Pertengkaran lagi

Pertengkaran hari itu telah mereka lupakan bagai tak pernah terjadi. Karena cinta dan harapan yang lebih besar, lagi-lagi Nita memaafkan perbuatan kasar suaminya. Wanita selalu saja takut jika anak-anaknya yang akan menjadi korban jika mereka berpisah, tapi ia lupa jika dirinya tersiksa dalam hubungan ini.

Kekerasan memang hal yang paling ditakuti setiap seorang istri, bagaimanapun suami itu adalah tonggak dalam sebuah maligai rumah tangga, dan bila tonggak itu sudah membawa rebah akan dipastikan sebuah rumah itu hanya menunggu tiba saatnya roboh saja.

Pikiran Nita melayang mengingat kenangannya bersama Adam saat awal-awal mereka menikah. Pria itu begitu lembut dan sangat menjaganya. Saat ia hamil pertama kali, Adam selalu menemaninya dengan baik, bahkan tak sekalipun pria itu pernah berkata kasar padanya. Setelah anak Kembar mereka lahir dari situlah hubungan mereka mulai terasa renggang, suaminya mulai sering pulang malam, dia mulai memberi seribu alasan untuk menutupi perbuatannya di luar sana.

Dulu saat Adam beralasan dirinya lembur di tempat kerja, Nita percaya. Tapi semakin lama pria itu semakin parah, bahkan pernah tak pulang semalam-malaman. Nita semakin curiga, dan ia mulai mencari tahu apa yang dilakukan adam di luar sana sampai lupa anak istrinya di rumah. Sampai ia menyadari jika pria itu sudah masuk dalam pergaulan tidak benar. Ia mencoba untuk mengembalikan suaminya seperti dulu, tapi yang ada Adam malah menjadi marah padanya.

Sampai satu tahun belakangan, sang suami mulai berani pulang dalam keadaan mabuk. Nita sering kali mencoba membujuk sang suami untuk berhenti menggunakan barang haram itu, tapi tak pernah ia idahkan. Setiap Nita menasihati akan makian dan tamparan ya dirinya dapatkan. Dan itu berulang kali terjadi.

“Dek?” panggil Adam.

“Ya, mas. Kenapa?” Nita duduk di samping suminya yang terlihat seperti ingin berbicara dengannya.

Adam menyentuh pipi Istrinya yang masih terlihat membengkak, “maaf,” ucap Adam dengan tatapan sendunya.

Ia merasa menyesal karena sudah menampar wanita yang dicintainya. Kemarin ia hanya khilaf, merasa frustrasi karena mendengar perkataan istrinya. Apalagi saat itu ia masih dalam pengaruh bubuk putih itu yang membuatnya tak bisa mengontrol emosi.

“Gak apa-apa kok, mas. Aku hanya berharap kamu gak melakukan hal seperti ini lagi padaku.” Adam langsung mengangguk. Jika ia sadar, ia juga tak kan ingin melukai wanita kesayangannya. Tapi saat itu ia masih dalam pengaruh alkohol dan juga obat itu, sekarang ia merasa menyesal karena sudah menyakiti istrinya.

“Sekarang ayo, mas mau ajak kalian jalan-jalan seperti janji mas kemarin.”

Nita tersenyum bahagia, “benaran mas? Ya udah, aku siapkan anak-anak dulu.” Nita berlalu ke kamar anak-anaknya, ia bahagia melihat suaminya mau menghabiskan waktu bersama mereka.

“Puja, Puji. Yuk bersiap, ayah mau ajak kita jalan-jalan.” Panggil Nita pada kedua anaknya.

Puja dan puji serentak bersorak bahagia, mereka langsung berlari memeluk tubuh ibunya. Mereka benar-benar senang bisa bermain di luar bersama kedua orang tuanya.

“Benaran, Bun? Ayah mau jalan-jalan sama kita?”

Adam yang masuk ke dalam kamar, terenyuh melihat kebahagiaan anaknya meskipun hanya ingin dibawa jalan-jalan saja. Mungkin mereka sudah begitu rindu pada ayahnya yang jarang sekali berada di rumah.

“Ayah serius, sayang. Yuk kita jalan-jalan, seperti janji ayah kemarin.”

Kedua bocah itu berlalu ke kamar mandi, sepertinya mereka sudah tak sabaran Lagi pergi bersama ayahnya.

“Makasih ya, mas. Mereka sangat bahagia,” ucap Nita.

“Kok makasih? Ini tugas aku juga loh, untuk membahagiakan anak dan istriku.”

Ingin rasanya Nita muntah saat kata itu terucap dari bibir suaminya, seharusnya pemikiran itu sudah dia lakukan dari dulu. Jika saja ia tak malas untuk bertengkar sekarang mungkin dia sudah membantah, tapi ia tak ingin merusak kebahagiaan anak-anaknya.

Setelah bersiap mereka langsung berangkat dengan mobil menuju taman kota. Disana akan ada banyak permainan anak-anak yang akan bisa dimainkan puja dan puji, tentu saja itu atas permintaan bocah-bocah itu.

Saat sampai kedua bocah itu langsung berlari menuju mainan yang mereka suka. Nita tersenyum senang, dengan begini saja dirinya sudah bisa bahagia, tak perlu dibelikan barang mewah atau perhiasan mahal, cukup diberikan keluarga bahagia dan saling menyanyi saja sudah cukup baginya.

Pasangan itu lebih memilih memperhatikan anak-anaknya bermain dan mengawasi dari jarak jauh.

“Andai kamu selalu begini, mas. Pasti keluarga kita akan bahagia.” Nita membatin.

Selama ini ia hidup dalam kekurangan tak masalah, asalkan kedua malaikat kecilnya itu bisa bahagia. Ia bisa membantu suaminya bekerja, meskipun hanya membuka kedai keci-kecilan itu sudah cukup untuk makan mereka sehari-hari.

“Kenapa?”

“Apanya yang kenapa mas?” tanya Nita bingung.

“Apa yang kamu pikirkan? Dari tadi hanya diam, lalu menarik nafas panjang.”

Nita tersenyum sendu, “kamu sudah tahu apa yang aku pikirkan mas ... Kenapa masih bertanya lagi,” ucap Nita. Ia kesal melihat Pria ini masih saja tak peka, padahal semua ini terjadi karena ulahnya.

“Jangan mulai lagi, dek! Kamu ingin kita bertengkar di tempat ramai ini?”

Nita berdecak kesal, ia beranjak menuju dimana anak-anaknya sedang bermain. Padahal tadi ia hanya ingat berbicara santai dan mencoba membujuk suaminya itu, tapi pria itu malah langsung marah padanya.

“Bunda, kenapa wajah bunda sedih begitu? Apa ayah jahat lagi?” tanya puja. Gadis kecil itu selalu tahu apa yang sedang dirasakan ibunya, mungkin karena hubungan batin mereka begitu kuat. Berbeda dengan puji sang putra kecilnya itu, anak itu lebih suka diam dan mengamati saja apa yang dilakukan kedua orang tuanya.

“Kenapa bilang begitu Nak? Ayah gak pernah jahat sama kita kok,”

“Tapi kan ... Kemarin kami lihat ayah pukul pipi bunda,”

Deg

Jantung Nita serasa berhenti mendengar ucapan anaknya. Ia tak tahu jika sang putri melihat pertengkaran mereka kemarin. Inilah yang dia takutkan, kejadian seperti ini bisa membuat buah hatinya menjadi trauma.

“Kalian... Kalian lihat apa saja?” Wanita itu mulai cemas, ia tak ingin anak-anaknya akan membenci ayahnya sendiri.

“Ayah marah-marah terus pukul pipi bunda, setelah itu puja gak lihat apa-apa lagi, soalnya abang puji bawa Adek pergi.” Jelas bocah kecil itu dengan cubinya.

Nita tak bisa berkata-kata, apa yang dilihat anaknya pasti akan berpengaruh buruk untuk perkembangan buah hatinya ini. Tapi jika begini ia juga tak tahu harus melakukan apa, mereka bukan orang kaya yang mempunyai rumah besar, kamarnya yang kedap suara sehingga pertengkaran tak terdengar oleh orang lain. Rumah mereka hannyalah gubuk sederhana, jika bertengkar suaranya pasti akan terdengar sampai di rumah tetangga. Itulah kenapa ia selalu menghindari pertengkaran selama ini.

Tapi sekarang ia hanya merasa tak tahan lagi, karena itu ia hampir setiap hari membantah suaminya dan berakhir dengan pertengkaran hebat.

*****

Hay, semua...

Kalian yang ingin cerita ini cepat updet jangan lupa tingalkan komentar ya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!