Ranjang yang kududuki bergerak gerak. Makin lama makin kencang. Saat aku ingin turun, ranjang ini malah berputar kencang. Dan aku pun terlempar jatuh ke lantai.
Bug!
Sesuatu mulai bergerak dari kolong. Sebuah tangan hitam dengan kuku kuku panjang.
"Ya ampun! " pekikku panik.
Aku mundur mundur dan berlari menuju pintu.
Klek
Klek
Klek
Pintu terkunci!
****!!
Kurapatkan tubuhku menempel pada pintu. Kini, tangan itu mulai terlihat jelas. Bahkan tubuhnya mulai nampak. Rambutnya terurai panjang dengan pakaian putih kusam. Dia terus merangkak mendekatiku. Aku pun terus menghindar. Lalu berlari ke arah balkon.
Karena panik, aku melangkahkan kakiku dan turun perlahan dari atas. Berbekal pegangan plafon dan pipa pipa yang menempel di tembok, aku terus turun dengan tergesa gesa.
Tap!
Tiba tiba makhluk itu mulai mengejarku sampai ke sini dia pun mulai turun dengan mudahnya, bagai cicak yang merayap pada tembok. Gerakannya gesit. Dan tiba tiba wajahnya sudah tepat ada di depan wajahku.
"Aaaarrrghhh!! " teriakku keras. Pegangan pun terlepas. Dan ...
Bug!
Aku terjatuh membentur paving beton di halaman.
"Aaawww!" erangku lalu memegangi kedua siku-ku yang sepertinya juga terluka. Makhluk tadi menatap dingin padaku lalu menyeringai. Dengan tenaga yang masih tersisa aku berlari tanpa mengenakan alas kaki. Berusaha pergi sejauh jauhnya.
Sampai di jalan raya, keadaan sudah aman pikirku. 'Dia' tak lagi terlihat mengikutiku. Aku berjalan dengan meringis menahan sakit di sekujur tubuhku.
Hingga ...
Bruuuughhh!!
***
Sebuah mobil sedan merah melesat cukup kencang dan berhasil menabrakku hingga aku jatuh terguling di aspal jalan. Alhasil tubuhku yang sudah terluka makin bertambah goresan nya. Tak lama, seorang pria berlari dengan terburu buru menghampiriku.
"Maaf... Maaf..., " ujarnya merasa bersalah. "Loh! Elo! " pekiknya.
Suara yang tidak asing, pikirku.
"Yaaaaah, Arka kamvret! Kali nyetir yang bener napa sih! Nih gue luka! Bego banget elo tau! " maki ku sambil memukuli nya pelan.
"Eh eh eh... Mak! Woles napa! Elu sih, jalan ketengah aja. Kan gue gak liat. Gelap! " omel Arka balik.
"Arkaaaaaaa! Jahaaaaat! Sakiiiiit" rengekku manja.
"Eh... eh... Maaf... Maaf... " kata Arka tak enak. Lalu dia menatapku tajam.
"Elo kenapa sih? Kok berantakan gini? Ini karena gue tabrak tadi?" tanya Arka cemas.
Kupegangi wajahku sambil sedikit meringis menahan sakit.
"Bukan kok. Sebelum kamu tabrak juga udah gini bentuknya. Hehe" kataku diiringi senyum menutupi semua rasa sakit dan takut yang masih kurasakan.
"Yas... Kenapa sih?" tanya Arka heran melihatku.
"Hah? Apanya yang kenapa sih?" tanyaku balik sambil celingukan mengamati keadaan sekitar.
Arka diam beberapa saat.
"Ya udah, gue anter pulang. Udah malem nih. Nggak baik cewek keluyuran malem- malem" ajak Arka lalu menggandengku begitu saja.
Kutahan tangannya. Dia pun menoleh.
"Kenapa? " tanya nya heran.
"Gue nggak mau pulang kerumah. " jawabku lantang.
Arka mengerutkan kening.
"Nape lu? Kabur dari rumah? Kagak dikasih uang jajan? " terka Arka sok tau.
"Cih... Apaan sih Arka! Udah ah! Sana kalau elo mau balik. Gue bisa sendiri. " jelasku lalu hendak pergi dari hadapannya.
"Tunggu! " Arka menahan tanganku dan membuatku kembali menoleh padanya.
"Apalagi?" tanyaku yang mulai jengah.
"Elo mau kemana? "
"Kemana aja deh! " sahutku sambil menarik nafas panjang.
"Kerumah Nita?"
"Hmm... Enggak ah. Udah malem. Ganggu. Paling tar nyari hotel aja deh. " jawabku enteng.
"Hotel?" tanya Arka setengah meledek.
"Kenapa?"
"Elo yakin mau nyari hotel dengan kondisi loe yang gini?" tunjuk Arka ke arahku.
"Emang kenapa?"
"Yang ada elu bakal diusir. Dikira gembel. Lagian emang elu ada duit?" tanya Arka lagi.
Aku diam.
Benar juga, aku tadi pergi dengan tergesa- gesa. Jangan kan uang, alas kaki pun aku lupa memakainya.
Kujambak rambutku sendiri sambil melihat sekeliling. Berharap ada petunjuk, dimana aku harus tidur malam ini.
"Ya udah yuk. Ikut gue! " ajak Arka kembali menarik tanganku menuju mobilnya. Aku pasrah dan hanya diam sepanjang jalan.
"Ngomong- ngomong, elu kenapa sih? Abis kerampokan?" tanya Arka yang masih penasaran. Sambil sesekali melirik padaku namun tetap fokus menyetir.
"Bukan. " jawabku pelan.
"Terus?"
"Gue ketemu setan dirumah" jawabku sekenanya.
"Pffffttt... Hahahahaha..., " tawa Arka meledak begitu saja.
"Is... Kampret emang lu! " makiku dengan nada suara pelan. Aku malas berdebat. Aku juga malas berkelahi dengan nya. Aku benar benar, lelah.
Kupandangi jendela samping kiriku dan menyilangkan kedua tanganku didepan. Tak kuhiraukan lagi kalimat Arka yang terus meledekku.
'Coba kalau tu setan ngikut yah. Rasain lu, Ka. ' batinku kesal.
Buuug!
Ada sesuatu terjatuh diatas mobil. Kami berdua diam lalu saling pandang. Jantungku kembali berdegup kencang.
"Ka... Itu apa?" tanyaku sambil menatap atas kami.
"Eum... Ranting pohon mungkin. Udah, nggak apa- apa. " jawab Arka santai.
Dug!
Dug!
Dug!
Suara itu makin mendekat dan kini berada tepat diatas kami berdua. Arka melirikku.
"Kucing kali yah? Biar gue turunin deh " ujarnya lalu menepikan mobil.
"Eh, Arka! Jangan! Mending terus jalan aja deh. Tempat ini sepi banget liat tuh kebun semua. " suruhku.
"Kasian tu kucing, Yas. Tar jatuh kelindes kan mati. " jawab Arka lalu menepi dan mematikan mesin mobilnya.
"Arka! Arka! Jangan, Ka! " larangku.
Tapi Arka tetap akan turun, tapi sebelum turun aku bersikeras menahannya.
"Tunggu, Ka! Please... Jangan. Gue takut 'dia'... Makhluk yang ada dirumah gue. "
"Hah? Setan yang elo bilang tadi? Jadi dia ngikutin elo sampe sini? Gitu? "
Aku mengangguk cepat.
"Pppffffttttt... Hahahaaha" Arka kembali tertawa lebar.
Kemudian ...
Tap
Tap
Tap
Sesuatu, lebih tepatnya seseorang, perlahan turun dari atap mobil. Dari arah kaca depan, benda hitam turun makin lama makin banyak. Sebuah rambut panjang yang perlahan menutupi hampir seluruh bagian kaca depan mobil. Arka dan aku melotot.
"Arka ... Jalan, Ka! " suruhku dengan berbisik. Perlahan Arka meraih kunci mobil yang masih menempel.
Kini rambut panjang itu mulai menunjukan wajahnya. Kepalanya mulai terlihat. Wajahnya putih pucat, dengan bola mata berwarna merah menyala, bibirnya robek hingga sampai telinga, sehingga barisan gigi gigi taringnya nampak jelas. Kulitnya melepuh dan mengeluarkan cairan dimana mana.
"Arka... " panggilku sambil kucengkram lengannya. Arka diam dan masih terus menatap mata merah menyala itu.
"Arka... " panggilku lagi. Dan belum ada reaksi apapun dari nya.
"ARKA!!! " Teriakku yang sudah tidak tahan lagi.
Arka menoleh dengan gugup. Seperti orang bingung.
"JALAN!! " Kataku lagi.
Dengan cepat Arka menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobil dengan cepat.
Breeeem!
Ciiiiiit!!
Bunyi decitan ban mobil terdengar cukup keras. Mobil melaju kencang. Bahkan aku sampai menutup mataku karena takut. Arka terus menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.
Berbelok kekanan dan kekiri, kadang menukik tajam karena makhluk ini masih menempel di atas mobilnya.
Hingga saat sampai belokan yang cukup curam, Arka lupa mengerem dan...
Byuuuur!
Kami masuk kesebuah danau yang ada diujung jalan ini. Mobil makin lama makin tenggelam. Arka berusaha membuka pintu sampingnya. Sementara aku terus memukul mukul kaca mobil. Aku takut tenggelam. Karena aku tidak bisa berenang.
Brakk!
Braak!
Braak!
"TOLONG!! " teriakku kencang.
Perlahan air mulai masuk dan entah kenapa pintu tidak bisa terbuka.
Hingga tak terasa air sudah mencapai dada. Aku makin ketakutan, panik dan terus berteriak. Arka menendang pintu tanpa kenal lelah.
Dan... Braaak!!
Pintu berhasil terbuka. Air pun makin naik. Entah sudah berapa banyak air danau yang ku minum. Semua terasa blur. Pandanganku makin tertutup air. Namun, kulihat Arka sudah ada di depanku.
\=\=\=\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Kira2 kenapa ya kok Yasmin ya yang di Teror terus🤔
2024-04-29
0
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
ya ampun.. Yasmin kesurupan lagi kah
2023-04-03
0