Setelah menulis surat untuk melamar sebagai seorang duta kerajaan untuk menjalin kerja sama di bidang perdagangan, Asha meminta pengawalnya Karl untuk mengirimkan surat itu secara diam-diam ke kerajaan karena jika orang tuanya tau kalau dia mencalonkan diri menjadi seorang duta dan pergi ke negeri timur tengah, orang tuanya akan mengamuk dan menceramahi dirinya panjang lebar dan mungkin hak keluar rumahnya di cabut selama beberapa bulan.
Untuk menghindari hal tersebut, Asha memutuskan untuk menulis surat dan mengirimkan kepada sang raja supaya memberikan pertimbangan kepada dirinya pergi ke timur tengah. Beberapa hari setelah suratnya di kirim, pihak kerajaan memberikan surat balasan ke mansion Edelstein yaitu untuk hadir di rapat pertemuan para dewan-dewan kerajaan, Asha tau kalau dia pasti tidak akan langsung diberikan izin oleh kerajaan karena dia terlalu muda dan seharusnya di waktu-waktu seperti itu Asha memasuki akademi.
Karena surat itu, Asha yakin dia pasti akan bertemu dengan ayahnya saat rapat berlangsung karena ayahnya adalah perdana menteri kerjaan dan tangan kanan sekaligus teman dekat sang raja. Sesampainya di istana Asha langsung di pandu oleh seorang knight atau kesatria kerajaan untuk menuju ke ruang dewan pertemuan.
Terlihat semua bangsawan dan orang-orang yang berpengaruh di dunia politik duduk di kursi meja panjang menatap ke arahnya terutama tatapan tajam sang ayah yang menatap lurus dengan senyuman yang menyeramkan di mata Asha.
"Saya memberikan hormat kepada pemimpin negeri ini,"
"Saya memberikan hormat juga kepada para dewan-dewan kerajaan yang telah bekerja keras untuk negeri ini," ucap Asha sambil memberikan hormat setelah beberapa langkah dia memasuki pintu besar
Terlihat suasana yang mencekam dan tekanan begitu terasa di dalam ruangan itu. Asha merasa sesak karena tegang dengan situasi saat ini.
"Asha Edelstein, mengesampingkan asal dari keluargamu dan sepengetahuan orang tuamu yang sepertinya tidak tau apa-apa mengenai ini, aku membaca suratmu yang mengajukan diri sebagai seorang duta dalam melakukan perdagangan dengan negeri timur tengah,"
"Surat itu memang sangat meyakinkan untuk memberikan dirimu izin pergi ke negeri timur tengah,"
"Tetapi, kamu masih harus belajar di akademi, karena pendidikan sangatlah penting untuk membantumu dalam menyelesaikan kepala dengan kepala dingin," ucap sang raja dengan tatapan yang bijaksana dan tegas ke arah Asha yang berdiri di hadapannya
Tepat sesuai dengan prediksi Asha, alasan kalau dia tidak diizinkan oleh pihak kerajaan karena alasan pendidikannya. Hal ini tentu akan membuatnya dengan mudah keluar dari kerajaan kalau masalahnya hanya karena ini.
"Yang mulia, ini hanya masalah karena aku masih harus belajar di akademi bukan?" tanya Asha untuk memastikan kalau sang raja tidak mengubah perkataannya, sedangkan sang ayah sedang berharap kalau ada alasan tambahan yang diberikan oleh sang raja karena tidak ingin putrinya pergi ke negeri timur tengah akan tetapi keberuntungan tidak berpihak kepada sang Duke yang merupakan ayah dari Asha.
"Iya itu memang benar," ucap sang raja dengan anggukan
"Kalau begitu yang mulia, ini bisa di jadikan izin kalau saya bisa ke negeri timur tengah sebagai duta bukan?"
"Karena ini adalah ijazah kelulusan saya di akademi," ucap Asha yang sambil mengeluarkan sebuah gulungan berstempel akademi terbaik di kerjaan, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tercengang kecuali sang Duke Edelstein yang merupakan sang ayah
"Nona, apakah kami bisa melihat gulungan yang anda pegang itu asli atau palsu karena banyak sekali orang yang menipu menggunakan yang palsu," ucap salah seorang dari anggota dewan dengan tatapan kurang yakin dengan Asha yang telah lulus bukan baru ingin masuk ke akademi
Kemudian Asha menyerahkan gulungan ijazahnya kepada salah seorang dewan yang tidak percaya dengan keaslian dari kelulusan yang dimiliki oleh Asha. Setelah dibakar dan dibasahi oleh air, sudah di pastikan kalau itu adalah ijazah asli.
"Jadi bisakah mengizinkan aku langsung yang mulia?" tanya Asha dengan tatapan berbinar-binar menunggu izinnya sebagai duta dikeluarkan
Sang raja menatap perdana menterinya sebentar kemudian dengan helaan nafas panjang dan berat hati sang raja menyetujuinya karena itu tidak ada pilihan lain.
"Karena syaratnya telah terpenuhi dan itu adalah janji yang aku janjikan kepada nona Asha Edelstein,"
"Maka aku akan menyetujuinya, akan tetapi karena kamu masih sangat muda,"
"Aku ingin kamu pergi dengan para pengawal kerajaan dan selama disana aku harap kamu tidak pergi sendirian," ucap sang raja dengan tatapan khawatir karena bagaimanapun Asha adalah putri dari temannya yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, walaupun Asha tidak mengingatnya
Setelah Asha mendapatkan izin, Asha tidak langsung pulang ke mansion karena teman-temannya saat ini sedang berkumpul di mansion keluarga Duke Aelfraed menunggu dirinya datang.
Pada saat dia datang dia hanya disambut oleh seorang pelayan, tapi tidak dipandu lagi ke arah mana dia harus pergi karena dia sudah paham struktur mansion besar ini. Tetapi di tengah perjalanan ada yang membuat Asha tertarik, sebuah ruangan terbuka karena tidak biasanya ada sebuah ruangan terbuka. Dengan perlahan dia berjalan masuk ke dalam ruangan karena penasaran.
"Ini sepertinya ruang kerja Ehan,"
"Kalau di lihat dari isi mejanya, semuanya adalah buku-buku yang aku sarankan,"
"Tapi bukankah ini adalah surat-surat yang aku kirimkan kepada Caius? Kenapa ini ada di ruang kerja Ehan?" Gumam Asha yang melihat tulisan dan isi surat yang tidak asing untuknya di atas meja laki-laki itu
"Asha, kenapa kamu berada di sini?" tanya seorang laki-laki yang berjalan masuk ke dalam ruangan itu sontak membuat Asha terkejut dan membalikkan badannya dengan senyuman kaku
"Aku hanya melihat pintu terbuka, kemudian karena penasaran aku masuk ke dalam ruangan ini," jelas Asha dengan terbata-bata seperti ketahuan mencuri
"Tidak perlu gugup seperti itu, karena ruangan ini adalah milikku tanpa izinku kamu juga boleh masuk seperti yang pernah aku katakan dulu,"
"Selama itu adalah ruanganku maka kalian boleh masuk tanpa izin langsung dariku," ucap Ehan dengan senyuman lembut ke arah Asha, walaupun sebenarnya Ehan tidak pernah berbicara seperti itu tetapi untuk mengurangi rasa bersalah Asha maka dia akan mengatakan hal yang tidak masuk akal
Ehan kemudian menggenggam tangan Asha dan membawanya keluar dari ruangan besar itu dengan cepat.
'Sepertinya Asha telah melihat isi surat yang belum aku simpan, karena terlihat posisi suratnya berbeda dari sebelumnya,' ucap Ehan di dalam hatinya yang mengingat dengan jelas posisi surat sebelum dia keluar dari ruangannya menyambut para tamu yang merupakan teman-temannya
"Asha, tidak perlu memikirkannya,"
"Ayo segera kita ke taman sekarang,"
Canceled Duke's Engagement With Contact Fiancée
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments