Sebagai sahabat Nita yang dulu cukup dekat, tentu saja Sofi datang berkunjung mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya sang sahabat.
Tak pernah ia pikir sahabatnya itu akan pergi begitu cepat. Bahkan mereka belum begitu lama bertemu, dan apa yang dikhawatirkannya benar-benar terjadi.
Dari awal melihat kondisi Nita yang tak begitu bergairah saat pertemuan mereka hari itu, Sofi sudah merasa ada yang janggal. Dan ditambah dengan respons Nita yang terlihat begitu kecewa dan sedih setelah dia mengatakan kebenaran tentang kejahatan suaminya. Sekarang ia sedikit menyesal, mungkin jika dia tak mengatakan hal itu dulu mungkin Nita gak akan berakhir seperti sekarang ini.
“Aku turut berduka dengan kepergian Nita ya, Bunda. Maaf kalau aku baru bisa pergi sekarang, aku benar-benar gak tahu akan kabar ini. Dan saat tahu baru kemarin sore,”
Bunda Nur mengangguk mengerti. “Kamu datang saja sudah bersyukur, bunda. Maafkan jika ada kesalahan yang di lakukan anak Bunda sama kamu ya, Sof.”
Mata wanita tua itu terlihat berkaca-qkaca ketika ia kembali mengingat putrinya. Sofi yang melihat hal itu merasa tak tega, ia peluk tubuh ringkih itu, memberikan semangat pada wanita yang dulu selalu ramah kepadanya ketika bertamu kesini. Dan sekarang lihatlah, mungkin karena terlalu merana ditinggal putrinya, tubuh tua itu terlihat semakin kurus dan lelah, Dia benar-benar tak tega melihatnya.
“Nita gak punya salah sama aku, Bun. Dan aku tahu dia orang yang sangat baik, Allah pasti akan menempatnya disisinya.” Hibur Sofi. Tak ingin membuat Ibu Nur menangis lagi, wanita tua ini pasti melewati hari-harinya dengan sangat menyedihkan.
*****
Yona, adik perempuan Adam satu-satunya. Gadis itu terlihat menghapus tetesan air matanya yang berjatuhan, sepanjang jalan menuju rumahnya ia menangis, bahkan sopir taksi yang ditumpanginya terlihat heran.
Dia yang saat itu pergi liburan ke luar kota dan tiba-tiba mendapatkan telepon dari sang Ibu. Kabar buruk yang membuat dia sangat syok, Yona tidak bisa lagi membuang waktu, dia langsung memilih pulang lebih cepat.
Saat ia sampai di depan rumah orang tuanya, ia segera berlari masuk ke dalam rumah mencari kedua orang tuanya. Saat dia tiba di ruang keluarga, Yona langsung menghambur dalam pelukan sang Ayah yang terlihat terkejut dengan kepulangannya.
“Ayah... Kenapa jadi begini? Apa Abang benar-benar di penjara?” Yona langsung menodong pertanyaannya yang membuat dia sesak nafas sepanjang perjalanan tadi.
“Yona... Kamu tahu dari mana kabar ini?” Masalah ini sengaja Prama tutupi dari sang putri. Dia tak ingin putrinya yang sedang jauh dari rumah dan mendapat kabar buruk seperti ini menjadi terkejut dan membuat hal nekat seperti sekarang ini.
Dia yakin Yona pasti pulang dengan terburu-buru tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Itulah yang tidak diinginkan Prama, dia takut putrinya terluka.
“Mama yang telepon aku, dan kasih tahu tentang Abang,” ujar Yona di sela isak tangisnya yang mulai menjadi.
Prama menarik nafas panjang, sekilas ia menatap istrinya dengan sedikit marah. Seharusnya istrinya itu mendengarkan kata-katanya. Untung saja putrinya pulang sampai selamat, jika tidak atau lecet sedikit saja pasti dia tak akan memaafkan perbuatan ini.
“Sebaiknya kamu istirahat dulu, Ayah perlu bicara dengan Mamamu dulu.”
“Tapi, Yah. Aku ingin dengar ceritanya dulu, kenapa Abang di tangkap polisi?” Yona masih bersikeras ingin tahu. Dia tahu, pasti ayah dan Mamanya mau menyembunyikan masalah ini darinya.
Prama menarik nafas lelah. “Baiklah, Ayah akan menceritakannya.” Prama dan Len itu sangat menjaga putri mereka. Bahkan untuk urusan apa-apa saja mereka jarang mengatakan pada putrinya, karena memang tak ingin membuat putri mereka sampai banyak pikiran.
Tapi kali ini mereka tak bisa lagi menyembunyikan masalah yang sedang terjadi ini. Karena masalah ini sudah tersebar luas, mungkin juga sudah keluar di koran dan sosial media tanpa sepengetahuan mereka saking Viral nya masalah ini.
“Jadi Abang di penjara karena apa?” Yona kembali bertanya dengan perasaan was-was.
Prama tertunduk, haruskah dia mengatakan kebenaran ini pada sang putri. Tapi dia tak ingin putrinya membenci kakaknya sendiri, tapi jika tidak alasan apa yang harus dia berikan.
“Ayah... Kenapa diam? Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan?”
“Kakak kamu di penjara karena... Dia membu...,” sebelum Prama menyelesaikan ucapannya, Len langsung memotong ucapan suaminya.
“Kakak kamu Cuma dituduh, Na. Kakak kamu di fitnah sama keluarga Nita, kakak iparmu yang licik itu!”
Yona menjadi bingung. “Memangnya Abang di fitnah apa? Karena apa?” Yona bukan orang bodoh. Kakak iparnya itu begitu baik, bagaimana dia bisa mencelakai suaminya sendiri.
Ibu Len terlihat gelagapan mendapat pertanyaan putrinya.
“Itu... Mereka... Mereka menuduh kakakmu yang... Membunuh Nita,”
Yona tercekat mendengar ucapan Ibunya. Ia menatap nanar kedua orang tuanya. Tatapan tak percaya itu jelas sangat terlihat. Tidak mungkin Mbak Nita nya sudah meninggal! Kemarin mereka sempat bertemu, dan wanita dua anak itu terlihat baik-baik saja, meskipun dia sedikit penasaran dengan bekas memar di wajah kakak iparnya itu.
“Ma.. Yah... Mbak Nita meninggal?” luruh sudah air mata gadis remaja itu. “Gak mungkin.. Aku bertemu dengannya sebelum liburan, dia baik-baik saja, Ma. Gak mungkin meninggal.”
Prama dan juga Len terkejut dengan respon yang di berikan oleh putri mereka. Mereka pikir Yona akan marah dan menyalahkan Nita karena Sudah membuat kakaknya di penjara. Tapi kenapa dia sekarang malah lebih syok mendengar kematian kakak iparnya?
“Yona kamu gak cemas dengan kakak kamu? Kok malah memikirkan Wanita itu yang meninggal?!” Ibu Len sedikit marah, tapi saat melihat tatapan marah suaminya ia tak berani memarahi Yona lebih lanjut.
Yona yang tertunduk sedih mendongak, menatap kedua orang taunany dengan pandangan yang berbeda.
“Apa yang mama tanyakan? Penjara tidak sebanding dengan nyawa yang telah hilang Mama. Kenapa mama masih membela Abang? Jika dia tidak salah, dan tidak ada bukti, dia tidak mungkin akan di penjara.”
Pram Dan Len dibaut terdiam dengan pertanyaan putrinya. Sebenarnya dengan bukti yang sudah ada sudah pasti memang benar Adam yang telah menghabisi istrinya. Tapi sebagai orang tua sudah pasti mereka tetap akan menolak kebenaran itu, dan memilih tetap membela putra mereka.
“Yona...,”
“Tidak Ayah. Aku akan pergi ke rumah bunda Nur,” Ya sepertinya dia harus melihat wanita tua itu. Bagaimana dia sekarang? Pasti sangat sedih setelah kehilangan Anak gadis mereka.
Sedangkan Prama merasa sedikit marah dengan permintaan sang putrinya. “Apa kamu tidak ingin melihat kakakmu dulu? Dia pati senang jika kamu datang menjenguk,”
“Aku bisa datang kapan saja ke tahanan melihat Abang, Ayah. Tapi untuk menghibur Bunda Nur tidak banyak waktu. Dia pasti sangat sedih telah kehilangan putrinya. Bagaimana rasanya jika posisi ini ditukar? Bagaimana perasaan Ayah dan Mama jika aku yang menjadi Mbak Nita?”
*****
Jangan lupa tingalan like end komen😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments