"Kesel gue sama Irfan deh, Beb! " umpat Nita yang nyelonong masuk kamarku sambil ngomel- ngomel.
"Bujug buset. Ngapa lu, Beb? " tanyaku yang melongo sambil terus memainkan game lempar pisau di ponselku.
"Irfan, Beb. Nggak ada pengertiannya sama sekali tau nggak. Santai banget hidupnya. Gue tuh berasa kayak pembantunya dia aja. Gue... Bla bla bla, " cerocosnya panjang lebar tak berujung.
Wajahku menegang, sambil terus memukul layar ponsel dengan jari telunjukku. "Aaaaah! Kalah! " umpatku sambil melempar ponsel ke atas bantal. Kesal. Akhirnya aku beralih ke pisang goreng di meja dengan terus memeluk boneka teddy bear kesayangan. Satu piring kuambil dan segera berjalan ke balkon kamar.
"Beb! Beb! Peaaaaaa! " teriak Nita geram.
Aku? Hanya berjalan santai melewatinya dan terus duduk di sofa di teras balkon. Tentu saja dengan melahap pisang goreng yang masih hangat. Nita langsung menghampiriku dan merebut piring milikku. "Apa sih, Beb! " omelku.
"Lu jahat deh, gue kan lagi curhat. Kok malah asik makan sih! Dengerin gak sih? " tanya Nita nyerocos terus.
"Yaelah, ya didengerin kok, Beb. Terus gimana. " tanyaku sambil meraih piring itu lagi.
Nita melanjutkan curhatannya. Sementara aku manggut- manggut dengan mulut penuh pisang goreng.
"Gimana menurut, Loe? " tanya Nita setelah beberapa saat.
Aku diam sambil mengunyah pisang goreng. " Renika siapa? " tanyaku dengan polosnya.
"Cewek yang lagi deketin Irfan oon!! Heran Oon lu kok gak ilang - ilang sih, Beb! " dia kembali marah marah sambil menunjukan wajah gemas. Seolah ingin memakanku hidup - hidup.
Aku nyengir. "Oh iya iya. Jadi Irfan lagi dideketin tu cewek. Terus Irfan gimana? Mau? " tanyaku antusias.
"Kampret! Mending gue curhat sama pohon dari pada sama ELUUU!! Oon nya kebanget dah Ya Allah, " rengeknya sambil menghentak hentakan kaki ke lantai.
"Jahara lu, Beb. Temen sendiri dikatain oon. " sahutku dengan muka memelas.
"Emang kenyataan, PEA! " dia makin kebakaran jenggot.
Kalau beneran ada jenggotnya mau gue kasih bensin sekalian dah. Bawel bener ni temen gue!
"Eh, lu mau curhat sama pohon? Atiati ye mpok, tar ada kunti nya loh. Cius. Gue nggak boong! " kataku dengan tampang serius. Karena teringat sosok di pohon sekolah.
Nita melirik tajam ke arahku lalu seketika mengapit kepalaku dengan tangannya. "YASMIN, BEGO!!! " teriaknya kencang.
Semoga aku kuat menghadapinya Ya Allah. Amiin.
Pergulatan kami berdua berakhir diatas ranjang. Eits, jangan berfikir macam - macam, karena kini kami hanya tiduran diatas kasur sambil menatap langit langit kamar.
"Beb, " panggilku.
"Hmm, " ucapnya mengiyakan panggilanku. Tanpa menoleh sedikitpun.
"Sadar nggak sih lu, kalau Joe suka sama lu, Beb? " tanyaku penasaran sambil menatapnya, ingin tau bagaimana reaksinya.
Nita menoleh, "hah? "
"Nggak usah pura - pura bego ah, Pea!" balasku sambil beranjak dan menutup pintu balkon karena udara makin dingin.
"Maksud loe apa, Beb? Joe?" tanya Nita yang sekarang sudah duduk dengan memeluk bantal.
Aku mendengus, lalu duduk didepan meja rias dan mengambil cream malam yang baru saja kubeli dari klinik kecantikan. "Elo pura- pura bego apa bego beneran? Ampe nggak sadar Joe suka sama lo? " tanyaku sambil memoles cream tadi ke wajahku.
"Masa sih? " tanya Nita dengan wajah bego.
"PEA LU!! " Umpat ku sambil menoleh ke arahnya. "Dari pertama gue liat dia, langsung gue tau dia naksir lu tau . Elu nya aja yang buta cuma gara - gara Irfan kampret itu. Heran cowok kayak gitu masih aja dipertahankan. " cerocos ku kesal.
"Gue sayang banget sama Irfan, Beb. " bela Nita memelas.
"Halah! Tau ah! Cinta emang buta. Semoga aja elu nggak tuli juga. " ucapku sedikit kasar lalu naik ke ranjang.
"Maksud loe, beb? Buta? Tuli? " tanya nya penasaran sambil ikut tiduran di sampingku. Rasanya hanya melihat dari gelagatnya, dia bakal tidur disini lagi malam ini.
Aku meliriknya tajam, menarik nafas untuk mengisi paru paruku dengan oksigen yang lebih banyak.
"Cinta boleh buta! Tapi jangan tuli. Loe harus dengerin sekitar lo, tentang cinta yang lagi lo pertahanin. Karena lo nggak tau, gimana kami, secara netral ngeliat sikap dan perilaku si Irfan kampret itu! "
"Maksud loe, Beb? " tanya Nita makin merapatkan tubuhnya padaku.
"Auk akh! " ku tarim selimut dan tidur membelakangi nya.
"Beb! Bebeb! Emak! Oneng! Oon! Pea! " rengeknya sambil menarik narik selimutku.
"BRISIK PEA! Ngantuk gue! Udah ah, tidur. Buat PR itu! "
Tak kuhiraukan lagi teriakan Nita karena mataku sudah berat. Jangankan suara teriakan Nita, suara cacing yang sedang berdemo di perutku pun tidak mampu membuatku terjaga lebih lama.
\=\=\=\=\=\=\=
"Pokoknya kalian temenin gue ngelabrak mereka! " kata Nita sambil berkacak pinggang dan mondar mandi didepan kami bertiga.
Aku, Arka dan Joe hanya diam sambil memakan bakso dihadapan kami, dengan sesekali mengangguk pertanda setuju, agar Nita berhenti mengomel lagi. Kantin agak lenggang siang ini. Karena sekolah sedang mengadakan pentas seni dalam rangka ulang tahun sekolah yang ke 54. Irfan menghilang, yang katanya sedang mengantar seorang perempuan ke luar kota karena akan mengikuti pagelaran lomba model se-provinsi. Yah, wanita bernama Renika itu adalah seorang model. Dan menurut informan yang Nita bayar, Irfan menemani Renika ke kota sebelah. Dan kami bertiga, dipaksa ikut menemaninya menyusul Irfan kampret itu.
Kebetulan sekolah pulang awal jadi dengan menaiki mobil milik Nita, pergi ke kota sebelah. Kami bertiga tidak sanggup lagi menolak karena tidak sanggup lagi mendengar ocehan Nita yang tak kunjung selesai.
Pemukiman penduduk mulai jarang terlihat, berganti dengan hutan yang ada disisi kanan kiri jalan. Pohon nya rimbun. Tiba - tiba ... Mobil berhenti.
"Kenapa, Joe? " tanya Arka yang duduk disampingnya.
"Mogok. " ucap Joe sambil terus berusaha menyalakan mesin mobil yang tidak juga bisa menyala. "****!! " umpat Joe kesal.
"Biar gue liat, " kata Arka lalu turun dari mobil, membuka kap mobil depan. "Air radiator nya abis, Joe! " teriak Arka. Joe turun dari mobil dan ikut melihat.
Karena bosan, aku turun dari mobil sambil meregangkan tubuhku kesana kemari. Jalanan sepi. Jarang sekali ada kendaraan yang lewat. Baru pertama kali aku lewat jalan ini. Nita pun ikut turun dan bergabung dengan Joe dan Arka. Hanya ada pepohonan sepanjang mata memandang. Aku mendekat ke pinggir jalan dan melihat kedalam hutan yang rimbun.
"Beb! Ngapain? " tanya Nita yang tiba tiba sudah ada di sampingku.
"Nggak apa apa. Adem yah" sahutku sambil merapatkan jaket.
"Iya, pohon semua nih. Adem lah. Tunggu di mobil aja yuk. Arka sama Joe lagi nyari air. " ajak Nita.
Aku mengangguk dan mengikutinya ke mobil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
Yasmin bakalan ketemu apalagi nih dihutan
2023-04-03
0