"Loe yakin ini tempatnya, Nit? " tanya Joe sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kami.
Saat ini kami ada di pelataran parkiran sebuah mall.
"Iya, ini bener! " sahut Nita antusias sambil menatap layar pipih ditangannya. Rupanya dia melacak keberadaan Irfan dengan aplikasi yang aku tidak tau apa. Dan petunjuk itu berakhir disini.
"Masuk! " seru Nita dengan menaikan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
Kami mengikutinya masuk. Ramai. Yang kami lakukan, hanya mengikuti kemana Nita berjalan. Hingga sampai disebuah panggung dengan beberapa wanita yang memakai gaun - gaun cantik.
'Ini para modelnya nih. Cakep- cakep bener ya Allah' gumamku dalam hati.
"Itu dia! KAMPRET!!! " umpat Nita dengan nafas memburu dan tatapan tajam menuju ke ujung sana.
"MAK!! Kemana? " teriakku karena kini Nita berjalan cepat ke arah seseorang yang familiar bagi kami.
IRFAN!
"Gawat! Ngamuk si Nita! " ungkap Arka lalu menyeret Joe agar mengikutinya.
Aku pun mengekor mereka karena pasti Nita akan membuat keonaran disini.
Plaaaaak!
Sebuah tamparan keras melayang di pipi Irfan.
"BRENGSEK LOE YA! ENAK - ENAKAN PACARAN DISINI! " teriak Nita.
"Mih, dengerin dulu! " bela Irfan sambil memegangi tangan Nita.
Namun berkali- kali ditepisnya tangan itu. Air mata Nita sudah mengalir deras. Aku, Joe dan Arka hanya bisa diam sambil berusaha menenangkan Nita yang sudah diliputi emosi menggebu- gebu.
"ELO!! CEWEK GAK TAU MALU! NGAPAIN LOE DEKET-DEKET COWOK GUE! DIA INI .... " tunjuk Nita ke arah Irfan, "DIA COWOK GUE! NGERTI LOE! " teriak Nita dengan suara melengking hingga menarik perhatian semua orang di tempat ini.
"Beb ... Udah ih, " bujukku dengan memegangi Nita yang terus maju mendekati wanita berpakaian merah maroon itu.
"Lepasin, Beb! Biar gue cakar tu jablay! " maki Nita makin kemana mana umpatannya.
Wanita bernama Renika itu, hanya diam sambil menyunggingkan sebelah bibirnya ke atas. Bibirnya komat-kamit. Aneh. Lalu sekilas mata sesekali berubah menjadi hitam. Bola matanya!
Beberapa kali ku kedipkan mata, berfikir aku salah lihat. Tapi memang benar, bola matanya, beberapa kali berganti hitam, jika berkedip lagi, berubah kembali putih.
"Kerasukan!" gumam Joe pelan, namun dapat kudengar jelas.
"Kerasukan?" tanyaku memperjelas ucapan Joe.
Joe mengangguk yakin. Nita makin mendekat, tangan kanan nya dilayangkan ke arah Renita. Namun, ditahan nya oleh Renika dengan senyuman licik. Nita mengerang kesakitan.
"Aw! Panas! " erangnya lalu melepaskan tangannya dari Renika.
Renika tersenyum puas.
"Mih! Kenapa! " Irfan mendekat dengan wajah cemas.
"Sayang .... " gumam Renika manja.
Seketika Irfan berbalik ke Renika dan membiarkan Nita begitu saja. Renika bergelayut manja pada lengan Irfan lalu mengajaknya pergi.
Dan saat Renika berbalik, kulihat lagi matanya berubah hitam dalam hitungan detik kembali putih. Aku bergidik ngeri. Kutarik tangan Nita dan segera keluar dari tempat ini.
"Udah lah, Beb. Nggak usah diurusin lagi tuh cowok kamvret! Heran deh, Gue! Apa Bagus nya sih dia? Jelas- jelas ada yang lebih Bagus segala- galanya! " omelku mondar mandir didepan Nita yang masih menangis.
Seketika dia mendongak, "maksud loe? Siapa? " tanyanya polos.
"Pea! " umpatku lalu kutinggalkan dia bersama dua pria itu.
Masuk ke sebuah minimarket pinggir jalan membeli beberapa minuman dingin dan cemilan.
Kulihat dari kejauhan Joe berusaha menenangkan Nita. Tangisnya pun makin reda. Meninggalkan hidung merah dan mata sembab.
"Ini aja, Mba? " tanya petugas kasir dihadapanku.
"Oh iya, mba. Itu aja, " sahutku agak terkejut karena aku sedikit melamun tadi.
Petugas kasir itu mulai men-scan barang- barang yang kubeli. Sambil menunggu, kuedarkan pandanganku ke sekeliling minimarket ini. Kebetulan pengunjung sedang sedikit. Beberapa rak dihadapanku mampu mengalihkan perhatianku. Terutama rak paling kanan.
'******? ' batinku sambil terkekeh.
Deg!
Tawa ku terhenti saat melihat seseorang disampingku. Kakinya agak pucat. Basah. Terdapat beberapa kulit yang mengelupas. Dan tanpa alas kaki.
Glek!
Beberapa kali kutelan ludahku sendiri. Badanku gemetaran. Ku fokuskan melihat petugas kasir saja. Dan anehnya, petugas kasir didepanku masih tenang dan santai dengan pekerjaannya. Seolah tidak terganggu dengan sosok disampingku.
'Mba ... Pembalut nya ada? ' tanyanya tanpa intonasi alias datar.
Petugas kasir itu terus diam, dia tidak mendengar rupanya. Kulirik ke sosok itu. Kini pandangan ku terus menyusuri nya. Hingga sampai ke lutut, kulihat darah mengalir dari kedua kakinya. Menetes deras dan semakin deras. Kepalaku pusing. Hingga perpegangan pada rak mainan anak didepanku.
"Mba, nggak apa- apa? " tanya petugas kasir itu cemas.
Ku tekan kepalaku dan tersenyum tipis sambil mengangguk.
Tanganku dipegang, "Yas? " suara seseorang disampingku membuatku sedikit terkejut.
"Arka? " tanyaku dan pandangan ku gelap seketika.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam ini aku menginap di rumah Nita. Karena insiden kemarin, mood nya sekarang kacau balau. Entah sudah berapa plastik makanan dia habiskan. Tissue berserakan dimana mana, bekas air mata dan ingusnya. Kamarnya bukan mirip kapal pecah lagi, lebih mirip kandang gorila. Ku usap punggungnya untuk memberikan semangat walau aku tau, itu percuma. Tangis Nita lebih kencang dari suaraku. Yah, setidaknya aku mengawasinya malam ini, agar dia tidak bertindak aneh-aneh.
Rumah Nita sepi, kedua orang tua nya sedang pergi keluar kota. Dan itu sudah biasa terjadi. Ayahnya seorang anggota dewan, jadi benar- benar super sibuk. Ibu nya juga pasti selalu menemani kemana pun ayah Nita pergi. Itulah tugas Ibu negara, biasanya begitu. 🙄 Seperti pepatah, 'dibalik pria sukses, pasti ada wanita kuat dibelakangnya. '
Pukul 22.30
Kami memutuskan akan menonton film di ruang tengah. Hobi kami adalah menonton film horor. Tengah malam adalah saat yang tepat menonton nya. Berbekal capucino latte dan beberapa cemilan, kami fokus menonton. Kadang berteriak, kaget, dan saling memeluk adalah reaksi kami akibat tontonan didepan.
"Beb, tissue dong," pintanya tanpa menoleh ke arahku. Hanya tangan kanan nya yang menjulur padaku, sedangkan tangan kiri nya memegangi hidungnya.
"Nih! " sodorku padanya.
"Makasih, Beb. "
Saat aku menoleh padanya, "MASYA ALLAH, BEB!! " pekik ku kaget.
Darah menetes dari hidungnya. Nita yang baru sadar mimisan lalu agak panik.
"Kok gue mimisan? " ujarnya heran.
"Pusing kagak? Sakit ya? Ya udah tidur aja, Beb." kataku agak panik.
"Sssshhh ... Kepala gue sakit, Beb. " erangnya sambil mencengkram kepalanya kencang.
Dia terjatuh kelantai dan berteriak kesakitan. Kemudian tak lama terdengar bunyi ledakan cukup keras diatap rumah. Seperti kembang api.
'Apa itu? ' batinku sambil memegangi Nita yang terus berteriak.
Aku panik. Nita kini memegangi perutnya. Sambil berteriak kesakitan. Lalu dia muntah. Memuntahkan cairan hitam dan beberapa benda aneh. Kasar. Aku tidak tau apa dan tidak berniat memeriksanya.
"Haduh! Ni anak kenapa sih? "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Maz Andy'ne Yulixah
Kayak nya dikerjain sama Renika nie,,oh ya kayak nya Yasmin punya Indra keEnam juga nie,soal nya bisa lihat mahkluk tak Kasat mata😬😬
2024-04-30
0
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
rupanya Renika pake pelet dan sekarang ngerjain Nita pake santet
2023-04-03
0
imah
waduh kena santet kah
2023-04-02
0