa malu, apalagi kasus pembunuhan itu belum mereda di kalangan masyarakat, tapi hari ini istrinya malah kembali membuat malu dengan menyerang keluarga menantunya. Padahal semua orang juga tahu, Bunda Nur beserta keluarga besarnya masih berduka setelah kehilangan Nita.
Dari tadi Prama sudah ingin menolak untuk mengikuti keinginan istrinya, tapi karena Len begitu memaksa, dan mengancam akan pergi sendiri, karena itu ia terpaksa juga ikut.
....
“Jadi kalian datang kesini karena ingin membawa Puja dan puji ke rumah kalian?” Nur bertanya, “atas dasar apa kalian bilang, kalian lebih berhak?!”
Tatapan mata Nur terlihat begitu kecewa, tidak ia sangka keluarga yang bermartabat seperti ini bisa bersikap begitu rendah. Adakah orang yang tanpa hati nurani seperti Ibu Len ini, disaat dirinya masih kehilangan Anaknya yang diakibatkan oleh kejahatan anak mereka. Dan sekarang masih datang membuat keributan dengan wajah sombongnya, meminta hak?
Itu terdengar lebih menjijikkan di telinga mereka dari pada sebuah kata umpatan.
“Setelah apa yang dialukan putra Ibu pada anak saya, apa kalian pikir saya masih mengizinkan kalian untuk merawat Puja dan Puji?” Nur merasa marah melihat bertapa angkuhnya dua manusia didepanya ini, “Saya tidak akan pernah kalian membawa cucu-cucu saya!”
“Hey! Kami ini juga Nenek dan kakek si kembar. Kamu tidak bisa berkata seenaknya seperti itu, bagaimana pun dalam hal ini kami yang lebih berhak!”
Untuk kali Ini Prama terlihat setuju dengan istrinya. Lagi pula putra mereka sudah pasti akan di penjara dalam waktu yang lama, sedangkan mereka hanya memiliki satu anak. Bukankah lebih baik jika kedua cucunya tinggal bersama mereka.
“Saya tidak akan pernah membiarkan kalian mengambil mereka. Ingat Ibu Len, putra kalian sudah merengut putri saya, dan sekarang kalian juga ingin mengambil cucu saya?!”
Prama terlihat tak senang mendengarnya, jadi ia ikut berkata, “bukan hanya kalian saja yang kehilangan anak. Kami pun kehilangan putra karena di penjara. Kalian jangan Egois begitu! Bagaimana pun kami ini orang tua Adam, kami lah kakak nenek mereka yang sebenarnya.”
“Tapi Anda yakin bisa menjaga mereka?” saat pertanyaan itu di ucapkan Mas Isal, mereka yang dari tadi bersitegang dibuat terkejut. “Setelah bagaimana Saya melihat bagaimana Adik saya merenggang nyawa di tangan anak kalian. Apa kalian bisa menjamin puja dan puji tak akan berakhir seperti itu juga?!”
Semua orang disana dibuat terdiam dengan perkataan sinis Mas Isal. Bahkan Prama yang tadi ingin membantah tak lagi bersuara jadinya.
“Kalau kalian serakah begini Saya akan membawa kasus ini ke pengadilan! Kita lihat saja, siapa yang mendapatkan hak asuhnya!”
Ibu Len tak menunggu jawaban dari ibu nur, dia langsung berlalu keluar tanpa salam sambil menarik tangan suaminya. Benar-benar tak menghargai mantan besannya itu. Bahkan katanya yang ingin mengambil hak asuh Puja dan puji, tapi lihatlah saat mereka datang bahkan tak menanyakan bagaimana kabar cucu-cucu mereka. Nur benar-benar tak yakin mereka bisa menjaga dan mendidik puja dan puji dengan baik.
“Nenek...,”
*****
Jangan lupa tingalan jejak... Komen, like dan jika berkenan vote juga ya😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments