"Yuk ...." ajak Nita lalu segera menyeretku agar mengikutinya. Beberapa kali orang-orang berlalu lalang melewati kami dengan tatapan kagum. Nita memang cantik. Jadi tak heran banyak mata memandanginya tanpa kedip. #pengen muntah sebenernya, Mak. Ngetik ini. Kagak rela. 🤢
"Ke ruang guru dulu nyok, Beb." ajaknya. Sebenarnya bukan sebuah ajakan tapi pemaksaan. Dia seenaknya saja menarik tanganku kesana kemari. Tapi, kali ini aku menurut saja, karena aku memang tidak tau harus apa dan bagaimana sebagai siswi baru.
Kami sampai di depan sebuah ruangan yang cukup besar, ada papan berbentuk persegi panjang kecil diatas pintu, 'KANTOR GURU'
"Eh ... Mih. Aku cariin juga. Kemana sih?" tanya seorang siswa ke Nita.
Wajahnya lumayan sih, tapi kok songong banget ya rasanya ni cowok.
"Ini aku nganterin temen yang kemaren aku ceritain loh, Pih." jawab Nita santai.
Wait! Pih? Mih?
Bujug buset, masih SMA manggilnya udah begitu. Ah, sepertinya ini pacar Nita, yang sering dia ceritakan padaku.
Laki-laki itu menoleh padaku.
"Oh elu ya, yang anak baru itu? Kenalin gue Irfan, pacar sahabat elu." jelasnya sambil merangkul Nita.
"Gue, Yasmin."
Lalu ...
Bug!
Rangkulan Irfan terlepas karena seseorang menabrak mereka berdua dengan kasar.
"KALAU MAU PACARAN, JANGAN DISINI!!" bentaknya kasar.
"ELU RESE YAH! " sahut Irfan tak kalah emosi.
"Arka, udah Ka ... Udah. Yuk," kata seorang pria berkaca mata di sampingnya sambil mencoba melerai mereka. Namun, sekilas kulihat dia melirik ke Nita.
"APA LOE?!" teriak Arka ke Irfan.
Aku tidak tau, ada masalah apa diantara mereka berdua. Pria berkaca mata itu terus menarik Arka menjauh.
"Elu sirik aja kan sama gue. Halah ... Ngaku aja!" ujar Irfan saat Arka sudah agak jauh. Rupanya, Arka mendengar perkataan Irfan lalu dia menoleh ke Irfan dan segera menghampirinya.
"ARKA!! WOI!! WADUH!" ucap pria berkaca mata tadi sambil mengacak acak rambutnya karena Arka terlepas dari genggamannya, dan sekarang berjalan mendekati Irfan.
Bug!
Satu pukulan telak mengenai rahang Irfan. Nita berteriak histeris. Irfan yang mencoba membalas malah kembali terkena pukulan bertubi- tubi dari Arka.
"Joe!! Tolongin dong!!" mohon Nita ke pria berkaca mata itu.
'Oh jadi namanya Joe' batinku.
Joe berlari mendekat dan berusaha melerai mereka. Dan, alhasil guru- guru yang berada di dalam ruangan berbondong - bondong keluar karena keributan ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Kini, kami berlima ada di ruang kepala sekolah. Aku duduk di samping Nita, di sebelah kananku ada Arka dan Joe, di sebelah kiri Nita ada Irfan. Arka dan Irfan sama sama memegangi wajah mereka yang lebam karena perkelahian tadi.
"Kalian itu maunya apa? Berantem terus! Nggak bosen? Mau jadi apa kalian ... Bla bla bla." nasihat pria berambut putih berpenampilan rapi dan terlihat berwibawa.
"Dan, KAMU ARKA! MAU JADI APA KAMU? BIKIN MALU AJA!" Bentak nya ke Arka. Arka hanya diam dan melihat ke luar jendela seolah tidak menggubris perkataan Bapak Kepala sekolah tadi.
"Kamu!" tunjuk Pak Heri padaku.
"Eh, iya Pak." jawabku agak terkejut.
"Anak baru ya?" kata Pak Heri lagi.
"Hooh, Pak." jawabku agak bingung.
"Nama kamu siapa?" tanya Pak Heri sambil mengambil sebuah map biru dari mejanya.
"Yasmin, Pak."
Arka berdiri dan akan bersiap keluar ruangan.
"Eh ... Tunggu Arka! Siapa yang suruh kamu pergi! Duduk lagi!" kata Pak Heri tegas.
Dengan malas-malasan Arka kembali duduk sambil mendengus sebal.
"Ya sudah, kalian balik ke kelas sana ... Itu, Irfan beresin dulu mukanya ya, Nit. Obatin." suruh Pak Heri.
Nita lalu keluar bersama Irfan. Joe menatap nanar mereka berdua. Lalu pamit ke Pak Heri untuk kembali ke kelasnya. Pak Heri beralih ke Arka yang bersikap malas malasan.
"Yasmin, kamu satu kelas sama Arka. Nanti bareng dia aja ya, biar dia tunjukin kelas nya."
"Ck ... Ya udah yuk ah, balik kelas!" ajak Arka lalu menarik tanganku keluar tanpa memperdulikan Pak Heri yang geleng geleng kepala.
Arka terus menggandengku keluar melewati koridor sekolah. Suasana sekolah sudah sepi. Sepertinya mata pelajaran pertama sudah dimulai.
"Pindahan dari mana?" tanya Arka datar.
"Jawa."
"Oh. " jawabnya sambil memegangi pipinya yang lebam.
"Tunggu!" kataku sambil menahan tangan nya yang sedari tadi menggandengku.
Arka berhenti lalu menoleh dengan malas malasan. "Apa?"
"Bentar!" kukeluarkan tissue basah dari dalam tasku. Lalu kutarik tangannya agar duduk di kursi panjang yang ada di koridor.
"Ngapain sih?" tanyanya ketus.
"Bersihin dulu tuh muka. Kotor, kena debu, kena darah. Nanti infeksi!" kata ku sambil mengelap wajahnya perlahan.
Dia diam dan pasrah saja. Saat aku membersihkan wajahnya, aku merasa Arka sedang terus menatapku. Aku meliriknya, reaksinya lucu menurutku.
"Hah? Apa?" tanyanya sambil menaikan alisnya keatas.
"Lah kamu, ngeliatin mulu. Kenapa?"
"Pede amat sih? Ayuk ah!" dia lalu beranjak dan berjalan agak cepat.
"Arkaaaaaa! Tungguiiiin." rengekku sambil kepayahan mengejarnya.
Arka terus berjalan cepat menuju kelas dan aku pun mengikutinya. Tapi Arka mendadak hilang di ujung koridor.
"Haduh, mana yah kelasnya. Arka cepet banget sih jalannya. "Gumamku.
Disamping kananku ada seorang siswi yang sedang duduk sendirian dengan buku pelajaran dipangkuannya.
"Maaf mba, kelas 2-5 dimana yah? " tanyaku berusaha sopan.
Di menunjuk ke arah samping kanannya dengan wajah tetap tertunduk.
"Oh di sana? Makasih ... " ucapku lalu berjalan ke arah yang dia tuju.
Hingga sampai di ujung koridor, aku hanya menemui gudang kotor. Aku pun celingukan kesana kemari.
"Loh, Mba ...." ku toleh ke tempat perempuan tadi duduk, karena letak gudang searah dengan dia tadi. Namun, tidak ada siapapun disana. Mungkin sudah masuk kelas, pikirku.
Sepertinya aku dikerjai olehnya. Hingga aku tersesat begini.
Dug
Dug
Dug
"Tolong ...." rinting seseorang dari dalam gudang.
Karena penasaran aku mendekati gudang dan melongok ke jendela. Tapi karena sulit terjangkau, aku tidak bisa memeriksa ke dalam. Ku putar handle pintu untuk membukanya.
Klek!
Aneh. Kenapa mudah sekali terbuka. Lalu kenapa orang tadi minta tolong.
"Permisi ...." sapaku masih di depan pintu.
"Tolong ...." suara ini lagi.
"Siapa ya? Kamu dimana?" tanyaku lalu mulai melangkahkan kakiku masuk kedalam.
Lalu seseorang menepuk bahuku.
"Elu ngapain disini sih? Gue cariin juga! Ayok ke kelas!" kata Arka mengagetkanku.
"Eh itu, Ka." kataku sambil menunjuk ke dalam gudang.
"Apaan?"
"Ada orang didalem."
"Hah? Orang? Yakin? Ngigo ah. Yuk balik kelas." ajak Arka sambil menarik tanganku.
"Eh, tunggu! Ada orang minta tolong! Liat dulu dong Arka. Kasian." pintaku.
Arka menarik nafas panjang lalu menoleh ke dalam gudang.
"Siapa sih di dalem? Jangan ngerjain ya! Keluar ga Lo!" kata Arka.
Bug!
"Aduh ... Sakit! Apaan sih elu!" omel Arka karena kusikut perutnya.
"Jangan kasar kasar napa sih jadi orang!" omelku balik.
"Bawel lu! Lagian mana ada orang di sini. Ngaco deh. Setan kali!" katanya ngasal.
Braaak!
Kursi yang ada di dalam mendadak jatuh. Kami saling pandang. Arka langsung menarik tanganku pergi.
"Gila! Setan! " makinya lalu sedikit berlari kecil.
"Setan?" tanyaku.
Dia diam saja sambil terus menggandengku sampai ke kelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Si Arka Sok2'an tapi takut juga sama Saiton,cemen kamu Arka🤣🤣
2024-04-29
0
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
Arka saingan keknya nih sama Irfan,
2023-04-02
0
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
😅😅😅
2023-04-02
0