Adam melangkah masuk ke dalam ruangan dokter. Pria itu sudah berkeringat dingin, ia merasa ketakutan. Ia tak percaya kegilaannya sampai berakhir seperti ini, saat ia hanya lagi sakau dan tak sadar sampai ingin menghabisi istrinya.
Tapi bagi Adam sekarang kematian Nita lebih baik dari pada selamat. Jika wanita itu selamat keadaannya pasti terancam, ia bisa karena kasus ini. Tapi jika wanita itu meninggal ia bisa menghapus jejak dengan mudah.
“Bagaimana keadaan istri saya, dok?”
“Kami tidak bisa mengatakan ini kabar baik atau buruk. Tim Kami telah berusaha untuk mengeluarkan racun dari tubuh istri Anda pak, tapi ... Racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuh. Harapan untuk berhasil selamat sangat lah kecil,” dokter itu berkata dengan berat hati, tapi bagaimana lagi ini adalah tugasnya.
Adam memasang wajah sedihnya mendengar kabar itu. Rasa penyesalannya mulai muncul, andaikan ia tidak gegabah dan tidak pulang hari itu mungkin ia tidak akan kehilangan istrinya.
“Apa mungkin dia akan selamat dokter?”
“Kami tak bisa menjamin. Sudah saya katakan jika racun itu telah menyebar di dalam tubuhnya.” Jelas sang dokter.
Sebenarnya dokter itu masih bingung, ia ingin bertanya kenapa wanita malang itu bisa meminum racun seperti yang disebutkan suaminya ini, tapi merasa ia tak punya hak ia tak berani terlalu ikut campur. Tapi pada akhirnya ia tetap bercap untuk mengingatkan Adam.
“Saya merasa kasus ini janggal, pak adam. Ditubuh istri Anda banyak sekali luka memar dan juga bekas cambukkan, jika Anda berkenan kita bisa mengusulkan untuk melakukan autopsi. Jika ada kejanggalan mungkin Anda bisa menyelidikinya,”
Adam tersentak kaget. Ini tidak boleh terjadi, jika sampai dilakukan autopsi kejahatannya akan diketahui orang lain. Ia tak ingat dipenjarakan, Bagaimanapun ia harus mencegahnya.
“Sebaiknya saya tanyakan kepada keluarganya dulu, dok. Lagi pula sepertinya kami tak membutuhkan ini ... Jika melakukan autopsi hanya akan mempermalukan keluarga kami saja.” Kilah Adam.
Sang dokter mengernyit keningnya tak mengerti, “Tapi Tuan istri Anda...,”
“Tidak dokter, biar masalah ini hanya menjadi urusan keluarga kami. Dokter tidak usah ikut campur!” Adam langsung memotong ucapan sang dokter.
Dokter itu mengangguk setuju, jika keluarganya sendiri yang tak ingin melakukannya ia bisa apa.
“Baiklah, ini memang bukan wewenang saya.” Adam bernafas lega, “sekarang bapak Adam bisa pergi, saya sudah menjelaskannya, saya harap Anda tak menyesal,”
Tak perlu basa basi lagi adam langsung berlalu. Dokter itu hanya bisa menggeleng dengan perilaku tak sopan Adam. Meskipun dalam hati ada kecurigaan pada sikap suami korban, tapi dia hanya seorang dokter. Jika masih memaksa autopsi tanpa izin keluarga itu bisa membahayakan kurirnya.
****
Adam melihat Ibu mertuanya sedang duduk diam didepan ruang rawat Istrinya. Pria itu mulai mendekati Ibu Nur, ia harus memasang wajah sedihnya agar wanita tua itu tak curiga padanya.
“Bunda,”
Nur menatap Menantunya yang sedang memanggilnya. Dengan paksa ia memperlihatkan senyumnya, sekarang ia tak bisa gegabah mengambil tindakan.
“Bagaimana kata dokter, nak. Apa istrimu bisa disembuhkan?” Nur bertanya, berusaha menyembunyikan amarahnya.
“Entah lah, Bu. Dokter bilang keadaan Nita sangat parah, racun yang ia minum sudah menyebar di seluruh tubuhnya.”
Adam terdiam melihat reaksi Ibu mertuanya yang terlihat tak terkejut, Ibu Nur hanya diam saja sembari mendengar penjelasannya. Adam menjadi menerka-nerka, apa ada sesuatu yang ia ketahui?
“Bunda tahu akan seperti itu ... Orang yang telah menelan racun begitu banyak bagaimana mungkin bisa hidup,”
“Bu,”
“Tidak nak adam, tak usah menghibur ibu,”
Ibu nur menatap ponselnya sesat, ia merasa sesak saat melihat orang yang menyakiti anaknya berpura-pura baik didepanya. Ia sengaja tak mengatakan pada Adam jika Nita sempat siuman sebentar, sebelum wanita itu jatuh pingsan lagi.
“Adam... Kamu sudah terlalu lama di rumah sakit, nak. Lebih baik sekarang kamu pulang dulu untuk istirahat... Biar ibu yang menjaga Nita disini.”
Nur menyuruh menantunya pulang terlebih dahulu, Bagaimana pria ini sudah terlalu lama berada di rumah sakit.
“Tapi?” Adam ragu untuk meninggalkannya, bagaimanapun ia harus selalu mengawasi istrinya itu.
Nur tak menyerah, melihat Adam tak ingin meninggalkan rumah sakit ia mulai mencari alasan lain.
“Kamu harus melihat anak-anakmu, Adam. Sekarang mereka pasti lagi kebingungan mencari bunda dan ayahnya.” Adam semakin bimbang, tapi ia juga tak punya alasan untuk menolak ucapan ibu mertuanya.
“Tapi bagaimana dengan Nita? Aku ingin berada disisinya saat-saat seperti ini,”
“Kamu tidak perlu khawatir, siang ini biar ibu yang menemai, nanti malam baru kamu yang akan berjaga disini. Bagaimana pun kamu harus istirahat. Puja dan puji juga harus kamu beri perhatian, mungkin mereka masih syok melihat keadaan Bunda mereka.”
Pada akhirnya adam tak punya alasan lain untuk menolak, ia terpaksa harus pergi agar tak membuat ibu mertuanya curiga. Padahal ia sangat khawatir, tapi setelah ia pikir-pikir tak ada salahnya ia istirahat sebentar.
“Baiklah, Aku pulang dulu, Bu. Jika ada apa-apa tolong hubungi Adam.” Ibu nur mengangguk setuju.
“Aku akan melihatnya sebentar baru akan pergi,” ucap Adam sembari masuk dalam ruang rawat istrinya.
****
Jangan lupa tingalkan jejak, like, komen kalian di cerita ini😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Kinan Kevin
ceritanya kejam sekali thor 😭😭
2023-04-08
3