Arka bersiap masuk ke lorong itu dengan senter di tangannya. Aku mengikutinya dari belakang. Ada sebuah tangga kayu yang cukup panjang menuju ke bawah. Namun ada juga jalan lurus yang cukup sempit. Jadi kami harus merangkak untuk bisa melewatinya. Sepertinya ini adalah lubang angin yang sengaja dibuat.
.
"Kita berpencar aja!" usulku saat melihat Arka ragu, apakah harus lurus atau turun ke bawah.
.
Arka menatapku tajam.
"ENGGAK! Mana mungkin aku bisa pisah sama kamu! Nanti kalau kamu kenapa napa gimana coba?" tukas Arka serius.
.
"Tapi, Ka. Buat mempersingkat waktu. Biar aku lurus. Kamu ke bawah. Gimana? Kita terus saling kasih kabar," kutunjukan ponsel.
.
Arka diam beberapa saat, aku segera meraih ponselnya dan melakukan panggilan.
.
"Udah, kan? Sekarang kita lanjutin misi ini." kataku lalu hendak merangkak ke lorong didepanku.
Arka menahan tanganku lalu dengan cepat menangkupkan tangannya diwajahku.
.
Cup!
.
Sebuah benda kenyal menempel dikeningku. Lembut. Basah. Dan wajahku menghangat.
.
"Kamu jaga diri, kalau ada yang aneh, langsung balik lagi. Jangan nekat!" pesan Arka.
.
Wajahnya yang kini sangat dekat dengan wajahku membuat tubuhku kaku. Kini wajah Arka makin dekat dan semakin dekat. Hingga nafasnya dapat dengan mudah kurasakan. Kini bukan hanya nafas kami yang saling bertautan, bibir kami pun berpagutan. Dia menciumku lembut. Dan aku pun ikut larut dalam suasana ini.
.
'Yasmin, bego!'
.
Seketika kulepaskan ciuman Arka. Dan mengerutkan kening menatapnya. Dia malah tersenyum lalu membelai kepalaku lembut.
.
"Kamu ih!" ungkapku sedikit kesal.
Kesal dan eum... Senang sih. Astaga!
Yasmin bego!
.
"Maaf, Yas. Ya udah aku jalan dulu. Kamu hati-hati." Arka mulai turun perlahan ke bawah. Ponsel ada ditangan kirinya sementara senter ditangan kanannya.
.
Aku pun bangkit dari lamunan panjang yang sedikit memabukkan barusan. Lalu merangkak ke lorong di depanku. Berkali kali aku menggeleng gelengkan kepala jika bayangan Arka menciumku barusan muncul dikepalaku. Dan berkali kali juga kupukul kepalaku dengan senter.
.
"Yas, jangan mukul mukul gitu. Sakit ih," ucap Arka dari balik telepon.
.
"Is... Auk akh. Kamu nemuin apa?" bisikku sambil fokus melihat sekeliling, yang sekarang aku berhenti dia depan sebuah pintu.
.
'Ini pintu kemana yah?' gumamku.
.
"Pintu?" tanya Arka.
.
"Iya, Ka. Pintu. Sebentar," kuamati sekitarku dan sepertinya ini kamar Mama dan Papa.
.
Kriiieeet.
.
Saat kubuka, rupanya ini lemari pakaian Mama. Kusempatkan mengintip ke dalam. Hening. Kedua orang tuaku belum juga kembali.
.
"Yas ...." panggil Arka.
.
"Kenapa, Ka?" tanyaku heran. Dan saat itu juga, pintu kamar Mama terbuka.
.
Kututup mulu rapat rapat sembari melihat orang itu masuk.
Bu Lastri? Ngapain?
Bu Lastri mengamati seluruh ruangan lalu matanya terhenti padaku! Aku mundur dan keluar dari lemari dan kembali ke lorong tadi.
.
Kraatak Krataaak!
.
Di samping kiriku, terlihat bayangan seseorang merangkak mendekat. Oh tidak! Aku tidak tau apa itu. Karena sekarang dia merayap didinding dan terus berputar di sepanjang lorong gelap ini. Senterku tidak mampu melihat jelas siapakah sosok di depan.
.
"Ka ... Arka, itu apa?" gumamku dengan terus membulatkan mata sambil menahan nafas.
.
"Yasmin! Balik ke kamar sekarang!" teriak Arka.
.
"Ii... Iya ...." sahutku ragu.
.
Aku segera bergerak dan merangkak kembali ke kamar. Suara nafas makhluk itu terdengar jelas di belakangku. Kupercepat gerakanku tapi tiba- tiba, rambutku dijambak kasar. Hingga aku terjungkal ke belakang. Makhluk itu kini ada diatasku. Tetesan liurnya membasahi tubuh dan wajahku. Menjijikan.
Sekilas aku melihat wajahnya, dia manusia hanya saja seluruh tubuhnya dipenuhi luka dan benjolan. Penampilannya berantakan. Rambut putih panjang dengan keriput ditubuhnya. Benjolan itu seperti nanah. Kini dia turun dan duduk diatasku. Nafasku hampir habis karena dia mencekik leherku. Tapi tiba tiba... Dia mengerang kesakitan lalu merangkak menjauhiku dan hilang diujung lorong gelap sana. Sekilas ada sebuah anak panah menancap di punggungnya.
.
Saat aku melihat ke depan, rupanya ada seseorang dengan posisi jongkok sedang menggenggam busur panah. Senyum dinginnya yang khas mampu membuatku bernafas lega.
.
"Arkana ...."
.
Kakiku ditarik olehnya, dan aku pasrah dengan memejamkan mata. Badanku lemas sekali.
.
Hingga saat kubuka mata, aku sudah ada di ranjang dengan, Arka di sampingku.
.
"Kamu nggak apa apa, Yas?" tanya Arka gugup. Dia terus menggenggam tanganku lalu membelai kepalaku lembut. Di belakangnya ada Joe sedang menyilangkan tangannya didepan.
.
"Aku kenapa?"
.
"Kamu pingsan di lorong tadi. Kamu ngeliat apa?" tanya Arka cemas.
.
.
Aku diam sambil menatap Arka dan Joe bergantian. Lalu kuceritakan semua yang kualami tadi.
.
"Pasti ruangan dibawah tadi sarangnya!" tutur Arka serius.
.
"Sarang?" kutatap Arka dan Joe bergantian.
.
"Aku nggak tau, yang kita hadapi sekarang, manusia atau bukan. Tapi, memang sarangnya di bawah." ungkap Joe dingin.
.
"Kok Joe ke sini?" tanyaku dengan menatap Arka.
.
"Tadi aku kabarin dia, karena aku pikir di rumah kami ada setannya. Dia kan pakar setan!"
.
Plaaak!
.
Kepala Arka dipukul Joe. Joe mendekat lalu duduk dipinggir ranjangku.
.
"Kamu tau, gimana bentuk makhluk yang kamu lihat tadi, Yas?"
.
"Hm ... Aku pikir dia monster, Joe."
.
"Mungkin dia perpaduan setan sama orang kali?" sahut Arka santai.
.
Joe meliriknya sinis.
"Sementara, kamu jangan disini. Kalaupun kamu disini, kita harus temani." tutur Joe.
.
"Eh Nita gimana?" tanyaku karena seketika mengingatnya
.
"Udah mendingan, besok balik kok. Mamanya yang nunggu di Rumah sakit," kata Joe lebih santai.
.
"Eh, mungkin gak sih, Bu Lastri ada hubungannya ?" celetuk Arka.
.
Aku pun langsung teringat saat didalam lemari baju Mama. Bu Lastri masuk kamar Mama dan seperti mencari sesuatu hingga matanya tertuju padaku. Dia seolah menyadari aku ada didalam lemari.
.
"Bu Lastri emang aneh. Sejak aku pindah, aku kurang suka sama dia. Dia mengerikan," ungkapku.
.
"Dan, lebih baik, kamu ke kantor polisi untuk melaporkan orang tua kamu yang hilang, " kata Joe.
.
"Ngapain sih, Joe!"
.
"Mungkin aja, emang orang tua kamu bukan terjebak di rumah ini, tapi ditempat lain?" kata Joe.
.
"Tapi," kataku ragu.
.
"Kita juga harus bikin alibi, Yas. Aku yakin Bu Lastri tau apa yang terjadi. Tapi, kita harus meyakinkan dia kalau kita belum menyadari hal ini. Sambil kita selidiki dia pelan pelan." kata Joe yakin.
.
"Ya udah, nanti malem aku tidur sini. " kata Arka semangat.
.
"Aku juga!" sahut Joe.
.
Arka meliriknya tajam, sementara Joe dengan santainya pergi ke balkon sambil meletakan ponsel di telinganya.
.
"Hallo ...."
.
'Tunggu! Arkana mana?'
.
Kuedarkan pandanganku ke sekitar, namun tidak kulihat dan kurasakan. Akhirnya aku berjalan menuju ruang pakaianku. Mataku terus mencari keberadaannya. Barang kali dia ada di sudut kamarku yang lain.
.
Kosong.
.
Aku yakin tadi itu Arkana yang menolongku.
"Yas," bahuku ditepuk Arka.
.
Aku menoleh dan menatap kosong padanya.
"Kamu nyari apa?"
.
"Hm, nggak ada kok, yuk balik. Aku laper, " kataku lalu menggandengnya keluar.
.
Joe baru saja selesai menelpon lalu menatap kami sambil mengulum bibirnya.
.
"Napa lu!" tanya Arka risih ditatap begitu oleh sahabatnya.
.
"Kayaknya ada hal yang terlewat deh, yang nggak kalian ceritain," sindir Joe yang seolah olah tau sesuatu.
.
"Apaan! Sok tau lu," tukas Arka sambil memakai jaketnya.
.
"Yakin?" sindir Joe terus terusan.
.
"Tau ah! Gue mau cari makan, Yasmin laper!" ketusnya lalu keluar dari kamar. Dan menutup pintu rapat rapat.
.
Joe tertawa lalu menatapku yang terkesan meledek seperti Arka barusan.
.
"Apa sih, Joe?" tanyaku pura pura tidak paham.
.
Pintu kembali dibuka, menampilkan kepala Arka dibaliknya.
"Yas, bentar ya, tunggu. Ada Joe inih," ucapnya lalu kembali menutup pintu.
.
"Cieee ...." ledek Joe kembali.
.
"Is ...." kutenggelamkan tubuh serta wajahku dibalik selimut. Sementara Joe duduk disofa sambil memainkan laptopnya.
.
Kusentuh bibirku, lalu tertawa tertahan.
Astaga, Yasmin gila.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
kamu sudah terlewat banyak Joe
2023-04-03
1
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
jangan2 ini Arkana lagi
2023-04-03
1