Di pagi hari yang baru, Grace seperti biasa sulit membangunkan Asha yang tidur larut malam karena dia bilang ada dokumen yang lupa dia kerjakan, hal ini membuat Grace menjadi pelayan pribadi di pagi hari. Mengingat hampir tidak ada pelayan yang bisa membangunkan Asha kecuali dia sebagai seorang teman baiknya yang tau kebiasaan buruknya.
"Asha, kamu tau semalam kamu mengigau tentang pantai timur yang dipenuhi oleh banyak laki-laki yang kamu anggap sebagai surga duniawi,"
"Bagaimana kalau orang-orang tau tentang mimpi putri keluarga Edelstein ini?" bisik Grace di telinga Asha membuat Asha terbangun sambil berteriak memohon kepada Grace untuk tidak menceritakannya kepada siapapun mengingat mulutnya Grace adalah ember bocor menurut Asha kalau tidak segera di tutup
"Akhirnya kamu bangun, dan tenang saja hobi buruk yang kamu punya akan aku simpan rapat-rapat,"
"Kita harus cepat bersiap sarapan pagi sebelum para laki-laki itu berbicara hal buruk mengenai perempuan," ucap Grace dengan tatapan kesal mengingat kejadian yang baru saja terjadi
Asha dan Grace dengan cepat berjalan ke arah ruang makan, di depan pintu besar terlihat ketiga orang laki-laki telah menunggu kehadiran Asha dan Grace untuk sarapan bersama.
Mereka berlima menghabiskan waktu bersama setelah sarapan kemudian teringat dengan janjinya melalui surat dengan menara sihir, Asha izin untuk pergi ke kamar anak kecil yang kemarin ditemuinya. Terlihat anak kecil yang kemarin ketakutan bertemu dengannya saat ini dengan berani kedua mata mereka bertemu satu sama lain.
"Jadi bagaimana dengan jawabanmu mengenai tawaranku kemarin?" tanya Asha dengan senyuman penuh harapan tapi yakin kalau orang di depannya akan menerima tawaran darinya karena tidak banyak pilihan yang dimilikinya
"Baiklah, aku setuju dengan tawaran yang diberikan," ucap anak laki-laki itu dengan anggukan setuju, tidak lama dari itu Asha meminta pelayan untuk menyiapkan pakaian dan segala keperluannya langsung karena dia akan langsung membawanya ke menara sihir
Setelah selesai Asha langsung menggenggam tangan anak kecil itu menuju kereta yang akan membawa mereka, tapi karena belum izin dengan teman-temannya kalau dia akan pergi ke menara sihir maka dia mampir sebentar ke ruang baca milik bersama, tidak lama kemudian dia langsung pergi dengan anak kecil itu.
Ditengah perjalanan Asha dan anak kecil itu terlihat sekali kecanggungan antara keduanya. Asha yang tidak tau harus berbicara apa langsung membuka percakapan dengan senyuman lembut.
"Apa kamu memiliki nama?" tanya Asha dengan senyuman yang lembut itu
"Namaku Edith," ucap anak laki-laki itu dengan pelan
Asha tentu merasa gemes kepada sosok laki-laki di depannya karena bagaimana bisa ada anak kecil yang berbicara dengan begitu pemalu seperti ini, mengabaikan fakta kalau laki-laki di depannya adalah orang yang akan menghilangkan nyawanya.
"Kalau begitu aku juga harus memperkenalkan diri kepadamu,"
"Karena tidak sopan rasanya jika hanya kamu yang memperkenalkan diri,"
"Namaku adalah Asha Edelstein, jadi aku harap kerja sama baik dapat berjalan di antara kita berdua," ucap Asha sambil mengulurkan tangannya disambut dengan tangan kecil dari anak laki-laki di depannya
Tidak sampai dari beberapa jam mereka sampai di titik koordinat keberadaan menara sihir, karena menara ini selalu berpindah-pindah tempat jadi harus ada surat yang melampirkan lokasi baru letak menara ini. Itu semua di lakukan supaya para murid di menara sihir bisa berlatih di tengah hutan dan tidak menggangu ibukota kerajaan, setiap kali akan berpindah semua murid diberi tau melalui alat sihir supaya tidak ada satupun murid yang tertinggal.
Bangunan menara sihir yang diluar terlihat hanya sebuah bangunan tinggi memanjang di dalamnya luas seperti taman di mansion milik keluarganya, banyak sekali murid yang bolak-balik berjalan di sana. Asha menyerahkan surat itu kepada salah satu siswa yang sedang menunggunya, kemudian di antar langsung menuju sebuah ruangan yang besar untuk berteleportasi ke sebuah tujuan yang tertulis di dalam surat.
Pintu besar di depan mereka saat ini, Asha menghela nafas sebentar kemudian membuka pintu besar yang berada di didepannya. Terlihat sesosok laki-laki muda sedang duduk dengan kaki menyilang menunggu kehadiran Asha.
"Sudah lama tidak bertemu Asha,"
"Aku sangat menantikan kedatanganmu ke sini, mengenai alat sihir komunikasi yang kamu bicarakan itu aku sangat tertarik untuk mendengarkannya secara langsung," ucap laki-laki itu dengan senyuman ramah
'Aku tau dia adalah laki-laki mata duitan dan haus dengan pengetahuan tetapi bukankah senyuman yang ditunjukkan ini sanga menyeramkan?' ucap Asha di dalam hatinya dengan tatapan ngeri dengan laki-laki di depannya
"Humm soal itu kita bicarakan nanti,"
"Kamu urus anak ini, didik dia di menara sihirmu,"
"Karena dia memiliki potensi yang sangat besar dalam menggunakan sihir," ucap Asha sambil menatap ke arah Edith untuk tetap percaya diri
Dari atas kebawah pandangan laki-laki di depannya terlihat dia sedang menilai layak atau tidaknya Edith untuk menjadi salah seorang murid dari menara sihir. Asha yang merupakan teman atau partner dalam bekerja dalam mengembangkan alat sihir tentu saja laki-laki itu akan membuat banyak pertimbangan untuk memasukkan ke menara sihir dengan mudah.
Karena laki-laki itu adalah salah satu tetua akademi dan pilar menara sihir jadinya semuanya mudah untuk di atur untuk Edith.
"Baiklah, aku juga merasakan aliran mana yang kuat dan besar darinya,"
"Aku akan berbicara dengan para master dan pilar menara lainnya untuk masalah masuknya dia ke menara sihir,"
"Aku pikir dia akan dimasukkan ke dalam divisi sihir murni, jadi bakatnya tidak akan sia-sia dan batu permata di menara sihir ini hanya ada sedikit, karena beberapa dari mereka menganggap kalau tidak akan mendapatkan uang jika kamu bekerja di sini,"
"Mereka tidak tau kalau di sini banyak menghasilkan orang-orang hebat," ucap laki-laki itu sambil menaikkan kacamatanya dengan senang sendirian
Kemudian pembicaraan Asha dan laki-laki itu fokus ke perencanaan alat sihir yang diminta, keduanya terlihat sangat santai dalam membicarakan pekerjaan sampai lupa kalau waktunya telah sore dan makan siang terlewat. Asha dan Edith kemudian di ajak makan siang langsung oleh laki-laki berkacamata itu di sebuah restoran milik menara sihir yang terkenal.
"Edith, kapan kamu ingin masuk ke menara sihir?"
"Karena kami sangat mengharapkan dirimu segera bisa belajar dengan sihir,"
"Bukan aku ingin menjadikan dirimu sebagai alat tapi jika sihir yang begitu besar terus di simpan di dalam tubuh tanpa di keluarkan maka itu bisa menyebabkan ledakan sihir,"
"Kamu bisa meratakan satu negeri ini,"
Canceled Duke's Engagement With Contact Fiancée
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments