Sudah hampir satu jam mereka berdua pergi. Aku dan Nita mulai bosan.
"Lama banget sih mereka! " gerutu Nita lalu keluar dari mobil. Aku pun mengikutinya karena memang bosan terus menunggu.
"Susulin aja yuk, Beb! " ajakku.
Kami berdua akhirnya ikut masuk ke hutan mencari mereka berdua. Terus berjalan masuk kedalam hutan tapi tidak juga menemukan Arka dan Joe.
"Mereka kemana sih? " gumam Nita sedikit jengkel karena lelah berjalan jauh.
Aku malah berfikir, kami tersesat. Ingin rasanya kembali kejalan tadi, duduk manis saja di mobil, tapi rasanya sudah terlalu jauh kami berjalan. Hingga tak terasa kami melihat sebuah rumah besar. Kuhentikan langkahku dan terus menatap rumah yang tak jauh ada didepan kami.
"Beb, " panggilku ke Nita tanpa melepaskan pandanganku pada rumah itu.
Nita menoleh lalu ikut menatap rumah kosong itu. Yah, rumah besar yang ada ditengah hutan ini terlihat kosong tak berpenghuni. Lagipula manusia mana yang mau tinggal dirumah ini? Aneh juga, manusia mana yang kurang kerjaan mendirikan bangunan sebesar ini di tengah hutan. Nita menarik tanganku mendekat ke rumah itu. Dia fikir, bisa menemukan Arka dan Joe disana.
Rumah ini secara keseluruhan terbuat dari kayu dengan banyak jendela di tiap sisinya. Sampai di teras, kami melongok ke dalam rumah yang memang kosong. Aku malah ngeri berlama lama disini.
"Kayaknya mereka nggak ada disini deh, Beb. " ujarku. Agar Nita mau segera pergi dari tempat ini.
"Bentar, Beb. Kali aja mereka ada dibelakang nyari air. " saran Nita.
Sementara Nita melihat rumah ini, aku mengamati sekeliling. Mataku sedikit melotot ke arah belakang rumah. Dari samping nampak ada sebuah danau.
"Eh, ada danau, Beb!" seru ku sambil menunjuk samping rumah, karena memang terlihat ada perairan yang sepertinya agak luas. Hanya saja tertutup rumah ini sebagian. Nita pun ikut mendekat padaku dan sepertinya dia pun sependapat dengan apa yang ada difikiranku. Aku merasa Joe dan Arka tidak mungkin ada dirumah ini. Kami pun akan bertolak ke danau itu. Dan ...
Braaaaak!
Pintu rumah ini, terbuka dengan kasar. Seolah ada seseorang yang membantingnya keras. Aku dan Nita menoleh, kemudian saling lempar pandang. Dia mengerdikan bahunya keatas. Dan aku hanya geleng geleng kepala.
Saat aku mulai berjalan pelan menjauhi rumah itu, Nita malah berlari kencang.
"Sialan! " umpatku lalu ikut menyusulnya berlari.
Sampai didanau, kami mengambil nafas sebentar karena hampir saja kehabisan nafas akibat lari tadi.
Plak!
"Gila lu, gue ditinggalin! " omelku sambil memukul lengannya.
"Lagian, udah tau keadaan gitu, elu melongo aja. Kelamaan mikir lu! Keburu tu setan keluar, abis kita! PEA! " belanya sambil tersengal sengal karena nafasnya belum teratur.
Danau ini tidak begitu luas rupanya. Kami berdua terus mencari keberadaan dua pria yang sudah menghilang selama beberapa jam tadi.
"Gimana dong? " tanyaku.
"Hm, mending kita balik ke mobil aja yuk. Paling mereka udah di mobil. " ajak Nita.
"Tapi ... Jalan pulang tadi kemana ya, Beb? " sahutku sambil menatap lurus ke arah kedatangan kami tadi.
Nita menarik nafas panjang entah untuk yang keberapa kali. Dia terlihat bingung sama sepertiku.
"Kita coba aja yuk. " kata Nita lalu menggandeng tanganku pergi.
Kami kembali menyusuri jalan yang tadi kami lewat sebelumnya.
"Tenang aja, Beb, gue udah tandain jalannya pake ranting yang gue patahin. " ujarnya sedikit menenangkan ku.
"Alhamdulillah, jadi kita nggak nyasar deh. "
Kami terus berjalan melewati pohon demi pohon sesuai petunjuk yang ditinggalkan Nita. Beberapa kali aku merasa merinding, dan sesekali kutoleh ke samping kanan kiri dan belakangku. Aku menjadi lebih waspada jika sudah merasakan hal aneh seperti ini.
"Tunggu! " cegah Nita sambil memperhatikan sekeliling.
"Kenapa? "
"Kok patahan rantingnya banyak banget? " ucapnya. Perhatiannya terbagi ke segala arah. Dan memang patah ranting yang tadi dia buat malah makin banyak dan ada hampir ditiap pohon.
Sreeeak.
Sreeeak.
Kreeesh!
Bunyi itu terdengar nyaring disekitar kami. Aku makin mengeratkan peganganku pada lengan Nita. Nita pun terlihat ketakutan hanya saja dia mampu menutupinya.
"Mampus kita, Beb. Nggak bisa kabur lagi! " bisiknya sambil terus memperhatikan setiap gerakan disekitar kami.
Sreaaak!
Sreeaaaak!
Suara sesuatu yang diseret mulai terdengar mendekat. Dan perlahan, seorang pria berpakaian lusuh dengan menyeret kapak mulai mendekati kami. Kami mundur perlahan karena takut. Entah dia itu manusia atau hantu, yang jelas, dia tetap membahayakan apalagi dengan senjata tajam ditangannya. Semakin dekat, semakin jelas bentuk pria itu. Wajahnya kotor penuh darah, bajunya compang camping dan hampir dipenuhi warna merah, yang kupikir darah. Kakinya diseret. Semakin diperhatikan, ternyata wajahnya penuh luka, daging putih menyembul di beberapa sisi wajahnya. Hidungnya bahkan remuk. Dengan mata yang copot, hampir keluar semua dari rongga matanya.
Glek!
Berkali kali kutelan ludahku sendiri dengan jantung yang berdegup kencang, disertai keringat dingin yang terus mengalir didahi. Nita makin mencengkram tanganku. Kami terus mundur pelan, bersiap jika sosok didepan kami akan melakukan tindakan yang tiba - tiba. Lalu ...
"Aaaaaaahhhhhhgggg! " dia menjerit sambil melayangkan kapak ditangannya ke arah kami.
"Haaaaaaaaaaaa!! " teriak kami bersamaan lalu berlari menjauh.
"TOLOOOOONG! " Teriak kami sambil terus berlari. Sosok tadi masih saja mengikuti kami sambil terus menebaskan kapaknya ke pohon dan ranting yang menghalangi jalannya.
Buuuuug!
Aku tersandung akar pohon yang menyembul ke tanah, alhasil aku pun terjatuh ke tanah.
"YASMIIIN! " teriak Nita lalu berbalik membantuku berdiri.
"Aduh!" aku keseleo. Jangankan berlari, berdiri saja aku tidak mampu lagi.
"Ayok! Gue papah! " kata Nita sambil menarik tanganku agar berdiri.
"Enggak bisa, Beb! Sakit! Udah pergi aja sana. Cari Joe sama Arka! Buruan! " suruhku dengan terus mendorongnya.
"ENGGAK! LOE GILA YA! Mana mungkin gue tinggalin Loe disini! Ayo! Kita pergi bareng, Yas! " ajak Nita bersikukuh.
"Sakit. Nggak bisa berdiri gue, Beb! " ucapku putus asa.
Traaaash!
Sebuah dahan yang cukup besar jatuh tepat dihadapan kami. Dan sosok pria tadi sudah ada didekat kami. Dia menyeringai penuh kemenangan. Kepalanya berbunyi gemeretakan saat digerak gerakan, membuat nyali kami makin ciut. Aku terus berusaha mundur dibantu Nita. Dan saat dia melayangkan kapaknya ke arah kami, tiba - tiba.
Graaaaaaum!
Seekor harimau lompat dari belakang kami dan menerkam sosok pria tadi. Mereka terlibat perkelahian sengit. Harimau tadi menggigit leher pria itu. Dan makin lama mencabik cabik nya hingga beberapa potongan tubuhnya lepas dan tercecer ditanah. Ku palingkan wajahku karena jijik melihat hal itu. Hingga saat Nita menyikutku, baru aku melihat kembali ke depan.
Sosok pria iti hilang, tak bersisa. Hanya tinggal harimau tadi yang diam dengan posisi duduk sambil terus menatap kami.
"Beb. Kita bakal dimakan juga nggak yah? " tanya Nita.
Entah kenapa aku seperti mengenal harimau didepanku ini.
'Jalan terus ke arah barat. ' ucap harimau itu. Lalu mendekat sambil menyentuh kakiku. Nita mundur ketakutan.
"Arkana? " panggilku.
"Elo kenapa, Beb? " tanya Nita dengan terus menatap harimau itu.
"Iya, ceritanya panjang. Yuk, buruan pergi !" ajakku.
"Gue papah ya, " ucap Nita.
Pelan pelan, kami terus berjalan ke arah yang disebutkan Arkana. Dan ajaibnya kakinya sudah tidak terlalu sakit lagi.
"NITAAAAAA! "
"YASMIIIIIN! " teriak suara yang kami kenal. Joe dan Arka.
"JOEEEEE!! ARKAAAA! " teriak Nita sambil memapahku.
Dan dari kejauhan dua pria tadi pun sudah terlihat. Mereka langsung berlari menghampiri kami. Dan berbondong- bondong pertanyaan pun mulai mereka tanyakan sambil kami berjalan kembali ke mobil.
\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Khadijah Aisyah Syauqi
haduh...seyem deh...tp seru..lanjuut
2023-05-14
0
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
ya ampun.. jump scarenya banyak
2023-04-03
0
Sri Endah
ky difilm2 horor,terornya penuh bgt
2023-04-02
1