Asha meminta kedua temannya untuk berbicara di dalam mansion karena jika mereka berada di depan mansion pembicaraan itu tidak akan selesai-selesai.
Asha meminta para pelayan untuk tidak banyak bertanya atau banyak menyinggung mengenai identitas terutama mata anak kecil yang dia pungut di gang. karena mata anak itu adalah mata yang dianggap sebagai pembawa bencana bagi kerajaan ini, tetapi juga anak ini adalah salah satu pemeran utama di dalam novel yang aslinya tubuhnya menyusut karena ramuan yang diberikan oleh orang-orang yang membencinya, walaupun dikira oleh orang itu kalau yang diberikan adalah racun.
Di dalam cerita aslinya dia seharusnya di pungut oleh master pihak menara sihir dan di jadikan sebagai calon pewaris menara sihir karena bakat dan kapasitas sihir yang dimilikinya sangat luar biasa. Dia didik dengan keras sampai akhirnya dia melebihi sang master, dan dia tidak sengaja bertemu dengan pemeran utama pada saat pembantaian monster di akademi yang kemudian itu menumbuhkan perasaan suka kepada pemeran utama.
Dan dia adalah orang yang dimasa depan akan menangkap Asha ketika Asha hampir berhasil melarikan diri ke perbatasan ke negeri timur tengah, dan kemudian di serahkan kepada duke untuk dibunuh.
"Aku harap dia tidak akan membunuhku di masa depan karena aku yang menolongnya," Gumam Asha sambil menatap anak laki-laki itu tertidur dengan nyenyak
Di luar ruangan kamar tamu, terlihat tunangan dan teman-temannya menunggunya keluar dari ruangan itu menginginkan penjelasan mengenai anak laki-laki yang dipungut.
"Jadi, Asha kenapa kamu memungut anak laki-laki itu? Aku pikir kalian berdua berjalan-jalan romantis," ucap Grace dengan tatapan penasaran
"Ah itu, karena..."
'Aku belum menyiapkan kata-kata kenapa aku memungutnya,'
"Itu karena aku yang meminta Asha untuk memungutnya,"
"Ini terjadi karena aku ku merasakan aliran sihir yang besar dari anak itu, jadi aku rasa tidak masalah kalau kita memungutnya karena ada keuntungan," ucap Caius yang melindungi Asha tidak bisa mengatakan alasannya, jika Asha mengatakan kalau dia merasakan ada aliran sihir maka dia bisa dikatakan pembohong karena dia hanya bisa sihir dasar jadi tidak mungkin dia bisa merasakan aliran sihir yang ada di tubuh anak itu
Asha yang melihat Caius yang membela tentu membuat Asha menoleh ke arah laki-laki di sebelahnya karena tidak menyangka kalau ada orang yang bisa menggunakan sihir ternyata. Ketiga di depan Asha dan Caius hanya mengangguk paham dengan yang dilakukan oleh ucapannya.
"Asha, sepertinya aku harus pulang sekarang karena masih ada pekerjaan malam yang harus aku lakukan," ucap Caius dengan senyuman lembut ke arah tunangannya
"Terima kasih ya telah mau datang hari ini,"
"Padahal kamu pasti sedang sangat sibuk hingga meluangkan waktu untukku," ucap Asha dengan tatapan bersalah dan menundukkan kepalanya
Tiba-tiba sebuah tangan menyambar, mengangkat dagunya untuk menatap ke atas menatap ke arah laki-laki yang sedang tersenyum lembut, jarak yang dekat antara keduanya membuat wajah sang gadis semerah tomat. Asha menutup matanya karena di pikirnya kalau sedekat ini mungkin Caius akan mencium bibirnya, tetapi Caius malah membuat impian Asha patah karena dia hanya mencium keningnya. Ketiga orang yang menonton di depan tentu saja berusaha menahan tawa karena ini adalah hal yang lucu, walaupun mereka bertiga harus menjadi nyamuk di tengah hubungan kedua orang di depannya.
"Asha, kenapa ekspresimu seperti kecewa? Apakah ada yang membuat dirimu tidak puas?" tanya Caius dengan tatapan kebingungan membuat Asha tentu merasa malu ingin mengatakan isi hatinya karena tidak ingin di cap sebagai gadis yang punya pemikiran kotor, Asha hanya diam dan menggelengkan kepalanya dengan wajah merah
Setelah pamit pulang, Grace dan kedua lainnya malah meminta izin untuk menginap karena setiap mansion keluarga mereka masing-masing berada di ujung wilayah jadi solusi yang paling mendukung adalah mereka izin menginap, kedua orang tua Asha tidak mempermasalahkan ini karena sudah sejak masih kecil mereka telah terbiasa menginap di mansion keluarga Edelstein hingga mereka punya kamar pribadi di mansion itu begitu juga dengan Asha dan Ehan, keduanya juga memiliki kamar di setiap tempat tinggal para keluarga Duke karena mereka sering menginap setiap kali kunjungan hingga sore.
"Asha, malam ini kita sekamar ya?"
"Sudah lama kita tidak berbincang sesama perempuan," ucap Grace dengan tatapan berbinar-binar memohon
"Baiklah, kalau begitu di kamarmu saja ya," ucap Asha dengan senyuman lembut ke arah sahabatnya yang selalu bersikap begitu manja
Makan malam tiba, Asha dan teman-temannya saling menunggu untuk pergi ke ruangan makan bersama-sama karena itu adalah kebiasaan mereka sejak kecil selalu bersama.
"Akhirnya kalian para perempuan tiba,"
"Kami berdua telah menunggu sampai merasa akan tidur di sini," ucap Ian dengan tatapan suram dan lemas seperti orang yang tidak makan berhari-hari padahal kenyataannya dia hanya menunggu
"Kalian pantas saja tidak populer di kalangan perempuan karena sikap buruk kalian seperti ini,"
"Terang-terangan berbicara," ucap Grace dengan tatapan kesal yang kemudian memicu pertengkaran antara Ian dan Grace sedangkan Dain dan Asha diam menonton tidak banyak menanggapi atau membela kedua belah pihak sampai seorang pelayan menghampiri Asha untuk memberikan laporan
"Nona, anak laki-laki itu sudah bangun dan terlihat sekali kalau dia begitu waspada terhadap kepada kami,"
"Apa nona ingin mengunjunginya?" tanya sang pelayan dengan tatapan khawatir
"Aku tentu akan mengunjunginya tapi tidak sekarang karena aku harus makan malam bersama dengan orang-orang ini,"
"Untuk saat ini bawakan saja dia makanan kalau dia masih ingin waspada tinggalkan saja makanan di atas meja nanti aku dan orang-orang bertengkar di sana akan melihat keadaannya," ucap Asha sambil menunjuk pertengkaran yang dimaksud kemudian dijawab dengan anggukan paham oleh sang pelayan. Secepat mungkin pelayan itu hilang begitu saja setelah memberikan laporan.
"Apakah kalian masih lama bertengkar?"
"Jika iya kami berdua akan duluan pergi ke ruang makan,"
"Kalian bisa menyusul kalau sudah selesai," ucap Dain yang memberikan isyarat kepada Asha untuk lebih cepat ke ruang makan sebelum membuat Duke Edelstein dan istrinya menunggu di ruang makan, seketika pertengkaran itu hilang begitu saja seolah-olah itu adalah mantra.
Sesampainya di pintu besar ruang makan terlihat sosok laki-laki tidak asing untuk mereka berempat terlihat, ke empatnya terutama Asha merasa kebingungan orang yang katanya sibuk saat di ajak berada di ruang makan sedang duduk manis menunggu kedatangan mereka. Sedangkan ketiganya berpikir bukankah dia sudah pulang barusan, kenapa bisa berada di ruangan ini.
"Bukankah kamu bilang sibuk hari ini? Hingga tidak bisa datang kenapa kamu ada di sini?"
Canceled Duke's Engagement With Contact Fiancée
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments