Nafas terakhir

Kamar rawat sangat sepi, sangat hening bahkan tak ada suara nafas yang terdengar. Nita dengan tenang berbaring di seprai putih khas rumah sakit. Wajah itu terlihat begitu pucat... Bukan begitu pecat, tapi sangat pucat.

Sudah tak kuat menahan sakit, akhirnya wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya dipakukan sang ibu. Meskipun tak sadar sepenuhnya, tapi ia berhasil menitipkan pesan terakhir untuk sang buah hati. Begitulah cinta seorang ibu, meskipun ingin merenggang nyawa tetap saja anak-anaknya yang ia ingat.

Tubuh Adam merasa kaku tak bisa digerakkan. Karena keegoisannya sekarang ia kehilangan wanita yang dicintainya. Adam bergerak dengan kaku menuju tubuh istrinya yang telah tak bernyawa.

Adam merasa seluruh hidupnya menjadi kacau, pikirannya berantakan seakan ia merasa dirinya terperosok ke dalam jurang yang gelap, berlahan menjalar ke seluruh sel-sel tubuhnya.

Ia menyentuh tangan ya sudah sedingin es itu dengan tubuh bergetar, dia akhirnya menyadari, Nita sudah mati, wanita dicintainya, ibu dari anak-anaknya, sekarang telah mati.

“Dek, maafkan Mas. Mas khilaf, dek. Mas Gak menyangka akan berakhir seperti,” sesal Adam. Dadanya terasa sesak melihat wanita yang hampir tujuh tahun ini hidup bersamanya dan sekarang menjadi kaku tak bernyawa. Ia yang salah, sekarang ia merasa ketakutan hanya untuk hidup.

Menyesal tak ada gunanya lagi, sekarang ia benar-benar sudah menjadi pembunuh istrinya sendiri. Hari ketiga Nita dirawat sekarang , dan satu jam yang lalu dokter sudah mengatakan Nita telah meninggal karena racun itu sudah melumpuhkan semua organ tubuh wanita itu sehingga membuat istrinya meninggal.

Tak itu saja, dokter juga bilang jika tubuh Nita terlalu banyak luka, selain karena racun wanita itu juga tak akan mungkin bertahan hidup dengan memar di sekujur tubuhnya.

Adam semakin sedih, semakin menyesal, semakin marah pada dirinya sendiri. Tapi disisi lain hati egoisnya juga mengatakan tak perlu menyesal.

“Pak, sekarang kami harus membawa jenazah untuk di disiapkan agar bisa dibawa pulang oleh pihak keluarga.” Seorang suster berkata, membuat Adam tersadar dari lamunannya.

Adam kembali terdiam. Jika ia membiarkan mayat Nita pulang dan akan di mandikan dan dikafankan di rumah, itu sama saja ia mencari masalah. Orang-orang akan tahu apa yang ia sembunyikan selama ini, itu tak boleh terjadi.

“Suster... Saya minta istri saya dimandikan dan dikafankan di rumah sakit saja.”

“Loh, tapi pak? Ibu dari pasien ini minta dipulangkan saja, pihak keluarga yang akan mengurusnya.”

Adam terkejut mendengarnya, kapan ibu mertuanya bilang. Tapi ia tak akan menyerah begitu saja, dengan sedikit marah ia membentak para suster itu untuk mengikuti ucapannya.

“Saya suaminya sus, jadi lebih baik Anda mendengarkan permintaan saya saja!” ucap Adam mengeram.

Sang suster itu terkejut mendengarnya, pada akhirnya mereka hanya bisa mengangguk setuju.

“Baiklah pak, akan segera kami urus,” ucap suster menurut.

Adam bernafas lega, sekarang ia tak perlu khawatir lagi. Setelah Nita dikuburkan ia akan selamat, semua tidak ada yang akan menyadari istrinya meninggal Kenap. Semua bukti akan hilang, dan dia tidak perlu kawatir dipenjara.

*****”

Adam modar mandir, ia merasa gelisah akan sesuatu, tapi ia sendiri tak tahu itu apa? Mungkin ia hanya masih cemas jika kejahatannya sewaktu-waktu ketahuan. Jika itu terjadi ia bisa dihukum seumur hidup, dan ia tak kan pernah menginginkan itu.

Ibu Nur terlihat masih menunggu sang anak untuk dibersihkan. Tapi kabar yang ia dengar dari suster membuat wanita tua itu geram. Tapi ia tak langsung mencegahnya, ia punya rencana lain yang harus ia lakukan. Yang paling penting menantunya ini tidak kabur.

Lagi-lagi wanita tua itu harus menahan hati melihat putrinya diperlakukan tak adil seperti ini oleh suaminya sendiri. Tapi sekuat hati ia mencoba bersabar. Sudah ada rencana besar yang menunggu kepulangan mereka, dan ia yakin saat itu tiba pasti menantunya itu tak akan bisa berkilah lagi.

“Nak?” Nur memanggil menantunya pelan.

“Ya, Bu. Kenapa?”

Nur mendekat, ia menatap menantunya dengan serius. “Kenapa kamu Ingin Nita Dibersihkan dan disiapkan di rumah sakit, Dam? Kita Kan bisa mengurusnya di rumah?”

Adam bergeming, ia bingung untuk menjawab apa. Tapi kali ini ia harus mencari alasan yang masuk alak untuk mertuanya.

“Aku berpikir, mungkin ini akan lebih baik, bu. Setelah sampai di rumah dan di salatkan kita bisa langsung menuju ke pemakaman. Membiarkan jenazah Nita terlalu lama itu tak baik bukan? Ia akan tersiksa,”

“Tak ada yang tahu mana yang lebih menyiksa nak... Tapi yang pasti hanya untuk sebentar menunggu tak ada masalah. Toh, seluruh keluarga juga ingin melihatnya untuk terakhir kalinya, jika sudah begini mereka pasti akan semakin sedih.”

Adam melihat ibu nur dengan cemas, “tidak bisa ibu. Aku sudah mengarahkan pada pihak rumah sakit, semuanya pasti sudah selesai.”

“Kamu tidak menyembunyikan sesuatu kan nak?”

Adam mendengar pertanyaan ibu nur tersentak kaget, wajah pria itu terlihat memucat. Rasa takut mulai menyelimutinya, ia merasa tak nyaman ditatap penuh curiga oleh ibu dari istrinya itu.

“Ibu ngomong apa? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya?”

Nur tersenyum masam, “kamu belum menceritakan semuanya nak ... Tapi aku harap setelah ini semuanya akan jelas,”

Setelah mengucapkan itu nur pergi menjauh dari adam.

Meskipun berusaha untuk tegar, tapi hati wanitanya tua itu sangat hancur. Anak perempuan satu-satunya sekarang telah meninggalkannya.

*****

Jangan lupa tingalan komen dan luke.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!