Akhir hidupnya

Tak ada yang bisa menyesali waktu, nyatanya cinta saja tak cukup membuat seorang suami berbelas kasih pada istrinya sendiri.

Pernikahan itu tidak hanya di dasari cinta, saling percaya dan kesetiaan. Tapi dalam hubungan itu sangat penting rasa sayang yang didasari dengan rasa kasihan.

.

.

.

.

Adam berkutat dengan komputer didepanya, pria itu sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan sebelum jam istirahat datang. Saat ia melihat ponselnya berbunyi, Adam langsung mengambil benda pipih itu. Nama kakak iparnya terpampang jelas dilayar ponsel, Adam mengernyit keningnya, tak biasanya pria itu meneleponnya.

“Kenapa mas Isal menelepon ku ya?” gumamnya bingung. Menurut Adam, kakak iparnya itu sangat jarang menelepon dirinya, bahkan bisa dibilang mungkin hanya beberapa kali. Dan itu pasti masalah yang sangat penting, dan kali ini entah apa lagi yang akan kakak istrinya itu ingin katakan padanya.

Meskipun merasa bingung tak hayal iya tetap mengangkat panggilan itu. “Halo, Assalamualaikum mas.” Sapa Adam ramah.

“Waalaikum salam, kamu lagi kerja Dam?” Adam melihat jam di tangannya.

“Gak kok, mas. Udah istirahat,” ucap Adam. “Kenapa Memangnya?”

Terdengar kesunyian disebrang sana, Mas Isal terlihat sedikit enggan untuk berkata.

“Mas Cuma mau tanya .... Ada masalah apa kamu dengan Nita?”

Adam bergeming sesat, “Memangnya kenapa mas? Aku merasa tak ada masalah,” sekuat tenaga ia menahan suaranya agar tak terdengar bergetar. Ia merasa takut jika Nita mengadu tentang keburukannya selama ini. Mungkin saja itu terjadi, bagaimanapun ia sering menyiksa istrinya itu.

Isal menarik nafas panjang disebrang sana, “kemarin ia berkata pada ku ingin bercerai dari mu. Karena itu aku bertanya... Apa kalian bertengkar?”

“Apa?!”

“Ya ... Aku harap kau bisa menjaga keluarga mu dengan baik Adam, aku percaya padamu untuk bisa menjaga adikku dan juga keponakan ku, ku harap tak ada lagi kabar buruk ini terdengar olehku!” ucap Isal dengan tegas.

Adam mengeram mendengarnya, tinju pria itu terkepal kuat menahan amarah. Jadi wanita itu Sedang mencoba memberontak padanya? Dia tak mendengarkan ancamannya kemarin. Ia kan memberi wanita itu pelajaran yang tak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya.

“Kau tidak perlu khawatir... Nanti akan ku bicarakan padanya.” Adam langsung memutuskan sambungan telepon tanpa peduli dengan sopan santun lagi.

Pria itu memukul meja dengan keras, untung saja karyawan yang lain sudah pergi makan siang, jika tak pria itu akan menjadi pusat perhatian.

“Beraninya kau membicarakan perceraian dengan keluarga mu, Nita! Akan aku beri kau pelajaran yang setimpal!”

Kali ini ia tak akan memberi ampunan pada wanita itu, sudah cukup ia memberi kebebasan yang pada akhirnya menjadi wanita pembakang.

*****

“Kenapa lagi kau, adam? Wajahmu yang selalu terlihat kusut itu membuat kami merasa muak ...,” Alex tertawa lepas, pria itu mengejek temannya.

“Diam! Aku sedang pusing!” bentak Adam kesal.

Setelah pulang kerja Pria itu langsung bertemu teman-temannya, ia butuh barang haram itu untuk menenang pikirannya dari masalah dengan Nita.

“Istrimu lagi? Dasar Pria bucin,” ejek Alex.

Memang diantara mereka hanya adam yang masih bertahan dengan istrinya sedangkan yang lain sudah habis bercerai. Memangnya wanita mana yang mau bertahan dengan pria pemabuk, pemarah, suka memukul wanita.

Efek sabu benar-benar bisa berubah akal sehat manusia, bahkan mereka bisa berbuat keji tanpa sadar karena pengaruh barang itu.

Sebenarnya mengonsumsi sabu sangat banyak efek negatifnya. Selain kesehatan yang terganggu, seseorang juga busa cenderung akan hilang akal. Kenapa? Karena efeknya membuat seseorang memiliki percaya diri yang terlalu berlebihan dan bisa melakukan hal diluar nalar. Tak itu saja, barang haram itu juga bisa berubah kepribadian seseorang dan membuat ia membatasi pergaulan dan lebih memilih untuk menyendiri.

“Aku lagi butuh ... Berikan obat itu,” Adam meminta pada Alex.

Pria itu memberikan bungkusan kecil pada Adam, yang disambut antusias adam. Dengan caranya sendiri pria itu mulai menghirup obat itu dengan rakus.

******

Nita menatap Adam dengan cemas, ia tak tahu apa yang membuat suaminya marah seperti sekarang ini, padahal dari tadi mereka tak pernah bertengkar. Tapi Nita sadar saat ini pasti suaminya tak sepenuhnya sadar.

Adam baru pulang langsung memarahinya, bahkan pria itu tak memberi kesempatan pada dirinya untuk bertanya apa salahnya. Wajah yang mengeras, tinju yang terkepal kuat dan mata memerah suaminya itu membuat Nita cemas.

Nita bergetar ketakutan, ia tak pernah melihat Adam semarah ini.

Tanpa tanya Adam langsung memukul istrinya dengan sangat keras.

“Mas!” Nita terpekik kaget, darah langsung menyembur dari dalam mulutnya. Pukulan Adam tak main-main, pria itu sekuat tenaga melakukannya.

“Dasar wanita tidak tahu diri! Sudah kuperingatkan jangan macam-macam padaku, Beraninya kau berbicara perceraian pada keluarganya mu!”

Adam memukul wajah dan tubuh istrinya membabi buta. Pria itu sungguh tak sadar diri, tapi pengaruh obat itu ia hanya bisa mengingat kata cerai saja diotaknya saat ini.

“Apa maksudmu mas? Aku bisa jelaskan... Berhenti memukul ku, sakit mas...,” Nita memohon ampun berurai air mata. Ia tak bisa kabur karena pria itu sudah mengunci pintu depan.

“Aku tidak butuh! Sudah ku bilang, kau akan ku habisi jika berani bercerai dariku! Beraninya kau melawanku sialan!”

Nita berteriak putus asa saat merasa pukulan tangan suaminya semakin menyakitkan.

Mendengar ibunya berteriak histeris puja dan puji segera menghampiri Bundanya. Kedua anak itu bergetar ketakutan melihat ibunya dipukuli sang ayah.

“Ayah!! Jangan Bunuh bunda!!”

“Diam kalian Anak sialan!” teriak pria itu membentak anak-anaknya.

Merasa takut mereka tak lagi berani berkata, mereka hanya mampu menangis melihat ibunya dipukuli. Puji memeluk adiknya dengan tubuh bergetar, ia berusaha menghalangi tatapan puja, agar tak melihat bertapa kejamnya ayah mereka memperlakukan bundanya. Dia anak laki-laki tentu saja harus melindungi adik perempuannya.

Didepan anak-anak pria itu terus memukuli sang istri Berkali-kali. Adam bagaikan manusia yang kesetanan, tak cukup hanya dengan tamparan dan pukulan tangannyah saja dengan kejam pria itu menarik ikat pinggang dan memukul tubuh Nita tanpa belas kasihan.

“Mas! Hentikan, sakit Mas!” Wanita itu berteriak pilu, berharap suaminya berhenti memukul tubuhnya yang terasa remuk. Tapi tidak, adam malah tak acuh mendengar rintihan sang istri.

Adam tak berhenti, tapi semakin mengila. Ia semakin bernafsu untuk menyakiti, mendengar suara rintihan Wanita itu entah mengapa terasa merdu baginya.

“Mas, aku mohon ... Maafkan aku,” Nita berbicara tersedu-sedu bersama dengan bunyi tubuhnya yang dipukuli.

“Dasar Wanita tidak tahu diri! Beraninya kau menatangku.”

Pria itu benar-benar membuktikan ucapannya, akan membunuh istrinya jika berani berpisah darinya. Tak swgan ia meyiksa iatrinya bagikan binatang, teriakan pilu putus asa Nita dan kedua anaknya tak mampu menyadarkan Adam dari emosi setannya.

***BERSAMBUNG....,

****

Jangan lupa tungalan komen, like di cerita ini ya***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!